Makhluk Manis Di Teras

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 9 April 2016

“Sssst, Anna.. lihat deh cowok yang lagi main gitar itu,” bisik Anggi pada Anna yang sedang asyik menjilat ice cream cokelatnya seraya menunjuk dengan kepala ke arah rumah bercat putih yang mereka lewati tiap pulang sekolah menuju rumah Anna. Rumah itu letaknya tak jauh dari pintu gerbang komplek perumahan Puri Metropolitan. Anggi dan Anna sudah kembali akrab seperti biasanya. Seolah pertengkaran hebat yang pernah mereka alami beberapa waktu yang lalu tak pernah terjadi. Anggi dan Anna menghentikan sesaat langkah mereka untuk menikmati pemandangan indah itu. Tentu saja mereka sedikit bersembunyi di balik pohon mangga yang besar di depan pagar rumah itu.

“Waduh, mata lo oke juga kalau lihat mahluk Tuhan yang kece-kece,” puji Anna.
“Berarti radar gue bekerja dengan baik, kan? Siapa tuh ya? Kok kayaknya kita baru lihat, padahal tiap hari lewat sini,” kata Anggi.
“Meneketehe! Tapi ah, itu sihh bukan tipe gue,” sahut Anna mendadak malas setelah memerhatikan sosok cowok itu dengan seksama dan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Ia kembali asyik menjilat ice cream cokelatnya. “Bagus dong kalau ini bukan tipe lo, Anna! Awas ya kalau nanti lo ngaku-ngaku dia mirip Justin. Gaya rambutnya aja Siwon Suju abis gitu, yang ini jelas jatah gue nih!” seru Anggi senang.

“Beras kali ah, pake jatah segala. Ambil deh tuh cowok buat lo, gue dukung penuh pastinya Gi! Perlu gue comblangi enggak nih?” Anna sok menawarkan diri.
Mata Anggi langsung berbinar-binar ceria.
“Serius Anna, lo mau nyomblangi gue? By the way, emang lo sudah kenal?” Tanya Anggi yang semula antusias, mendadak memasang tampang heran.
“Belum!” jawab Anna cuek, makin sibuk menjilat ice cream cokelatnya yang mulai banyak meleleh..
“Dasar!” seru Anggi sedikit manyun.

Selagi asyik memandangi mahkluk manis yang sedang khusuk menyanyikan lagu “You and Me”, tiba-tiba cowok itu mengangkat wajahnya ke arah depan pagar rumahnya. Anggi dan Anna segera saja berebut bersembunyi di balik pohon mangga yang langsung itu. Tentu saja tubuh mereka masih terlihat. Apalagi tubuh Anna. Tapi cowok itu tampak tak peduli, ia melanjutkan kelentikan jemari tangannya dalam memetik senar gitar, lalu bersenandung lagu romantis lainnya.

“Kayaknya gue jatuh cinta pada pandangan pertama,” jawab Anggi, mendadak matanya kedip-kedip persis orang kelilipan. “Hahaha, mulai lebay deh!” cerocos Anna sambil menjilat tetesan terakhir es krim cokelatnya.
“Gayanya itu loh, cool banget! Pasti romantis banget deh dinyanyiin begitu,”
“Kulkas kale cool.” Anna sedikit mencibir.
“Oh Tuhan, apakah dia soulmate gue?” Anggi mulai berkhayal tak jelas.

Hari ini tak biasanya Anggi berdandan feminim. Dipolesnya bedak lumayan tebal di pipinya dan dipolesnya bibir tipisnya dengan lipgloss berwarna pink. Kali ini, ia ingin terlihat cantik, ia bertekad akan nekat menyapa cowok mirip Siwon Suju kemarin itu. Anna tertawa melihat gaya sahabatnya yang mendadak sok girly.
“Lo benar-benar niat banget pengen kenalan sama Siwon Suju gadungan itu ya Gi?” tegur Anna sambil tertawa.
“Oke, Anna! Hari ini gue janji cari tahu siapa namanya, enggak lagi nyebut dia Siwon Suju gadungan,” sahut Anggi.

Setengah jam kemudian Anggi dan Anna telah berada di depan rumah bercat putih itu. Seperti kemarin, cowok incaran Anggi duduk manis di teras rumahnya, terlihat asyik memetik gitarnya. Lagu “Untitled” milik Simple Plan mengalun merdu dari bibirnya. Anggi dan Anna berdiri di depan pintu pagar yang sedikit terbuka. Tapi cowok itu tak juga menyadari keberadaan mereka. Anggi mengambil napas panjang sebelum mengeluarkan suaranya. “Hai!” sapa Anggi ragu. Cowok itu tak bereaksi masih tetap asyik memetik senar gitarnya. Anggi dan Anna memberanikan dirinya masuk ke halaman rumah bercat putih itu. Belum sempat Anggi menyapa, cowok itu sudah menoleh ke arah mereka dan menghentikan petikan gitarnya.

“Kalian lagi? Kenapa kalian masih menggangguku? Hei, jangan sembarangan masuk halaman rumah orang!” ujar cowok itu terdengar kesal.
“Maaf, aku cuma pengen tahu, kenapa kamu enggak mau berteman dengan kami?” tanya Anggi.
“Kenapa harus ada alasannya? Pokoknya aku gak mau berteman dengan kalian. Apa kata-kataku masih kurang jelas?” kata cowok itu lagi.
“Aku yakin kamu enggak sungguh-sungguh. Wajahmu tipe wajah seorang yang ramah dan suka berteman,” jawab Anggi masih pantang menyerah.

“Tahu apa kamu soal wajah seseorang emangnya kamu ahli membaca wajah? Aku gak peduli dengan dengan wajah. Wajah kalian seperti apa pun aku enggak peduli!” sahut cowok itu, suaranya meninggi. Kalimat cowok itu kali ini baru benar terasa menyakitkan bagi Anggi dan Anna. Wajah mereka seketika berubah tak lagi ramah seperti sebelumya. “Maafkan aku.” kata cowok itu lagi. Kali ini Anggi dan Anna dibuat heran. Cowok itu minta maaf? Apakah tidak salah bicara? “Aku bukannya tidak mau mandang kalian, tapi aku memang enggak tahu seperti apa wajah kalian, aku hanya bisa menebak dari suara kalian. Aku enggak bisa melihat,” ujar cowok panjang lebar.

Anggi dan Anna kompak melongo. Cowok itu tak bisa melihat? jadi, selama ini? karena itu? “Jadi, enggak ada yang perlu dibicarakan lagi kan? setelah tahu aku enggak bisa melihat, pasti kalian tidak minat lagi berteman denganku. Silahkan kalian pergi dan tolong jangan ganggu aku lagi,” ujar cowok itu lalu bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam rumahnya.

“Hei tunggu! Kamu mau kan ngajari kami main gitar? please? sayang loh ilmu yang kamu punya itu kalau enggak dibagi-bagi ke orang lain,” tanya Anggi, buru-buru menahan kepergian cowok itu. “Kami berdua enggak akan berhenti ganggu kamu sampai kamu mau berteman dengan kami. Kamu enggak bisa melihat wajah kami? so what gitu loh? kamu ingat kan wajah Maudy Ayunda?” tanya Anna.
“Iya aku sempat tahu wajah Maudy Ayunda. Memangnya kamu mirip dia?” Tanya cowok itu heran dengan pertanyaan Anna.
“Iyah, anggap aja mirip,” Jawab Anna sambil tersenyum lebar. Anggi memandangi Anna dengan tatapan curiga.

“Anna, kok lo jadi berubah gini? Mm, bukan berarti lo sekarang naksir sama Siwon Suju gadungan itu kan?” bisik Anggi kepada Anna.
“Anggi, kali ini lo yang nyebut dia Siwon Suju gadungan looh.. bukan gue. Gue tetap nyari Justin gue lah! gue cuma merasa enggak enak ke dia soalnya kemarin sudah nuduh dia yang enggak-enggak,” sahut Anna dengan suara berbisik.
“Namaku bukan Siwon Suju, tapi Indra Sinaga, jadi bagaimana mau belajar main gitar?” ralat cowok itu.
“Waahh namamu keren juga hehehe, iya mau dong diajari!” ujar Anggi.

Ah, tak perlulah berlebihan apakah seseorang pantas atau tidak dijadikan teman hanya karena keadaan fisiknya. Yang penting adalah hati. Jika hatinya baik, pastilah ia akan menjadi teman yang baik. Dan teman yang baik, tentunya akan menerima kekurangan dan kelebihan sahabatnya. Anggi dan Anna saling berpandangan, kemudian mereka berebut mencoba gitar Naga.

“Anna, please deh, gue duluan dong, secara gue pertama kali lihat Naga! Dan ingat ya, perasaan gue ke Naga belum berubah loh, lo gak boleh ikutan naksir Naga,” bisik Anggi pada Anna. “Ehem!” Naga berdehem. Anna nyengir, lalu segera menyerahkan gitar Naga kepada Anggi. Ia semakin sadar, Anggi sepertinya benar-benar kepincut dengan wajah Naga yang mirip artis idolanya. Perasaan Anggi kepada Naga masih tetap sama walaupun kini ia tahu keadaan Naga sebenarnya. Naga sengaja berdehem dengan keras. Membuat Anggi dan Anna sadar lagi, telinga Naga sekarang sangat sensitif. Anna nyengir lebar, Anggi tersipu malu.

Cerpen Karangan: Wiryanti
Facebook: Anthyy
Penulis adalah salah satu mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Cerpen Makhluk Manis Di Teras merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selamat Tinggal

Oleh:
Aku masih belum bisa memahami apa yang sebenarnya orang-orang pikirkan ketika akan menyatakan cinta kepada orang yang mereka kasihi, bagaimana mereka menekan rasa malu mereka dalam menyatakan hal seperti

Karenamu, Aku Mengerti

Oleh:
Takengon masih dengan suasana seperti hari-hari sebelumnya sejuk dan dingin bagi para pengunjung Laut Tawar ini. Tak seorangpun dari kelompok kami yang beranjak meninggalankan tenda apalagi untuk beraktifitas terasa

Anggrek Persahabatan

Oleh:
Valerina adalah gadis kecil yang bisa dipanggil valeri, ia memiliki sahabat bernama anne yang sangat menyukai bunga, apalagi bunga anggrek Di pagi yang cerah valeri sudah siap berangkat sekolah

Janji Tuk Menunggumu

Oleh:
Mata yang indah membuat orang tak akan berpaling darinya. Sosok yang sangat tampan, mampu memikat semua kaum hawa. Dan aku begitu mengaguminya. “Dorrr, kedip Ana mata kamu jatuh tuh”

Am I Cinderella? (Part 2)

Oleh:
Aku pun berlari melintasi lorong kelas XII, hingga akhirnya aku berdiri persis di depan pintu kelas XII IPA 5 yang tertutup. Terdengar pembicaraan dan tertawaan keras dari dalam. “Hahaha…

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *