Ngabuburit Bersama Teman

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Persahabatan, Cerpen Ramadhan
Lolos moderasi pada: 9 May 2018

Ting… Ting… Ting…
Bunyi alarm di kamarku. “Hoam,” aku terbangun dan mematikan alarm. Kulirik jam seraya mengucek mata. “Jam 3,” gumamku. Aku bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka. Selesai itu, aku menuju meja makan. Sesampainya, langsung kududuki kursi yang kosong. “Eh, Rossa sudah bangun! Ayo makan, keburu Imsak, lo…,” sapa Mama seraya menaruh sepiring nasi goreng dengan telur, juga segelas susu. Aku menganggukkan kepala, dan langsung melahap makanan di depanku.

Ini memanglah hari pertama Puasa. Usai makan, aku meneguk susu yang masih tersisa sedikit. Aku melirik ke arah jam dinding. “Satu jam lagi Imsak,” gumamku. Segera aku mengambil makanan ringan dari kulkas. “Ma, Rossa ke ruang keluarga!” pamitku. Sesampainya, aku menyetel televisi. Aku menonton seraya memakan camilan.

Tiba-tiba, Mama menghampiriku seraya membawa segelas air mineral. “Rossa, sudah mau Imsak! Ini, minum dulu,” ucap Mama menyodorkan segelas air mineral padaku. Aku mengambilnya dan meneguknya sampai habis. Lalu, aku menaruh camilan di kulkas. Sehabis itu, aku melanjutkan menonton, sambil menunggu adzan Subuh.

Selang beberapa menit, adzan Subuh berkumandang. Aku mematikan televisi dan mengambil air wudhu. Usai sholat, aku melipat lagi mukena juga sajadah. Lalu, aku tidur lagi. Zzz….

Sehabis Sholat Ashar, aku segera menggendong tas ranselku. Aku akan pergi ke pengajian di Masjid. “Ma, Rossa berangkat Ngaji dulu… Assalamualaikum,” pamitku pada Mama. “Waalaikumsalam, hati-hati,” balas Mama. Aku segera berangkat. Masjidnya hanya berjarak 50 Meter dari rumahku. Sesampainya, aku melihat 3 buah Al-Quran di meja. Wah, aku dapat giliran keempat. Ya, kutaruh Al-Quranku, di samping Al-Quran ketiga. “Rossa!” panggil seseorang. Aku menoleh. Itu kedua temanku, Prisil dan Vivin. “Hai,” sapaku menghampiri mereka. “Eh, Ross! Kami nanti mau Ngabuburit,” ucap Prisil membuka pembicaraan. “Di mana?” tanyaku. “Katanya, di Lapangan Gor sana, ada bazar. Ikutan, nggak?” jelas Vivin. “Boleh, aku juga bosan di rumah trus,” ucapku.

Tak lama, semua sudah datang. Kami mulai Mengaji. Usai giliranku, aku segera pulang. Usai salam, aku menuju kamar. Segera, aku mengganti pakaian. Overall jeans biru gelap panjang, kaos lengan panjang merah kotak hitam, sepatu kets cokelat, kerudung pashmina hitam-putih, dan jam tangan. Aku menyelempangkan tas pink kecil berisi Handphone dan Uang. Sebelum berangkat, aku berpamitan pada Mama. Aku mendorong sepeda keranjang keluar garasi. Di depan terlihat Vivin sudah menunggu. “Rossa, jemput Prisil dulu, yuk!” ajak Vivin. “Yuk!” Kami mengayuh sepeda menuju rumah Prisil.

Sesampainya.. “Assalamualaikum, Prisil!” panggil kami berdua. “Waalaikumsalam!” ucap Prisil keluar rumah. Ia segera menaiki sepedanya. “Yuk,” ajak Prisil. Kami menuju Lapangan Gor kompleks yang jaraknya ± 2 Km. Sesampainya, kami memarkirkan sepeda di parkiran sepeda. “Rame banget, ya Ross, Sil?” tanya Vivin melihat suasana hiruk-pikuk di Bazar. “Yaiyalah, namanya juga Bazar!” jawab Prisil polos.

Kami segera masuk. Banyak juga yang berjualan. Ada yang menjual takjil, perlengkapan sholat, bermacam-macam buku, lukisan kaligrafi, dan lainnya. Pertama, aku beli takjil. 1 gelas es cendol, 1 sop buah, bermacam-macam kue jajanan, dan 2 mangkuk plastik kolak Ubi. Aku juga membeli lauk siap saji, karena Mama tidak masak. Aku membeli 2 porsi ayam goreng beserta nasinya. Aku juga membeli 5 buah kerudung. Soalnya, harganya murah banget.

Aku segera keluar dari Bazar. Kelihatannya, Prisil dan Vivin belum keluar. Aku duduk di bangku yang tersedia, seraya memainkan Handphoneku. Bosan bermain Hape, pandanganku tertuju pada Vivin dan Prisil yang sudah keluar. “Masya Allah, banyak betul belanjaanmu, Vin!” ucapku seraya tertawa. “Iya, macem emak-emak aja,” timpal Prisil sambil tertawa juga. “Biarin! Mumpung harganya banyak yang diskon,” ucap Vivin. “Gila diskon,” celotehku yang belum berhenti tertawa. “Sudah, Rossa! Udah mau Maghrib. Yuk pulang. Ketawanya dilanjutin di rumah,” lerai Prisil.

Aku menaruh belanjaanku di keranjang. “Rossa, boleh numpang, nggak?” tanya Prisil. Aku menganggukkan kepala. Memang, sepeda Prisil tidak ada keranjangnya. Kami segera pulang. Sebelumnya, aku ke rumah Prisil. “Makasih, ys, Ross!” ucap Prisil mengambil belanjaannya. “Ok!” ucapku. Aku segera pulang.

Sesampai di rumah…
“Ma, Rossa bawa makanan, nih!” ucapku. “Ada ayam goreng juga!” “Oya? sini ayam gorengnya, kamu susun takjilnya di meja,” ucap Mama. Aku menyerahkan kantong berisi ayam goreng. Lalu, kususun takjil di meja. Es cendol untukku, dituang di gelas. Sop buah kesukaan Mama, dituang di gelas mangkuk. Kolaknya, ditaruh di mangkuk ukuran sedang.

Tak lama, Mama datang. Mama duduk di kursi sampingku. Oya, soal Papaku! Papaku sedang ada lembur di kantor selama 2 hari. “Nih, ada sop buah kesukaan Mama!” ucapku. “Makasih, ya..,” ucap Mama.

Tak lama, azan Maghrib berkumandang. Alhamdulillah… Akhirnya! Aku meneguk es cendolku. Ah, seger!!! Lalu, segera makan kolak ubi kesukaanku. Sambil makan, aku bercerita tentang serunya Ngabuburit bersama Vivin dan Prisil. Memang menyenangkan, bisa berpuasa bersama orang tersayang. Kamu, apakah pernah seperti pengalamanku?

Cerpen Karangan: Alyaniza Nur Adelawina
Facebook: Alya Aniza (pakai kerudung ungu muda)
Hai semua!! giman, bagus nggak. Maaf banget kalo cerpennya jelek/gk nyambung/sangat gaje/kurang seru/dsb. Abisnya, kehabisan ide. Penulis idolaku di Cerpenmu.com adalah kak Pratiwi Nur Zamzani. Jangan lupa add pertemananku diFb. Kalo udah tpi blom dikonfrim, bisa protes di kolom komentar, yaa… sekian, dadah!!!

Cerpen Ngabuburit Bersama Teman merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hoshi (Bintang)

Oleh:
Seperti biasa aku, Lia, Sasa dan Via, menyusuri lorong-lorong Mall, ini adalah kegiatan kami sehari-hari setiap pulang dari Sekolah. Nongkrong di Cafe atau hanya sekedar jalan-jalan. Itulah ritual kami.

Tali Pembawa Petaka

Oleh:
Tengah malam saat aku tidur aku merasa bahwa ada yang menarikku sampai suatu tempat, karena itu aku terbangun saat aku membuka mata aku melihat ada sebuah rumah kecil yang

My BFF

Oleh:
1997 merupakan tahun dimana aku dan sahabatku yang bernama Halimatu Mardiah (Diah) pertama mengikat Tali Persahabatan. padahal sebetulnya kami berangkat dari Sekolah Lanjutan Pertama yang sama tapi entah kenapa

Si Ulat Sutra

Oleh:
Ada sepasang suami istri yang berumur sekitar 60 tahunan. ia merupakan seorang petani yang memiliki perkebunan murbei dengan berkecukupan yang sederhana. ketika sore hari pak tani pergi ke ladang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *