OPEK Pertiwi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 4 July 2017

Angin semilir siang ini membelai wajahku dengan lembut, rambutku bergoyang-goyang bagaikan penari hawai. Kenikmatan ini membuat mataku terpejam sejenak, menikmati hembusan angin sejuk yang menenangkan jiwa. Ya, aku ada di taman sekolah sekarang.

“Ajeng! Kau ini kucari dari tadi, ternyata ada di sini,” seorang perempuan berambut panjang dengan pakaian yang sama denganku menghampiriku dengan berlari kecil.
“Ada apa Ila?” Aku berjalan mendekati Ila yang sedang mengatur nafas.
“Kurasa, Aga ingin memberi tahu tentang penyelundupan baru,” gadis yang masih menganakan seragam SMA-nya dengan lengkap itu menatapku serius.
“Baiklah, di mana si Aga itu?” Tanpa ba-bi-bu Ila menarik tanganku secara tiba-tiba. Hei, aku belum melakukan persiapan apa pun untuk berlari di siang hari ini.

Ah ya, aku sampai lupa belum mengenalkan diriku. Namaku Ajeng Rahayu. Siswi SMA Pertiwi. Aku anak jurusan IPS. Aku memiliki empat teman yang akrab denganku. Pertama Ila Keyila, kami beda jurusan dan kelas, tapi sekali teman tetaplah teman. Kedua Aga Dirgantara, aku akui dia genius, dia sekelas denganku. Yang terakhir, Bintang, dia yang paling muda di antara kami berempat, selain itu Bintang adalah anak yang usil dan jail. Namun, bila tidak ada Bintang suasana tidak akan bisa heboh. Bintang ini lumayan encer otaknya, ia jurusan IPA.

“Aga, kita tidak bisa berlama-lama. Bagaimana ini?” Saat aku dan Ila sudah hampir mendekati Aga. Temanku Bintang dengan mimik cemas mengeluh pada Aga.
“Ada apa? Aga rada-rada?” Suaraku membuat dua lelaki itu menoleh padaku.
“Kau ini selalu saja memanggilku begitu,” Aga menatapku sinis. Memang, Aga rada-rada adalah julukan yang kuberikan padanya. Bagus bukan?
“Hei, kau belum menjawab pertanyaan Ajeng,” sahut Ila yang berdiri di sampingku.
“Iya.. iya.. Begini, aku dengar-dengar ada penyelundupan ke daerah sekitar sekolah kita. Dan, orang yang akan mengambilnya adalah Pak Harry, tukang kebun sekolah,” jelas Aga menatap Ila, Bintang, dan aku secara bergantian.
“Apa sih maunya tukang kebun sama yang begituan?” Bintang mulai sebal. Oh, lucu sekali anak ini.
“Hei, aku kan tadi sudah bilang. Tukang kebun itu frustasi karena ditinggal anak dan istrinya,” jelas Ila menatap Bintang judes.
“Kapan transaksinya terjadi?” Aku menatap Aga datar.
“Nanti malam di dekat taman sekolah, pukul 19.00. Untuk kali ini rencananya adalah kita tahan mereka saat transaksi terjadi. Datang pukul 18.30, berkumpul di depan ruang perpustakaan,” jelas Aga datar. Ya, aku dan Aga memang tidak terlalu dekat, jadi bila bertemu atau berbicara jangan heran bila kami saling bersikap sinis, cuek, atau tanpa ekspresi.

Deringan bell berbunyi nyaring. Itu berarti tanda pulang. Memang jam terakhir di semua kelas kosong, karena guru-guru sedang rapat tentang pelaksanaan ujian praktik kelas XII. Aku melihat siswa-siswi SMA Pertiwi berhamburan ke kelas masing-masing untuk mengambil tas lalu pulang.

Sekarang pukul 13.30, aku berjalan sendiri untuk pulang. Jalan ini sudah sering aku lewati untuk pulang, walaupun sepi jalan ini teduh karena banyak pepohonan yang rindang. Semilir angin kembali menyapaku, namun kurasa tidak menyapaku saja. Aku merasa ada yang mengikutiku sekarang. Berulang kali aku menoleh ke belakang untuk memastikan siapa yang menguntitku, namun nihil, tidak ada siapapun. Hanya ada terotoar, pohon, dan bangku-bangku panjang untuk duduk para pejalan kaki. Aku mempercepat langkahku, sekarang entah mengapa aku merasa ilmu beladiriku tidak berguna.
“Ajeng Rahayu,” suara itu dalam sekejap menyapu gendang telingaku. Dan dengan sekejap semuanya menjadi gelap, tidak ada secercah cahaya pun.

Seberkas cahaya kecil menembus ventilasi berukuran sedang di samping kananku. Aku merasa pusing yang luar biasa, pandanganku buram. Temaram menyelimutiku, aku mencoba memfokuskan pandanganku. Di mana ini? Terlalu gelap untuk mengetahui di mana aku sekarang. Oh, kenapa ini? Tanganku tidak bisa kukendalikan. Kenapa benda bodoh ini melingkar di pergelangan tanganku? Sekarang, apa lagi yang akan terjadi?
“Organisasi Pemberantas Narkoba Pertiwi. Ya, aku baru-baru ini mendengar kabar tentang kalin, OPEK Pertiwi,” suara besar itu muncul dari celah-celah kegelapan. Siapa pun itu, kau mirip sekali dengan zombi.
“Kurasa kau salah tangkap orang. Aku bukan orang yang kau cari? Dan, hei kau ini bicara apa? OPEK? Apa itu?” Aku berusaha setenang mungkin menghadapai orang ini. Sebenarnya aku sudah tersulut oleh emosi saat ia menyebut OPEK Pertiwi. Dari mana ia tahu?
“Ajeng Rahayu, itulah yang aku tahu tentangmu. Dan orang bodoh saja yang tidak mengenalmu, punya dua nama tidak buruk bukan? Ajeng Rahma, nama samaran dari OPEK Pertiwi,” balas sosok kegelapan itu. Jawaban itu sukses membuat mataku hampir keluar dari tempat persinggahannya sekarang.
“Ada berjuta-juta Ajeng di dunia, apa mungkin mata Anda katarak? Sehingga tidak bisa mengenali sesseorang yang Anda cari?” Nada bicaraku meninggi satu oktaf.
“Jaga bicaramu! Atau kau akan mati,” suara itu beriringan dengan kilatan pisau yang ia tunjukan di kegelapan. Oh, jam berapa sekarang?
Baik, aku bingung, harus bagaimana sekarang? Kurasa zombi ini ada hubungannya dengn transaksi malam ini. Dan parahnya lagi dia sudah mengetahui gerakan OPEK Pertiwi. Aku harus segera memberi tahu Aga, Ila, dan Bintang. Tapi, bagaimana caranya? Otak ayo berpikir!

Kulirik bayangan jendela di samping kananku, aku yakin sekarang sudah malam. Hanya ada sorot lampu yang menembus kaca bening itu. Sekarang pasti teman-teman sudah berkumpul di depan perpustakaan. Buruk, sudah lima jam aku duduk dalam posisi seperti ini, pegal semua rasanya. Kurasa zombi itu sedang tak mengawasiku sekarang. Kuputar bola mataku ke penjuru ruangan ini. Aku baru sadar sekarang, aku ada di gudang sekolah yang berada di dekat taman.

“Ini! Bila kau mau lagi temui aku di tempat biasa,” suara orang yang sama dengan yang mewanwancaraiku dengan cara yang buruk tadi.
“Baik, terima kasih ,” suara pelan yang sangat kukenali. Suara Pak Harry.
“Maaf tuan-tuan. Kurasa kami mengganggu anda,” suara tegas itu, itu suara Aga.
“Oh, Aga, Aga Dirgantara si leader OPEK Pertiwi,” jawab si zombi. Walaupun aku di dalam ruangan, aku masih bisa mendengar samar-samar suara mereka.
“Segera serahkan diri! Atau ka..”
“Ah, ya. Aku hampir lupa. Aku punya temanmu. Ajeng. Bagaimana menurut kalian?” Dasar, bandar kurang ajar. Dia mempermainkan Aga?
“Kau benar-benar memalukan botak, beraninya sama perempuan,” teriak Bintang. Dasar anak kecil.

Kudengar jelas pintu gudang terbuka, cahaya mulai menyusup masuk. Aku memusatkan indera pengelihatanku pada sosok yang masih belum kulihat wajahnya. Dari posturnya sih, perempuan.
“Ajeng, ini aku Ila. Kau di mana?” Suara Ila pelan.
“Aku di dekat jendela. Hanya ada satu jendela di sini.”
Ila dengan cepat berlari ke arahku, ya derap langkahnya sangat cepat. Dengan cekatan ia melepas ikatan tali yang membelit pergelangan tanganku. Ah, lega sekali setelah ikatan itu terbuka. Walaupun, ikatan itu meninggalkan bekas di kulitku, menurutku itu tidak masalah.
“Bagaimana kau bisa tahu aku di sini?” Tanyaku sambil mengelus-elus pergelangan tanganku bergantian.
“Seperti rencana Aga, yang muncul di depan bandar hanya Aga dan Bintang. Sementara aku bermisi membebaskanmu. Sebelumnya kami heran karena kamu tidak datang, itu membuat Aga curiga. Ia menafsirkan bahwa bandar sudah mengetahui gerakan kita, dia memang genius,” jelas Ila berdiri lalu aku menyusulnya menegakkan kaki.
“Lalu?” Tanyaku singkat.
“Aga bilang ‘Bila benar Ajeng diculik. Pasti posisinya tidak jauh dari jangkauan bandar.’ Dan hal itu terbukti sekarang, kau disekap di gudang sekolah,” aku dan Ila berjalan keluar lalu bersembunyi di balik pohon.

“Tuan-tuan aku tidak takut itu,” Aga berseru tenang saat melihat aku dan Ila di balik pohon.
Aku meminta Ila menghubungi Polisi selagi sempat. Aku memandang bandar yang tadi mengancamku. Ah, benar kata Bintang. Botak. Dasar, lihat saja nanti, akan kupatahkan lehernya dengan teknik Tae Kwon Do-ku. Sebenarnya aku dan Ila adalah anggota ekstra Tae Kwon Do, sementara Aga dan Bintang mengiukti organisasi Pencak Silat Betawi di luar sekolah.

“Nanti Aga akan memberi kode untuk kita menyerang,” Ila menjelaskan sambil memunculkan jari telunjuknya. Itu kodenya.
“Pak, aku yakin bila pihak sekolah tahu, Bapak akan dipecat,” Bintang menatap Pak Harry datar.
“Saya mohon jangan beritahu pihak sekolah,” Pak Harry membuang bubuk berplastik yang aku yakin itu adalah benda yang membuat orang mau mati konyol.
Aga dengan tenang memunculkan kode itu tiba-tiba. Dasar, tanganku ini masih pegal karena diikat. Seenaknya saja si Aga rada-rada ini. Tapi, apa boleh buat? Aku dan Ila segera maju. Ila mengunci pergerakan si botak itu, ia meronta-ronta ganas. Untung Ila adalah wanita yang berotot. Kulayangkan tendangan dengan seluruh tenaga pada perut si botak. Aku yakin ia akan mengalami diare satu bulan. Zombi botak itu tersungkur ke tanah setelah Ila melepaskan kuncinya. Zombi itu menggeliat bagaikan cacing kepanasan. Itu masih tendangan ringan, botak! Kalau saja tanganku tidak sakit, benar-benar akan kupatahkan lehermu.

“Jangan bergerak! Pak Harry Anda kami tahan beserta dengan bandar,” suara lantang itu menggema dikegelapan malam.
Pak Polisi lengkap dengan senjata apinya menodongkan pistol. Dengan sekali kode beberapa personel Polisi maju untuk menangkap Pak Harry dan bandar narkoba bodoh itu. Tentu ada banyak Polisi sekarang, mengelilingi kami.

Ya, perjuangan memang berat. Tapi, inilah yang kami dapat. Semenjak kejadian dua hari yang lalu, kami mendapat berbagai ungkapan kagum. Kami juga mendapat penghargaan dari kepolisian, karena di usia kami yang masih muda kami berani menumpas kejahatan. Dan berita mengenai gerakan kami sudah tersebar ke media masa. Sekarang organisasi kami bukanlah suatu rahasia.

Aku berpikir mungkin kami akan menyelesaikan misi lain suatu hari nanti. Tentu yang lebih menantang. Namun, pastinya itu akan lebih berat. Dan aku yakin para bandar sekarang akan lebih waspada terhadap gerakan kami.
Kawan, jauhi narkoba! Narkoba bukanlah obat mujarap untuk menyembuhkan dan menyelesaikan masalah. Narkoba hanyalah bisa ular kobra yang mematikan. Say No To Drugs. Jadilah mutiara bangsa kita, Indonesia.

Cerpen Karangan: Endah Nisrinasari
Facebook: Endah Merahputih
Hallo!! Sekarang aku sudah SMA lo, mau lulus,hahaha. Cerpen OPEK Pertiwi ini semoga bisa menambah motivasi menjauhi narkoba.
Untuk menghubungi saya, bisa lewat email endahnisrinasari[-at-]gmail.com atau line dengan id endahn7

Cerpen OPEK Pertiwi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Sejati

Oleh:
Pada zaman dahulu kala hiduplah 3 ekor kucing yang hidup bersama sejak kecil. Walaupun mereka tidak bersaudara, tetapi mereka sudah seperti saudara karena setiap hari mereka selalu hidup bersama-sama

Sekali Sahabat, Tetap Sahabat

Oleh:
Hari ini, seperti biasa aku pergi ke sekolah bersama Dewi, sahabat baruku. Ya, sejak beberapa tahun belakangan ini aku dan dia mulai dekat. Walaupun dulu aku dan dia adalah

Missing Birthday

Oleh:
Kutatap foto masa kecilku sewaktu berumur 5 tahun. Masih terlihat imut-imut apalagi aku berfoto dengan sahabatku. Ya, sahabat yang aku kenal semenjak aku TK. Dan persahabatan kami berlanjut sampai

Cinta Dalam Diam

Oleh:
Masa SMA merupakan masa masa terindah bagiku. Masa masa dimana aku tertarik dengan lawan jenis. Bukan berarti aku belum tertarik dengan lawan jenis ketika SMP, aku sudah tertarik akan

Mimpi Buruk

Oleh:
Pada hari Kamis, aku mengikuti sebuah kegiatan di sekolah. Karena sesuatu hal, ketua dari panitia yang mengadakan kegiatan tidak dapat hadir dan menjadikan peserta kegiatan harus pulang ke rumah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “OPEK Pertiwi”

  1. Dinbel says:

    Kerenssssssss, di tunggu karya selanjutnya yaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *