Obat Rasa Jeruk (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Mengharukan, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 April 2018

Sesaat kemudian aku terbangun aku sudah ada di bangku milikku, kepalaku juga sudah tak sakit lagi, dan pelajaran olahraga telah usai, semua orang telah kembali ke kelas.
“Serius Belle?” sergah Celine sesaat setelah aku duduk di bangku.
“Ada apa Cel?” Tanyaku, aku tak mengerti apa yang dikatakan oleh teman sebangkuku itu.
“Jadi kau melupakan kak Alex, dan kau menyukai Liam?”
“Apa yang kau bicarakan Celine Aku dan Liam hanya berteman” Jelasku mencoba membantah tuduhan Celine.
“Kau tahu, Liam tidak pernah bicara pada siapapun, aku terkejut ia bicara padamu, mungkinkah dia yang suka padamu?” Tuduhan yang satu ini lebih terdengar tidak masuk akal.
“Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau bicarakan, sudahlah aku sedang tidak ingin berdebat”
“Tapi kurasa Liam itu cukup manis, dan terlihat polos, kecuali wajah pucatnya. Aku rasa aku ingin menjadi pacarnya jika saja ia memiliki harapan hidup lebih tinggi dan tidak penyakitan” ucap Celine sarkas membuatku sangat geram.
“Sudah cukup celine!” bentakku seraya menghentakkan tanganku ke meja.
Seisi kelas melihat ke arahku tak terkecuali Liam.
“Kenapa kau jadi seperti ini Belle?! Apa kau marah aku membicarakan tentang umur orang yang kau sukai itu pendek? Hah?! Semua orang tau itu! Liam itu sakit-sakitan! Jadi kau lebih memilih Liam daripada sahabatmu hah?” Celine serta merta berdiri dan meneriakkan kata-kata yang tak pantas dikatakan olehnya.
*Plakkkkk* tanganku refleks menampar wajahnya.
Semua orang terkejut melihat aksi nekatku.
“Liam tak banyak bicara karena ia tak mau mengucapkan omong kosong yang tidak berguna seperti yang kau ucapkan Celine!” teriakku, amarahku sudah di puncak.
Kylie dan Herbie berusaha menahanku sementara Caitlyn menenangkan Celine yang menangis karena tamparan yang mendarat mulus di wajah cantiknya itu.
Aku tak menyesalinya, Celine memang pantas mendapatkan itu, aku bahkan tidak habis pikir dia bisa mengatakan itu, bahkan di depan Liam.
Aku menoleh ke arah Liam, dia sedari tadi menyaksikan pertengkaran kami, Ia terlihat seperti begitu merasa bersalah, aku tak tau kenapa.

Aku berlari menuju perpustakaan, karena semua orang menatapku seolah aku lah yang bersalah. Kucoba menenangkan diriku. Mungkin yang aku lakukan memang agak berlebihan, tapi aku tak mampu membendung emosiku, aku sangat marah mendengar perkataan Celine, terlebih lagi kepalaku yang sedang sakit membuat aku tak bisa berpikir dengan jernih.

“Belle” Kudengar suara Liam memanggilku, dia menyusulku ke mari, entah ada apa.
“Kau seharusnya tidak perlu melakukan itu” Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutnya, ia pun langsung pergi tanpa menoleh sama sekali.
Yang benar saja Liam? Kau juga menyalahkanku? Kau dengar sendiri kan apa yang dikatakan olehnya? Kukira kau akan membelaku, kukira kau tak seperti mereka

Aku mencoba mengejarnya, aku ingin menjelaskan padanya. Kulihat ia, di gerbang sekolah.
“Liam!” Aku berteriak sekuat tenaga.
Ia tidak mendengarku, dan langsung saja menaiki sedan berwarna merah yang terparkir di depan sekolah, tampak seorang wanita sedang memapahnya, kurasa itu adalah ibunya.
Aku tidak tahu kenapa ia pulang awal hari ini, apa mungkin ada hubungannya dengan kejadian tadi?

Hari ini benar-benar berantakan, kuputuskan untuk pergi ke UKS agar bisa mengistirahatkan pikiranku dan juga kepalaku yang rasanya ingin meledak karena apa yang terjadi hari ini.
Aku masih memikirkan tentang perkataan Liam tadi, dan kenapa hanya itu yang ia katakan? Kenapa dia pulang lebih awal? Aku pusing sekali, kupejamkan mataku dan perlahan tertidur.

Kulihat Liam tiba-tiba terjatuh dan berteriak histeris sambil memukul-mukul kakinya yang tidak bisa bergerak. Air matanya bercucuran, ia berusaha sangat keras untuk berdiri, tapi kakinya tampak tak berdaya, itu bukan kakinya lagi, ia tak bisa mengendalikannya.
Aku hanya mampu melihatnya, aku ingin berlari ke arahnya dan membantunya tetapi aku tak bisa bergerak, air mataku ikut bercucuran melihat apa yang terjadi dan kenyataan bahwa aku tak bisa berbuat apa-apa.
“Belle! Belle!” Liam berteriak memanggilku, tapi aku tak bisa menghampirinya.

“Belle! Belle!” Tubuhku terguncang, Itu adalah Kylie dan Caitlyn yang
Berusaha membangunkanku, Ternyata aku bermimpi buruk. Aku mengerjapkan mata dan melihat arlojiku, sudah pukul 3, sekolah telah usai.
“Kau tidak apa?” Tanya Caitlyn.
“Mana Liam?” setidaknya Liam lah yang langsung terlintas di pikiranku sesaat aku bangun.
“Dia sudah pulang” ucap kylie seraya membantuku bangun.
“UKS sudah mau tutup, mau kami antar pulang?” tawar kylie.
“Tidak usah, aku bisa sendiri, terimakasih”
“Baiklah kalau begitu, kami duluan ya” Ucap Kylie hendak beranjak,
“Oiya, kata-kata Celine, jangan dipikirkan, dia salah karena mengatakan hal-hal tak pantas” ucap Caitlyn, dan mereka pun segera pergi.
Aku berjalan sendiri di koridor, kepalaku masih terasa berat, aku tidak akan ikut latihan lari hari ini. Kuharap yang terjadi hari ini hanya mimpi.

Sejak hari itu aku tidak pernah melihat Liam, ia tidak pernah masuk sekolah, aku sangat mengkhawatirkannya, apakah ia baik-baik saja? Aku ingin menghubunginya, tapi tak tahu bagaimana, aku menyesal tak pernah menanyakan nomornya. Hingga apa yang terjadi hari ini benar-benar membuatku terpukul.

Hari ini aku memasuki kelas dan terkejut melihat meja Liam yang ditaruhi bunga oleh teman-temanku. Aku segera berlari dan membuang semua bunga tersebut.
“Apa-apaan ini? Kenapa kalian menaruh bunga di sini hah?”
Tanpa sadar air mataku mengalir begitu deras.
“Liam tidak suka bunga!” Teriakku setengah terisak.
Aku pun langsung terjatuh, kakiku terasa lemas, hatiku hancur, air mataku tak terbendung lagi. Tidak bisa kupercaya, tolong katakan padaku, ini tidak benar kan?!
Celine langsung memelukku, “Maafkan aku” ucapnya, ia juga menangis.

Aku langsung berlari meninggalkan ruang kelas, tanpa tujuan, melangkahkan kakiku ke mana saja, ingin rasanya aku berteriak.
Semua kenangan kami seakan terputar kembali seperti sebuah film, membuat hatiku semakin sakit.
Hingga aku sampai ke sebuah rumah duka,
Dengan Langkah sempoyongan aku memasuki rumah duka itu, banyak orang yang menangis, kulihat seorang wanita yang tak asing menangis terisak, tidak, bisa kukatakan ia berteriak, histeris.
Ia adalah ibu Liam.

Mata ku tertuju pada foto seorang anak laki-laki, berambut coklat ikal, dengan mata hazel dan senyumannya, yang begitu tulus, dan damai, tidak pernah kulihat senyuman setulus itu.

Flashback
Cekrek
“Apakah sudah bagus?” Tanyanya.
“Iya yang satu ini bagus sekali, coba lihat.” Jawabku.
“Untuk apa foto ini? Foto profil facebook?” Tanyaku penasaran, Liam memintaku untuk memotretnya.
“Bukan, untuk dipajang, terimakasih Belle, kau fotografer yang handal, bahkan aku tak terlihat setampan ini”
Ia tertawa sambil memperhatikan foto yang barusan kuambil.
Flashback end

Itulah foto yang kuambil, terpajang, di atas peti mati yang berhiaskan bunga-bunga. Air mataku berjatuhan lagi, bahkan lebih deras dari sebelumnya.
“Apa kau yang bernama Belle?” Kudengar seorang lelaki bertanya padaku. Itu pasti ayahnya Liam, ia tampak tegar.
“I-iya” jawabku terisak.
“Aku ayahnya Liam, ia meninggalkan ini sebelum pergi” Ia memberikan sepucuk surat. Ku raih surat itu dari tangan lelaki itu.
“Terimakasih telah menjadi teman Liam, ia sering sekali membicarakanmu, terimakasih banyak” Aku tidak tau kalau Liam bercerita tentangku kepada orangtuanya.
“Aku turut berduka cita paman” Ucapku seraya berlalu dari rumah duka itu, rasanya aku tak mampu berlama-lama berada di sana.

Aku berhenti di sebuah taman bermain dan duduk di sebuah ayunan.
Perlahan kubuka amplop berwarna biru yang sudah basah terkena air mataku.
Terdapat namaku di depannya.

Dear Isabelle, bagaimana kabarmu? Kuharap kau baik-baik saja. Maafkan aku, karena meninggalkanmu tiba-tiba.
Sekarang kau tidak perlu bolos kelas olahraga lagi, Aku tahu kau selalu latihan lari sepulang sekolah, hingga sore, agar kau bisa bolos saat jam olahraga.
Aku sebenarnya tidak tega, tapi aku juga ingin kau membolos, sehingga kita bisa bicara, maaf, karena itu satu-satunya waktu untuk kita. 3 jam dari 168 jam bukankah itu tidak cukup? Tapi aku tetap bersyukur atas hal itu, bukankah selalu ada hal baik di setiap hal buruk yang terjadi?
Dulu sewaktu kecil, aku sangat suka dengan obat rasa jeruk, yah sebelum semua obat pahit itu yang menggantikannya. Aku senang ketika aku sakit, karena aku bisa makan obat rasa jeruk yang kusuka. Menurutku, itulah hal baik yang terjadi saat aku sakit.
Seperti itulah yang terjadi.
Aku senang di saat aku sakit dan tak bisa masuk kelas olahraga sehingga bisa bicara denganmu. Setidaknya itulah satu-satunya hal baik yang terjadi padaku yang tak beruntung ini. Kau tahu aku bukan pendiam seperti yang semua orang kira, sebenarnya aku tidak ingin bicara pada mereka, karena aku tidak ingin dekat dengan mereka, karena aku tahu hal ini akan terjadi, aku akan pergi, aku tidak ingin melukai mereka, jadi sebaiknya aku tidak singgah di kehidupan mereka.
Tapi saat aku melihatmu hari itu, kau berbeda, aku ingin masuk ke dalam hidupmu, setidaknya ada satu orang yang akan mengenangku.
Saat aku bicara padamu, aku menjadi diriku sendiri, aku senang memiliki seseorang yang tidak akan membuatku menyesal nanti.
Dokter mengatakan bahwa penyakitku sudah bertambah parah.
Sebenarnya hari itu aku sudah tak diperbolehkan sekolah, tetapi aku bersikeras untuk pergi ke sekolah, karena itu adalah hari rabu. Mungkin rabu terakhir kita, maka dari itu aku pergi ke sekolah dengan berlari, sama dengan seperti yang biasa kau lakukan, sebenarnya aku ingin memberitahukanmu tentang hal ini, tapi kau terlihat tidak sehat jadi aku mengurungkan niatku. Kata-kataku saat itu, aku tidak bermaksud menyalahkanmu, tapi aku tak bisa bilang jika celine itu salah, dia memang benar kan? Umurku memang pendek, aku tak ingin kau bertengkar dengan temanmu karenaku, karena saat aku pergi, kuharap merekalah yang akan menghiburmu, sehingga kau dapat melupakanku.
Kakiku lumpuh total pada hari itu, dokter bilang itu karena aku berlari ke sekolah, tapi kau tahu, aku sama sekali tak menyesal.
Kau sangat cantik, aku yakin tak ada bidadari di surga yang lebih cantik darimu.
Jika bisa, aku ingin tetap di bumi ini.
Aku suka bagaimana matamu terlihat berkilau saat kau mendengarkanku, seakan kau sangat tertarik dengan ocehan tidak masuk akalku, aku suka bagaimana kau menjadi dirimu sendiri, aku suka semua hal akan dirimu.
Aku suka padamu.
Maafkan aku, karena aku hanya singgah dalam hidupmu,
Maafkan aku karena waktu yang kita miliki hanya sedikit.
Maafkan aku karena aku kau harus berlari sampai sore hari.
Maafkan aku.. belle, mungkin judul kisahnya akan menjadi beauty and the sick.
Dan terimakasih, kaulah hal baik dalam hidupku,
Aku senang bahwa aku sakit dan bisa bicara denganmu, aku harap kau juga senang bahwa kau lupa membawa pakaian olahragamu.
Selamat tinggal belle, jaga kesehatanmu.
Liam

Sakit, sakit sekali, kau tahu Liam hatiku sakit sekali, sakit yang tak bisa diobati dengan obat rasa jeruk. Kau kejam sekali, bagaimana kau bisa singgah sekejap dalam hidupku, dan pergi begitu saja.
Namun aku tahu sekarang, kau bahagia, aku senang alasannya adalah aku.
Aku juga senang Liam, aku senang bahwa aku harus latihan lari sampai sore.
Kau benar, selalu ada hal baik dari hal buruk yang terjadi. Aku tak menyangka bahwa hari yang kuanggap sebagai hari sialku, hari dimana aku lupa membawa baju olahragaku akan menjadi hari awal dari kebahagiaanku.
Aku juga menyukaimu Liam, beristirahatlah yang tenang

Cerpen Karangan: Devika Oktaviani
Facebook: Devika Oktaviani
Devika Oktaviani, ini cerita pertama saya :3

Cerpen Obat Rasa Jeruk (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hari Pertama MOS SMP

Oleh:
Hari ini aku siap siap packing, akan ku kemas semua barang bawaanku. Huft ternyata lumayan banyak juga ya.. sampai-sampai tas ku ini terlihat bagaikan tas yang bermuatan batu. Ketika

Pertemuan Singkat

Oleh:
Mentari mulai menampakkan sinarnya dan sudah siap untuk menerangi sebagian dari belahan bumi ini. Sama seperti Netta yang sudah siap untuk memulai lembaran baru di SMA Harapan Bangsa. Ya,

Selamat Tinggal Vonny

Oleh:
Hi! Namaku Karin. Lebih tepatnya Titania Katarina Ananda. aku anak tunggal. Dan aku mempunyai sahabat. Ia bernama Vonny. Dan lebih tepatnya Vonny Aprilia Bianca. Kami bersekolah di SD Pelita

Dia

Oleh:
Sejujurnya aku ingin mengatakan apa yang saat ini aku rasakan. Apa yang harus kulakukan ketika diri ini merasakan rasa cinta yang dalam kepada seseorang. Yaitu kakak kelasku yang bernama

The Best Friend Forever

Oleh:
“True friends are never apart. Maybe in distance, but not in heart..” Sahabat sejati tidak akan pernah terpisah. Mungkin di kejauhan, tapi tidak di hati. Kisah ini bermula dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Obat Rasa Jeruk (Part 2)”

  1. Vira D Ace says:

    Seketika gue inget YLiA, dan gue nangis lagi bacanya :”v

  2. Apriliya says:

    Sedih bgt bacanyaa …

  3. Alif Aliss says:

    Hampir nangis, idung udah meringis sendiri, kaca-kaca di mata udah berhamburan. Andai ini masih siang, mungkin aku sudah meniru ibunya Liam. Good Bye Liam. Semoga kau tenang di alam sana hehe

  4. Alif Aliss says:

    Menyentuh banget btw..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *