Merindu Randi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 18 May 2016

Sore belum sangat menyata, baru sebatas merubah warna langit menjadi sedikit kekuningan. Mentari mulai menggelincirkan diri.
“Aku pulang..” ujarku setelah sampai pada gerbang rumah. Tak ada yang menyahut.
“Bu… Nek.” aku memanggil mereka yang selalu menyambut kepulanganku.
“Ternyata rumah ini kosong.” ujarku penuh rasa heran. Aku bergegas menuju kamarku. Menyimpan tas, sepatu, dan mengganti seragam sekolah yang aku kenakan menjadi pakaian sehari-hari. Sejenak aku berbaring di kasur kamarku, melirik ke arah jendela.
“Wah.. awannya bagus juga ya!” itu yang tidak sengaja aku ucapkan setelah melihat ke arah luar.

“Tina…..”
“suara lantang itu, sepertinya aku kenal.” Ujarku dalam hati.
“Tina… main yuk!”
“Oh ya, aku tahu. Itu pasti Randi.”
“Sebentar ya…” Aku menyegerakan diri untuk menemui Randi yang sedang berdiri di depan gerbang rumahku.
“Main ke mana, Ran?”
“Tempat biasa Na,”
“Oke, ayo!”

Berhektar-hektar luas sawah itu, hanya sepetak yang menjadi tempat bermain aku dan Randi. Melempar-lemparkan lumpur. Penuh tawa. Penuh keceriaan. Tidak merasakan beban yang menjadikan tawa tak nyata. Aku bahagia saat itu. Saat dimana aku dan Randi selalu melewati hari-hari indah bersama. Banyak cerita saat bersamanya. Mungkin jika aku jadikan sebuah novel, akan setebal kamus lengkap yang mencapai ribuan halaman.

“Aku cape, Ran.” Keluhku.
“Baru lari segini saja sudah cape? Payah kamu!” dengan nada mengejek.
Terkadang, sindiran itu menjadikan aku sosok yang kuat. Walaupun pada awalnya aku merasa sakit hati. Namun aku tahu Randi melakukan itu karena ia tak ingin aku menjadi sosok yang lemah. “Enggak… bercanda doang kok,” alasanku saat Randi mengejek.
“Dasar kamu, ayo kejar aku lagi!!” sambil melarikan diri karena takut terkena senjata lumpurku yang hebat.

Hari semakin gelap. Matahari hampir terlelap. Aku pulang dengan keadaan kotor. Bajuku penuh dengan lumpur. Begitu pun Randi. Aku dan Randi beranjak pulang.
“Seru juga ya hari ini.” ungkapku pada Randi.
“iya, semoga besok dan seterusnya kita masih bisa seru-seruan kayak gini ya!” jawab Randi.

Ketika Ujian Nasional semakin mendekat.
“Tina…” teriakan Randi.
“Suara Randi tuh, hmm,” ucapku dalam hati sambil senyum-senyum.
“Tiga hari lagi aku UN, doakan aku ya supaya Tuhan melancarkan ujianku.” Kata Randi sambil menatap mataku.
“Iya pasti aku doakanlah Ran, aku kan sahabat kamu.” Jawabku.
“Duuh baiknya sahabatku ini. Eh iya, besok dan seterusnya sampai aku selesai UN aku mungkin akan mengurangi waktu bermain bersamamu. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk Mamaku. Aku akan belajar, belajar, dan belajar demi hasil UN terbaik. Boleh kan?” penjelasan Randi sambil haru.
“Ya jelas boleh lah Ran, tapi kamu harus janji setelah UN selesai kamu harus temui aku lagi.” Balasanku atas penjelasan Randi dengan sedikit rasa cemas.
“Iya tentu lah Na, aku janji.” Ucap Randi.

Sepertinya hari kamis saat itu menjadi hari pertemuan terakhir antara aku Randi, Randi membuktikan ucapannya bahwa Randi akan mengurangi waktu bermainnya. Perlahan, Randi semakin jarang menemuiku. Ia terlalu fokus pada ujian itu. Aku menunggu, menunggu, dan menunggu. Tibalah hari ujian pertama Randi, aku menitipkan surat kecil pada Ibu Randi yang bertuliskan, “Semangat Randi, ini ujian pertamamu! Semoga lancar ya!”
“Mah, aku titip ini untuk Randi, semoga Randi sempat membacanya.” ujarku sambil memberikan surat itu.
Hari pertama, aku tidak mendapatkan balasan surat dari Randi.

Hari kedua, aku masih melakukan hal yang sama. Kali ini, isi suratku bertuliskan, “Gimana ujiannya kemarin? Hari kedua nih sekarang, kamu pasti bisa! Aku mulai merindumu Randi, rindu bermain lagi, semoga cepat selesai ujianmu!” Lagi dan lagi. Terus menerus aku lakukan itu hingga ujian selesai. Bodoh. Aku masih saja menunggu balasan dari Randi yang sudah jelas melupakan aku. “Hmm sepertinya Randi melupakan janjinya.” monologku di depan foto yang menempel di dinding.
“Ah.. sudahlah mungkin dia sibuk.” sambil mengacuhkan pikiran negatifku.

Waktu terus berlalu, kurang lebih 92 hari Randi tidak memanggil namaku di depan rumahku. Ia telah di bangku SMP, dan aku? Hahaha aku masih di bangku SD. Sepertinya Randi lebih mengutamakan pendidikan dibanding aku yang telah lama bersamanya. Saat itu, saat Randi mulai menghilang dari hari-hariku, aku selalu berdoa agar Randi diberi waktu yang lebih supaya bisa bermain lagi denganku. Namun doa itu ternyata sekedar permohonan yang sia-sia.

Dua tahun berlalu, mungkin kini Randi sudah kelas 8 -2 SMP. Rinduku pada Randi masih sama seperti dahulu. Hanya saja doa yang berbeda. Aku memohon kepada Sang Pemilik Rindu ini, agar ia mengambilnya dariku. Karena aku lelah telah merindu Randi. Aku pun meminta agar ujian nasionalku dipermudah oleh-Nya. Kali ini, Tuhan mengabulkan doaku, aku lulus dari ujian itu! Aku jadi tak sabar untuk menjadi siswi SMP. Teringat dengan Randi yang dahulu meninggalkanku karena ingin fokus terhadap pendidikannya, aku jadi menengadahkan kedua tanganku sambil berkata, “Tuhan, semoga masa-masa SMP-ku ini menyenangkan, agar aku tidak melupakan seseorang yang telah menyayangiku, yang telah menjagaku dan aku juga tidak melupakan Randi yang telah meninggalkanku.”

Hari ini adalah hari pertamaku di sekolah baru. Memakai seragam putih biru.
“Andai aku dan Randi satu sekolah.” harapku saat menginjakkan kaki di sekolah baru.
Setelah sosialisasi di sekolah selesai, aku beranjak pulang menemui Randi. Aku ingin Randi tahu, bahwa aku rindu. Dan aku ingin menceritakan banyak hal padanya.
“Ran..” teriakanku di depan rumah Randi.
“Randi…” aku mencoba lagi.
“Sepertinya Randi sibuk.” pikirku sambil melangkahkan kaki menuju rumahku.
Sahutan kerasku di depan rumah Randi, diabaikan. Aku seperti pengemis cinta yang mengharapkan balasan dari Randi. Uwekk.

“Hai Ran, kamu apa kabar?” teguran sederhana yang tak sengaja ke luar dari mulutku saat melihat Randi yang lama tak ku lihat lagi.
“Eh Tina,” balasan Randi dengan senyuman sederhananya, lalu pergi seolah tak ingin berlama-lama denganku.
“Randi duluan ya, Na.” Kalimat singkat itu seperti ramuan pengganjal rindu. Namun terlalu singkat dan didukung dengan pergi begitu saja, membuat hati ini tak karuan. Aku harus senang, atau… kecewa? entahlah. “Aneh, bisa semudah itu Randi melupakan aku dan kenangan bersamaku selama ini.” Ujarku saat beranjak pulang dari depan pagar rumah Randi.

Gerbang, kamar, jendela, dan sepetak sawah dekat rumahku kini menjadi saksi bisu tentang keakraban antara aku dan Randi. Semua kenangan bersama Randi tak bisa atau bahkan tak akan pernah bisa aku lupakan. Entah karena terlalu indah atau memang Randi bukan untuk dilupakan, tetapi untuk dikenang sebagai kisah persahabatan yang sangat terkesan. Entahlah.

Seandainya Randi membaca cerita singkat tentang aku dan dirinya ini, aku akan menuliskan pesan yang ingin aku sampaikan padanya: “Cerita tentangmu masih dan akan tetap ada di hati ini sampai Tuhan mengizinkan aku mengingat dan mengenang semua tentang kita. Dimanapun kamu berada, aku ingin kamu tahu bahwa aku akan tetap menunggu dan merindumu, Randi.”

Cerpen Karangan: Muzdalifah Agustina
Facebook: https://facebook.com/muzdalifahtinna

Cerpen Merindu Randi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kado Istimewa

Oleh:
Sejak dulu aku telah berjanji suatu saat aku akan menghadiri pernikahan sahabat SMP-ku dulu Rizal. Aku yakin Rizal masih mengingatku sebagai sahabatnya 20 tahun yang lalu, meskipun dia sekarang

Seandainya Kau Mencintai Ku (Part 3)

Oleh:
“Dinara, tunggu,” Teriak seseorang dari lapangan basket. Dinara menoleh ke arah suara yang sudah tidak asing lagi baginya. Tampak Ray tengah berlari menuju ke arahnya. “Din, aku mau ngomong

Cinta Untuk Sahabat

Oleh:
Aku (Rangga), Rio dan Randi adalah 3 sekawan sehidup semati. Kemana-mana kita pasti bareng. Kita kuliah di satu kampus yang sama, tempat makan favorit kami pun sama. Akan tetapi

Ice Cream Story

Oleh:
Papa baru saja dipecat dari perusahannya, setiap hari dia berusaha untuk mendapatkan pekerjaan tapi tak kunjung dapat juga. “Adnan, gimana nih, SPPku harus dilunasi minggu depan, tapi papaku tak

Saat Acara Perpisahan Itu

Oleh:
“Dayu!!! My bag oh….” kata Gusti Ayu sambil nangis dan mengejar malaikat nakal Dayu Dyah, The Boyband sedang nyanyi-nyanyi di pojok ruangan. Gung Mita dan Sonnya rebutin Dayu Sita,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *