Monster Love (Part 4) Masa Lalu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 23 July 2016

FLASHBACK
“Viona, ayo cepat bangun nanti telat loh ke sekolahnya. Ini kan hari pertamamu kan jadi cepat lah!” seru seorang wanita paruh baya Bibi Mey namanya. Yah saat itu Viona masih anak-anak dan baru masuk kelas satu SD.
“Hmm, hhoooaammzz” Viona kecil pun bangun dan menguap dan terlihat taring giginya mulai sedikit tumbuh.
“Ah anak cantik sayang, yuk kita mandi dulu biar bibi yang mandikan yah” senyum lembut bibi Mey mengajak Viona, Viona hanya mengangguk sambil memeluk boneka kesayangannya.
“Nah sekarang kamu sudah bersih, kamu cantik sekali yah” puji Bibi Mey sambil menyisirkan rambutnya yang panjang sekaligus mempersiapkan keperluan sekolah dan bekalnya. Bibi Mey pun mengantarkan Viona ke sekolah pertamanya menggunakan mobilnya.

“Nah ayo turun sayang kita sudah sampai loh di sekolah” ajak Bibi Mey. Viona sangat senang bisa bertemu anak-anak sebayanya. Bibi Mey sempat mengobrol dengan kepala sekolah di sana, mungkin hanya sekedar obrolan biasa agar tetap menjaga Viona. Bibi Mey pun pamitan pada Viona.
“Baik-baik ya sayang, jaga emosimu dan tetaplah tersenyum” nasihat Bibi Mey sambil tersenyum lembut dan mencium pipi Viona.

Viona sangat senang karena sudah mendapatkan teman baru, mereka berdua sangat akrab bermain, di hari pertama sekolahnya Viona sangat senang sekali dan begitu seterusnya sampai suatu saat ada yang mengganggu teman Viona hingga dia menangis, lalu Viona pun hilang kesabaran dan membuat Viona kecil yang manis itu keluar sisi Vampirenya. Mata Viona berubah menjadi ungu dan gigi taringnya pun langsung kelihatan sangat tajam, itu dia lakukan semata karena untuk melindungi temannya yang sedang diganggu dan menangis, namun itu merubah segalanya dari Viona dan sejak itu Viona dijauhi oleh teman sekelasnya, bahkan teman yang sangat akrabnya pun sekarang jadi menjauh karena takut karena Viona seorang Vampire. Bibi Mey yang prihatin dengan Viona akhirnya memutuskan untuk memindahkan Viona ke sekolah yang lain dan sejak itu Viona terus berpindah-pindah sekolah bahkan saat SMP pun Viona sudah 3 kali pindah sekolah, yah masih mending saat dia masih SD yang bisa puluhan kali pindah.

Bibi Mey adalah mantan asisten pembantu rumah tangga di rumah orangtuanya Viona yang juga seorang Vampire, namun kedua orangtua Viona harus mati karena dituduh menyerang warga dan meminum darahnya sehingga kedua orangtua Viona tidak lagi diizinkan menggunakan krim sunblok khusus Vampire yang dulunya dibuat oleh warga karena orangtua Viona sering membantu aktifitas para warga meski harus bersusah payah menggunakan baju yang sangat tertutup agar terhindar dari sinar matahari. Kedua orangtua Viona harus menerima hukuman berat yakni dijemur di terik panas matahari tanpa menggunakan krim tersebut, sebelum mereka hilang terbakar sinar matahari ibu Viona berpesan kepada Bibi Mey untuk selalu menjaga anaknya Viona yang kala itu masih berumur 3 tahun. Setelah mereka hilang terbakar, Bibi Mey pun mempelajari cara membuat krim khusus itu agar kelak Viona bisa bergaul dan bermain di siang hari.

Selang beberapa bulan Bibi Mey mendapat kabar dari warga ternyata seseorang yang mati karena serangan Vampire itu ternyata salah, yang benar adalah orang itu meninggal karena digigit ular beracun saat dia sedang tidur dan ular itu menggigit di bagian leher. Dan itu membuat semua warga menyesal dan meminta maaf kepada Bibi Mey, sebagai permintaan maafnya mereka menyerahkan semua krim sunblok khususnya kepada Viona dan saat ini pun mereka masih membuatnya walaupun sangat dirahasiakan dari khalayak umum.
FLASHBACK OFF

Kembali ke masa sekarang, Eva masih terus mencari Viona yang lari entah kemana. Bisma yang masih saja terbaring di atas meja yang hancur mulai beranjak bangun walau sedikit merintih sedangkan Mikha masih saja mengepalkan tangannya mungkin amarahnya belum reda.

“Cih, a aku pergi, a aku ha harap kalian tidak menyesal berteman dengan Vampire itu” sahut Bisma sambil berjalan dengan tertatih-tatih.
“Ka kau, BERENGSEEEEEK…!!!”

BUGH

BRUK

Tendangan Mikha berhasil merubuhkan Bisma yang langsung tidak sadarkan diri dan aku gagal mencegahnya.

“Mi, Mikha?” ucap Citra heran.
“Haruskah kau berbuat sejauh itu, Mikha?” tanyaku serius.
“A aku, aku tidak tahan dengan orang yang suka melarangku untuk berteman dengan siapa pun. Aku tidak peduli temanku seorang Vampire sekalipun, karena aku tau dia juga sebenarnya ingin kita menerimanya walaupun bagi dia sangat mustahil itu bisa terjadi tapi, aku sadar kenapa dia sering bicara begitu, itu artinya dia sangat takut hal ini akan terjadi dan SEKARANG, GARA-GARA MAHKLUK INI DIA AKAN SANGAT MENDERITA” ucap Mikha meluapkan amarahnya.
“Sudahlah Mikha, jangan diteruskan lagi. Dia sudah tidak bergerak lagi. Hei kalian, bawa dia ke UKS sekarang!” ujar Rizki menyuruh beberapa siswa lain untuk membawa Bisma ke UKS yang sudah tidak berdaya.

Ruangan kantor.
“Kepala sekolah, apa kita akan biarkan anak-anak itu berkelahi lagi?” tanya Pink Prof.
“Hmm biarkan saja, aku ingin tahu sejauh mana solidaritas mereka dalam berteman. Meskipun dengan Viona sekalipun yang kita tau dia seorang Vampire kan?” ucap kepala sekolah sambil melihat ke arah luar dimana tempat kami membuat keributan. Bu Maya namanya. Jadi kepala sekolah sudah tau kalau Viona adalah Vampire begitu pun dengan Shindi alias Pink Prof.
“Ah baiklah kalau begitu, saya akan melihat keadaan Bisma dulu di UKS” pamit Shindi.
“Yah silahkan” balas kepala sekolah singkat.
“Kalian harus tetap menjalin pertemanan meskipun dengan monster sekalipun, dan aku tak akan mengeluarkan Viona dari sekolah ini meskipun ada aduan dari orangtua murid yang lain sekalipun. Ingatlah slogan sekolah ini”. Ucapnya lagi.

FLASHBACK ON
“OOYY MIKHAAA…!!!” itu aku saat bersama Mikha, saat itu kita masih jadi anak TK.
“Ah Irwan, selamat pagiii?” sapa Mikha sangat riang.
“Kamu lagi main apa sih?, boleh ikutan tidak?” ucap ku menatap Mikha.
“Ya sudah ayo ikutan, aku lagi main pasir nih” ucap Mikha yang langsung mengajakku. Saat itu kami sedang berada di taman bermain.
“Hehe lihat ini, aku membuat istana pasir bagus nggak?” sahut Mikha dengan bangga.
“Waah kamu hebat, nah liat aku, aku membuat kura-kura hehehe” tapi malah terlihat seperti bentuk ember, jauh dari sekali dari bentuk kura-kura.
“Hm, haha… haaahaha” tawa Mikha.
“Aduuhh kenapa ketawa sih, hmm haaahahaha” aku pun ikut ketawa bersamanya saat melihat karya seni pasirku yang tidak sesuai harapan.
“Hei hitam, pergi kau dari sini aku tidak mau berteman dengan mu” tiba-tiba saja aku mendengar seorang anak laki-laki berkata seperti itu dan di hadapannya ada seorang anak kecil sedang menangis terjatuh karena di dorong oleh anak laki-laki itu.
“Ah kamu tidak apa-apa kan?, siapa namamu?” tanya Mikha yang menghampiri anak yang sedang menangis itu, namun anak itu terus saja menangis.
“Hahaha kalian temannya si hitam ini ya hahaha” tawa anak lelaki itu mengejek namun..

BUGH PLAK DEZIG PRAK BRUK.
Pukulan dan tendangan dari Mikha melumpuhkan anak laki-laki itu dan membuat dia jatuh dan menangis memangil-manggil ibunya, dari situ aku tertarik dengan Mikha yang ternyata sangat kuat dan mampu menjatuhkan anak itu yang sudah SD.

“Sudah ya jangan nangis lagi, kita main bersama yuk?” ajak Mikha pada anak itu.
“Ta tapi aku kan hitam, apa kamu mau berteman dengan anak hitam seperti aku?” ucap anak itu yang masih saja terisak.
“Aku tidak peduli, aku tidak peduli kamu hitam atau putih, Bu guru di sekolahku kan sering bilang kalau berteman itu jangan pilih-pilih” jelas Mikha, sepertinya ia ingat ucapan guru kami.
“Sungguh?” ucap anak itu mulai berhenti menangis dan mengusap air matanya sendiri.
“Tentu saja, aku akan selalu berteman meskipun dengan monster sekalipun hehehee” ucap Mikha semangat.
“Oya, jadi siapa namamu?” tanya Mikha lagi.
“Nama ku Citra, lengkapnya Citraaaaaaaa” jawab Citra mulai bisa bercanda.
“Hm, Ci Citra?, hahahahaha kamu lucu sekali sih hahahahahaha. Tau tidak, kamu sebenarnya tidak hitam-hitam amat sih, kamu cantik sama yang lain, iya kan Irwan?” ucap Mikha melirik ku dan menyadarkanku dari lamunanku yang mengagumi sosok Mikha.
“Oh hm iya, kamu anaknya hitam manis hehehe” ucapku tersenyum. Itulah dimana aku bisa berteman dengan akrab bersama Mikha dan juga Citra sampai sekarang.

Kembali ke masa sekarang.
Di tempat lain Conan heran melihat Eva yang kesana kemari mencari Viona yang lari entah kemana.

“Hei Eva, dari tadi aku lihat kamu mondar mandir, ada apa sih?”
“Ah itu, a aku, su sudah ya aku buru-buru” jawab Eva yang langsung pergi begitu saja.
“Eu HEI EVA ADA APA?” teriak Conan, namun tak digubris oleh Eva.
“Conan, kau di sini rupanya ya?” sahut ku yang baru saja datang ke tempat Conan.
“Hmm, apa kau sudah tau soal Viona belum?” tanya Rizki.
“Ah Rizki, apa tidak apa-apa?” bisik Citra.
“Sebaiknya kita beritahu saja, toh nanti lama-lama juga akan ketahuan kan?” ucap Rizki serius menatap Conan.
“Ka kalian kenapa?” heran Conan.
“Sebenarnya, haahh Rizki kamu saja yang bilang deh” aku tak sanggup mengatakan nya.
“Viona, sebenarnya dia adalah..”
“Vampire. Dia Vampire kan?” Conan menyela ucapan Rizki, sejenak mereka diam karena terkejut karena Conan ternyata tau kalau Viona adalah Vampire.
“Ja jadi kau?” tanya ku heran.
“Yah, aku tau kalau dia Vampire. Mikha?, kau selalu bilang kan kalau kamu akan selalu berteman meskipun dengan monster sekalipun, a aku juga ingin seperti itu. Sekarang, aku akan buka hatiku untuk siapa pun yang ingin berteman denganku, bahkan wanita pun aku akan menerimanya sebagai teman” ucap Conan menatap tajam Mikha.

FLASHBACK ON
“Hoooammzzz… haahh ngantuk sekali, masih lama ya perjalanannya Pak Guru?” tanya ku yang sedang berada di mobil pariwisata yang akan pergi piknik ke sebuah museum.
“Kamu tidur saja dulu, nanti kalau sudah sampai bapak akan bangunkan kamu ya” saran Pak Guru pada ku, saat itu aku masih kelas 1 SD. Aku dan teman sekelasku akan jalan-jalan tak ketinggalan juga Mikha dan Citra pun ikut dalam rombongan.
“Hei, kamu Conan kan?, nanti kita jalan bareng kami yuk?, mau gak?” ajak Citra tersenyum.
“Hmm, kamu siapa?, aku tidak mengenalmu” jawab Conan dingin.
“Oh i iya maaf kalau gitu” Citra terlihat murung saat mendengar ucapan Conan yang dingin.
“Hei kau, bersikaplah baik pada kami para perempuan. Ayo minta maaf padanya!” ucap Mikha menyeru Conan.
“Tidak mau” jawabnya ketus sekali dan membuat jengkel Mikha.
“Iihh menyebalkaaann!!!” kesal Mikha.
“Kau juga” balas Conan acuh.
“Sudahlah Mikha, jangan di layani saja dia nya” ucap Citra memberi isyarat agar duduk lagi, sahut Citra tersenyum, dengan masih ada rasa kesal Mikha pun duduk namun mukanya cemberut.
“Dengar ya, aku tak mau ada perempuan menjadi temanku. Perempuan hanya akan menyakiti saja sama seperti ibu tiriku yang sering memukulku tanpa sebab” ucap Conan lagi serius.
“I ibu tiri katamu?” Mikha mengerenyutkan dahinya heran.
“Yah, jadi jauh-jauhlah dariku” ucap Conan bersikap dingin.
“Tidak!” sahut Mikha menatap tajam.
“Su sudah lah Mikha, jangan diteruskan lagi” ucap ku khawatir.
“Tidak Irwan, aku akan mengubah cara pandang anak ini. Aku akan memberi dia sedikit pelajaran kalau semua perempuan itu tidaklah seperti yang dia katakan, yah meski ada si satu atau dua perempuan yang jahat tapi aku yakin kalau tidak semua perempuan jahat kan?” kata Mikha seperti orang dewasa saja.
“Hh, coba saja kalau kamu bisa merubahku” sikap Conan lagi-lagi dingin seperti es.
“Baiklah, kita lihat saja nanti. Kalau kau kalah maka kamu harus berteman dengan kami dan jika kamu menang maka aku janji tidak akan mengganggu kamu lagi, bagaimana?” ujar Mikha malah mengajak taruhan.

HHAAAADUUUHH KITA INI KAN MASIH SD KENAPA HARUS ADA TARUHAN SEPERTI INI SIH…?
READER JANGAN DI TIRU YA TARUHANNYA…!!!

“Hei hei, sudah anak-anak jangan ribut ya, sebentar lagi kita sampai loh” sahut Pak Guru melerai keributan antara Mikha dan Conan.
“Pak Guru, barusan Mikha mau taruhan kan?, itu kan tidak boleh, kita kan masih anak-anak hmm” tutur Citra.
“Dengar ya anak-anak, taruhan itu tidak boleh di lakukan. Jadi Mikha, Conan, batalkan segera taruhan kalian ya?” Pak Guru langsung memberi nasihat sambil tersenyum.
“Ta tapi?” Mikha bernada kecewa.
“Hahaha jangan sedih, nanti kita cari cara lain untuk itu ya. Bapak janji akan bantu ko, jadi tenanglah” ucap Pak Guru kembali senyum dan menenangkan ke dua hati anak-anak itu agar tetap diam dan tidak ribut.

To Be Countinue

Cerpen Karangan: Irwan Nuurul Falah
Blog: irwannnuurul.wordpress.com

Cerpen Monster Love (Part 4) Masa Lalu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dendam Masa Lalu

Oleh:
Aku bernama Sandriana biasa dipanggil Sandra. Aku sedang liburan setelah sekolah dan aku akan liburan ke luar negeri, yaitu ke Washington DC! Saat di pesawat aku hanya tertidur sampai

In Love With Solmed

Oleh:
“Ika, pliss.. susu strawberry gue jangan diminum donggg.. ahh lo mahh..” kata gue. Hai gue Felis . Si Ika tadi itu solmed gue dari tk sampe sekarang nama asinya

Secret of Love

Oleh:
Masa SMA memang dapat di katakan masa indah, ya di katakan seperti itu karena banyak cerita yang tidak dapat di lukiskan dengan kata-kata terutama dengan “cinta”. Banyak sekali cerita

Magic Sagitarius

Oleh:
Pagi pagi sekali, Shirakaba sedang di rumah. Mamanya pun memanggilnya, dan berkata “Shirakaba, ini kalung untukmu. Ini hadiah ultahmu minggu lalu”. Lalu, Shirakaba berkata “terima kasih Mama”. “Sama sama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Monster Love (Part 4) Masa Lalu”

  1. udah ada lanjutanya blum nih?

  2. rizaldy nugraha says:

    lanjutannya plisss,seru ceritanya

  3. Zainul says:

    Lanjut bos critanya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *