Our Starhill, Love River, And A Couple Tree Of Dreams (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 21 November 2017

Dear diary, my best friend forever, Nakori (Ori)
Suasana hatiku tak secerah suasana duniaku. Hitam pekat. Tak berwarna. Musim panas masih enggan berlalu, namun salju enggan menyingkir dari hatiku. Salju di hatiku seolah tak ingin mencair meskipun cuaca di luar sangatlah panas. Hingga rasa dingin selalu menjalar tiada henti.

Aku bingung. Percuma saja rasanya aku pergi jauh dari tempat kelahiranku. Aku pergi untuk satu tujuan. Melupakan. Tapi, kenapa di sini aku malah semakin tersiksa. Tersiksa oleh perasaan yang aku ciptakan sendiri. Tersiksa oleh perasaan sesal.

Di tempat ini, aku seakan tak pernah bisa melakukan apa yang namanya melupakan. Sangatlah sulit untuk melupakan. Melupakan kenangan bersama sahabat kecilku. Ori. Semakin besar usahaku untuk melupakan, semakin besar pula jiwaku memberontak. Semakin kuat egoku untuk melupakan, semakin kuat pula kenangan masa lalu tertanam dalam ingatan.

Aku datang ke negeri ini, berharap akan memperoleh kehidupan baru yang lebih menyenangkan. Tetapi, sia-sia saja aku berharap. Toh harapan itu tak kunjung datang.

Di sini, aku bak putri yang tetap tinggal di istananya sendiri. Tak ada tempat yang terasa asing saat dijumpainya. Aku menjumpai tempat yang sama. Bahkan di sini pun, aku menemukan tempat spesialku bersama sahabat semasa kecilku. Tempat itu sama. Starhill beserta A Couple Tree Of Dreams tepat di bagian tengahnya, juga love river di depannya. Aku harap nasibku di sini tak sama. Semoga nasibku benar-benar tak sama pahitnya dengan nasibku yang lalu.

Aku sungguh tersiksa. Kucoba menahan diri agar tak mengunjungi tempat itu. Bagiku, mengunjunginya sama saja membunuh diriku sendiri. Sebab, akan timbul luka lama.

Meski kutahan egoku untuk tidak datang ke tempat itu, tetapi intuisiku selalu mengatakan bahwa aku harus ke sana. Jadilah berhari-hari, kulewatkan waktuku di tempat itu. Starhill. Tak pernah sedetik pun terlewatkan. Bahkan satu kedipan mata pun seakan sangat berarti untukku selalu menatap bukit ini.

Bukit ini sama seperti tiga belas tahun yang lalu, saat kita mengukir impian kita di A Couple Tree Of Dreams di Starhill kita. Hanya satu yang berbeda. Satu. Kamu. Jika tiga belas tahun lalu, aku menatap A Couple Tree Of Dreams bersamamu. Kini, aku hanya mampu berdiri menatapnya bersama bayang-bayang wajahmu. Aku benar-benar sendiri.

A Couple Tree Of Dreams itu, kupandangi lekat-lekat. Hingga aku menemukan sesosok makhluk yang terasa tak asing lagi bagiku. Kulit putihnya, wajah ovalnya, mata sipitnya, senyumannya, mengingatkanku pada seseorang. Tapi siapa? Dalam keadaan seperti ini, otakku benar-benar tumpul. Nggak bisa berfikir.

Ya sudahlah. Aku berniat mengalihkan perhatian. Tapi, tetap saja tak bisa. Mataku selalu menginginkan memandang pria itu. Kucoba mengingatnya berulang-ulang.
“Yup! Itu kan Ori. Tapi, pasti ini cuma halusinasiku saja. Dia kan telah pergi. Untuk… Selama-lamanya. Tapi, kenapa wajahnya sama?”

Beberapa detik kemudian, orang itu sudah ada di hadapanku. Tersenyum. Memperlihatkan barisan giginya yang rapi juga lesung pipi di kanan kiri. Benar-benar mirip Ori.
“Hai. Kau kenapa?”
“Eh. Nggak papa kok”
Ngomong-ngomong suaranya… Kenapa semuanya sama. Semuanya mengingatkanku pada Ori.
“Huhuhu…”
“Kenapa kamu menangis? Sini duduklah sebentar”
Kuikuti saja kata-katanya. Aku segera duduk di atas dahan pohon kering yang jatuh, di sampingnya.

Hening. Hanya terdengar suara isakanku saja. Aku dan dia terdiam sepanjang siang. Asyik bermonolog dalam hati sendiri. Hingga beberapa waktu kukumpulkan nyali untuk berkeluh kesah padanya. Entah kekuatan apa yang merasukiku, hingga mempercayainya untuk saling melepaskan beban. Aku memulai cerita.

“Empat tahun lalu… aku kehilangan sahabat kecilku, untuk selama-lamanya. Aku kehilangannya tepat satu minggu selepas meninggalnya ayah dan ibuku. Kamu tahu, betapa beratnya jalan hidup yang kutempuh. Aku kehilangan tiga pilar tiang hidupku. Kamu mungkin menganggapku bodoh, cengeng atau apa? Tapi, aku memang benar-benar sedih kehilangan mereka.”
“Oke. Aku ngerti. Aku bisa merasakannya. Bahkan, baru kemarin aku benar-benar merasakannya. Ayah dan ibuku pergi, setelah itu sahabat perempuanku juga pergi. Mereka pergi di hari yang sama. Kemarin.”
“Tragis. Nasib kita benar-benar sama. Oh iya, namaku Rascha. Nama kamu siapa?
“Kamu bisa memanggilku Nakoru, atau Oru saja.” Sekali lagi dia tersenyum.
Namanya pun, hampir sama. Apakah ini kebetulan saja atau merupakan suatu pertanda? Entahlah.

Kami bercerita banyak. Mulai dari kenangan-kenangan masa kecil kami, sampai kepergian sahabat masing-masing.
Tak terasa. Matahari telah kembali ke tempat peristirahatan sementaranya. Digantikan dengan rombongan cahaya bintang dan satu bola keemasan bernama bulan. Kami sama-sama memutuskan untuk kembali.

Sinar mentari menyusup nakal melewati celah-celah gorden jendela. Menyilaukan mata. Dengan malas kulirik beker di meja sebelah ranjang. Pukul 09.00.
“Apa!! Apa aku tak salah lihat?” Kubuka kedua mata lebar-lebar. Aduh, benar. “Pukul 09.00. Kenapa tak ada yang membangunkanku?”

Sayup-sayup terdengar suara kepala koki keluarga Nakori yang bergetar “Maafkan saya, Nona. Tadi saya telah membangunkan Nona. Tetapi berkali-kali saya membangunkan, Nona tak kunjung bangun. Saya sentuh lengan Nona. Panas sekali. Sepertinya Nona demam. Untuk itu saya membiarkan Nona tertidur. Mungkin Nona akan sehat kembali setelah bangun nanti. Maafkan saya, saya telah menyetuh lengan Nona. Saya benar-benar lancang.”
“Sudah tidak apa-apa. Tolong, siapkan sarapan untuk saya.”
“Baik, Nona.”

Tak lama kemudian, kepala koki datang ke kamarku membawa nampan berisi sandwich dan susu segar. Aku segera melahapnya hingga habis tak tersisa.
“Makanannya begitu lezat.”
“Terima kasih, Nona.”
Kepala koki segera berlalu. Aku berniat untuk bangkit. Mandi dan mengganti piyamaku dengan gaun terbaik. Lalu, pergi ke manapun ku suka. Tapi, benar apa kata kepala koki. Kepalaku teramat pening. Aku memang demam.

Akhirnya, kuputuskan untuk mandi, mengganti piyamaku dengan piyama lain yang ada di almari, dan aku mengambil remote. Lalu, menyalakan tv. Aku menonton kartun sambil tiduran. Dan ujung-ujungnya aku tertidur lagi. Aku baru bangun pukul 02.00 siang.
Kucoba membuka mataku, walau terasa amat berat. Setelah terbangun, pintu kamarku terbuka dan Nakoru sudah ada di sampingku. Sontak saja aku terkejut.

“Nakoru… kenapa kau ada di sini? Dari mana kau tahu kalau ini rumahku?”
“Dari mana aku tahu? Bukankah waktu itu kau telah memberitahuku di mana rumahmu.”
“Benarkah? Sepertinya aku belum pernah memberitahumu.”
“Sudah, sudah. Mungkin kamu lupa. Omong-omong, kamu demam ya? Aku mengkhawatirkanmu. Kemarin, kamu memintaku untuk menemanimu hari ini di Starhill? Tapi, berjam-jam aku menunggu, kamu tak datang. Makanya, aku ke sini. Takut kamu kenapa-napa. Betul kan, kamu demam.”
“Iya. Sebentar lagi juga sembuh. Kamu jangan terlalu mengkhawatirkanku, Nakoru. Aku baik-baik saja.”
“Ya sudah, aku pergi dulu. Baik-baik ya”
“Iya. Terima kasih Nakoru.” Nakoru pun pergi. Aku masih bingung. Apa kemarin aku telah memberitahunya di mana rumahku? Tapi… sepertinya aku belum pernah mengatakannya, “Dasar cowok aneh.”

Akhirnya aku dan Nakoru menjadi sepasang sahabat. Kami selalu mengunjungi Starhill di waktu siang dan berakhir di waktu petang. Kami pun melakukan ritual yang sama, menerbangkan balon dan mengukir cita-cita kami di kulit pohon.
Kamu tahu Ori apa yang aku tulis? Masih sama. Aku menuliskan kalimat yang sama, ‘semoga kamu selalu bahagia di alam sana, Ori’.

Hingga pada suatu hari, aku berniat untuk mengunjungi rumah Nakoru. Awalnya Nakoru menolak. Dia bilang, “Kamu jangan ke rumahku. Rumahku sempit, sementara rumahmu kan luas. Nanti kamu nggak betah main ke rumahku, karena rumahku juga berantakan.”
Tapi, aku memaksa. Aku meyakinkan Nakoru kalau aku bakalan betah main di rumahnya.

Sampai di rumahnya…
Aku sangat terkejut. Di mana-mana ada foto semasa kecil kamu bersama Nakoru. Kalian berwajah sama. Lalu, aku menanyakan hal ini kepada Nakoru.
“Maaf, Nakoru. Aku ingin bertanya. Apa mungkin kau dan Ori, saudara kembar?”
Dan kamu tahu apa jawabannya? Dia mengatakan yang sebenarnya.
“Iya. Kami memang saudara kembar. Aku Nakoru dan kakakku Nakori. Sebelum meninggal kakakku pernah mengatakan hal ini kepadaku. Kakakku berkata, ‘Suatu saat nanti kamu pasti bertemu dengan seorang wanita bernama Rascha. Dia sahabat kakak. Dia baik. Kamu memang belum pernah bertemu dengannya, tapi dia kan sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga kita. Tolong, kamu jaga dia baik-baik, ya. Kakak percayakan hal ini kepadamu’.
Kakak juga memberiku foto kamu. Di sebaliknya ada nama kamu. Jadi, kalau sewaktu-waktu kami bertemu, aku sudah tau siapa kamu.”
“Kalian memang sahabatku yang baik, juga saudaraku yang baik. Terima kasih kuucapkan kepada kalian, Nakoru yang ada di hadapanku dan… Nakori yang ada di alam sana.”

Tak terasa bulir-bulir hangat menetes di pipiku. Aku menangis.
Pantas saja Nakoru tahu di mana rumahku berada. Nakoru kan saudara kembar Nakori. Jadi, dia pasti tahu di mana aku berada. Rumah yang kutempati kan rumah keluarganya.

Nama: Alfia Yuliyani
Pekerjaan: Pelajar di sebuah SMK negeri di Temanggung, Jawa Tengah

Cerpen Our Starhill, Love River, And A Couple Tree Of Dreams (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinderschool (Part 2)

Oleh:
Well, aku semakin tidak terima mendengar kalimat bernada menghina itu. Kasih diam tak berkutik, masih fokus. Bahaya kalau sampai ada kata-kata yang menyinggung, biasanya kasih langsung labrak tanpa tedeng

Kupu Kupu Musim Semi

Oleh:
Hari ini seperti biasa. Semua berjalan begitu saja. Aku menemukan diriku terlelap di meja, bersama tumpukan buku-buku tebal yang berada di depan mukaku. Suara gemericik air hujan yang semakin

Hadiah Ulang Tahun

Oleh:
Beberapa hari menuju hari ulang tahun, aku sudah mendapatkan hadiah lebih awal. Tidak. Kali ini hadiah yang kuterima lebih berbeda dan menarik dari biasanya. Yaitu seorang sahabatku, Dianita, yang

Metamorfosa Senja Bersama Awan Putih

Oleh:
Awan putih indah dihiasi pelangi senja di sore itu menyelinap di setiap celah awan. Menatapnya, menikmati keindahannya bersama kerinduan yang terselip di setiap celah hati, kembali merasa kurang dihargainya

Bait Puisi di Penghujung Senja

Oleh:
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan, kayu kepada api yang menjadikannya abu..” Layaknya Senja-senja sebelumnya, Tania dan Dani duduk santai di balkon depan kamar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Our Starhill, Love River, And A Couple Tree Of Dreams (Part 2)”

  1. rianti says:

    Kak,yg part 1 nya mana?kok gk ada.critany bgus bngeeetttt.smngt terus kak buat crpen^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *