Oh Seperti itu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 17 May 2017

Matahari mulai memancarkan cahyanya lebih terang dari yang kubayangkan. Seolah mengisyaratkan bahwa aku harus lebih cepat lagi untuk mengayuh sepeda warna biruku menyusuri jalan panjang menuju suatu tempat yang dimana aku dapat menuntut ilmu. Ya, tentu saja ke sekolahku. MAN Kandangan. Sesekali aku mendongakkan wajahku ke atas. Berharap matahari mau bersembunyi sebentar di balik awan. Tapi sayang, sia sia.

Kuhentikan sepedaku saat aku melihat seseorang yang tak asing lagi bagiku, “Widhyana!” teriakku keras. Orang yang kuyakini adalah Widhyana akhirnya menoleh ke arahku tapi ada berbeda dengannya. Biasanya ia akan berteriak juga saat melihatku, tapi kali ini ia berbeda, ia hanya tersenyum simpul saat menatapku. “Ah mungkin dia sedang ada masalah” pikirku enteng.
Memang benar, mungkin ia sedang ada masalah karena sedari tadi ia hanya diam tanpa mengajakku mengobrol. Sesekali aku melirik Widhyana dan berusaha mengajaknya untuk mengobrol tapi Widhyana justru tak menggubrisku sama sekali. Entah apa yang membuatnya menjadi pendiam seperti ini. “Mungkin ia masih belum mau cerita” pikirku enteng lagi.

Hingga siang hari sikap acuhnya masih terus berlanjut, Widhyana yang kukenal adalah teman yang sangat periang. Tak biasanya ia seperti ini, ditambah lagi kali ini ia tak keluar kelas. Ia justru sangat tekun mengerjakan soal matematika yang bahkan belum diajarkan. Padahal selama ini, Widhyana adalah siswa yang sangat membenci pelajaran matematika. Entah mengapa aku merasa Widhyana bukanlah Widhyana yang kukenal. Perlahan tapi pasti aku mulai mengajaknya mengobrol, bermodalkan snack kesukaannya aku duduk di sampingnya, berharap ia meresponku. Kusodorkan snack kesukaannya dan mulai mengajaknya bicara, “Wid ini buat kamu” ujarku sembari menatapnya. “Makasih ya Ris” tuturnya tanpa menatapku. Aku hanya menarik nafas pelan. Cukup lama tak ada percakapan antara kami. Hingga kuberanikan diri untuk bertanya padanya, “Oh ya kamu kok tumben sih rajin banget. Salah makan ya?” tanyaku iseng. Berharap ia menggubrisku atau paling tidak menjawab pertanyaanku. Tapi yang kudapatkan justru hanya tatapan yang sama sekali tak ingin kudapatkan. Dengan cekatan aku segera meminta maaf, “Wid maafkan aku jika perkataanku membuatmu tersinggung” ujarku tanpa menatapnya. Widhyana justru tersenyum simpul ke arahku, dan hanya mengangguk pelan. Senyumnya sudah mengisyaratkan kepadaku bahwa ia memaafkanku. Aku berharap begitu.

Seharian penuh Widhyana terasa sangat asing bagiku, aku sama sekali tak mengerti apa yang membuatnya menjadi seperti ini. Aku mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi padanya. Widhyana yang kukenal kini menjadi jauh denganku. Aku berusaha mencari celah kesalahanku hingga ia bersikap acuh padaku hari ini. Tapi sayang, aku masih belum menemukannya. Bahkan hingga pulang sekolah, saat aku bertemu dengannya di jalan, Widhyana sama sekali tak menyapaku.

Keesokan harinya sudah kubulatkan tekadku untuk membalas perlakuannya kemarin padaku. Targetku hari ini adalah membuat Widhyana merasa bersalah karena sudah bersikap acuh padaku. Kali ini aku berangkat lebih pagi dari biasanya, berharap Widhyana belum tiba di sekolah, tapi sayang, Widhyana justru berangkat lebih awal dariku. Tapi kali ini ia berbeda lagi, tidak seperti kemarin, kali ini ia sangat bersahabat. Bahkan hari ini ia justru yang banyak bicara. Aku merasa dia sudah kembali ke Widhyana yang kukenal. Maka aku melupakan niatku untuk mengacuhkannya.

“Wid aku seneng deh” kataku pelan saat kami sedang di kantin. “Senang kenapa, Ris?” tanyanya menanggapiku. “Kamu kembali” jawabku sambil melahap snack terakhirku. Widhyana hanya tersenyum lebar tanpa menjawabku. Kali ini aku sama sekali tak marah padanya walaupun ia tak menjawabku. Aku rasa sosok Widhyana sahabat yang kukenal akhirnya kembali.

Seminggu berselang, sosok Widhyana yang bersahabat kini hilang lagi. Widhyana dengan sikap yang tak kuharapkan datang lagi, aku semakin kebingungan dengan kejanggalan kejanggalan yang semakin nyata. Apa yang sebenarnya terjadi pada Widhyana sahabatku? Kadang ia menjadi Widhyana yang kuharapkan kadang juga ia menjadi Widhyana yang sangat menjengkelkan.

Siang itu aku memutuskan untuk menceritakan semuanya kepada A’yun, aku yakin dia adalah orang bisa memberikanku solusi. “Menurutmu bagaimana Yun?” tanyaku setelah aku selesai dengan cerita panjang lebarku. A’yun yang sedari tadi menjadi pendengar setiaku sekarang mulai menganggapi. “Aku sebenarnya juga bingung Ris kenapa Widi bisa cepat gitu berubahnya. Begini aja, mending kamu tanya langsung deh ke Widi nya biar jelas”

Aku pun mengikuti saran dari A’yun, saat pulang sekolah aku memutuskan untuk mengikuti Widhyana pulang ke rumah. Aku berniat untuk menanyakan yang sebenarnya. Setelah mengetuk pintu dan diizinkan masuk oleh ibunya, aku pun duduk di sofa menunggu Widhyana keluar. Namun aku dibuat sangat terkejut ketika melihat dua orang dengan paras yang sama menghampiriku. Widhyana ada dua, pikirku saat itu. Salah satu di antara mereka tersenyum padaku, senyum yang sangat akrab bagiku. Tapi mengapa ia menggunakan seragam sekolah lain. “Nurisa, maaf ya tidak memberitahumu. Aku Widhyana yang asli. Dan ini Winda”. Aku hanya terdiam bagai patung. Aku hanya menarik nafas panjang, “Jadi kalian kembar? Dan yang tadi ke sekolah itu Winda kembaranmu, Wid?” tanyaku dengan wajah bingung. “Iya. Kami memang kembar. Maaf ya karena tidak memberi tahumu” jawab Widhyana dengan tatapan merasa bersalah. “Iya Ris maafkan kami, sebenarnya ini salahku, aku meminta Widhyana untuk menjadi diriku dan aku menjadi Widhyana. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya bersekolah di MAN. Dan maaf jika selama ini aku terkesan tidak memperdulikanmu, Nurisa” ujar Winda yang juga ikut ikut minta maaf.

Tak ada yang bisa aku lakukan lagi selain memaafkan mereka. Mataku sembab, menahan air mata yang memaksa keluar, “Oh seperti itu .. jadi selama ini aku hanya salah paham, maafkan aku juga ya”. Tanpa berpikir panjang aku segera memeluk mereka berdua. Persahabatan kami kini semakin lengkap dengan hadirnya Winda.

Cerpen Karangan: Putri Beny Mawarsih
Facebook: Putri Beny Mawarsih
Kritik dan saran dibutuhkan. Contact:
putri_beny[-at-]yahoo.com

Cerpen Oh Seperti itu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selamat Jalan Sahabat Ku

Oleh:
Ini kisah gue saat-saat sekolah. Nama gue Doni sekarang gue duduk di bangku kelas 3 SMA. Satu kelas kami berjumlah 30 orang, gue mempunyai 5 orang teman bisa gue

Harapan Palsu

Oleh:
Pagi itu aku melangkahkan kakiku untuk menuju ke sekolah. Aku Aqilah seorang gadis yang duduk di bangku kelas 8 SMP. Memang masih terlalu dini untuk merasakan Cinta. Tapi mau

Sahabat Selamanya

Oleh:
Malam ini sangat dingin. Mungkin karena hujan yang begitu deras di sertai petir yang besar. Melody memeluk mamanya karena kedinginan. Padahal Melody sudah memakai sweater yang tebal. Tetapi, masih

Tentang Mimpiku

Oleh:
Mimpi, Yapz… semua orang pasti punya mimpi termasuk aku, penjahat, maling pentolan PKI pasti juga punya mimpi, aku pun juga punya mimpi yang dimana impian tersebut pasti memiliki tujuan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *