Mimpi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 20 August 2018

Jutaan bintang menodai wajah langit bulan desember, sang raja malam berdiri kokoh, ia menunduk malu kala hembusan angin berhilir mudik ke arah utara. Suara kendaraan mulai lenyap, nyanyian burung senja pun begitu, sebentar terdengar cicitan unggas bersayap itu dari atas pohon sekedar rebutan tempat untuk terlelap, lalu senyap lagi.

Alam sudah terlewat kelam, entah sudah berapa kali kepalaku terarah pada jam dinding yang terpampang di atas pintu kamar, masih jam 12.24. Kuhela nafas pendek, waktu seakan berjalan jauh lebih lambat melawan detakan jantungku yang malah mempercepat. Kutengadahkan kepalaku menatap langit, sekelebat ada bayangan wajah yang tergambar di sana, aku terpejam. Kutatap langit sekali lagi, hanya bulan purnama yang tengah tersenyum getir ke arahku. Aku istighfar.

Beberapa detik kemudian, terdengar suara seseorang. Fay Pecundang! Aku tertunduk, Aku tau aku hanya berhalusinasi. Tapi tiba-tiba, kata-kata kasar yang tertulis di akun facebook temanku sekali lagi mengganggu pikiranku yang tadi sempat hilang. Kupejamkan mataku sekali lagi, berharap dapat melupakan semuanya. Tapi semua itu malah memantul-mantul di kepalaku, semakin keras berdenging. Suara gema yang hanya bisa kudengar sendiri.

Kusambar ponsel yang tergeletak di meja belajarku, kubaca tulisan yang tertera di layar ponsel itu.
“Gue tau lo suka sama mantan gue, dan gue gak merpermasalahkan itu. Tapi kenapa lo ngejelek-jelekin gue? Lo bilang lo sahabat gue? Gue gak nyangka kalo lo punya muka dua, dasar serigala berbulu domba, si tebal muka” kuusap dadaku, kedua mataku berubah nanar. Ada yang salah, iya. Aku tidak pernah menjelek-jelekkan sahabatku pada siapapun. Ah Tuhan, sosok pecundang dalam diriku belum sepenuhnya menghilang, sekarang apa lagi?

Kutekan kotak komentar, isinya makian semua.
“udah kita bunuh aja si Fay bareng-bareng”
“ahaha segitu keselnya lo sama dia”
“kesel banget, gak tau malu tuh orang. Dasar pengkhianat”
“eh kok lo gak kasih tau sih dia suka sama mantan gue dari dulu? Ahaha iya lupa, lo kan sahabat dia”
“sahabat? Sejak kapan? Lo juga sahabat dia, haha untung mantan lo cuma mainin dia doang”
“huuu kasian, dia cerita sama gue, di SMA dia udah dapet pelangi baru. Lo tau?”
“tau, si Fay ngegebet Farel kelas gue. Mimpi!!”

Aku istighfar lagi. Tak sadar tanganku tergerak untuk mengusap dadaku yang terasa sesak. Aku terdiam, lama.
“si Fay ngegebet Farel kelas gue. Mimpi!!” kata-kata itu terngiang di kepalaku. Iya, harusnya aku berpikir dua kali untuk menyukai seseorang. Bisa apa aku untuk menjadi prioritas Farel? Zidan saja, yang disebut-sebut mantan oleh si pemilik akun facebook yang barusan tulisannya aku baca, malah mengecewakan kepercayaanku, malah memanfaatkan ketulusanku, malah menyia-nyiakan perasaanku. Mimpi besar jika Farel melakukan hal yang sebaliknya terhadapku.

Aku menatap garis-garis nasib di telapak tangan kiriku, tampak nyata di bawah sinar purnama bahwa ada guratan kepedihan di tangan itu. Aku rindu menjadi orang yang tidak tau tentang kehidupan remaja, yang dibuat rumit oleh cinta. Aku rindu menjadi makhluk polos yang selalu diberi harapan untuk dibelikan mainan, bukan diberi harapan cinta yang akhirnya hanya main-main. Aku rindu masa itu, aku rindu Tuhan.

Dan waktupun berlalu begitu saja, tak kutanggapi makian itu, tak kuhiraukan desas desus orang lain yang tidak tahu menahu tentang kehidupan pribadiku. Mungkin mereka juga lelah menjinjing kebencian, hingga amarah itu teredam dengan sebuah penjelasan dan kata maaf. Tapi kata-kata yang masih mengganjal saat ini adalah kata-kata, Fay ngegebet Farel kelas gue, Mimpi!
Kata-kata itu tidak mudah kulupakan begitu saja, begitu kejam hinaan itu, begitu rendah cacian itu. Tapi aku juga lelah menggenggamnya.

Kulupakan mimpi untuk bisa masuk ke dalam ruang spesial di hati Farel. Sebenarnya mimpi itu masih ada, tapi terpaksa harus kubuang. Harus!! Setiap kali mimpi itu muncul, buru-buru kutekan dengan kata-kata biadab itu (si Fay ngegebet Farel kelas gue, Mimpi). Atau kutindih mimpi itu dengan berbagai ketakutan yang kuciptakan sendiri, yang dalam kenyataannya tidak ada. Atau apa saja yang membuat mimpi itu mati perlaham, pokoknya mimpi itu harus pergi, agar aku tidak terusik oleh kekecewaan dan rasa kehilangan.

Tempo itu, sekitar pukul 14 lewat, beberapa menit setelah bel tanda pulang berdering, di bawah beringin yang dingin, disaksikan gedung sekolah yang angkuh, seseorang melintas tepat di depan mataku. Udara bicara, gerimis menitis, tapi aku tak peduli, di kemuraman cakrawala yang terbuka. Aku terpaku sebentar menatap seseorang yang lebih tinggi dariku dengan rinci, matanya bergerak ke sudut, aku terhenyak. Ia berhenti melangkah, lalu tersenyum kecil ke arahku. Aku melongo, pasti ini imajinasi. Kenapa aku terus menerus berhalusinasi? Ini pasti karena jarak antara apa yang aku inginkan dengan realita sebenarnya saling bertolak belakang. Aku mendesah frustasi. Tapi tidak, ini nyata, dia tersenyum ke arahku, dan aku yakin ini bukan imajinasi.

Sebelum kubalas senyumannya, ia telah lebih dulu berlalu. Aku meremas ujung sweaterku dengan gusar.
“gebetan lo tuh” ujar seseorang sambil menepuk pelan bahuku, aku tersentak, lalu menoleh. Sesil tengah tersenyum lebar, namun kurasa terkesan sinis. Aku tersenyum miring.
“gue ngegebet Farel?” aku menaikan sebelah alis, lalu tertawa sumbang. “Mimpi!!” ucapku sambil menelan ludah pahit. Ada kepedihan yang tak bisa kugambarkan usai mengucapkan kalimat itu.
“kenapa Mimpi?”
“karena Farel gak akan suka sama gue” aku menghela nafas pendek, kuangkat bibirku untuk membentuk senyum, walau yang kubisa hanya tersenyum getir. Berusaha sok tegar? Iya, bisa apa selain itu.
“Kayla pernah bilang gini, si Farel bego banget suka sama si Fay. Gue heran, pas gue tanya kenapa bego, dia langsung diem. Heran aja, si Kayla kan udah lama kenal sama lo, kita bertiga bersahabat sejak SD, masa gara-gara hal sepele dia bisa ngelakuin hal tolol kyak gini ke elo sih?” Sesil mengerlingkan matanya, aku ternganga untuk beberapa saat.
“Farel suka sama gue? Lelucon! Lo boong kan?” Kataku seolah mengintimidasinya, dia mengerutkan keningnya.
“lo gak percaya sama gue? Gue berani sumpah kalo si Kayla pernah ngomong gitu, tumpah, tanpa dikurang atau ditambah kata-katanya” Ucapan Sesil bernada sedikit kesal. Tanpa kusadar, senyumku mengembang, bunga yang ada di dalam hatiku yang tadinya layu kini bermekaran, mataku pasti berbinar sekarang. Ajaib! Ini seperti aku kembali lagi menggali harapan yang sudah terkubur jauh.

Sesil menghadiahi satu pukulan kecil di kepalaku.
“mulai sekarang, jangan merendah lagi, ya? Jangan galau mulu!” aku nyengir.
“si Farel pasti udah tau kan gue suka sama dia?” tanyaku ragu, Sesil mengangguk mantap. “tapi dia kok diem aja? Dia pura-pura bego atau apa?” desisku pelan, nyaris seperti membisik.
“mungkin dia lagi nungguin waktu yang tepat, lo nunggu dengan sabar bisa kan?”
“gue asik menunggu dan bersabar, si Farel enggak tau sedang ditunggu dan enggak sadar-sadar” aku bicara asal, Sesil malah menjitak kepalaku. Kabar ini memberi harapan lebih untukku, tapi aku tidak bisa menyangkal bahwa aku masih takut dengan berbagai macam hal. Aku takut jika aku lari terlalu jauh, hanya lelah yang aku dapatkan. Perjuangan yang Sia-sia, Pupus, Pengabaian, Kecewa, Kehilangan, Amarah, Dendam. Hah.. Aku muak dengan semua itu.

Embusan angin bulan Februari menampar wajahku kala itu, ia juga membuat puncak pohon dan daun-daun berkibar hebat hingga ada beberapa daun yang memilih menyerah untuk tetap tinggal di atas dahan. Daun itu turun perlahan-lahan, lalu terlontar jauh, jauh ke arah selatan.
“pulang gak?” ucapan seseorang membuyarkan lamunanku, aku menoleh, dan mendapati Fyo tengah berdiri mematung sambil menunggu jawabanku. Aku langsung mengangguk.
“si Afi mana?” tanyaku celingak-celinguk, berusaha mencari keberadaan sahabatku yang lain.
“udah balik, nebeng, gak tau sama siapa” jawab Fyo apa adanya, aku mengangguk paham, lalu mulai melangkahkan kaki ke arah lapangan. “gue tau lo lagi mikirin soal Farel sama Sesil, jangan baper lah, positif thinking aja! Siapa tau gue sama si Afi cuma salah denger” desis Fyo hati-hati, aku langsung mendongak. Tiba-tiba rasa sakit dengan buas menjalari ruang hatiku, kupegang dadaku yang terasa sesak. Detik berikutnya aku hanya mengangguk, tak ada yang bisa aku ucapkan saat ini.

Angin menyapu kulitku dengan kasar, lagi dan lagi. Menghela nafas panjang, kuarahkan pandangan ke depan kelas Farel, rutinitas yang setiap hari aku lakukan untuk melihat wajah yang tak bisa berhenti aku pikirkan. Farel ada! Dia berdiri di depan kelas sambil memainkan pintu. Jantungku berdegup, tapi kurasa ini agak sedikit aneh. Biasanya, saat bel pulang berdering, Farel langsung menghambur ke luar kelas. Tak peduli ia bagian regu kerja atau apa, ia langsung pulang, tanpa mampir kesana kemari. Kenapa hari ini lain?

Tiba-tiba aku teringat sesuatu, kuhentikan langkahku, Fyo juga melakukan hal yang sama. Dia menatap heran ke arahku.
“bentar Fyo, tunggu di sini” aku menyuruh Fyo menungguku di pinggir lapangan, Fyo tidak protes, ia langsung duduk di bata pinggir lapangan. Aku berbalik, kupercepat langkahku. Entah mengapa aku tiba-tiba berpikir untuk pulang bersama Sesil. Kulihat Sesil tengah menyapu lantai kelasnya, aku diam sejenak. Entahlah aku rasa dia seperti orang asing, dadaku berdegup lagi. Perasaanku menjadi tidak enak, buru-buru kuhampiri Sesil.

“Sil, pulang bareng?” dia mendongak, sempat kulihat perubahan ekspresi wajahnya, tapi ekspresinya sulit diartikan. Matanya juga sempat membulat seolah kaget, tapi sekarang normal kembali.
“ayo!” ucapnya semangat. Ia lalu menyimpan sapu yang tergenggam di tangannya ke dalam kelas. Beberapa detik kemudian ia muncul dengan satu temannya. “yuk” ia menarik tanganku.

Fyo memandang dengan pandangan tak suka ke arah Sesil, keningnya mengkerut ketika menatapku, aku hanya tersenyum simpul. Fyo berdiri, aku menarik tangannya, dan kita menyamai langkah kaki Sesil dan temannya. Fyo yang berjalan di sampingku menceritakan tentang mantannya, aku hanya ngangguk-ngangguk, tapi pendengaranku menangkap obrolan Sesil dengan temannya. Samar-samar kudengar Sesil mengucap nama yang sejak tadi, kemarin, atau mungkin semenjak aku menginjakan kaki di SMA memenuhi isi kepalaku. Farel!! Tidak salah lagi.

Kepalaku sesekali tertoleh ke arah Sesil saat kurasa ia beberapa kali menengok ke belakang sambil tertawa kecil, seolah tengah berbicara pada seseorang. Aku mulai tak sabar, apa di belakang sana ada Farel? Apa Sesil tengah berbicara pada Farel? Aku mendesah frustasi, kubisikkan sesuatu pada fyo.
“Fyo, mungkin gak kalo Sesil pacarnya Farel? Gue takut dugaan lo bener, gue barusan denger Sesil nyebut nama Farel. Fyo, di belakang..”
Belum sempat kuselesaikan kalimatku, kulihat mata Fyo membulat sempurna dan mulutnya terbuka lebar seakan tak percaya oleh suatu hal. Aku mengernyit, mata Fyo menginstruksikan agar aku segera berbalik. Kuputar kepalaku perlahan, dan seketika genggamanku pada tangan Fyo terlepas.

“itu buku PKN, mau dibawa gak?” ucap Farel lembut sambil tersenyum. Mataku tak berkedip. Ucapan Farel bukan untukku, tapi untuk Sesil. Kurangkul bahu Fyo, kucengkram bahunya dengan kuat.
“besok aja.” jawab Sesil tak kalah lembut, temannya mundur selangkah agar Sesil dan Farel berjalan berdampingan. Kutatap tangan kiriku yang tengah digenggam Sesil, aku meringis, dan tetap melanjutkan langkah.
“aku pulang duluan ya?” pamit Farel, Sesil seketika menghentikan langkah. Seolah aku seperti pemain drama linglung, aku tetap melanjutkan langkah sampai Fyo menarik lenganku agak kasar supaya aku berhenti. Genggaman tangan Sesil lepas, entah kapan.
“sama siapa?” tanya Sesil seolah khawatir, mataku bergerak ke ujung, memperlihatkan Sesil yang yang sedang asik bersama Farel, Fyo mendelik. Kuberanikan diri menoleh ke belakang, meski aku tau akan jauh lebih sakit jika melihat adegan itu lebih jelas, tapi beberapa meter dari tempatku berdiri, tepatnya agak jauh dari samping Farel, Kayla dan tiga orang teman kelasnya tengah tertawa meledek ke arahku. Kucengkram lagi bahu Fyo, kali ini lebih kuat sehingga terdengar ringisan Fyo, tapi aku tak peduli. Buru-buru kupalingkan wajahku, Fyo menatap sendu ke arahku.
Mataku sedikit berkaca-kaca.

Fyo menarik lenganku kasar agar aku cepat-cepat menjauh dari tempat itu. Aku pasrah ditarik-tarik macam anak kambing, seketika tubuhku lemas, sendi-sendiku lumpuh, kakiku tak kuat menopang bobot tubuhku. Aku gemetar untuk beberapa saat, dadaku bergemuruh, duniaku runtuh, suara yang kudengar hanya angin dan sepi. Apa yang paling aku takutkan telah terjadi. Kenapa? Kenapa harus Sesil?

Jadi, saat aku berpikir Farel tersenyum ke arahku waktu itu, ternyata ke Sesil? Pantas saja senyuman Sesil terkesan sinis hari itu, tapi kenapa Sesil malah menumbuhkan harapanku yang sempat hilang?
Jadi, waktu tadi Farel berdiri di depan kelasnya, itu nungguin Sesil?
Bodoh!!

Ingatanku kembali pada masa saat pemecahan kelas, hari itu jam istirahat, aku dan Sesil menghampiri Kayla, jelas waktu itu belum terjadi masalah antara aku dengannya.
“itu cowok yang gue ceritain, yang satu kelas sama gue waktu MOS” Aku menunjuk seorang pria yang tengah sibuk menulis di jejeran bangku paling depan, mata Sesil mengikuti arah telunjukku. “itu Sil cowok yang pake jaket item, yang lagi nulis. Yang dia tulis itu liat dari buku catetan gue” ucapku bangga.
“ganteng Fay, gue suka. Dagunya tajem banget.. Kok bisa sih dia sekelas sama si Kayla” ucap Sesil kagum, aku tersenyum puas. Pilihanku gak mungkin gagal.
“namanya Farel” aku memberitahunya, ia mengangguk.
“Farel!!” Sesil tiba-tiba berteriak memanggil Farel, aku terkesiap, Farel menatapku bingung. Ia pikir mungkin aku yang memanggilnya, aku mengarahkan pandangan ke segala arah, berpura-pura tidak tau.
“cinta sama kamu, boleh?” tanya Sesil tanpa beban, aku langsung menoleh, mulutku menganga seakan tak percaya. Kutoleh Farel, ia juga kelihatan kaget, namun..
“boleh..” jawab Farel enteng dengan seutas senyum kecut, ekspresi dingin tergambar di wajah Farel sesaat sebelum ia melanjutkan menulis.

Aku jongkok di gang kecil arah rumah Fyo, gang ini sepi, jadi aku bisa melepas beban mataku sekarang. Fyo meremas pundakku, aku diam. Ia ikut jongkok di sampingku. Pasti aku terlihat menyedihkan sekarang, aku sangat ingin menangis, tapi belum bisa, ada Fyo. Terkadang aku harus menyingkir dari keramaian, sembunyi sendirian, hanya untuk menangis.

Angin berontak, aku mendongak ke langit, titik-titik air mulai berjatuhan. Hatiku bertambah perih. hujan? Bagus! Apa hujan ikut meledekku? Apa sekarang langit yang menggantikanku untuk menangis?

Fyo menarik lenganku agar aku berteduh di bawah atap milik tetangganya, aku tak menurut. Malah kubiarkan buliran bening itu menimpaku, biar saja. Biar hujan yang meluapkan kekecewaanku, biar derasnya yang meredam amarahku. Fyo menyerah, ia sudah basah kuyup, ia memilih mematung di hadapanku, mungkin ia bingung harus melakukan apa.

“Fay!!” panggil seseorang histeris, aku mendongak, Afi berlari kecil ke arahku, ia langsung merangkul punggungku dan memelukku erat.
Es di pelupuk mataku akhirnya meleleh, entah mengapa aku mendadak menangis di pelukan Afi. Fyo ikut merangkulku, mereka berdua menatap sendu ke arahku yang sedang menangis di bawah hujan. Sempat kulihat ekspresi Fyo, matanya benar-benar menatap iba ke arahku, ini untuk pertama kalinya Fyo melihatku menangis, meski 3 tahun kami satu kelas saat SMP. Kesesakan di dadaku semakin parah, aku menangis sejadi-jadinya, terakhir aku menangis seperti ini karena Zidan, dan waktu itu aku menangis sendirian.

Sekarang ada Afi dan Fyo yang menemani masa dukaku, aku tak perlu berpura-pura tegar lagi sekarang. Semua itu melelahkan. Aku tak menyangka bahwa aku akan mendapat luka seperti ini lagi, semua terjadi begitu saja, dan aku belum tahu bagaimana cara menyembuhkannya. Ini seperti luka yang sudah lama berdarah lagi.

Aku takkan pernah lupa, hari jum’at, Februari, hujan lebat, amukan angin, saat itulah realita merenggut paksa kebehagiaanku, realita mendinding aku dan imajinasi, realita membangunkan aku dari Mimpi.

Cerpen Karangan: Ririn Rizeela
Blog / Facebook: Ririn Rizeela

Cerpen Mimpi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Forever Invisible

Oleh:
Hidup tak akan berwarna tanpa orang-orang di sekeliling kita. Termasuk sahabat. Betul, sahabat adalah seseorang yang memiliki hubungan dekat dengan kita. Bahkan mungkin sahabat dikategorikan sebagai orang yang paling

Karena Dia Melanggar Prinsipku

Oleh:
Sulit rasanya jika harus pura-pura tidak mencintai. Aku menyukainya dari pertama aku melihatnya. Tapi rasa cinta itu hanya aku yang tahu karena prisipku dan janjiku kepada diri sendiri bertolak

Secret Admirer

Oleh:
Tok… Tok… “Rara bangun sayang, solat subuh dulu yuk” suara lembut itu membangunkan mimpi indah Rara. “iya bundaa, Rara ambil wudhu dulu yaa” Pagi ini adalah hari pertama Rara

Hujan Dan Pelangi

Oleh:
Hujan baru saja berlalu. Ya, hujan. Sudah lama rupanya hujan tak turun di hatiku ini. Namun, jangan salah sangka dulu. Hujan yang ku maksud adalah segala permasalahan yang kulalui

Teater Nahkoda

Oleh:
Nesya: Errrggghhh… gerahnya minta ampun deh! Neraka bocor kali ya.. erggghhh… kami telah menunggu selama 7 jam disini, namun aula belum juga dibuka. Lio: Sabar sya, kita semua juga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Mimpi”

  1. Hardianti says:

    Boleh gak cerpen ny aku bagikan. Cerpen nya bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *