Mungkinkah Kau Kembali?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 19 October 2018

Sahabat? Sahabat seperti apa aku ini? Masih pantaskah aku menjadi sahabatnya? Aku yang selalu membutuhkannya, dengan mudahnya aku memaksanya untuk berada di dalam genggamanku. Bagaimana jika aku tidak membutuhkannya? Dengan sesukaku aku membuangnya ke dasar laut dimana tidak ada cahaya setitik pun di sana.

Angin berhembus menerbangkan anak rambutku yang kukuncir kuda. Namaku Risfani. Setiap pulang sekolah seperti waktu ini, aku selalu menghampiri taman ini. Duduk di bawah pohon sembari mengingat-ingat berbagai kenangan suka duka bersama sahabatku. Kristal namanya. Kami seumuran. Kami bersahabat disaat kami duduk di kelas 4 SD.

Dulu, 9 tahun yang lalu. Aku menangis sendirian di sini, menyendiri jauh dari keramaian karena meratapi nasib burukku. Diolok-olok teman, miskin, tak pandai, dan jelek. Saat itu, datanglah Kristal yang memperkenalkan diri padaku dengan ramah. Mengusap air mataku dan menawarkan hubungan persahabatan dengannya. Langsung saja, aku menerimanya. Mengingat bahwa aku selalu berdoa pada Tuhan untuk mengirimkanku seorang sahabat.

Hari demi hari kami lewati bersama. Dimana aku berpijak, dia selalu berada di sampingku. Dan sebaliknya. Kristal sangat berbeda denganku, dia cantik, pandai, baik, dan orang tuanya sangat kaya raya. Namun ia selalu rendah hati di depanku dan semua orang.

Sesibuk apapun dia, dia tak pernah meninggalkanku. Dia yang selalu memberikanku bahu untuk bersandar, tangan lembut untuk menghilangkan jejak air mataku, dan pelukan hangat disaat aku merasa rapuh dan terpuruk.

“Tidak ada perempuan jelek, yang ada hanya perempuan malas” ungkapnya yang sedang menghiburku. Itu membuatku termotivasi.

Dia juga tak akan pernah lupa hari kelahirkanku. Setiap tahunnya dia selalu memberikanku kejutan yang berhasil membuatku terharu dan merasa beruntung memiliki sahabat sepertinya.

Hingga kami sama-sama duduk di bangku tingkat akhir jenjang SMP, aku melakukan sebuah kesalahan. Hubungan kami merenggang karena aku yang berubah. Waktu itu, entah kenapa aku muak dengannya. Ada iblis yang selalu membisikkan kata-kata yang membuatku panas dingin. Aku marah, iri, serta dengki dengan segala kepunyaan Kristal, paras rupawan, IQ diatas rata-rata, kaya, dan memiliki orangtua yang sangat menyayanginya.

Ditambah lagi, teman-teman selalu merecokiku dan mencemooh bahwa aku hanya benalu di kehidupan Kristal, aku berteman karena mengemis hartanya dan semacam itu. Sebenarnya, aku tulus berteman dengan Kristal. Aku selalu mengabaikan perkataan mereka dan Kristal juga ikut membantu menutup telingaku.

Tapi itu semua tak berlangsung lama, iblis telah menguasai tubuh dan pikiranku. Mataku menggelap melihat kebaikan Kristal padaku. Aku membenci sahabatku. Dari situ, aku memanfaatkannya. Memanfaatkan segala sesuatu yang dimiliki Kristal. Membuatnya lupa dengan belajarnya dengan menyuruhnya mengerjakan tugas sekolahku. Menyuruhnya ini dan itu disaat aku membutuhkannya. Dan mengabaikannya disaat dia membutuhkanku. Tak ada lagi yang namanya menghabiskan waktu bersama di taman favorit kami.

Bodohnya dia. Disaat dia akan pergi ke Austria dan melanjutkan pendidikannya di sana, dia menulis surat untukku. Katanya dia berharap bahwa aku mencegahnya untuk pergi dan masih menganggap bahwa aku adalah sahabat, orang yang paling dia sayangi setelah orang tuanya.

“Risfani, aku baik-baik saja ketika kau tak mau melihatku lagi dan mengabaikanku. Kau masih tetap sahabatku, selamanya seperti itu. Aku sangat menyayangimu, kau orang yang kusayangi setelah orangtuaku yang pertama. Di masa depan, aku harap dapat melihatmu lagi saat kau sudah berada di atas(sukses)” tulisnya dalam surat sebelum ia pergi meninggalkan Indonesia.

Sedangkan surat itu baru aku baca 3 hari setelah dia telah pergi. Aku mencarinya karena tak nampak batang hidungnya selama 3 hari ini. Aku baru sadar, bahwa 3 hari yang lalu itu aku melemparkan surat Kristal. Saat itulah aku mencari-cari suratnya dengan dibantu ibuku lalu aku membacanya.

Tulisan tangannya itu membuatku menyesal. Aku kehilangan arah dan lemah. Aku terjebak dalam permainan iblis. Sejak itu, aku merutuki diriku yang bodoh. Tuhan menghukumku karena tak mensyukuri dan menjaga dengan baik pemberian-Nya.

Penyesalan. Itulah yang aku rasakan selama ini, mengapa aku menyia-nyiakannya? Mengapa dulu aku begitu jahat kepadanya? Mengapa penyesalan itu baru datang saat aku telah merasa kehilanganya? Masih pantaskah perminta maafanku di terima olehnya setelah apa yang kulakukan padanya? Bisakah, bisakah aku menjadi sahabatnya kembali setelah semua sikap bodohku dulu yang menyakitinya? Aku egois bukan?

Ini sudah 3 tahun kepergiannya, mengikuti orangtuannya untuk pindah ke negeri orang. Austria.

Menangis untuk sebuah kebodohanku, menyesal karena menyakitinya, dan menikmati perasaan sesak karena kehilangannya. merutuki diriku dan merindukannya. Itu yang kulakukan 3 tahun terakhir di taman favorit kami. Tempat dimana menjadi saksi kami dipertemukan Tuhan.

Sekarang aku hanya gadis bodoh karena membiarkan sahabat yang begitu berharga pergi begitu saja. Karena perkataan bodohku aku kehilangannya. Karena egoku aku harus menanggung rasa sesakit ini. Aku hanya bisa menunggu di sini, di tempat yang sangat berarti untukku. Entah kapan dia kembali hadir dalam hidupku. Aku hanya bisa menunggu dan menunggu untuk kedatangan yang tak pasti. Aku harap, ia akan memaafkanku kembali dan kuharap semuanya seperti sedia kala. Dan aku berjanji, aku tidak akan melakukan kebodohan itu lagi. Tidak, aku akan juga membuktikannya saat Kristal kembali nanti.

End

Cerpen Karangan: Dara Cahya
Blog / Facebook: Cahya Maudy
Thanks for being the reader of my story. Hanya ingin tulisanku dibaca publik. Dan masih tahap belajar. Selain disini, kalian juga bisa mengunjungi wattpadku untuk membaca tulisan-tulisan lain @Daracahyaaa.

Cerpen Mungkinkah Kau Kembali? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenapa Aku Sebodoh ini, Tuhan?

Oleh:
Dari kejauhan tampak seorang cowok berkacamata sedang duduk sendirian di tepi danau. Tangan kanannya memegang handphone. Sementara kepalanya tak berhenti celingak-celinguk sedari tadi. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang. Dan

Menolak itu Penting

Oleh:
Namaku Cantika, tahun ini aku masuk semester 5 dalam perkuliahan. Aku sering dipanggil cika, aku adalah seorang yang sangat sulit menolak permintaan orang lain. Teman-temanku sering menegur aku bahkan

Sahabat Kecilku Pasangan Hidupku

Oleh:
Malam ini ku hempaskan tubuhku ke atas kasur dan memandangi langit-langit di atas. Kurenungi keindahan masa-masa laluku. Masa kecilku bersamanya. Entah kemana dan dia saat ini. Aku sangat merindukannya.

The Flower of War (Part 2)

Oleh:
Rabu, 21 November 2018 Anya bangun dari tidurnya dengan malas. Kesiangan pula. Membuat Mamanya marah-marah. “Anyaaaa! Kenapa bangun siang lagi? Kasihan Papamu setiap hari harus telat karena kamu. Udah

Mantan Rasa Kawan

Oleh:
“Za” teriak seseorang dari pintu kamar gue, itu pasti vano. Dengan ogah ogahan gue ngebukain pintu buat dia. “Apa” “Gue kesepian, temenin gue yah” ucap vano sambil nyelonong masuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *