Monster Love (Part 5) Menangis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 22 May 2017

Beberapa menit pun kami tiba di museum yang memamerkan barang-barang bersejarah serta tulang-tulang dinosaurus yang lengkap (andai itu ada di kenyataan), Pak Guru pun menjelaskan setiap benda dan tempat yang kami singgahi, yah maklum karena Pak Guru kami waktu itu adalah guru sejarah di sebuah SMP di Jakarta dan beliau mengajar bahasa Indonesia di SD kami. (Dari Sejarah ke Bahasa Indonesia hehe jauh banget).

Aku lihat Conan selalu jauh dari rombongan, tepatnya seperti menjaga jarak. Ya ampun anak ini kenapa sih?.
“Hei kau, jangan sendirian saja. Ayo ke sini gabung sama kami!” sahut Mikha pada Conan yang berjarak dua meter dari rombongan.
“Tidak!” jawab nya singkat dan juga dingin.
“Ah hahaha Conan, gabunglah sama teman-temanmu. Kalau tidak nanti bapak gak akan beri nilai loh, dan..” tiba-tiba Pak Guru mendekat dan membisikan sesuatu pada Conan sehingga Conan seperti ketakutan lalu mulai bergabung dengan yang lain. (Walau hanya berjarak setengah meter dari rombongan).
“Apa yang dibisikan pada Conan ya?” heran Citra penasaran.
“Hmm aku rasa itu” sahut Mikha.
“Haah?, itu?, maksud kamu apa?” tanya ku bingung.
“Sini aku bisikin..” Mikha pun membisikan satu ucapan yang buat aku sakit perut ingin tertawa namun aku tahan, (haaahhh… tahan tawa lebih sulit dari yang kukira).
“Pak, Pak Guru. Boleh aku ke toilet sebentar?” ucap ku minta izin, (padahal hanya ingin lebih leluasa untuk tertawa).

Di sela-sela rombongan sekarang aku lihat Conan seperti melihat seseorang, (cerita di toilet jangan dibahas karena cuma haha haha dan wkwkwkwk).
Aku melihat Conan menghampiri seseorang dan aku pun terkejut karena yang di dekatinya adalah seorang perempuan cantik, dan rasa nya aku tau wanita itu siapa.
“Ka kamu, kamu dulu pernah satu sekolah denganku kan sebelum kita pindah?” tanya Conan mulai bicara (wah kejadian langka nih).
“Hmm kamu siapa?, aku tidak ingat” ucap perempuan itu dengan tanpa ekspresi.
“Tidak mungkin, apa karena kamu pindah begitu cepat sehingga kau tak pedulikan teman ya?” heran Conan tercengang. (Teman, apa barusan dia bilang teman pemirsa?).
“Yah aku memang tidak peduli” jawab perempuan itu lagi dengan memalingkan wajah nya dari Conan.
“Hei tau tidak, sebenarnya aku suka Vampire loh, kamu Vampire kan?, kamu pindah karena kamu ketahuan oleh siswa senior kan?”
“Sudahlah, kamu pergi sana. Aku tidak ada urusan sama kamu” usir wanita itu.
“Ta tapi aku suka kamu, boleh gak aku jadi temanmu?” tanya Conan menjulurkan tangan untuk salaman. Namun.
“Tidak, aku tidak mau lagi berteman dengan siapa pun” ucap wanita itu lagi dengan sangat dingin, sanggup untuk membeku kan hatinya Conan pada waktu itu.
“Dasar bodoh, nah lihat. Bagaimana rasanya saat ditolak mentah-mentah oleh seseorang yang tak ingin berteman denganmu?” ucap Pak Guru yang datang dari belakang.
“Ra, rasa nya se.. seperti. HUUUWAAAHHHH sakit sekali hiks-hiks” tangis Conan di masa muda.
“Nah, sekarang kamu mau kan berteman dengan mereka?, yah tentu nya kamu sudah tau perasaan mereka ketika kamu menolak ajakan pertemanan mereka.
“Ba, baiklah. Aku mengerti sekarang, tapi aku hanya akan berteman dengan kalian saja ya, Mikha dan Citra kalianlah teman perempuan pertama untukku” ucap Conan mulai sedikit membuka hati.
“Hmm, hahaha aku menang..!!!” seru riang nya Mikha. Apa masih di lanjut taruhan?
“Hmm, ya sudah aku akan berteman dengan kalian. Tapi cuma kalian ya, yang lain akan kupikirkan nanti” ujar Conan menatap serius.
“Ya ampun anak-anak ini” semyum Pak Guru geleng-geleng kepala.
“Hei, wanita itu tadi siapa hmm?” tanya Citra pada Conan sambil memgikuti rombongan.
“Oh itu, di dia, dia kenalanku saat di SD lain. Aku sama dia pernah sekelas tapi dia pindah karena suatu alasan yang gak bisa kuceritakan” jawab Conan serius.
“Ooh gitu ya, hmm. Aku harap saat nanti kita SMP atau SMA kita bisa satu sekolah sama dia ya Conan” ucap Citra lagi penuh harap.
“Apa kamu tau namanya” tanya Mikha penasaran sambil jalan mundur.
“Tentu saja, tapi aku gak mau kasih tau. Hei jangan jalan mundur nanti jatuh!” wah si Conan ada sisi perhatiannya juga ternyata.

BRUK
PRAK
“Adududuuuhh, sakit” rintih Mikha yang terjaruh karena jalan mundur.
“Haahh kamu ini, Conan kan sudah peringatkanmu, jadi jatuh deh kan?” ucapku menjulurkan tangan untuk membantu berdiri.
“Ah sudahlah, aku bisa berdiri sendiri kok” jawab Mikha langsung bangkit dari jatuhnya.

Tak terasa acara cepat sekali berlalu dan kini saatnya kami untuk pulang, Pak Guru tidak lupa untuk mengabsen murid-muridnya lagi supaya tidak ada yang tertinggal.
FLASBACK OFF

“Jadi kau, kau tau kalau dia Vampire?” tanya ku membuat ku tercengang.
“Yah, kalian ingat kan. Waktu aku di tolak oleh seorang wanita untuk berteman denganku saat masih SD, waktu itu saat ada acara datang ke museum” jawabnya cukup serius sambil nunduk.
“Jadi wanita yang kamu ajak bicara waktu itu adalah..?” ucap Mikha tak melanjutkan.
“Yah, dia itu adalah Viona. Sebenarnya aku suka sama dia sudah sejak dulu, nah Citra, harapan kamu ternyata terkabul ya?” ucap Conan kemudian menoleh ke Citra.
“A apa, ternyata wanita itu Viona. Hmm” kaget Citra.
“Haahh Citra, gak usah segitunya kali” ucapku menepuk bahunya.
“Haahh haha, huuwwwaahhh” Citra menangis terharu.
“HHAAAADUUUHH CITRAAA JANGAN LEBAY DEH!!!” teriak ku.
“Huuwwaaahhh, hiks hiks hiks rasanya senang kalau harapan ku terkabul. Hiks hiks hiks”. hhhh.. Citraa-Citraaa kamu korban sinetron alay ya?.
“Ya sudah, sekarang kita juga cepat cari Viona” usul Rizki.
“Hmm, ok” sahut ku. Kami pun berpencar mencari Viona namun tak ada satu tempat pun yang menjadi persembunyiannya.

“Ah tunggu, aku lupa sesuatu. Hmm, ah iya bisa pakai cara itu” Eva baru sadar kalau dia bisa mendeteksi suatu getaran yang ada di manusia dan juga Vampire.
Dia pun melentangkan tanganya setengah lalu memejamkan matanya, Eva pun berkonsentrasi pada getaran-getaran tubuh manusia. Jika ada yang berbeda dari getaran itu maka dia bukan manusia.
“Eh itu Eva, hmm sedang apa ya dia?” tanya ku heran.
“Mungkin sejenis meditasi..” jawab Rizki asal.
“Kita samperin aja yuk” ajakku yang langsung mendekat pada nya.
“Ah pasti di sana” ucap Eva mendadak, lalu dia langsung pergi tanpa mempedulikanku.
“Eleleleh, kenapa dia pergi?” ucapku manyun.
“Haah sudah kita ikuti saja, mungkin jurus penerawangannya Eva sudah tau jawaban nya.
Setelah kita mengikuti Eva yang ternyata lari ke atap sekolah paling pojok terlihat sesosok wanita yang sedang menangis. Dialah Viona.

Viona?” sapa anak-anak yang lain.
“Pergilah, kenapa kalian cari aku?” ucap Viona duduk tertunduk memeluk lutut sembari menangis.
“Sudahlah, jangan hiraukan ucapan si Bisma itu. Kita semua adalah temanmu dan pihak sekolah pun tak akan mengeluarkan kamu dari sekolah” sahut Rizki.
“Kenapa kamu yakin hal itu?” tanya Viona yang masih menangis.
“Ya, karena, itu hmm…”
“Lihatlah di papan sekolah itu, apa slogan dari sekolah kita Viona?” tambahku bertanya sambil menunjuk ke papan sekolah yang terpajang di depan sekolah.
“Aku jadi berpikir, sekolah kita tak hanya menerima murid dari kalangan manusia seperti kami. Tapi juga mahkluk lain seperti Eva dan juga kamu Viona” ucap Mikha serius.
“Tapi, mahkluk sepertiku masih bisa…”
“Tentu saja bisa Viona, jangan pernah terpengaruh oleh ucapan orang lain tentang dirimu. Kita akan ada untukmu karena kita akan menjadi teman sampai kapanpun” sahutku menyela ucapan Viona.
“Hei Viona, kau ingat saat masih kecil aku pernah melihatmu berbicara bersama Conan. Waktu itu aku dan teman-teman yang lain sedang jalan-jalan ke musiem, yah. Aku liat kamu ngobrol dengan Conan dan aku saat itu ingin berkenalan denganmu tapi kamu keburu pergi, aku berharap bisa bertemu lagi denganmu dan sekarang harapanku terkabul jadi, ayo kita berteman Viona” tambah Citra.
“Sudahlah jangan menangis lagi Viona, berdirilah” ucap Conan membantunya untuk berdiri, namun saat sudah berdiri tiba-tiba tangan Conan ditarik oleh Viona sehingga menjadi posisi berpelukan. Conan dan Viona saling peluk dan Viona kembali menangis.
“Ma..makasih semuanya, makasih sudah mau berteman denganku” bisik Viona terisak pada Conan.
“Baiklah, jadi teman kita bertambah lagi satu orang lagi. Hoorreee…!!!” ucap Eva gembira.
“Haaahh kamu ini. Eva, kamu bisa merasakan keberadaan Viona lewat getaran tubuhnya kan?” sahutku bertanya.
“Ya, di planetku itu sudah biasa dilakukan untuk melacak seseorang atau menemukan keberadaan musuh yang tentunya bukan dari bangsa Evola” jelas Eva.
“Hmm, bisa kau ajarkan pada kami hehehehe?” pinta ku menyengir.
“Hmm bagaimana ya, hmmm…” Eva mikir-mikir dulu.
“Hei Irwan, untuk apa sih belajar ilmu seperti itu?, kita kan manusia bukan mahkluk seperti Eva” ujar Mikha.
“Biar seperti yang ada di film-film, kan itu keren” ucapku semangat.
“Maksud kamu seperti Dragonball, Naruto atau Bleach kan?” tebak Conan.
“Hah, hahaha ketauan deh” tawaku menyengir.
“Haaahh dasar penggila anime” ketus Rizki.
“Oohhh… hmmm… aku akan ajarkan kalian semua” sahut Eva tiba-tiba.
“HHAAAAHHH…!!!” kaget semua orang.
“Apa kamu yakin Eva?” tanya Citra.
“Yah aku yakin, biar seru kalau kalian juga punya kemampuan seperti itu, kalau cuma aku saja rasanya aneh hahahaha. Hmm apa kamu juga mau kuajarkan Vio?” ucap Eva sepertinya serius.
“Tidak usah, aku juga punya kemampuan seperti itu. Aku kan Vampire” senyum Viona masih menggandeng tangan Conan.
“Owh begitu ya, ok deh nanti pulang sekolah kita bertemu di sini lagi ya hehehe” sahut Eva begitu semangat.
Kami pun bergegas kembali ke kelas karena bel tanda masuk sudah berbunyi, walau masih terasa canggung Viona berusaha tetap tenang dengan menggandeng tangan Conan sampai akhirnya berpisah masuk ke kelas masing-masing.

Belajar pun berakhir dan kini waktunya untuk pulang, aku merasa terkejut karena teman-teman di kelasku malah ingin dekat dan akrab dengan Viona. Padahal tadi di waktu jam istirahat semua siswa sangat ketakutan. Apa sebenarnya yang terjadi selama kami ada di atap sekolah?.

Cerita lain saat kami berada di atap sekolah.
“Shindy, lakukan komunikasi telepatimu ke semua murid kecuali pada Irwan, Rizki, Citra, Mikha, Conan, Eva dan Viona” ucap Bu Maya di ruang kantor.
“Hmm, aku harus bilang apa pada mereka?” tanya Shindy alias Pink Prof.
“Katakan kalau…” Bu Maya membisikan sesuatu pada Pink Prof dan langsung mengiyakan.
Pink Prof pun berjalan menuju jendela dan menempelkan telapak tangan nya pada kaca jendela sambil memejamkan mata dan berkonsentrasi pada telepatinya untuk menyampaikan sesuatu yang diucapkan oleh Bu Maya melalui pikiran sehingga para murid bisa mendengar ucapannya seperti pengumuman yang dilakukan melalui speaker.

“Sudah saya lakukan Bu” ucap Pink Prof kembali pada posisi semula.
“Bagus, sekarang masalah sudah teratasi. Sekarang biarkan anak-anak itu mengurus nya sendiri. Dan aku tugaskan kau untuk mengawasi mereka, karena kau tau sendiri di antara mereka ada dua mahkluk yang bukan manusia” perintahnya.
“Baik bu, saya akan laksanakan. Saya permisi dulu Bu” pamit Pink Prof mengerti. Pink Prof pun pergi meninggalkan ruangan kantor kepala sekolah.

“Wah wah, sepertinya di sekolah ini sudah dimasuki dua mahkluk asing ya?” ucap seseorang bersuara laki-laki yang muncul dari balik tembok, mirip seperti telah menembus tembok.
“Owh ternyata kau, tidak sopan menguping pembicaraan orang” sinis Bu Maya pada laki-laki itu.
“Ah maaf, hahaha. Tapi, yang jadi pertanyaan adalah kapan kita aku bisa memulai mengajar di sini?” tanya laki-laki itu selalu penuh senyum.
“Besok kau akan mengajar pelajaran olahraga, jadi lakukan yang terbaik untuk kelas mereka. Nanti aku akan membuat kelas khusus untuk mereka” jawab Bu Maya penuh rencana besar.
“Hmm baiklah baik, aku akan lakukan yang terbaik untuk mereka tapi, sepertinya akan ada yang datang ke planet kita ini. Apa kita akan diam saja?”
“Maka dari itu kau aku suruh mengajar beberapa ilmu khusus pada mereka, guru olah raga hanya berlaku untuk murid-murid yang lain tapi tidak untuk kelas khusus yang nanti aku buat. Sebelum mereka muncul kita harus sudah siap dengan beberapa kekuatan yang dimiliki oleh kelas khususku” jelas Bu Maya. Apa maksud dengan kekuatan itu?
“Owh begitu ya, yah kita memang sudah terlalu tua untuk menghadapi mereka bersama. Aku mengerti sekarang. Baiklah aku pergi dulu, sampai jumpa lagi nanti” laki-laki itu pun pergi meninggalkan Bu Maya sendiri.
“Cih, kau bilang kita tua?. Kau saja yang tua, kalau aku tetap masih terlihat muda” gerutu Bu Maya.

Bersambung…

Irwan: hei author, kamu masukin aku ke sekolah apaan ko pada punya kekuatan ?
Author: hmm itu, karena hmm, rahasia.
Irwan: -___-

Cerpen Karangan: Irwan Nuurul Falah
Facebook: Irwan Nuurul Falah
Line: irwanweah
Twitt/ig: irwanfalah
Wechat/kakao: irwannuurul90

Cerpen Monster Love (Part 5) Menangis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Talmore

Oleh:
Jauh di tengah hutan Paskah, hiduplah seorang penyihir bersama anak perempuannya. Ia adalah seorang guru sihir CEPRAN School yang sedang menjalani masa cutinya. Ia sengaja memilih berlibur di dalam

Kami

Oleh:
Aku baru saja tiba di tempatku. Pesan singkat darimu berbunyi. Aku membukanya. Kau telat. Aku sudah di tempatku belajar. Sepertinya kau sedang membutuhkanku. Aku tak ingin mengecewakanmu, kemudian aku

Bayangan Dalam Gelap

Oleh:
Suasana malam yang gelap dan suara-suara binatang malam semakin menambah kesan seram malam itu. Luna yang pada dasarnya seorang penakut semakin menempelkan dirinya di samping Faira. “Fai, lo yakin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Monster Love (Part 5) Menangis”

  1. Keren ceritanya….ditunggu kelanjutannya

  2. Offa says:

    Bagus banget cerpennya aku tunggu loh kelanjutan ceritanya

  3. Safa says:

    Perasaan dari Kemaren masin part 5 aja. Gua nunggu nih #penasaran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *