One of Moment

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 22 September 2015

Pagi ini sih cerah, tapi kenapa aku harus ketemu sama cowok itu lagi. Cowok sok cool yang tiap paginya, nongkrong di depan gerbang sekolah dengan enam temannya yang nyebelin itu. Coba bayangin deh, tiap hari aku harus ketemu sama orang yang ngak pernah bosan buat ngejek aku dengan sebutan “gendut lebar”, hufft memalukan. Ya apa boleh buat, kenyataannya aku memang gendut dan punya badan lebar. Di hati sih pengen mukul satu-satu tuh anak Mami, tapi ya namanya cewek harus jaga sikap dan gak boleh bertindak sembarangan. Oke, udah hampir tiga tahun aku bersabar dengan senyum terpaksa. Menciptakan suasana bahagia dengan dukungan Ayah yang ingin aku sukses sesuai dengan impiannya, jadi seorang menteri yang sibuk dengan urusan kepresidenannya.

Tanpa seorang sahabat atau bahkan teman dekat, aku bisa kok menjalani hidup dengan sederhana. Lebih baik nggak punya teman, daripada punya teman yang munafik, oleh karena itu aku ngak mau deket sama seorang teman pun, nggak ada manusia yang benar-benar baik di dunia ini. Tak butuh untuk jadi seseorang yang rajin, cukup jadi seseorang yang dibilang bego itu udah anugerah, namanya juga pengalaman ya pasti ada susah senengnya. Bersyukur deh sama yang maha kuasa. Udah dikasih hidup selama 18 tahun, bahagia banget.

Sesampai di dalam kelas, ya aku hanya bisa diam, ngelihatin sang juara kelas rebutan soal yang diberikan setiap guru yang masuk ke dalam kelas. Oh, sungguh kenyataan dunia yang tak adil. Sedikit pun aku nggak dilirik sama satu pun guru, udah pendek, gendut, bego lagi, apa yang mau dibanggain sama gurunya. Ah, itu semua hanya cobaan kecil kok buatku, karena masih banyak cobaan yang ada padaku. Tiap hari harus ngehadapin seluruh kejadian ini, karena semua tentu harus ku jalani. Ngeluh? so pasti, udah cape banget ngehadapin semuanya pake hati tak berwarna ini.

Teng! Teng! bunyi lonceng sekolah, tanda jam istirahat dimulai. Aku ke luar kelas sendiri, jalan menuju kantin sekolah yang tak jauh dari kelasku. Seperti biasa, semangkuk bakso panas dengan sedikit kecap dan dua sendok kecil cabe merah membuat selera makanku bertambah, apalagi ditambah sama segelas jus jeruk tanpa es, wah itu kesukaan aku banget. Makan sendiri di pojok kantin itu udah biasa banget kok. Terkadang, rasa rindu akan persahabatan itu datang, namun itu tak membuatku jenuh.

Tiba-tiba Susan dateng sambil bawa sepiring nasi goreng.
“ngapain lo ke sini?” sambutku dengan nada jutek gitu.
“yaelah, jangan kasar gitu kenapa, gue juga pengen makan di sini kali, emangnya ini kantin punya engkong lo apa?” jawabnya dengan sedikit menggertak.
“ya enggaklah, gue juga nyadar kali. Tapi, gue lagi pengen sendiri, gak usah deket gue!” sahutku dengan nada tinggi.
“oke, fine, gue pindah. Lain kali, jaga tuh mulut ya!” tanggapannya dan lalu pergi dengan hati yang panas oleh sikapku tentunya.
Gak penting tuh anak, paling gak jauh beda sama yang lain, sama-sama munafik tentunya. Aku pun langsung makan tanpa memperhatikan yang lainnya. Apalagi tatapan sekelompok anak sok pinter itu, ya pastinya punya muka dua yang suka jelekin aku di belakangku tentunya. Huft kalian semua sama-sama gak penting.

Lonceng pun berbunyi untuk ketiga kalinya, semua bergegas kembali ke kelas masing-masing. Begitu pun aku, aku langsung membayar semua makanan yang aku makan ke Ibu kantin dan pergi ke kelas. “Bruk!!!” aku jatuh dan kakiku tersandung karena Syifa menjulurkan kakinya dan aku pun langsung terjatuh.
“woi! apa-apaan lo? mau lawan gue? sini dong!” hardikku padanya.
“wah, berani nih anak!” ucap dia pada temannya yang lain.
“Dasar penjilat! kemaren pas latihan gue bantuin lo, gue kasih jawaban yang bener, lo pake baikin gue segala lagi dan sekarang, gue baru aja dapet nilai nol lo baru ngehina gue di hadapan semua orang? apa-apaan itu? ha?” aku langsung saja menghardik Syifa di depan seluruh temannya.
Semua menatapnya dengan tatapan dingin padanya, dia pun hanya bisa diam dan aku pergi dengan lari kecil menuju kelas, puas rasanya ngeluarin uneg-uneg dalam hati ini dan sekarang udah plong rasanya.

Sesampai di kelas aku pun duduk di kursiku seperti biasa, hanya duduk dan berdiam diri. Berbeda dengan yang lain, yang sibuk dengan sahabatnya sendiri. Aku masih terus berpikir, mengapa sampai saat ini tak ada satu pun yang peduli tentang keberadaanku. Ini semua membuatku semakin terpuruk. Tak lama, bu Sarati datang dengan membawa buku tebal yang penuh dengan segala macam sejarah yang ada di dunia ini. Selama Ibu Sarati menjelaskan, aku hanya bisa diam dan tertegun menyaksikan semua itu, dan aku hanya bagaikan orang tanpa akal yang duduk di sebuah kelas sederhana. Tak lama, waktu pulang pun telah datang. Seluruh murid mulai mengemaskan bukunya dan bergegas pulang ke rumahnya masing-masing.

Setibanya di rumah, aku langsung mengambil handphone kesayanganku, hanya terlihat 2 buah pesan yang tak biasa hadir di handphone-ku
“Hai! kamu pasti Jane kan?” isi sebuah pesan.
“hei! balas dong, jangan jutek terus sama semua orang!” isi sebuah pesan lainnya dari pengirim yang sama. Dan aku langsung membalas.
“iye, gue Jane, gue gak jutek kok. Gue baru aja pulang sekolah. Emangnya lo mau siapa?”

Dua menit kemudian ia membalas. “ini aku Jonatan, masih ingat nggak sama aku?”
Aku hanya bisa tercengang dengan isi pesan tersebut, Siapa Jonatan? aku pernah dengar nama itu tapi dimana ya?
“Ya ampun, pasti kamu lupa lagi, cape deh. Ternyata, dari SD kamu nggak berubah ya, sifat pelupa itu masih ada.” Balas orang yang mengaku Jonatan itu. Ya, pasti dia sudah lama mengenalku tentunya.
“ya elah, lo gak bisa sabar napa? gue juga pengen berpikir dulu kali!” balasku padanya.
“oke-oke aku bisa sabar, buat Jane yang cantik apa sih yang enggak” balasnya lagi padaku yang membuatku semakin bete sama orang ini. Ah, pasti orang iseng yang pengen buat aku penasaran. Ya namanya juga anak terkenal, hehe.

Baiklah, aku langsung pergi ke luar rumah untuk mencari makanan ringan karena, persediaan di rumahku sudah habis. Tanpa pamit, aku pun pergi dan berlari ke swalayan di seberang rumah. Tiba-tiba ada seorang cowok yang sedang berjalan di depanku lalu ngenabrak aku dan membawa 2 minuman kaleng yang sedang diminumnya, jelas saja tuh minuman tumpah ke bajuku.

“hei! lo manusia atau kerbau sih?” hardikku padanya.
“aku manusia lah, kok kasar gitu sih ngomongnya?” tanyanya dengan kening yang mengkerut.
“ya sorry dong, kalau ucapan gue nyinggung perasaan lo.” Jawabku dengan mata melotot.
“ya, aku juga minta maaf karena udah buat baju kamu kotor” permintaaan maafnya dengan wajah tertunduk.
“yaelah, gak apa-apa keles, lain kali tuh minuman dibagi ya! haha, becanda bro!” jawabku mencairkan suasana, dan kami pun larut dalam tawa tak menentu.
“ya udah, aku mau balik dulu ke kosanku.” Pamitnya padaku.
“ya, emangnya kos lo di mana?” tanyaku.
“itu loh, yang catnya warna abu-abu tapi yang di sebelah kiri, kapan-kapan datang dong ke kos-ku.” Ajaknya.
“ya, kapan-kapan deh” jawabku dengan senyum dan dia juga membalas senyumku dan langsung berlari ke arah kos yang ia maksud.

Cowok itu keren banget menurutku, dia tinggi tapi nggak tinggi amat ya sebaya akulah, kulitnya terang, dia juga sopan dan hanya saja bekas jerawat yang mulai memudar di pipinya dan yang paling aku suka lesung pipinya itu loh, bener-bener ngebuat aku makin terpana. Aku lupa nanya namanya, siapa sih tuh anak? sepertinya aku baru saja melihatnya di daerah sini deh, tapi aku pernah ngelihat dia di sekolah dan aku nggak tahu kapan aku melihatnya.

Sesampai di rumah, bunyi dering handphone-ku memecahkan suasana akan kekaguman terhadap cowok tadi.
“Jane!, sini bantuin bunda!” teriak bunda dari dapur.
“apaan sih bun? orang baru sampe rumah malam disuruh gitu” jawabku dengan malas.
“yaelah nih anak, ketimbang bantuin bunda doang susahnya minta ampun” omel bunda padaku.
“ya, apa yang bisa Jane bantu bun?” jawabku pasrah.
“gitu dong. bantuin bunda angkatin jemuran yang di belakang rumah ya!” suruh bunda padaku, aku hanya berjalan malas sambil membawa ember hitam kosong sebagai tempat pakaiannya.

Satu persatu jemuran tersebut ku angkat dan ku masukkan ke ember tersebut, namun aku melihat kosan cowok tadi, yang terlihat dia sedang memperbaiki sepedanya. Setelah selesai mengangkat jemuran tersebut, aku pamit pada bunda dengan alasan ngerjain pekerjaan kelompok padahal mah pengen nyamperin cowok itu loh. Dengan penampilan sebaik mungkin, ya walaupun nih badan malu-maluin namun harus tetep optimis dong. Hmm, gimana kalau pake rok warna putih ini biar timbunan lemaknya gak kelihatan haha untuk bajunya pake baju kaos merah jambu yang bercampur warna putih terang, kata bunda sih kalau pake baju warna terang gitu bisa buat lebar badannya gak kelihtan, ya entahlah, mending coba dulu deh.

Jarak rumahku dan kosnya hanya berbeda beberapa meter, apalagi lewat belakang bisa langsung nyampe di samping rumahnya tuh. Tapi, mending lewat depan aja deh biar bunda gak curiga. Sepanjang jalan aku terus berpikir tentang apa yang harus ku perbuat. Sesampai di pintu kosnya, pengen balik ke belakang dan kembali ke rumah ehh, malah dia langsung ke luar.
“astoga!” teriakku karena terkejut.
“eh, kamu?” sambutnya sambil tertawa sumbringah karena melihat ekspresiku tadi.
“hehe, iya, sorry ya gue datangnya tiba-tiba gini, jadi tamu ngak diundang nih.” Kataku padanya.
“ah, gak apa-apa kok, aku emang biasa kedatangan teman gini kok, sebelumnya makasih ya udah mau datang ke kosan aku.” Ucapnya dengan senyum lesung pipi nya itu. Oh tuhan, begitu indah ciptaamu ini.

“iya, lagi ngak ada kerjaan, jadi iseng pengen jalan ke luar rumah. Oh iya, nama lo siapa? kita kan belum kenalan.” salam perkenalan dariku.
“ah, kayak anak SD aja pake kenalan segala. Gak usah kali Jane! aku juga udah tahu kok nama kamu” sebutnya dengan gaya yang sedikit santai.
“hah? dari mana lo tahu nama gue?” jawabku terkejut.
“yaelah, tuh kan kamu lupa lagi. Nggak ingat ya sama mukaku? padahal kamu udah lihat mukaku selama bertahun-tahun loh!” ucapnya padaku.
“ah? masa? gue beneran gak inget dah. Atau lo ya yang ngesms gue tadi?” tebakku sambil menyenggol bahunya yang kokoh itu.
“haha, ketahuan deh, aku Jonatan. Sahabat masa kecil kamu dulu loh!” aku semakin kebingungan dengan apa yang baru saja ia bicarakan padaku.

Nih anak becanda atau salah orang sih? Aku kembali mengingat masa kecilku, namun satu pun kejadian tak dapat ku ingat.
“oh, kamu masih gak ingat ya? dasar nenek tua pikun!” ucapnya sambil mencibir. Mendengar kalimat itu, kepalaku terasa sangat sakit tak tertahankan, membuatku jatuh dan yang membuat jantung itu berdebar kencang pas dia nangkap aku hingga aku tak terjatuh ke lantai.

Dua bulan pun berlalu, hingga kini aku dan Jonatan telah menjadi sahabat yang amat dekat namanya ‘DUO J’ haha, kata natan sih, gara-gara nama awalan kami sama Jonatan Alexandre Van dan Jane Anatasya, wih keren. Tapi, semakin lama aku mengenal Jonatan, entah mengapa ada perasaan lain yang tumbuh, entahlah, munkin ini rasa yang lebih dari sahabat.

Namun, cintaku hanya bertepuk sebelah tangan, kini Jonatan lebih memilih Vania Dwiana sebagai orang yang ia cinta. Tiap hari, aku harus menyimpan luka pedih di hati, ia selalu menceritakan sisi baik Vania, ia selalu mengatakan hal indah tentang Vania tepat di hadapanku tanpa menghiraukan rasaku. Ya, walaupun dia tak tahu apa yang ku rasakan, tapi aku ingin ia cepat atau lambat akan merasakan semua rasa yang ku miliki. Hingga ia memutuskan untuk mencintai Vania seutuhnya dari padaku, ya aku bahagia kok kalau kamu juga bahagia. Cinta itu nggak bisa dipaksa, walau sesungguhnya hati ini telah teriris luka yang mendalam. Aku mengenalmu tak hanya dua bulan itu, tapi sejak kecil aku sangat tahu sifatmu. Berusaha jadi yang terbaik.

Jonatan, seutas rasa yang ku punya. Kau telah mengajarkanku arti Persahabatan, kau juga telah mengajarkanku arti Cinta. Tapi, bila rasa ini bukan rasamu, aku hanya bisa terdiam, munkin kau lebih bahagia bersamanya. Menjadi seorang Sahabat juga tak buruk bagiku, aku harus bisa melewati semua ini. Tegar untukmu Jane, kuat untukmu Jane. Meski cinta pertamamu bukan Happy Ending aku yakin One Of Moment, you can see your True Love

Cerpen Karangan: Adella Aprilia
Facebook: Adella Aprilia
Namaku Adella Aprilia. Aku lahir tanggal 26 april 2001. Semoga kalian suka sama cerpenku, makasih. 🙂

Cerpen One of Moment merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kau Yang Sempurna

Oleh:
Pagi saat udara Bandung masih terasa dingin, aku sudah bersiap untuk pergi ke kampus. Hari ini adalah hari penentuan ku, Sidang kelulusan ku. Perasaan ku saat ini sangat bergejolak,

Gelarku Kembali

Oleh:
Pagi ini ke-3 anak sok gaul ini datang ke sekolah (Febri, Rina, Ade) “duh, udah jam berapa ni? Dari tadi si Tiwi gak muncul, dasar anak pemalas!” ujar Rina.

Setahun Lalu (Part 1)

Oleh:
Menunggu. Ya, Sisi memang selalu berada di taman itu setiap harinya. Sendirian, dan selalu saja sendirian. Entah apa yang selalu ditunggu Sisi disini. Seakan-akan dia sedang menanti seseorang untuk

Diary Sahabatku

Oleh:
Namaku Maya. Umurku 14 tahun saat ini. Aku terlahir dari keluarga sederhana. Hidup dalam bayang-bayang kematian akibat penyakit ganas yang saat ini tengah aku derita. Aku terkena penyakit Kanker

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *