Mengapa Ada Spasi Di Antara Kita?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 18 June 2016

Dunia terasa tak secerah hari-hari sebelumnya. Dengan mengendari sepeda motor kesayanganku aku pun sampai di sekolah tepat pada pukul 7 pagi. Seperti yang lainnya. kali ini aku merasa akan ada sedikit kendala “fillingku” ternyata semua yang aku fikirkan benar adanya. Duri kehidupan kini telah aku temukan kembali. Tapi kali ini aku merasa ada sedikit perbedaan dari masalah yang aku temui sebelumnya. Masalah ini berawal dari sebuah tugas sekolah’
Waktu itu, saat aku masih berada tepat di tempat dudukku ada salah satu temanku yang datang menghampiri keberadaanku. Kali ini dia mendekatiku karena ingin meminta bantuan kepadaku untuk membuatkan tugas sekolahnya (sebuah makalah).
“Key, kamu bisakan bantuin aku buatin makalah?, soalnya waktuku sudah tinggal 3 hari lagi nie. Kamu kan sudah selesai tuh jadi aku minta tolongnya kamu bantuin aku, aku masih belum paham nie dengan tugas makalahku kali yang ini” renggek Ferdy dengan rasa berharap.
“Maaf Ferdy, kali ini mungkin aku gak bisa bantuin kamu. Aku lagi banyak tugas sendiri” aku pun memberikan sedikit pemahaman kepadanya.
“Memangnya kamu lagi ngerjain tugas apa sih, dan lagi punya tugas apa selain bikin makalah?” Ferdy pun sedikit mengulik akan penjelasanku tadi karena ia sangat berharap padaku untuk bisa membantunya.
“Maaf Ferdy, kali ini aku benar-benar gak bisa bantuin kamu. Lagian juga aku lagi ada tugas dari eskul aku yang sedang aku ikutin dan tugas itu mesti dikumpulkan besok sabtu.” Aku pun menjelaskan dengan detail akan kesibukanku.
“Oh ya sudah.” Ferdy pun langsung membalikan badan dari hadapanku. dengan rasa kecewa atas penolakanku tadi.
Tapi aku benar-benar tak ada sedikit pun di benakku untuk mengecewakanya. Aku hanya tidak ingin apa yang nantinya aku kerjakan jadi setengah-setengah tidak sepenuh hati dan aku takut jika aku memaksakan diri hasilnya tidak akan maksimal. Apalagi jika nanti ada yang dikecewakan dengan hasilnya. Untuk itu aku putuskan untuk menolaknya.

Kali ini aku melihat Ferdy sedang meminta bantuan pada Anton setelah datang kepadaku. Anton adalah tipe orang yang sedikit tidak tega melihat temanya yang sedang berkesusuhan, meskipun dia tidak pandai dan tidak teliti-teliti banget dalam melakukan sesuatu tapi dia mau membantunya. Padahal aku sendiri selalu tidak dibuat tenang jika aku minta bantuan kepadanya. Tapi mungkin karena tak ada lagi yang mau membantunya selain Anton, Ferdy pun merelakannya dan membuang semua perasangka-perasangka yang tersimpan di benak fikirannya. Kali ini yang ia fikirkan mungkin hanya bagaimana tugas sekolahnya bisa terselesaikan tepat pada waktunya. Urusan benar atau salah itu urusan belakangan. Tegasnya dalam hati.
“Ton, kamu mau kan bantuin aku. Aku bingung nih mau minta bantuan sama siap lagi. Sedangkan Keyla sibuk dengan tugas-tugasnya. Aku harus mengumpulkannya sabtu besok. Mau ya?” Ferdy pun memjelaskannya sebelum Anton mengeluarkan kata-kata dia tidak bisa.
“Memang di bagian mana yang belum kamu kerjakan?” Tanya Anton.
“Yang ini, aku masih bingung di bagian yang ini.” Jelas Ferdy, Anton pun menunjukan tugasnya yang belum ia selesaikan.
“Oh… ya sudah nanti saya mintain referensi sama teman yang lain yang sudah selesai. Barangkali akan lebih cepat dalam mengerjakannya jika kita sudah punya referensinya. Anton pun memberikan angin segar pada Ferdy yang tengah terbakar oleh tugas makalahnya.
“terserah kamu ajalah Ton, kamu atur aja. Aku benar-benar sudah bingung mesti mulai tugas ini dari mana dulu mengerjakannya.” Ferdy pun sudah mersa tak peduli dengan tugasnya kali ini.
“Sebelumnya terimakasih ya sudah mau luangin waktu buat saya” ucap Ferdy.
Dengan beralaskan sepatu kulitnya Anton pun pergi meninggalkan Ferdy dan aku yang masih ditemani dengan tugas-tugasku. Aku sungguh merasa tak enak hati dengan penolakanku tadi. Andai saja sekarang aku tak di sibukkan dengan kerjaan-kerjaanku yang tidak dibatasi waktu aku ingin membantunya dan membuatnya tersenyum bahagia. Dan di tengah kesunyian antara aku dan Ferdy. Anton pun datang dari pencarian referensi tugas makalah Ferdy. Kali ini ia terlihat membawa catatan-catatan yang akan menjadi referensi tugas makalah Ferdy kali ini.
“Fer, nih aku sudah dapat referensi buat tugas makalah kamu. Coba kamu lihat dulu barangkali benar atau tidak?” Anton pun menyodorkan catatan-catatan pada Ferdy yang terlihat murung.
“Coba sini saya lihat.”
“Benarkan?, apa masih ada yang salah?” Tanya Anton meyakinkan.
“Nah… Seperti ini. Soalnya kemarin saat aku lihat punya teman itu seperi ini dan katanya sudah diajukan sama guru dan ternyata diterima” Anton pun terlihat bahagia
“Syukurlah kalau kaya gitu. Ayo kita mulai mengerjakan tugasnya.”
Dengan ditemani music yang bernuansa religi. Anton dan Ferdy pun mualai mengerjakan tugas makalahnya. Karena batas waktu sudah tak banyak lagi “deadline” untuk itu Ferdy pun harus cepat-cepat meyelesaikan tugasnya. Karena khawatir kalau nanti-nanti mengumpulkannya tugas dia tidak akan diterima oleh guru yang super tegas itu. Dan alhasil satu hari telah berlalu. Namun tugasnya kali ini masih belum terselesaikan. Tapi Anton terus berusaha membantu menyelesikannya.

“Ton, gimana nih, kita tinggal punya waktu satu hari lagi buat tugas ini. Kira-kira besok kita bisa menyelesaikannya tidak. Aku hawatir nih kalau terlambat mengumpulkan. Bisa-bisa aku dapat teguran lagi dari Bu Anis.” Jelas Ferdy pada Anton
Bu Anis Adalah salah seorang guru yang ditakuti karena ketegasannya. Meskipun ia seorang wanita tapi dia selalu menamkan ke pada siswanya akan keberanian dan tanggung jawab. Terutama dalam hal kebaikan dan tugas-tugas yang diberinya, dia tidak mau kalau ada salah satu siswanya yang beralasan untuk tidak mengeumpulkan. Tak sedikit siswa yang mengagumi sosok dirinya. Samapai sekarang dia pun banyak yang mengidolakannya walaupun beliau hanylah guru baru di sekolahku. Tapi beliau bisa mengambil hati siswanya.

Kali ini anton masih semangat buat menyelesaikan tugas maklah Ferdy. Dia tak ingin Ferdy kecewa dengannya. Segala tenaga da fikirannya ia curahkan demi tugas Ferdy. Aku yang dulu sempat menolak permintaan Ferdy pun ikut terlibat buat menyelesaikan tugasnya. Aku meras bersalah banget padanya. Karena memeng tugasnya kali ini benar-benar berbeda dari tugas yang dulu.
“sini aku banutuin. Di bagian mana yang mesti aku bantu?” aku pun menawarkan bantuan pada teman-teman yang tengah sibuk membantu mengerjakan tugas Ferdy.
“Oh.. yang ini saja kamu tulis ya!” mereka pun menyodorkan kerjaan yang mesti aku bantu.
Di tengah kesibukan aku membantu Ferdy, aku tak melihat senyum di wajahnya. Dia terlihat dingin dan memberi jarak antara aku dan dirinya. Aku selalu berfikir dan merenung kesalahn apa yang telah aku lakukan kepadanya. Aku pun menebak-nebak apakah ini semua berawal dari penolakanku yang dulu karena aku tak ada waktu buat membantu menyelesaikan masalahnya itu. Kalau memang benar aku benar-benar tak menyangka kalau ujungnya akan seperti ini.
“Fer, kamu masih menyimpan hasil diskusi kemarin kan?” Tanya aku dengan hati yang ragu.
“Oh… Maaf saya gak tahu, coba tanya ke yang lain!” Jawab Ferdy dengan singkat.
Dengan hati yang sedikit kecewa aku pun pergi dan langsung menuju ke tempat dudukku. Kejadian itu membuatku tak berhenti berfikir akan kesalahan apa yang telah aku lakukan padanya.
“Tuhan… kenapa dia seperti ini padaku. Sungguh aku tak menyangka akan terjadi seperti ini. Bantu aku Tuhan… aku rindu saat-saat dulu dengannya.” Rintihku dalam hati

Hari ini hari kedua aku masuk sekolah. Tapi aku belum melihat sosok Ferdy.
“Mungkin dia sedikit terlambat datang ke sekolah” gunamku dalam hati. Hari ini terlihat tak seperti kemarin. Cuaca pagi ini terlihat cerah. Awan langit tak sedikitpun terlihat petang. Semua yang nampak hanya awan putih dan biru. Semua berjalan menghiasi indahnya pagi ini aku pun bersemangat memulai aktifitasku di sekolah. Tin…tin.. bunyi klakson motor pun terdengar dari dalam. Meski aku tak mengetahui siapa yang datang dan belum bertemu dengannya tapi aku sudah sedikit nebak kalau itu bunyi klakson motor Ferdy. Ternyata benar filling ku dia datang. Aku pun terus memperhatikan gelagat dia kepadaku sambil menebak-nebak apakah dia masih dingin saat bertemu denganku?.
Ferdy pun masuk dengan disertai salam.
“Assalamu’alaikum…” sambil berjabat tangan. Tapi tidak denganku. Karena adat di sekolah ku ketika baru masuk dan sebelum duduk suka melakukan hal seperti itu tapi tidak berlakau bagi anak perempuan dan laki-laki untuk berjabat tangan melainkan hanya lemparan senyum yang kami dapatkan dengan di sertai sapaan-sapaan manja yang menjadikan sekedar basa-basi seperti halnya
“Hai… Bagaimana kabar hari ini, sehat?”
Ferdy pun masih terlihat di sibukkkan dengan tugas makalahnya tempo hari dan hari ini adalah hari terakhir untuk mengerjakan. Aku belum melihat ada ketenangan di raut wajah Ferdy, meski ia tutup-tutupi tapi aku tau akan sifat Ferdy yang selalu gelisah saat ada tugas. Meski cuaca hari ini terlihat terang tapi semua itu tak berpengaruh padanya. Wajahnya yang bulat bagai bola dunia, matanya yang lentik serta tatapannya yang tajam. Semuanya tak menjadi batasan kalau dia bisa menyelesaikan tugasnya itu.

Waktu hari ini terasa bergulir cepat aku masih saja merasa sendiri. Aku merasakan banyak kerinduan yang tersimpan di hatiku. Aku kangen masa-masa indah dulu dengannya. Karena sebelum ada konflik ini (tebak aku) aku selalu melewati hari-hariku bersamanya. Ferdy selalu meluangkan waktu buatku hanya sekedar bercanda tawa kecil yang membuatku bahagia melewati hari-hariku. Tapi kali ini sudah hampir tiga hari aku tak menemukan hal itu pada dirinya. Hingga perbuatan yang berkaitan dengannya tak lagi ia tanggapi dengan gayanya yang dulu. Dia mulai terlihat cuek denganku. Dan kalau pun ia menjawab akan pertanyaanku semuanya dia jawab dengan datar tanpa senyuman sedikit pun.
“Tuhan… apa yang mesti aku lakukan untuk menebus kesalahnku padanya?” kata-kata ini selalu aku terlintas di benakku.

Bel pulang pun berbunyi
“kring… kring…”. semua siswa terlihat mulai berhamburan dari ruang kelasnya. Mereka sibuk berjalan kesana kemari memadati halaman sekolah. Ada yang menuju temapt parkir ada juga yang sekedar ingin membeli minum di kantin sebelum pulang ke rumah. Begitu pun aku. Aku bersiap-siap merapikan tempat belajar setelah itu aku pun langsung bergegas menuju tempat di mana sepeda motorku terparkir. Dengan sejenak berfikir apakah masih ada yang tertinggal dan belum masuk ke tas ranselku?, dan ternyata semuanya tlah beres aku pun langsung melanjutkan langkah kakiku menuju sepeda motorku. Karena aku juga tak mau berlama-lama di tempat di mana orang sudah tak lagi nyaman di dekatku.
Sepanjang perjalanan aku pun tak henti-hentinya untuk terus berfikir, memkirkan hal apa yang telah aku perbuat kepada Ferdy. Sehingga dia berubah dingin seperti itu kepadaku. Padahal aku sudah berharap lebih kepadanya. Aku telah menganggap dirinya sebagai saudaraku juga sebagai kakak keduaku setelah kakak kandungku yang kini telah jauh merantau meninggalkanku di kampung halaman bersama kedua orangtuaku.
Kamu begitu baik padaku, kamu selalu menghibur aku, saat aku terpuruk dalam hidupku, kamu selalu membela aku di saat yang lain telah menjauhiku dan memarahiku di depan teman-taman yang lain. Kamu selalu membantuku disaat aku membutuhkan bantuan. Tapi sekarang?, aku benar-benar tak lagi menemuakan itu semua ada pada dirimu. Semua telah hilang dari kehidupanku. Sungguh aku tak ingin ada spasi di antara kita. Aku ingin kamu yang dulu, aku butuh kamu yang dulu, aku rindu masa-masa dulu bersamamu. Tolong mengertilah atas keputusanku, aku minta maaf jika aku memang ada salah padamu. Entah yang dulu mau pun yang sekarang…

Adzan subuh mulai terdengar dari kamar tidurku. Kini aku bergegas menuju kamar mandi dan langsung mengambil air wudhu. Tak lupa dengan aktifitasku, setiap hari sebelum semuanya terselesaikan aku tak berani untuk berangkat ke sekolah karena mencuci pakaian merupakan sudah menjadi tanggung jawabku dan merupakan sarapan pertamaku sebelum aku menyantap nasi sebagai modal untuk memulai kegiatanku hari ini.

Ibuku selalu perhatian dan sayang padaku. Walau kadang aku suka ngambek dan males untuk mengerjakan rumah beliau selalu sabar dan mau menasehatiku. Hingga kau kembali bersemangat dan tak lagi terpuruk. Orangtuaku selalu menyisipkan waktunya menyiapkan sarapanku di selala aku yang masih di repotkan dengan cucian-cucian kotorku.
“Nak, Nih sarapannya. Mau makan sekarang apa nanti. Soalnya ibu sudah dinginkan sayur buat nanti kamu makan.”
“Ya bu, tapi nanti ajalah taroh saja di meja soalnya masih belum jemur nih baju.” Jawabku.
“Ya sudah ibu taroh di meja ya.” Mungkin karena baginya tak ada lagi yang harus diperhatikan selain aku. Maklum, semua saudaraku tak lagi serumah denganku mereka sibuk masing-masing. Yang sulung pergi merantau sedangkan yang bungsu sedang menimba ilmu di persantren untuk itu hanya aku yang masih menetap dirumah dengan orang tua.
Semua pekerjaan telah aku selesaikan. Sarap pagi telah aku masukan ketempat penampungnya. Dan kini waktu pun sudah menunjukan pukul 6.30 WIB. Dengan cepat dan sigap aku pun langsung mengambil handuk untukku mandi dan bersiap-siap pergi ke sekolah. Kini semuanya sudah terlihat rapi dan siap untuk berangkat.
“Nak, katanya mau bawa ini kue buat teman mu di sekolah. Jadi gak?. Ibu pun mengingatkan akan kue yang tadi pagi aku rancang untuk aku bawa.
“Tak usah bu, dah telat nih, buat ibu saja sama bapak.”

Aku pun bergegas mengendarai sepeda motorku dengan harapan aku tak terlambat datang ke sekolah. Tapi ternyata setelah sampai di depan gerbang aku tak melihat seorang siswa pun masih berada di luar kelas semuanya telah masuk ke ruang kelasnya masing-masing. Dengan ditemani oleh seorang guru pembimbing. Ya, di sekolahku memang sudah terbiasa melakukan tadarus al-Qur’an sebelum memulai pelajaran. Karena pihak kepala sendiri berharap dengan adanya pendidikan dan pengajaran seperti itu anak bisa terbiasa membaca al-qur’an dan mencintai alqur’an. Dengan begitu mereka akan merasa rugi dan berhutang jika belum membacanya di pagi hari.

Dengan langkah yang sedikit dipercepat aku pun langsung menuju tempat dudukku. Dengan di hiasi bunga-bunga yang indah dan menawan aku pun berharap hari-hariku kan menjadi indah dan berwarna. Bunga-bunga itu memang sengaja aku rawat agar tetap bersih dan tertata rapi. Aku paling tidak suka dengan tempat yang berantakan. Aku ingin semuanya terlihat aman dan nyaman untuk itu aku berusaha menyulap tempat dudukku sedemikian rupa, dengan harapan
“nyaman dan enak untuk dipandang”.

Hari ini aku berharap dunia akan terlihat cerah dan terang. Secerah hati dan fifkiranku. Karena aku berharap pagi ini Ferdy tak lagi dingin saat bertemu denganku. Dan kali ini aku melihat sosok Ferdy sedikit mulai terlihat seperti dulu dan tak lagi murung seperti halnya hari-hari kemaren. Namun syang, itu hanya dengan teman yang lain. Tapi aku masih sedikit lega. Aku berusaha sedikit demi sedikit mendekati dirinya dan menelusuri hatinya apakah ia marah kepadaku apa tidak?, dan beruntungnya kali ini dia mulai sedikit membuka bibirnya yang sempat tertutup rapat. Ya, kali ini ia mulai sedikit mengajakku bicara walau belum seperti dulu sebelum adanya tugas makalah kali ini. Tapi aku sedikit bersyukur kepada tuhan karena aku sudah mendapatkan tanda-tanda kalau dia mau memaafkan aku.

Dan ternyata… beberapa menit kemudian aku sudah mulai menemukan sosok dirinya yang dulu aku rindukan. Semua ini benar-benar buatku lega dan bahagia karena aku bisa bersamanya kembali. Memang kehidupan akan selalu terasa naik turun kadang ada di atas dan kadang ada di bawah semuanya harus kita lalui dengan sabar dan ikhlas. Karena tak ada Tuhan yang mau menguji hambanya diluar batas kemampuannya. Dan hidup itu akan selalu berarti jika terjadi hal seperti ini. Dan kejadian itu aku jadikan sebagai pembelajaran buat ke depannya dan semoga aku bisa lebih dewasa lagi dalam menjalani hidup ini.

Cerpen Karangan: Mahmudah
Facebook: Mudah Dahwa Aurellia Hasan

Cerpen Mengapa Ada Spasi Di Antara Kita? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tunggu Aku Sampai Tiba Waktunya

Oleh:
Kehidupan sering mengajarkan kita tentang segala hal. Di antaranya percintaan, persahabatan, kegembiraan dan lain sebagainya. Nadin siswa smp kelas dua, dia mempunyai sahabat yang baik bernama nia. Mereka selalu

A Story of Friendship

Oleh:
Nadia menutup pintu kamar mandi. Ia memutar badannya, lalu berjalan menuju tempat tidur yang berada beberapa langkah di hadapannya. “Hai, kamu sudah bangun.” Ucap Nadia kepada seorang gadis yang

Kau Lewati Begitu Saja

Oleh:
Kamu selalu sama. Aku selalu kamu lewati begitu saja. Dan perkataanku bukan apa-apa untukmu. Kamu juga berpikir kisahku tak ada artinya. Bagai angin yang berhembus di telingamu, dan kamu

Berharap

Oleh:
Namaku Rahayu, aku adalah orang yang selalu merasakan sakitnya berharap. aku mempunyai pengalaman yang bisa akujadikan pelajaran yaitu berharap kepada seseorang. Dulu aku pernah menyukai seseorang namanya Alfian, aku

Rasa Risa (Orang Aneh)

Oleh:
Ya, Doni Alamsyah. Seorang siswa SMA yang begitu populer di sekolahnya. dia memiliki paras yang menawan, yang memungkinkan menghipnotis para siswi yang berada di sekitarnya. Karena ini pula lah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *