Matter of Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 17 January 2017

Aku begitu bahagia saat bersama dengan dia yang selalu mengisi hari-hariku yang kosong. Entah mengapa di mataku dia begitu sempurna. Dia adalah Maxi sosoknya yang begitu populer di sekolahku bahkan dimanapun. Entah mengapa dia memilihku yang merupakan sosok yang biasa saja dan tidak populer. Aku adalah Vini sosok yang berambut hitam, tebal dan sepunggung dan memiliki poni yang rata dan berkulit kuning langsat. Sejak aku pertama kali bertemu dengannya aku langsung menyukainya. Tapi sikapnya yang begitu cuek terhadapku membuatku ragu apakah dia benar-benar menyukaiku. Dan aku juga mempunyai seorang sahabat yang begitu baik kepadaku nama dia adalah Rini, ia selalu mendukungku selama ini.

Hingga suatu ketika dia mengajakku pergi ke taman yang berada di tengah-tengah kota. Kami berjanji akan bertemu pada pukul 16.00. setelah aku sampai di taman aku melihat dia sudah duduk di atas kursi taman. “Hai.” Kataku sambil menggerakan tanganku “apakah kamu sudah lama menungguku?” lanjutku. “tidak juga, aku baru saja menunggumu sekitar 15 menit yang lalu.” Katanya . “ohhh… Maaf bila membuatmu menungguku.” Kataku “aku duduk yah.” Lanjutku. “silahkan.” Katanya. Lalu kami mulai bercerita tentang keluh kesah kami masing-masing dan saling tertawa satu sama lain. Dia membuatku hari ini benar-benar indah.

Esok harinya aku terbangun dengan suasana hati yang sangat ceria. Setelah bangun aku langsung mandi dan berpakaian rapi. Setelah itu aku langsung keluar dari kamar menuju ruang makan. Diruang makan aku bertemu mama dan papa disana sedang sarapan lalu aku pun ikut sarapan bersama. Setelah selesai sarapan aku langsung berpamitan untuk ke sekolah. Setelah berpamitan aku langsung menatap handphoneku lalu dengan secepat kilat aku langsung mengetik nomor Rini.

“Halo rini.”
“Iya halo juga Vini. Ada apa yah?”
“Pagi ini kita berangkat sekolah bareng yah. Nanti aku dan pak ibam menjemput ke rumahmu. Gimana?”
“Sorry vin, aku gak bisa. Maaf yah vin.” Lalu telepon terputus begitu saja dari ujung sana. Lalu vini mengerti perasaan sahabatnya itu. Kemudian Vini berkata pada pak ibam “pak ibam kita jalan langsung aja yah ke sekolah” lalu pak ibam menjawab “siip neng.” Kemudian mobil melaju ke SMP Nusantara yang terletak di bagian timur Jakarta.

Akhirnya tak terasa waktu begitu cepat sekali berlalu akhirnya mobil tiba di sekolah. Tetapi aku tidak berhenti pas di gerbang sekolah karena aku tidak ingin pandangan orang-orang kepadaku langsung berubah. Setelah aku keluar dari mobil aku langsung melihat seseorang yang amat kukenal yaitu rini. Iya. Tapi dia bersama siapa? lalu aku pun mengumpat di balik pohon setelah itu aku mengikuti mobil itu. Tidak aku sangka mobil itu memasuki parkiran sekolahn, kerana melihat mobil itu masuk daerah sekolahan aku langsung segera mengumpat di belakang gedung.

Setelah mengumpat aku melirik ke arah mobil tadi, kali ini tiba-tiba Rini ada disana dan aku langsung kaget saat melihat seorang pemilik mobil itu. Dia adalah Maxi. Setelah Maxi keluar dari mobil itu, mobil itu langsung bergerak keluar meninggalkan gedung sekolah lalu Rini dan Maxi berjalan bersama menuju kelas masing-masing. Aku yang menatap hal itu hanya bisa menatap mereka dengan perasaan terluka. Tak pernah aku sadari seseorang yang selama ini mendukungku kini telah mengambil Maxi dariku. Aku terdiam sambil menahan rasa sakit di dadaku tak terasa air mataku mulai berjatuhan satu per satu hingga membuat pecahan tangis yang besar. Aku tertunduk lemas dengan perasaan begitu terluka.

Aku ingin sekali berjalan meninggalkan sekolah dan kembali ke rumah. Tapi kakiku begitu lemas dan tak ingin berjalan. Aku masih terus menangis. Hingga terasa di kepalaku seseorang memegang kepalaku. Dan tangan itu adalah milik Brandon, dia adalah orang yang baik dan suka menolong orang, selain baik ia juga tampan. Hanya saja sikapnya yang begitu dingin membuat kadang takut “mengapa kamu menangs seperti itu?” katanya. Namun tidak ada jawaban yang keluar dari mulutku. Lalu dia berkata lagi “Apakah kamu tidak capek menangis terus? hah?” katanya. Lalu aku pun berfikir sebentar. Ternyata ketika aku sedang berfikir Brandon meniggalkan aku.
Lalu aku segera menjawab “bran…don Brandon tung…gu… a…ku…” kataku dengan nada sambil menangis. Lalu dengan sekejap Brandon terhenti lalu dia menengok ke arahku, setelah itu dia mendatangiku lalu membantuku untuk berjalan menuju ke kelasku. Setelah sampai di depan kelas Rini langsung mendekatiku dan berkata kepada Brandon “biar aku yang membantunya.” Lalu aku langsung menjawab sebelum Brandon menjawab “tidak usah memebantuku urus saja hubunganmu dengan Maxi dan jangan pernah dekati aku lagi.” Kataku ketus. “mengapa kamu berkata seperti itu Vini?” katanya “dan apa salahku?” lanjutnya dengan kata memelas sambil menenangkanku.
Lalu aku pun berkata “jangan pernah Tanya kenapa, Tanya saja pada dirimu sendiri karena aku sudah muak dengan tingkah lakumu yang berpura-pura mendukungku selama ini. Dana aku akan mengucapkan terima kasih kepadamu atas apa yang selama ini kita jalani bersama-sama dan hubungan kita sebagai sahabat berakhir disini.” Kataku tegas sambil mengulurkan tangan untuk meminta persetujuan. Mendengar penjelasanku yang begitu jelas, raut mukanya seketika langsung berubah menjadi menahan rasa malu yang begitu dalam. “kenapa? gak bisa jawab? di depan aku masa kamu gak bisa jawab, kalau di belakang kamu berani banget. Kamu baru tahu kan kalau aku ini sebenarnya itu orangnya blak-blakan. Kamu tau gak sih perasaan aku tuh gimana? aku tuh mengganggap kamu sahabat. Tapi kenapa kamu tega bikin aku sakit hati?” kataku sambil menangis “JAWAB AKU SEKARANG!!!” teriakku sambil menangis. “kamu punya mulut gak sih? kalau punya jawab aku.” Lanjutku.

Tak aku sangka Brandon masih ada disana, dia memendangku dengan pandangan lirih, dan aku juga melihat Rini menangis tersedu-sedu. Lalu aku melirik ke arah pintu. Ketika aku melirik ke arah pintu aku merasakan sebuah tangan menyambar ke pipiku, plaakkk… Maxi menamparku tapi di matanya terbersit rasa takut dan sedih yang menjadi satu. Aku pun tidak tahan dengan prilakunya yang semena-mena terhadapku kemudian aku berkata kepadanya “mengapa kamu menamparku? hah? kamu membela dia? seharusnya aku yang menamparmu. Karena kamu sudah berani nyakitin perasaanku. Dan satu hal yang harus kamu ingat, selama ini memangnya aku pernah bikin kamu sakit hati? hah? jawab aku!!! kamu gak bisa jawab? kalau kamu tidak bisa menjawab berarti memang benar kamu dan Rini tidak punya mulut.” Kataku dengan nada amarah, Brandon berusaha menenanggiku.

Akhirnya Maxi membuka mulut “iya aku membela dia. Memang kenapa? tidak ada urusannya dengan kan? dan kamu harus ingat kamu memang gak pernah bikin aku sakit hati tapi aku hanya menyukai Rini bukan kamu. Aku selama ini hanya pura-pura menyukai kamu itu semua karena permintaan Rini dia ingin buat kamu bahagia akhirnya aku dan dia terpaksa putus demi kamu. Lalu akhirnya beberapa hari yang lalu kita berdua berjanji untu ketemuan untuk membicarakan soal hubunganmu denganku akhirnya kami memutuskan untuk balikan lagi tanpa sepengetahuan kamu.”

Aku mendengarkan penjelasan Maxi dengan perasaan yang begitu terluka ternyata benar apa yang selama ini dia rasakan terungkap. “harus kamu ketahui aku memang gak sepopuler kamu tapi aku jauh lebih baik dari KAMU!!! dan ternyata selama ini dugaanku terhadapmu benar kamu gak benar-benar suka sama aku. Kamu hanya ingin membuat aku sakit hati! kamu tau gak sih orang yang pertama kali aku suka tuh kamu! tapi kayaknya aku suka pada orang yang salah dan mulai hari ini kita akhiti hubungan kita sampai disini dan kamu Rini jangan harap aku akan pernah menganggap kamu sebagai salah satu sahabatku dan aku juga tak akan memaafkanmu.” Kataku tegas sambil berjalan menuju tempat dudukku. Sungguh ini adalah untuk pertama kalinya aku marah sebesar ini.

Dan kini aku akan membiarkan mereka tahu siapa yang bersalah dan benar, meskipun aku masih menahan rasa sakit aku berusaha memendamnya ke hati yang paling dalam. Aku masih melirik ke segala arah, kulihat teman-temanku menatapku dengan pandangan ikut mendukungku tetapi aku abaikan pandangan teman-temanku itu dan aku juga melihat Rini dia masih menangis sambil berjalan menuju tempat duduknya. Dan aku juga masih melihat Brandon dia masih diam tetapi kini dia sedang menatapku, lalu beberapa saat kemudian aku memalingkan mataku dan dia pun juga meninggalkan kelasku menuju kelasnya. Kemudian pelajaran dimulai.

Aku berusaha berkonsentrasi tetapi nyatanya aku tidak bisa. Aku masih memikirkan hal yang terjadi ketika pagi tadi. Akhirnya pelajaran usai dengan bersamaan bel pulang sekolah, aku berjalan keluar menuju ke depan pintu kelas, tetapi aku merasakan jalanku dihentikan oleh seseorang lalu aku menengok ke arah belakang dan aku melihat orang itu adalah Rini. Dan dia berkata kepadaku “Vin, aku mohon jangan putuskan persahabatan kita Vin. Dan aku juga bisa jelaskan, semua yang dikatakan Maxi itu bohong. Aku mohon Vin.” Katanya sambil menangis. Melihatnya yang menangis seperti itu aku pun mengeluarkan suara “apa yang harus diperjelas lagi sih? semua yang diaktakan Maxi semuanya sudah jelas aku pun juga melihatnya sendiri. Dan kamu tuh juga seharusnya berfikir semua yang kamu lakukan itu memang dapat diperjelas dengan kata-kata? hah? dan kamu tuh seharusnya inget dong tadi itu aku berkata ke kamu kalau hubungan kita sebagai sahabat berakhir disini.” Kataku berjalan meniggalkan dia yang masih terdiam di tempat sambil menangis.

Aku tidak peduli dengan apa yang terjadi pada dirinya. Dia harus merasakan bagaimana saat berada di posisiku yang merasakan orang yang aku sukai direbut. Dan kini dia harus merasakan bagaiman kehilangan seorang sahabat karena telah menuruti sikap egoisnya. Lalu sejak hari itu aku dan Brandon menjadi seorang teman. Brandon selalu bersamaku, dan semenjak aku dekat dengan Brandon tingkat belajarku meningkat dan akhirnya aku menduduki sebagai salah satu siswi terpintar di sekolahku. Dan aku juga sudah melupakan Rini dan Maxi sejak hari itu aku tidak pernah bertemu mereka. Akhirnya tak terasa waktu telah berganti dengan cepat sekali. Aku pun lulus dari SMP nusantara lalu melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Dan Brandon juga sekolah di SMA yang sama denganku. Akhirnya hubungan kami berubah menjadi sepasang kekasih saat kami SMA dan aku sangat bahagia bersama dia.

Cerpen Karangan: Yovin Intanni
Blog / Facebook: myblogyovinintanni.blogspot.co.id / Tan.yoan
nama lengkap: yovin intanni
TTL: jakarta, 12-01-2003
email: yovin.intanni12[-at-]gmail.com
FB: tan.yoan
Instagram: Aniloveny_121931

Cerpen Matter of Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Friendship or Love (Part 1)

Oleh:
Persahabatan. Sebuah hubungan yang sangat luar biasa. Kesunyian dalam hidup akan berkurang dengan adanya kehadiran seorang sahabat, seseorang yang dapat dipercaya, selalu setia menemani di saat sedih maupun senang.

Karena Pengorbanan Itu Nyata

Oleh:
Kringg… kringg.. kringg.. Hoamm.. rasa mengantuk di mataku masih teramat dalam aku rasakan. Insomnia telah melandaku akhir-akhir ini. Membuat hariku yang seharusnya cerah berubah menjadi kemalasan yang kadang sulit

Sepenggal Nama Dalam Kenangan

Oleh:
Malam itu, semilir angin menembus kulit. Membuat tubuh ini semakin menggigil. Orangtuaku berkali-kali telah mengingatkanku, “Jangan sering-sering duduk di dekat jendela, Caca! Berapa kali ibu sudah mengingatkanmu, tapi kamu

Aku Bukan Kacung

Oleh:
Dia cantik. Setidaknya, kalau ia tidak berteriak sembari mengucapkan sumpah serapah kepada anak-anak yang datang. Dia manis, kalau saja di tangannya tak menggenggam pisau sampai teracung ke udara. Ia

Benarkah Facebook Yang Mempertemukan Kita?

Oleh:
Hey sobat, perkenalkan namaku Dwi. Seorang pelajar membosankan yang tinggal di kota kecil, di Malang. Aku bukanlah orang yang menarik di mata teman-temanku. Baik teman sekelas ataupun teman bermain.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Matter of Love”

  1. ImeldaWong says:

    Bagus Sekali Ceritanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *