Miselium Fungida

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Perjuangan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 31 July 2014

Kota Kecil Fergcon, dibangun atas pegunungan dan hutan yang mengelilingi. Tepat dari arah utara jauh berkilo-kilometer jaraknya, kau dapat mendengar debur ombak yang dahsyat menghantam tebing bebatuan curam bertutupkan kabut tebal.
Kota yang tak terjamah dunia luar, berkutat dalam sempitnya pengetahuan di tengah revolusi besar-besaran bidang ekonomi dan teknologi di luar sana. Sebuah negeri yang terisolasi.

Ketika itu, masyarakat tengah gencar mendengar berita tentang sebuah buku ilmu pengetahuan yang katanya hanya omong kosong. Buku tentang keberadaan sebuah jamur mematikan yang dapat mengancam Negeri Fergcon suatu saat, mendapat kritikan pedas dari masyarakat. Cercaan dan cemoohan pun menghiasi terbitnya buku kontroversial itu. Dewan dalam Negeri tersebut akhirnya mengumumkan untuk melarang peredaran, kepemilikan dan meperjual belikannya karena hanya berisi mitos belaka yang menakut-nakuti masyarakat.

5 tahun kemudian..
Siang ini, Qei, Fei, dan aku tengah sibuk mencari buku yang berisikan informasi tentang sebuah jamur mematikan.
Mr. Gene, kepala Dewan Keamanan Negeri Fregcon menyuruh kami mencari buku itu di perpustakaan kota. Kurasa ia bermaksud menghukum kami karena telah mengacaukan upacara pemakaman Pak Walikota. Qei tampaknya sudah tak kuat untuk mencari di tumpukan buku tua nan lapuk dan berdebu di rak dekat pintu masuk. Sedari tadi ia terus menerus bersin. Sering sekali, kurasa hampir lima menit sekali.

“Ada warga yang berprasangka bahwa kita pelaku dibalik kematian Pak Walikota.” Fei berkata, tangannya sibuk memilah-milah buku tua sambil melihat setiap judul buku yang dipegangnya.
“Mana mungkin kita yang membunuhnya, itu kan tindakan kriminal.” Qei menimpali. Tak berselang lama, ia kembali bersin. “Bagaimanapun, di mata masyarakat kita tetaplah tiga anak yatim-piatu yang sering mengacaukan kota” ucapku.
“O, ya kenapa Mr. Gene menyuruh kita mencari buku itu?” Tanya Qei. Aku dan Fei serempak menggeleng. “Padahal dahulu buku ini dimusnahkan” Qei menambahkan

Tiba-tiba pintu perpustakaan terbuka, seseorang bertubuh besar berdiri di ambang pintu. Kami bertiga sudah dapat menebak, itu Mr. Gene.
Mr. Gene kemudian mendekat, wajahnya terlihat pucat. “Apa kalian sudah menemukan buku itu?” tanyanya, kami menggeleng. Kini wajahnya terlihat putus asa. “Apa kalian mengetahui apa yang menyebabkan Pak Walikota wafat saat makan siang di kantor nya?” Nada Mr.Gene tak seperti bertanya, tapi lebih seperti mencari kepastian.
Kini aku menjawab dengan lantang, “Yang pasti bukan kami”.
“Aku percaya bukan kalian yang melakukannya, tapi jamur itu. Miselium Fungida. Jika kalian memperhatikan sejenak jasad Pak Walikota, kalian akan mengetahui betapa berbahayanya jamur itu”. Kami hanya mendengarkan cerita Mr.Gene, selanjutnya kami terdiam tak berkomentar apapun.

Dari luar perpustakaan terdengar suara orang terbatuk-batuk. Kami termasuk Mr. Gene menoleh ke arah pintu masuk. Profesor Albus, ia tengah berdiri di ambang pintu dengan tubuh gemetaran. Wajahnya yang keriput, tertutupi masker dan hanya menyisakan kedua matanya yang tajam memandang kami. Kedua tangannya memegang sebuah buku beserta setoples jamur berwarna hijau. Dalam sekejap tubuhnya ambruk, terjatuh ke lantai. Kami segera menghampirinya. “Profesor! Anda baik-baik saja?!” Suara Mr. Gene terdengar khawatir. Dengan perlahan, tangan profesor teracung dengan buku di tangannya. Ya! Buku yang kami cari.

Upacara pemakaman Profesor Albus berlangsung khidmat, meski aku, Fei dan Qei mengikutinya dengan mata terbelalak. Pertama, karena Jasad Profesor menghijau dan di beberapa bagian tubuhnya ditumbuhi jamur hijau. Kedua, jasadnya tak dikubur melainkan ditenggelamkan ke Danau Ferst. Kurasa jasad Pak Walikota bernasib sama, saat mengacaukan pemakaman kami bertiga langsung diamankan Mr. Char dan melewatkan sesi penenggelamannya.

Kini kami bertiga mengalihkan perhatian pada buku tentang jamur mematikan itu. Kami membaca buku itu di perpustakaan kota. Saat dibuka, terlihat sepucuk surat terselip di halaman pertama buku yang berisi wasiat sang Profesor.

“Miselium Fungida, sebuah jamur yang kutemukan dekat Lembah Hitam enam tahun yang lalu. Aku mengira jamur itu akan banyak membantu dalam ilmu pengetahuan. Selama penelitian berlangsung aku tak menyadari betapa berbahanya semua yang kulakukan. Tanpa sadar, jamur itu berkembang biak dengan cepat. Memenuhi ruang kerjaku. Dan saat aku memutuskan pindah ke ruang kerja yang baru, tanpa sadar telah mengirup spora jamur yang tengah berkembang biak. Awalnya terasa sesak, dan menghujam. Aku memakan sejumput bubuk tanaman washabi kering yang ku bawa sepulang merantau dari negeri luar. Meski aku yakin, ajal akan datang menjemput. Aku membuat penelitian untuk mematikan jamur yang tumbuh di ruang kerjaku. Dengan menimbunnya menggunakan tanah dari Hutan Hitam, kemudian aku menulis secara lengkap hasil penelitianku. Sayangnya, masyarakat memberiksan respon negatif…
Jadi, kumohon untuk memberitakan sebuah kebenaran”

Setelah diselidiki, ternyata jamur dalam toples yang dibawa oleh Profesor Albus adalah bibit terakhir jamur Miselium Fungida. Mr. Gene pun memutuskan untuk memusnahkan jamur mematikan itu. Dan siapa lagi yang ditugaskan untuk itu, pastilah kami!

Sebagian masyarakat berpendapat bahwa kami memang pantas untuk memusnahkannya. Sebagai penebus kenakalan kami yang katanya sih, sudah melebihi batas kenakalan anak seusia kami. Tahukah mereka, bahwa yang kami inginkan adalah sebuah pengakuan. Seringkali, banyak orang meremehkan kami. Atau sama sekali tidak menganggap kami ada. mereka selalu memandang kami dengan tatapan sebal dan jijik.

“Sudahlah, Arletta. Anggap saja ini adalah jasa yang kita berikan untuk mereka semua” Ujar Qei bijak. Aku hanya menghela napas.

Mr. Gene menjelaskan cara memusnahkannya. Seperti yang tertera pada buku yang tempo lalu kami cari. Mudah, sih. Hanya menanamnya di Lembah Hitam. Dan jamur itu akan mati perlahan, tanpa sempat berkembang biak. Hanya saja, rute menuju Lembah Hitam yang sangat jauh. Tentunya, kami harus masuk ke hutan.

Mr. Gene memberi kami perbekalan, kompas dan peta. Tak lupa kami membawa buku serta Setoples jamur Miselium Fungida.

Kami pun pergi meninggalkan kota, tanpa ada satu orang pun sedih akan kepergian kami. Hanya terdengar hinaan serta cibiran dari warga kota.
“Aku harap kalian tak kembali kemari. Agar hidup kami tenang, tanpa gangguan kalian bertiga” ujar seorang wanita yang berdiri dekat Mr. Gene. Ia tampak jengkel, karena sebulan yang lalu kami menghancurkan Tenda dagang miliknya.

Tak terasa, malam menjelang. Kami memutuskan untuk bermalam dan membuat api unggun. Kami pun memakan perbekalan.
Tiba-tiba terdengar suara gemerisik di semak-semak belakang Qei. Kami langsung terdiam. Beruang, kah?
Kami bertiga saling berpandangan dengan wajah tegang.
“Hmm… aku rasa ada makanan! Dan asap dari api unggun!” jerit sesorang dari balik semak-semak. Nadanya terdengar girang.
Seorang pria dengan wajah lusuh, kotor dan acak-acakan. Janggutnya tumbuh liar, agak menakutkan jika melihatnya. Namun, sebuah senyuman ramah meruntuhkan kesan pertama.
“Namaku Walter, aku berasal dari Negeri sebrang” ia memperkenalkan diri. Kami hanya tersenyum menyambutnya.
“Kalian sedang apa, di tengah hutan seperti ini?” tanyanya. “Kau sendiri?” aku balik bertanya.
“Aku adalah seorang pengembara amatir” jawabnya kemudian terkekeh.

Seperti ada yang memegang kakiku dan menariknya. Aku langsung terbangun dari tidur. Ternyata itu Walter, tergeletak tak berdaya dengan tangan yang menggapai-gapai ke sekelilingnya. Wajahnya pucat. Matanya memerah, nafasnya terputus-putus. Buru-buru aku membangunkan Qei dan Fei yang masih tertidur.
“Oh tidak!” pekik Fei. Kami terkejut saat melihat toples, Jamurnya tinggal sedikit. Tutup toplesnya terbuka.
“Walter! Apa yang kau lakukan pada jamur itu?” Tanya Fei. Dengan susah payah, Walter menjawab.
“Sa..Ssaat k-kalian te..tertidur. Aku kelaparan.. t-ter..paksa aku me..makan jamur itu dan perbekalan k..kalian”
Qei dan Fei tertegun. Aku langsung membolak-balik halaman buku Miselium Fungida. Aku terbelalak membaca tulisan yang tertera.

Terpaksa kami membuang jasad Walter ke sungai. Kami memutuskan untuk segera bergegas ke Lembah Hitam.
Di tengah perjalanan, Fei terus mengeluh sesak nafas. Qei terus batuk. Dan aku, merasa sangat lelah. Kakiku lemas seketika. Pikiranku melayang pada tulisan di buku itu.
‘Jika membiarkan jamur itu terkena sedikit oksigen saja, jamur itu dapat melepaskan spora mematikannya’
Itu berarti, selama tutup toples itu terbuka, kami telah menghirup sporanya.

Kami sampai di Lembah Hitam. Tempatnya gersang, bau tak sedap menguar. Tanahnya lembab, dan hitam pekat. Aku pernah mendengar bahwa kawasan Lembah Hitam dahulunya area industri yang tercemar akibat revolusi industri besar-besaran.

Buru-buru Qei mengeluarkan jamur dari toplesnya. Aku dan Fei mengais-ngais tanah. Menggalinya.
Tiba-tiba aku merasakan sakit di dada. Aku batuk, tenggorokanku sakit sekali. Seketika, Fei berhenti menggali tanah. Ia menatapku nanar. Begitu pun dengan Qei.
“Kenapa?” aku bertanya penasaran. Mereka menggeleng, kemudian mengubur jamur mematikan itu.
“Arletta, ada darah keluar saat tadi kau batuk” ujar Fei. Suaranya bergetar.
“Tak apa, yang penting kita berhasil! Kita pahlawan!” kataku. Mencoba tersenyum. Tiba-tiba Qei bersin. Seketika aku terdiam. Dari hidungnya, mengalir darah segar. Aku terduduk lemas. Kejadian yang kutakutkan akhirnya terjadi.
“kita semua akan mati!” kataku. Aku kembali batuk. Darah keluar dari mulutku.
Fei hanya menangis, seketika ia tergolek lemas. Aku memegang tangan Qei dan Fei.
“Meski kita akan mati, kita tetap sahabat, kan?” Aku menangisi kata-kataku sendiri. Qei memelukku.
Aku menatap langit yang gelap. Biarlah warga kota membenci kami, tapi satu hal yang harus mereka ingat. Kami berjasa! Aku tau, pasti tanah ini, langit dan angin mengakui keberadaan kami! Ya.. aku mati dengan damai di lembah ini. Bersama Qei dan Fei, akhirnya menjadi orang yang berguna di akhir hayat.

“APA?!!”
“Iya, jamur itu tumbuh di rumah-rumah penduduk” ujar Mr. Char. Mr. Gene terduduk lemas di kursinya.
“Saya rasa, jamur itu berkembang biak lebih lambat. Namun tetap saja, mematikan” tambah Mr. Char lagi.
“Char, musnahkan kota ini segera! Bakar rumah-rumah warga. Jangan sisakan sedikitpun kehidupan di sini” perintah Mr. Gene. Mr. Char mengangguk dan segera memerintahkan bawahannya untuk membakar semuanya.

Dengan cepat, kota itu musnah. Semua orang mati, tak tersisa. Hangus, terbakar oleh kepicikan. Dan terjebak oleh sempitnya pengetahuan.

Cerpen Karangan: Andini Iswara
Blog: Http://andiniiswara.blogspot.com
Facebook: Andini Iswara
Nama: Andini Iswara Heryanti
TTL: Bandung, 27 september 1999

Cerpen Miselium Fungida merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


3 sekawan dan Gadis Berjubah Merah

Oleh:
Triple best friend bernama Safari Anatasya Sarah dipanggil sara, gadis ini berumur 17 tahun lho.. Tepatnya 3 SMA. Anisya Rizqia tasya dipanggil Icha berumur 16 tahun tepatnya kelas 2

Kenapa Kau Pergi Ayu?

Oleh:
Tersenyum hanya hal yang bisa aku rasakan dengan waktu sangat singkat.. Menangis, adalah hal yang sangat sering aku rasakan, hampir setiap hari aku menangis, duduk di pojok kamar, merenung,

Hukum Alam Mempertemukan Kami

Oleh:
Pagi yang cerah, seperti biasanya mataku akan selalu termanjakan oleh keindahan alam yang begitu mempesona. Kutarik nafas panjang-panjang. Udara segar pagi ini melewati bulu hidungku, segarnya!. anginnya pun sedang

Inside My Teardrops

Oleh:
Aku merasa sendirian, rapuh, tak bisa berbuat apa-apa. Mungkin kalian menganggap diriku adalah gadis yang pendiam dan kaku, kalian salah besar. Aku salah satu gadis yang paling aktif di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *