Moncirroon (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 21 March 2016

Tanggal 04 agustus 2 tahun alu aku membuat masalah yang sangat besar yang menyebabkan seluruh sekolah membenciku termasuk guru-guruku. Yang menyebabkan harga diriku dan hal-hal lainnya termasuk hal-hal sepele pun semua menjadi kacau. Termasuk jam biologisku juga mulai kacau. Pada saat itu juga sifatku berubah menjadi pendiam dan cenderung egois karena tidak ada yang mau mengerti sampai pada suatu hari Rifky datang untuk mencoba menghiburku. Hari pertama aku menganggap dia hanya sebagai orang yang tidak terlalu penting. Setelah beberapa lama aku mengenalnya aku mulai paham bahwa dia benar-benar teman yang baik. Bisa menerima kekuranganku bisa mengingatkanku dan dengan sabar dia menghadapiku.

Ku tak habis pikir. Karena semua teman-teman yang selama ini ku punya hanya berbuat baik padaku hanya di saat mereka butuh saja. Sebenarnya menurut pandanganku Rifky sama saja dengan yang lain namun dia masih mau memperhatikankku di saat saat tertentu. Walaupun dia bisa dibilang sebagai siswa yang sibuk. Sibuk dengan hal-hal seperti osis dan organisasi yang lain. Aku berterima kasih kepada lelaki yang sudah berbagi pengalamannya kepadaku. Aku dan dia memiliki janji suatu saat di suatu tempat kita akan bertemu. Dia bercerita banyak tentang kisah hidupnya termasuk bagaimana ia menjaga adik perempuannya yang sedang terbaring lemah di rumah sakit. Sedangkan kondisinya sekarang juga sedang kacau. Tiada keluarga yang bisa membantunya.

Dia dan adiknya hanya hidup sebatang kara. Ia seorang novelis, hanya dengan itu dia bergantung dari hasil penjualan karya karya tulisnya aku kagum padanya. Hari semakin larut aku segera berpamitan dan berlari untuk pulang ke apartemenku. Aku berbaring di sofa yang berada di bagian tengah apartemenku. Apartemen ini terasa sepi. Entah kenapa aku baru bisa merasakan semua itu saat ini. Dulu aku baik-baik saja seperti ini. Aku segera menghubungi para seniorku. Satu per satu dimulai dari senior Bagas karena dia yang paling dekat denganku. Dia bilang dia ada urusan yang tidak bisa ditinggal. Akhirnya aku menghubungi para seniorku yang lain. Namun jawaban mereka sama dengan senior Bagas.

Aku memutuskan untuk membuka laptopku dan mengsingkrokan dengan wifi yang ada. Aku membuka akun facebook ku. Ku lihat ada pesan dari audrey. Ia mengirimkan nomer padahal aku tidak memintanya. Tapi lumayanlah. Aku jadi ada yang temenin sms an. Ku tutup laptopku dan meraih handphone yang ada di atas laci dan segera merebahkan diri di atas kasur. Aku mulai membuka percakapan dengan audrey melewati sms. Namun tak ada respond darinya. Akhirnya aku memutuskan untuk menelponnya pertama. Kedua sampai ke tiga kali tidak ada respon namun nomernya aktif. Apa yang terjadi dengannya.

Aku segera beranjak. Lalu pergi ke dapur. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku duduk di atas sofaku. Aku memejamkan mata sejenak untuk merilekskan pikiranku. Jujur hari ini pikiranku sedang kacau. Aku sangat bingung pusing. Kepalaku serasa mau pecah. Sampai suatu saat aku kembali memikirkan tentang anak perempuan dan temannya yang cacat itu. Entah kenapa hanya ada dia di pikiranku wajahnya, mata yang berwarna kelabu karena biasan dari contac lens yang ia gunakan. Sampai tawa dan senyumnya itu persis sekali dengan Haruna. Perempuan itu, Haruna dan perempuan itu memiliki banyak kemiripan mungkin dia yang ada di dalam mimpiku.

Saat aku hendak pergi ke toilet semua berubah menjadi hitam. Buram entah ke mana. Saat aku terbangun aku melihat kembali sosok Haruna. Mengenakan gaun putih selutut. Ia bersandar si sebuah pohon besar. Ingin sekali mendekatinya namun tekadku masih belum kuat. Ia melirik ke arahku. Membuat aku makin grogi. Akhirnya setelah lama berdiam dan memikirkan itu semua. Aku menghampirinya. Ketika hampir 3 langkah terakhir dia menghilang. Ku ihat di sekelilingku hanya ada ruang hampa dan seorang berambut pirang dengan kacamata dan celana jeansnya. Dengan tubuh ideal ada jauh di sampingku.

“Ryan? Apa itu kau?” tiba-tiba ia menoleh kepadaku dengan wajah yang bisa dibilang datar. Aku tak tahu itu siapa. Aku tak mengenalnya. Ingin ku pergi dari sini namun tak ada tempat untuk pergi dari sini. “Iya. Maaf siapa ya? Apa kita pernah bertemu sebelumnya.” aku bertanya secara baik. Namun ku lihat respon dari wajahnya yang terlihat tidak suka jika aku melupakannya. Namun aku tak tahu itu siapa. Apa kita pernah bertemu sebelumnya.
“Hah? Kamu. Nggak inget aku? Ini aku Yan. Temenmu. Taura.” dia menjawab dengan ekspresi kecewa yang sangat berlebihan menurutku. Namun sepertinya dia tidak main-main dengan kata-katanya.
“Taura? Aku tidak pernah mengenalnya. Mungkin anda salah orang. Di dunia saya ada banyak manusia yang bernama Ryan. Mungkin Ryan yang anda maksud bukan saya.” jawabku tanpa rasa dosa dan bersalah sedikit pun. Tapi benar-benar aku tak tahu siapa dia.

Apa tujuan dia dan bagaimana dia mengetahui semua tentangku. Mulai gimana kalau aku nggambar kartun dan hal-hal lainya yang aku sendiri tidak tahu sedetail itu dan tidak seperhatian itu pada diriku sendiri. Terpaksa aku menjelaskan semua ke Taura. Akhirnya aku memutuskan untuk menjadi temannya untuk sementara waktu sampai aku benar-benar kembali ke tempat asalku. Aku banyak berbicara dengannya mulai dari mimpiku. Dia pendengar yang setia. Aku mulai bisa terbiasa dengan keadaan seperti ini namun saat ini aku melihat sosok Haruna lagi di hadapanku. Ia mengenakan gaun putih. Tanpa berpikir panjang aku segera berlari mendekatinya. Sama seperti waktu itu. Ia menghilang. Taura heran melihatku berlarian. Ia mendekatiku. Namun saat dia mencegahku agar tidak berlarian. Aku menepis tangannya. Dan sempat mengumpat di belakangnya. Ia hanya menggelengkan kepala.

Aku sempat kecewa. Aku terduduk lemas entah apa yang ku pikirkan. Entah ada apa dengan diriku sehingga ku merasa tertekan. Aku tak bisa mendekati Taura dan meminta maaf kepadanya saat ini mungkin dia masih sakit hati dengan cacian dan makian yang ku beri untuknya. Aku memejamkan mata sejenak. Aku tak tahu harus bagaimana lagi. Jujur saja aku ingin pergi kembali ke rumahku. Air sedikit demi sedikit berjatuhan dari pelupuk mataku. Aku ingin kembali.. Ingin kembali.. Gumamku. Namun percuma saja tidak ada siapa pun di sini. Hanya aku seorang diri. Aku menangis dalam kesendirianku. Aku merogoh saku belakang celanaku. Tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang berlari mendekatiku, “Ryan..Ayo Ryan.” Namun aku mengabaikannya. Dia mulai menarik tanganku.

“Apaan sih Rif. Ganggu aja sih lo.” maki ku padanya. Aku yang melihat kejadian ini sungguh tak kuasa menahan tangis apa yang terjadi dulu. Kata-kataku sangat menyakitkan.
“Ryan. Bentar aja deh buruan ikut gue. Gue pengen beri tahu sesuatu sama lo.” ia memohon dengan wajahnya yang yah bisa dibilang memalukan. Tiba-tiba semua menjadi hitam legam. Aku tak tahu ini di mana. Lalu ku dengar suara makian dan suara teman-teman sekelasku.

“Ryan. Bisa nggak sih lo kagak sensi hah? Sensi amat jadi orang.” cakap seseorang.
“Iya Ryan. Kamu itu nggak pernah mau ngertiin orang lain mau menangnya sendiri.” terdengar dari seberang.
“Huh. Sebel amat sih. Ganggu hidup gue banget nih satu anak. Gimana kalau kita laporin dan usullin agar dia di drop out? Pada setuju nggak?” terdengar suara Sisca.
“Iya sis. Keganggu banget hidup gue. Udah sok gaya padahal orang nggak punya mana nggak jelas orangtuanya ke mana. Dasar anak haram.” sahut seseorang.
“Hey kalau bicara dijaga mulutnya. Bisa nggak sih kalian nerima dia sebagai murid di kelas ini.” bantah Haruna.
“Lo? Mau jadi pahlawan rupanya.. Hahaha.” tawa Sisca.

Kelas pun menjadi ricuh. Untung saja guru guru sedang ada pelatihan. Aku hanya bisa terdiam dan termenung. Di sela-sela keributan tersebut Rifky datang dengan ke-pd-annya di saat-saat seperti ini dia bisa-bisanya buat humor. Dia masuk dan berkata, “Ada apa ini rebut-rebut? Mau minta tanda tangan ya. Jangan berantem. Sini saya tanda tanganin baju kalian.” dengan sigap ia mengambill spidol permanen milik Bayu yang saat itu kebetulan ada di meja Bayu yang berada tepat di sampingnya.

Ia menarik Sisca dan menandatanganni baju putih abu-abunya. Sontak Sisca langsung geram. Namun ia sudah tak bisa berkata lagi. Rifky segera menarik tanganku dan tangan Haruna menjauhi kelas. Saat tiba di belakang sekolah aku dan Haruna hanya saling menatap. Haruna semakin mendekat padaku namun dia berhenti saat pundaknya telah meyentuh pundakku. Ia meremas tanganku. Namun aku hanya diam saja. Rifky hanya diam terpaku.

“Gue anak haram. Bokap gue. Gue gak tahu dan gak pernah tahu siapa bokap gue. Saat gue tanya tentang bokap ke nyokap gue nyokap gue malah menghindar. Dari dulu sampai sekarang. Karena itu gue… Gue..” akhirnya tangis Rifky pecah saat itu. Aku dan Haruna hanya terdiam terpaku bingung mau melakukan apa. Ternyata selama ini Rifky yang terlihat bahagia dan baik-baik saja, anak yang ceria dan periang, serasa tidak ada masalah dalam dirinya di satu sisi dia rapuh. Tak berdaya, tak bisa menerima kenyataan. Ternyata di balik semua ini… “Tap, tap, tap, tap, semua berubah menjadi putih. Aku hanya terdiam. Aku melihat sosok manusia mengenakan jubah berwarna kelabu seperti jubah kuno. Lalu dia menjatuhkan kertas di sampingku yang bertuliskan.

“Jangan sia-siakan teman yang masih ada di sisimu. Yang masih mau menerima kamu. Walaupun dia mengetahui sisi burukmu. Jangan kamu membandingkan dirimu dengan mereka yang kehidupannya di atasmu. Sesungguhnya mereka tidak seperti dan tidak seenak yang dibayangkan. Jangan cepat puas dengan hasil yang kau peroleh sekarang. Raihlah cita-cita setinggi mungkin. Jangan pernah mendengarkan kata-kata orang. Dan jangan mudah percaya kepada teman. Sesungguhnya seseorang yang bakal berdusta ialah sahabat sendiri. Karena itu kita harus jeli untuk memilih teman belajarlah untuk mau menerima kritikan dan saran dari orang lain.”

Surat ini.. Sontak aku terbangun. Ku dapati diriku berada di sebuah ruangan putih. Aku berada di rumah sakit sepertinya. Ku lihat sosok Haruna dan Rifky di samping ranjangku. Ku tak tahu kejadian yang terjadi. Aku tak menyadarinya bahwa selama ini aku hanya berbaring lemah di tempat ini selama 3 minggu. Koma ya bisa dikatakan seperti itu. Haruna saat melihat aku membuka mataku ia langsung berteriak memanggil namaku. Aku tak mengerti. Mungkin belum saatnya bagiku untuk mengetahui semua yang telah terjadi padaku.

Sejak semua yang ku alami di dalam ketidaksadaranku aku melihat banyak sekali pelajaran hidup. Mulai saat itu hidupku mulai berubah. Aku sering berkunjung ke tempat penyandang cacat. Ternyata seorang perempuan yang ku lihat dalam mimpiku saat itu ia adalah Audrey sedangkan yang berada di atas kursi roda ialah kakaknya. Kakak Audrey mengalami kelumpuhan. Karena suatu kecelakaan. Aku bisa mengetahui semua itu dengan caraku sendiri. Sekarang ku tahu betapa susahnya menjalani hidup ini. Betapa banyak cobaan-cobaan yang datang kepadaku. Namun mulai saat ini aku akan berusaha tegar.

Selang beberapa hari dari kejadian itu. Aku melihat sosok diriku terbaring lemah. Sosok Haruna yang selama ini ku kenal sebagai pribadi yang periang. Ia menangis di hadapanku. Begitu juga dengan Rifky. Ia menatapku dengan tatapan seakan dia yang menanggung salah. Aku mendekati mereka dan ingin mengatakan bahwa aku baik-baik saja di sini. Namun saat aku memegang pundak Haruna. Tak ada rasa apa-apa ku tak bisa menyentuhnya. Di situ aku baru sadar aku telah tiada. Aku menangis di hadapan jasadku. Ku tak kuasa menahan ini semua. Sungguh hidup ini sangat sulit untuk dijalani cobaan yang diberikan padaku. Berat.

“Sekarang semuanya tinggal kenangan. Apa yang ku alami selama ini. Apa yang aku lakukan selama ini tak cukup untuk membalas jasa teman temanku. Aku bahagia bisa memiliki teman yang bisa memperhatikanku dan bisa menerimaku seperti itu. Juga para seniorku yang selama ini banyak membantuku untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik lagi. Tak ku sangka waktu berlalu sangat cepat sehingga semua memisahkanku dengan orang-orang yang aku sayangi dan orang-orang yang ku anggap berharga..” – Alexandra Ryan Denata-Tanaka.Kun-

Cerpen Karangan: Shafina Rifdhayanti Zein
Facebook: Shafina R Rz

Cerpen Moncirroon (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Terakhir Untuk Sahabat

Oleh:
Namaku Clarissa Namara. Biasa dipanggil Mara. Aku mempunyai sahabat yang sangat kusayangi. Namanya, Angel. Hari ini, aku sedih. Karena aku akan pindah rumah serta pindah sekolah dari kotaku. Pasti,

Semua Telah Kembali

Oleh:
Aku berdiri di sebelah jendela melihat langit yang gelap tanpa bintang seperti hidupku yang gelap gulita meski kumemiliki segalanya, apapun yang kuminta pasti akan kudapatkan kecuali satu yaitu waktu

Kebahagiaan di Batas Maut

Oleh:
Keysha cawek cantik, bermata jernih, berambutnya lurus indah melambai-lambai jika terkena angin. Dia tumbuh di keluarga sederhana. Semenjak kecil hingga menginjak dewasa dia tidak pernah bertemu dengan ayahnya. Dia

Tegar, Sahabat Kecilku

Oleh:
“Kak sepatunya disemir, ya?” Janu melihat anak kecil dekil dan kurus sedang tersenyum menawarkan jasanya. Dengan sebal, Janu mengibaskan tangannya. “Hus! Sana kamu! Ganggu aja, entar sepatuku malah rusak!”

Tak Terpisahkan

Oleh:
“Aku jaga pos 1! Tapi, bareng sama Ishma ya! Pleaase,” begitu permintaan sahabatku, Aulia kepada Akbar, sekretaris OSIS di sekolahku. “Ah kalian ini memang tak pernah terpisahkan! Kalau nanti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *