Moncirroon (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 21 March 2016

Ku berjalan di tengah kerumunan orang. Aku berusaha mencari jalan lain yang bisa membuatku lebih cepat untuk sampai ke tempat tujuanku. Di sana di pertikungan jalan ada lorong kecil mungkin aku tidak bisa memasukinya namun. Jika dengan merunduk mungkin bisa. Sejauh ini diriku memang tak senormal orang orang yang ada di sekitarku. Aku terbiasa dengan hidup menyendiri seperti ini. Aku juga bukan seorang yang cerdas. Ku tak mengerti mengapa semua orang tidak ingin mendekatiku.

Ku pasang earphoneku yang langsung ku sambungkan dengan mp3-ku. Aku berjalan melewati lorong tersebut dengan mendengarkan lagu, “Ost guilty crown everlasting.” dengan bersenandung. Saat ke luar dari lorong aku heran kenapa tidak ada seorang pun di sini. Lalu aku membuka handphone dan memainkannya sejenak. Di tengah perjalanan aku melihat seorang anak perempuan berambut sepinggang dengan memakai kaus yucanse berwarna merah dengan celana jeans pendek sedang bermain dengan sosok lelaki yang sepertinya penyandang cacat.

Dengan senangnya dia memamerkan senyuman dan tawanya yang renyah. Namun di sisi lain aku memandang jijik anak perempuan tersebut. Entah apa yang ia pikirkan sehingga ia mau bermain dengan anak penyandang cacat tersebut. Aku terus memandangnya sampai di suatu saat dia tersadar bahwa ada yang terus melihatnya seperti sedang mengawasinya. Namun dia acuh tak acuh. Semakin lama aku makin penasaran dengannya. Lalu ku lihat ia menoleh kepadaku dan segera melambaikan tangannya dengan berkata. “Hai. Sini ikut main.” Secara tak sadar. Tiba-tiba aku meninggalkannya begitu saja. Aku tidak melihat ada rasa kecewa di dalam dirinya. “Sial. Kenapa jadi memikirkan dia sih.” gerutuku.

Malam harinya. Aku termenung di kamar dan memikirkan kejadian tadi sore. Entah kenapa benakku dipenuhi dengan peristiwa tadi sore. Aku juga tak habis pikir. Dia perempuan itu mungkin seumuran denganku. Mungkin juga hanya 2-3 tahun di bawahku. Namun kenapa sifatnya seperti anak elementary yang baru masuk ke junior high school. Semua itu terlintas di pikiranku. Sesaat kemudian aku menyadari bahwa besok adalah pertama kali aku masuk sekolah dan menjabat sebagai anak high school akhirnya aku menyiapkan semua peralatanku yang perlu ku siapkan untuk hari esok.

Lalu teringat tentang sesuatu di benak ini. Aku harus ke luar untuk membeli kertas karton yang digunakan untuk MOS esok hari. Siapa sangka saat ke luar 20 langkah dari apartemen. Ku melihat sosok perempuan yang tadi ku temui. Panik syok entah kenapa perasaanku saat ini. Refleks aku mempercepat jalanku. Jalan hampir seperti berlari. Semakin ku menjauh ku merasa semakin dekat jarakku dengannya tak peduli ku terus berlari tanpa arah. Sampai suatu saat semua menjadi hitam. Aku terbangun dan ku sadari aku berada di dalam kamar. Ternyata semua itu hanya mimpi.. hanya ilusi semata. Ku lihat handphone-ku. Hari masih kelam masih jam 01.53 pagi.

Aku beranjak dari ranjangku. Berjalan menuju dapur untuk membuat minuman dan mengambil sedikit camilan dari lemari. Di kamar aku hanya termenung mengamati seragam abu-abu putih itu. Antara percaya atau tidak aku sudah masuk di bangku SMA. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Aku mulai meneguk minumanku. Segera mengambil laptop dan menyalakannya. Entah kenapa laptop ini tak bisa dipisahkan denganku semenjak aku berada di kelas 1 SMP. Saat awal laptop itu menyala aku melihat wallpaper diriku bersama sahabat-sahabatku. Rasanya berat meninggalkan kenangan indah bersama mereka. Tak berpikir lama aku segera menghubungkan koneksi internetku dengan wi-fi yang ada di apartemenku. Aku membuka facebookku. Seperti biasa aku hanya melihat lihat status di wall-ku.

Tak ku sangka ada seorang yang mengajakku bicara. Dengan cara bicaranya yang tidak biasa bagiku. Namanya Audrey Chesilia aku tak tahu itu siapa. Kenapa malam-malam gini masih aktif di fb. Cewek itu SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) banget. Entah siapa itu. Masalahnya aku jarang bergaul di dunia maya. Jadi agak gaptek gerutuku dalam hati. Di selang waktu ini aku mencoba untuk memejamkan mata tapi laptop ku biarkan hidup. Saat ku pejamkan mata ku teringat tentang anak perempuan yang ada di dalam mimpiku tadi. Akhirnya aku terbangun. Saat itu juga ku putuskan untuk melihat film di youtube.

Keesokan harinya. Senin 9 juli pukul 05.30. Aku bersiap untuk pergi ke sekolah. Hari ini hari pertama di mana aku duduk di bangku SMA walaupun menjadi yang termuda di SMA ini. Namun aku berjanji akan lebih sungguh sungguh. Jam 07.00 aku berada di sekolah baru ku. Yaitu High School Advent Jakpus (jakarta pusat). Hari ini aku dibimbing oleh seniorku yang bernama Bagas Kurniawan. Orang yang baik namun tegas ku pikir awalnya dia adalah anak osis ternyata tidak. Dia adalah siswa biasa. Menurut penampilan mungkin dia orang kaya tidak sepertiku hidup pas-pasan saja.

Waktu istirahat senior Bagas mengajakku bertemu dengan teman-temannya. Saat sampai di kantin ternyata senior Bagas hanya siswa biasa yang selalu tersenyum. Tidak seperti yang ku duga. Di kantin aku dikenalkan dengan 5 orang temannya yaitu senior Reza. Senior Ravi. Senior Nesha. Senior Lisha dan senior Justia. Di sana aku merasakan ada kekuatan positif. Rasa persahabatan yang sangat erat. Mereka bayak bercerita kepadaku. Mulai awal kali mereka bertemu sampai sekarang ini. Aku merasa nyaman berkumpul dengan mereka. Selang satu semester aku berada di High School Advent ini aku sering berkumpul dengan para seniorku. Tak heran jika anak-anak di kelasku anak-anak seangkatanku menganggapku aneh. Bahkan ada yang selalu menggunjingku.

Hari ini ada siswa baru. Seorang perempuan. Sepertinya aku pernah bertemu dengannya dan mengenalnya. Tapi aku lupa. Di mana kita bertemu. Dan kapan kita pernah berbicara. Aku terus memandangnya dengan rasa heran. Sampai ku tak sadar bahwa dia tengah tersenyum menghadapku. Aku terkejut. Tak habis pikir. Kenapa selama ini aku seperti orang aneh. Akhirnya aku berinisiatif untuk membicarakannya kepada para seniorku. Siang ini terik matahari sangat menyengat membuatku enggan untuk pergi ke kantin menemui seniorku. Akhirnya ku mengurungkan niat untuk pergi ke tempat biasa aku dan seniorku berbincang dan mengabari mereka melewati handphone.

Saat ku membuka facebook aku teringat kepada Audrey. Cewek itu. Tak pernah lagi menghubungiku sejak 1 semester aku bersekolah di SMA ini. Akhirnya aku berusaha mencari tau tentang dia. Kemana dia selama ini. Aku melirik ke belakang dan melihat perempuan anak pindahan yang baru masuk di sekolah ini. Dia melihatku. Aku memberinya senyuman kecil dia membalas senyum itu. Serasa dia menyembunyikan suatu hal dariku. Aku menghampirinya dan bertanya padanya. Aku berusaha dekat dengannya hanya untuk satu tujuan. Apa yang sebenarnya dia sembunyikan dariku. Saat ku mulai berbicara dengannya. Aku merasa seperti ada yang salah dari dirinya. Entah apa itu.

“Hai.” sapaku padanya. Dia tak menjawab. Ku ulurkan tanganku. “Gue Ryan. Lo?”
Dengan santai dia menjawab, “Haruna panggil aja Harun.”

Cuek banget nih cewek haduh. Susah ngadepinnya gumamku dalam hati. Kita hanya diam tak berbicara. Akhirnya aku memutuskan untuk memulai percakapan. Namun sayang saat akan melontarkan kata bel berbunyi. Pelajaran hari ini membosankan. Gerutuku tapi apa daya tak ada yang bisa ku lakukan. Aku mengambil ponselku. Ku melihatnya sekilas masih setengah jam waktu berlalu sejak pelajaran tadi. Ternyata benar. Waktu jika ditunggu terasa sangat lama ku kira pelajaran hari ini tinggal lima menit. Aku memutuskan untuk pergi ke toilet namun aku takut kepada Pak Puguh. Guru killer yang sedang mengajar memberitahukan rumus-rumus fisika yang membuatku stres tak karuan. Terpaksa ku beranikan diri untuk pergi ke toilet.

“Pak saya izin pergi ke toilet.” kataku kaku.
“Mau ngapain kamu di toilet? Ada janjian sama siapa?” jawabnya dengan tegas.
“Ti..Tidak ada Pak. Hanya ingin ke belakang.” jawabku bergetar.
“Jangan berbohong kamu.” katanya makin mempertinggi nada suaranya. Aku tak tahu harus mencari alasan yang seperti apa untuk menghindari guru tersebut.
“Saya sudah tak tahan Pak.” akhirnya kata-kata itu yang ku ungkapkan tak ku sangka beliau mengizinkanku untuk pergi ke toilet. Aku melirik ke bangku belakang di mana Haruna duduk. Dia hanya memincingkan senyum kecil. Aku membalasnya.

Saat ku berjalan melewati ruang kepsek. Ada seorang lelaki berambut cokelat dengan mata kelabu berada di dalam ruang kepsek. Mungkin seumuranku ia menggunakan tongkat untuk berjalan. Sepertinya patah tulang. Tanpa sadar dia memandangku dengan tajam. Sontak aku langsung membalikkan badan dan langsung pergi ke toilet. Saat akan kembali ke kelas. Aku berpapasan dengan anak lelaki tersebut dengan iba aku melontarkan senyum terbaik untuknya dia juga membalasnya. Sepertinya aku mengenalnya. Gerutuku dalam hati. Ku mulai mempercepat langkahku menuju kelas. Karena ku tahu pasti si guru killer tersebut akan marah kepadaku. Sesampainya di kelas aku hanya menundukkan wajah ke bawah. Jujur saja aku merasa malu.

Aku takut kalau akhirnya guru killer itu memarahiku dan menyuruhku untuk berdiri di luar kelas. Betapa jatuh harga diriku jika itu benar-benar terjadi. Akhirnya aku memutuskan untuk berani masuk ke dalam kelas. Aku sudah siap dengan hukuman-hukuman yang diberikan oleh Pak Puguh. Keringat dingin mulai bercucuran melewati leher ke bahu. Udara dingin yang merasuki tubuh membuat diriku mati rasa sejenak. Namun siapa sangka saat berdiri di depan kelas Pak Puguh membiarkanku masuk begitu saja. Hatiku terselamatkan di sana aku mengucapkan terima kasih kepadanya. Setelah pelajaran fisika berlalu. Secara tiba-tiba Pak Puguh memanggilku.

Saat berada di ruangan Pak Puguh. Aku diberi secarik kertas yang berisi soal soal logika. Mungkin soal-soal ini sudah dikerjakan oleh siswa yang lain saat aku sedang ke belakang gerutuku dalam hati. Saat ku coba mengerjakan. Aku mengalami beberapa kesulitan dalam soal-soal yang sedikit rumit menurutku. Saat Pak Puguh bertanya apakah aku kesulitan aku menjawab tidak. Saat selesai aku diberi tahu oleh Pak Puguh bahwa aku harus menunggunya sejenak. Setelah beberapa lama menunggu aku diberi secarik kertas olehnya aku terkejut saat melihat bahwa pernyataan tersebut memberitahukan tentang IQ-ku yang berada di atas rata-rata. Ternyata itu soal psikotest. Antara percaya tak percaya namun itu hasilnya. Pak Puguh hanya tersenyum melihatku.

Keesokan harinya saat ku melewati “Disablle.” aku melihat seorang lelaki yang waktu itu ku temui di ruang kepsek. Dia tersenyum kecil padaku. Aku hanya membalas itu dengan senyuman kecil juga. Namun aku masih terusik dengan pikiranku yang waktu itu sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi aku lupa di mana. Di mana aku pernah melihatnya dia sama halnya dengan Haruna ya sepertinya aku mengenal mereka. Namun aku lupa di mana kita pernah bertemu dan kapan. Mungkin saat SMP dulu.

Saat beberapa langkah dari orang tadi. Aku berlari mendekatinya. Dan bertanya apakah kita pernah bertemu sebelumnya. Aku ingin tahu semua tentangnya mengapa dia bisa tahan dengan semua itu. Dengan kondisi fisiknya yang bisa dibilang tidak sempurna. Dengan berbagai ejekan dan cacian serta makian yang dilontarkan oleh orang-orang di sekitarnya. Aku kagum dengannya. Setelah aku puas berbincang-bincang dengannya. Aku jadi mengingat Rifky, teman sekelasku dulu saat SMP. Teman satu-satunya yang gak pernah ku miliki saat itu. Mungkin karena dulu aku terlalu egois.

Bersambung

Cerpen Karangan: Shafina Rifdhayanti Zein
Facebook: Shafina R Rz

Cerpen Moncirroon (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selamat Tinggal Sahabat

Oleh:
Saat jam istirahat. Robi, Darwin, dan Coki seperti biasa mereka pergi ke kantin. Mereka adalah 3 sahabat yang sudah merajut persahabatannya dari SD sampai sekarang mereka kelas 3 SMA,

Sahabat Pengertian

Oleh:
Di suatu malam yang dingin disertai hujan yang deras aku dan sahabatku yang bernama Badrun berteduh di suatu gedung sanggar tari, sekian lama kami berada di sana hujan tak

Meaning Love

Oleh:
Jatuh Cinta itu Indah.. Tapi harus siap juga mengalami PATAH HATI.. Cinta itu mempunyai berbagai Rasa.. Asam, Pahit, Manis.. Cinta itu tidak datang dari mulut, tapi dari Hati.. Cinta

Rasa Ini

Oleh:
Aku mencintainya… sangat mencintainya, hingga aku tak tau lagi cara menyampaikannya, mungkin bukan tak tau, tapi aku tak bisa mengatakan padanya. Aku mencintainya sejak dulu, sejak pertama kali bertemu

Keheningan Putih

Oleh:
Pagi itu, semuanya putih berbalut keheningan pagi. Aku seakan tak berdaya dibuatnya. Hembusan angin pagi tak bisa kurasakan karena tak tertembus oleh jendela yang tertutup. Tepat di sebelah tempat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *