Menanti Fajar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 27 April 2016

“Dre, tarik!” jerit Chris.

Wusssh! Layangan mereka terbang tinggi ke langit, biru muda. Kemudian terdengar tawa bangga dari keduanya. Sedangkan yang satu lagi duduk di antara rumput yang dipermainkan oleh angin. “Tim gabung yuk.” ajak Andre seraya menjerit dari kejauhan. Tangannya melambai-lambai. Tapi cowok tinggi dengan badan berisi itu enggan untuk bergabung. Dia hanya menggelengkan kepalanya. Seolah memilih bermain dengan rumput.

Sontak temannya berlari ke arahnya, menarik tangannya. Berhasil! Rupanya cowok bertubuh kurus itu masih bisa menarik tubuh temannya itu. “Lihat mataharinya! Indah sekali.” ucap Chris.
Kedua temannya menatap ke atas. “Pulang yuk.” ucap Timo menatap langit yang sudah kemerah-merahan. Malam sudah akan datang.

Ketiganya pun beranjak dari tempat masing-masing. Ditariknya kenur layangan hingga ke layangan itu lengser dari singgasananya di dekat mentari. Andai waktu tidak cepat berlalu, tidak pasang mata itu tidak akan berpindah fokus. Keindahan sunset dan sunrise di Kaki Gunung Merbabu seolah ingin menyaingi pantai Bali. Kalau bertanya pada warga Desa Kedakan, mana ada yang tidak kenal TWD? Kalau di sini disebutnya Telu Wong Jowo. Artinya, tiga orang Jawa. Walau sebenarnya, perbedaanlah yang mempersatukan mereka. Timo anak bertubuh tinggi berisi itu tak banyak bicara, sedang Christian yang hampir sama tingginya dengan Timo, bertubuh kurus seperti batang lidi itu sangat aktif berbicara. Berbeda pula dengan Andre, cowok aktif dan tak begitu tinggi itu, emosinya mudah turun naik.

“Ma, Pa, Timo pulang.” Ucapnya seraya membuka pintu rumah.
Semua anggota keluarganya menyambut hangat kedatangannya.
“Hmm sepertinya enak.” Celetuk Timo seraya membuka tudung saji. Ia hanya ingin membahagiakan dan menghargai karya mamanya. Benar saja mamanya tersenyum. Dinikmatinya makan malam bersama itu dengan hangat.

“Kak cepet dong cari calon istri yang jago masak kaya mama biar Yudha bisa menikmati makanan enak begini juga kalau Mama sedang panen.” ucap Yudha seraya menikmati sepotong tempe goreng. Biasanya mamanya tidak masak kalau hari panen, sibuk. “Masih kecil kok udah ngomongin kawin?” ucap mama jahil.
“Udah-udah.” Mama melerai. Semua terdiam. “Nanti Mama carikan juga calon istri cantik, pandai masak buat Yudha.”
Semua tertawa, hanya Yudha yang cemberut. Kakaknya mengelus-elus punggung Yudha, seraya mengacungkan jempol kepada mamanya.

BRAK!

Dibukanya pintu rumah dengan kasar. Kemudian dia masuk ke dalamnya. Diliriknya jam di dinding.
“Sendiri lagi.” Ucapnya kesal. Begitulah hidupnya. Tak pernah bertemu dengan kedua orangtuanya. Orangtuanya berangkat sebelum dia bangun pagi, dan pulang setelah dia tidur. Sampai-sampai Chris menganggap kedua orangtuanya menganggapnya sebagai orang kedua setelah pekerjaan orangtuanya. Bahkan, ketika pengambilan rapornya pun, kedua orangtuanya tak bisa seolah-olah, mereka mengalasankan tugas sebagai pengganggu segalanya.

Prang!

“Selalu Papa atur uang Mama!”
“Mama tidak tahu cari uang itu susah.”
Tanpa banyak bicara, Christian yang baru membuka pintu rumahnya segera masuk ke kamarnya. Dia tahu ini akan terjadi lagi, dan akan terjadi seterusnya. Acap kali pria jangkung itu bertanya pada Tuhan sembari menatap figura kecil di kamarnya. Foto dirinya bersama 2 orangtua.

“Tuhan, di mana? adakah ia di keluargaku.”
“Bukankah Tuhan harusnya memberkati keluarga yang sudah disatukan?” pikir Chris dalam hatinya, sembari berbaring di kasurnya.
“Kurang apa keuangan keluarga kita, Pa? kita sudah cukup kalau tentang keuangan!” sekali lagi teriakan mama terdengar.
Seakan tak mau ambil pusing, Chris buru-buru menutup telinga dengan bantalnya. Dipejamkannya kedua matanya.

Pagi-pagi TWD berkumpul di kantin sekolah. Kalau di Kedakan, TWD lebih dikenal dengan telu wong deso, artinya tiga orang desa. Semuanya sudah siap dengan buku cetak di atas meja. Pertama, mereka menyambar buku matematika, kini buku kimia.
“Jadi apa yang mau kita pelajari?” tanya Timo.
“Stoikiometri.” Jawab Andre sekenanya.
Mereka membuka buku lembar per lembar hingga akhirnya Andre mendapati Chris yang tidak fokus pada bukunya.
“Murung kali, kau. Ada apa?” tanya Andre.
Chris sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan itu. Mereka malah terdiam.
“Ulangannya..”
“Apakah Tuhan memberkati tiap keluarga?” tanya Chris seraya masih memainkan bukunya.
Semua terdiam, tak ada yang mencoba untuk menjawab, Chris pun tersenyum gembira, seolah menang dari perlombaan.

Kring… Bel masuk pun berbunyi, ketiganya masuk ke dalam kelas, dengan hambar tanpa kata. Belum lama ketiganya menghhirupp udara kelas, tiba-tiba Timo dipanggil oleh seorang guru BK. Sontak kedua mata temannya menatap Timo. Buru-buru, Timo menghadap pada Bu Sri, guru BK cantik muda. Ditatapnya sekilas kemudian tatapannya mendarat tepat di depan adiknya. Yudha. Pria kecil tembam itu tenggelam dalam tangis. Kemudian 3 pasang kaki itu pun sampai di Puskesmas Warga Kedakan. Mereka menyusuri lorong-lorong, kemudian memasuki sebuah ruang kamar. Di sana berdiri seorang wanita paruh baya menitikkan beberapa tetes air mata, di hadapannya ada sebuah ranjang, berbaring seorang pria cukup tua. Di sanalah ketiga pasang mata menangis. Terus begitu hingga hari cukup larut dan semuanya kembali ke rumah masing-masing. Hari ini makan malam sungguh hambar, seolah tanpa rasa.

“Yudha, Ma, mulai besok Timo gak sekolah dulu. Timo harus bantu Mama, juga kita butuh biaya untuk sekolah. Jadi, Timo putuskan untuk tidak sekolah dulu.” Timo tiba-tiba membuka suara. “Timo..” ucap mamanya lirih tapi tak dapat menyangkal keadaan sekarang. Keheningan pun merambati seisi rumah hingga akhirnya mama membuka suara lagi. “Yudha, rajin-rajinlah belajar.” Ucap mama kemudian mencuci piring ke dapur. Sedangkan Timo dan Yudha ke kamar masing-masing. Bergulat dalam pemikiran masing-masing.

Esok harinya, hari terakhir Timo bersekolah. Terakhir kali juga dia mengantar Yudha masuk kelas, 7A. Sayangnya, walau itu jadi hari terakhir Timo bersekolah, tak satu pun temannya yang tahu tentang kondisinya. Timo pilih tutup mulut, dia tahu kedua temannya juga punya masalah sendiri. Sepulang sekolah, mereka belajar bersama di kantin.

“Chris kemarin ada apa?” Timo tiba-tiba membuka suara menanyai kondisi temannya.
Chris memilih mengatup rapat mulutnya. “Tim, aku capai Tim. Orangtuaku selalu pergi, tak ada waktu untukku. Aku menghargai kerja keras mereka untuk mencukupi kebutuhanku, tapi tidak begitu juga caranya. Mereka…” jelas Andre.
“Aku lebih lelah, lihat orangtuaku! Mereka mengikat janji cinta sehidup semati, sekarang apa yang mereka lakukan?! Mereka sekarang berjanji membuat surat perceraian. Demi apa pun, di manakah Tuhan?!” Chris berbicara dengan nada frustasi. Semua lagi-lagi terdiam.
“Kawan, Tuhan itu ada.” Timo berusaha melerainya. “Kalau kalian tidak percaya. Tunggu kasih Tuhan.”
Kini kedua temannya terdiam.

Setelah hari itu, tiap pagi anak jangkung itu pergi pagi bersama mamanya dan pulang dengan beberapa hasil panen. Sore harinya, Yudha, Timo, dan mamanya menjenguk papanya. Bersyukur hari demi hari beliau semakin membaik kondisinya. Suatu ketika, tanpa diharapkan, kedua temannya mengunjungi rumah Timo dengan sekeranjang buah.

“Kamu kemana aja? Gak sekolah?!” tanya Andre galak.
“Bantu Mama. Kalian sendiri? Gak sekolah?” Jawab Timo singkat.
“Ssstt. Oh jadi fungsinya sahabat apa? Untung kita ada Bu Sri yang mau bercerita tentang kamu.” Jelas Chris.
“Papa Mama kamu gimana?” tanya Timo pada Chris.
Tiba-tiba kedua temannya mengacungkan sebuah buku tebal bersampul hitam.

“Alkitab?” tanya Timo agak sedikit tersenyum melihat mereka.
“Tanpa benda suci ini, aku tidak akan bisa bersama Mama Papa selama .. setidaknya 1 jam sehari. Aku mengajak mereka renungan bersama.” jelas Andre.
“Tanpa petuah, lentera hidup ini, Mama dan Papa gak akan bisa akur.” jelas Chris.
“Tentunya.. kami juga membawakan cerita keluargamu pada orangtua kami. Ini ada sedikit dari Mama dan Papaku, juga dari orangtua Chris.” Jelas Andre sambil menyodorkan sebuah amplop agak tebal.

Tiba-tiba, wajah penuh senyum Timo berpudar, berubah menjadi kelabu, kemudian menitikkan air mata. Ia terharu rupanya. “Aku mencintai kalian.” Ucap Timo, sambil menerima seluruh pemberian temannya.
“Kami mencintaimu.” Ucap Andre dan Chris seraya memeluk Timo dengan erat.
“Aku bawa apa?” tanya Chris sambil mengeluarkan sebuah keresek.
“Layangan!!!” teriak Chris dan Timo.
“Ayo ke lapangan! Kita main!”

Pagi itu pun menjadi pagi terindah sepanjang hidup mereka. Satu lengan dari tiap remaja yang menikmati senja itu memegang sebuah layangan. Ditatapnya tiap awan putih di langit. “Timo, mulai besok sekolah ya! Kami merindukanmu.” Jelas Andre, disambut anggukan Chris.
“Tentu! Aku juga merindukan kalian.” Jawab Timo.
“Kalau kita punya masalah, ingatlah hari ini! Pagi ini!” seru Chris.
“Jangan pernah menyerah dengan masalah. Menanti fajar!” jerit Timo.
“Menanti fajar!” ucap kedua temannya.
Kemudian ketiganya tertawa lepas.

Tamat

Cerpen Karangan: Davina Senjaya
Facebook: Davina Senjaya

Cerpen Menanti Fajar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Feeling (Part 1)

Oleh:
Jakarta, 2012 Ini adalah tahun menakutkan bagi para siswa-siswi kelas tiga, pasalnya beberapa bulan lagi adalah pelaksanaan ujian akhir bagi mereka, begitupun dengan gadis berambut ikal panjang yang kini

Dari Teman Jadi Sahabat

Oleh:
Namaku Silvi Rima Debriyanti biasa dipanggil Silvi. Saat itu aku masih kelas 6 SD, dan di belakang rumahku ada tetangga baru. Kelihatannya Mamaku sudah akrab sekali dengan tetangga baru

Maafkan Kecuranganku Dalam Friendzone

Oleh:
Duapuluh tahun bukan kurun waktu yang singkat dalam pertemanan. Antara aku dan dia teman masa kecilku, Projo. Dari masa taman kanak-kanak sampai saat ini usia seperempat abad kami masih

Fly High (Part 3)

Oleh:
1 tahun telah berlalu… Hari-hari yang dilalui oleh Uvi dan Zena di kelas 1-A begitu pahit, Zena memutuskan untuk pindah sekolah karena tidak kuat melihat bullying yang dilakukan oleh

Sahabatku Seorang Penyihir

Oleh:
Claire menghela nafas kelelahan. Seperti biasa, di hari libur ia melakukan aktifitas olahraga pagi dengan cara jogging di taman kota. Di bawah pohon taman yang cukup rindang itu, Claire

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *