Panduan Bersosialisasi Untuk Anak Kuper (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 March 2018

Apa yang sebenarnya sedang kulakukan sih?
Menelantarkan PR Kimia dan malah mengawasi ponsel yang tergeletak nyaman di atas kasur. Sambil sesekali mengecek kalau-kalau ada notifikasi teman LHINE baru.
Ah, sudahlah. Mungkin dia telah melupakan ID LHINE-ku. Atau barangkali, dia sudah lupa denganku.
Aku menggelengkan kepala kuat-kuat sampai rasanya kepalaku mau copot, berusaha mengusir sedikit harapan kalau percobaanku mendapatkan teman akan berhasil.
Toh, aku juga tidak punya urusan lagi dengan Rena. Jadi, aku bergegas meninggalkan ponselku dan menuju meja belajar.

Tanpa mengetahui kalau sedetik setelahnya, ponselku berkedap-kedip menampilkan notifikasi terbaru.

“Selesai juga!” Helaan napas lega kukeluarkan sambil merapikan alat-alat tulis. Aku beranjak dari meja belajarku dan menghempaskan tubuh ke atas kasur. Ah, tunggu, aku harus mengecek grup kelas di LHINE, siapa tahu ada informasi yang baru diberitahu.

Tunggu, ada chat baru dari … Rena?!

Rena Fiansa: Hai Din! Tadi gue kelupaan ID LHINE lo jadinya nanya dulu ke temen sekelas lo si Lala 😉

Selama beberapa detik, aku menatap balon chat dari Rena seperti orang bodoh. Begitu rupanya, harusnya aku tidak boleh berburuk sangka seperti tadi.

Omong-omong tentang berburuk sangka, aku jadi teringat hal terpenting dari buku panduan itu.

HAL TERPENTING DALAM MENCARI TEMAN: Dilarang berburuk sangka terhadap temanmu. Yakinlah mereka mempunyai alasan tersendiri dalam melakukan apapun.

Kurasa, aku juga harus berhenti berburuk sangka pada buku itu, karena buku itu tidak seburuk yang kubayangkan.

Dinda I: Hai juga Ren, ooh, iya si Lala, btw lagi apa?

“Iya-iya! Gue juga nggak nganggep si Adrian itu ganteng, kata gue malah dia ‘cantik’ loh!” Rena berujar dengan berapi-api, membuatku mengangguk semangat menyetujui ucapannya.
“Tapi temen sekelas gue pada suka banget sama dia, apa gue yang nggak normal ya?” sahutku sambil mengingat betapa semua siswi di kelasku tergila-gila pada Adrian, cowok blasteran yang sedang kami bicarakan.
“Lah, gue juga nggak normal dong kalo gitu?” balas Rena sambil menunjuk dirinya sendiri. Kami tergelak bersama, mengabaikan teman-teman sekelasku yang terlihat terganggu karena suara tawa kami yang kelewat keras.

Rena jadi sering bermain ke kelasku, begitu juga sebaliknya. Obrolan kami tidak jauh-jauh dari anak-anak populer di sekolah, komik, dan tugas yang berbeda jurusan.
Tapi dari situlah aku tahu kalau Rena termasuk anak yang lumayan populer meskipun dia tidak pernah mau mengakuinya.

“Jadi femes nggak seenak yang lo kira, Din,” katanya saat aku membahas masalah kepopulerannya.
“Emang kenapa?” tanyaku penasaran. Kukira menjadi populer akan menyenangkan, karena kau bisa menyapa siapapun tanpa canggung.
Selama beberapa saat, ekspresi Rena kembali tidak terbaca seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya. “Nggak enak aja,” jawabnya, terlihat tak ingin membahas hal itu lebih dalam.

TEET

“Yah, udah bel, gue balik ya, nanti istirahat lo atau gue yang nyamperin?” Rena beranjak dari kursi Lala -empunya kursi belum juga datang.
“Gue aja,” ujarku sambil tersenyum. Rena menyatukan telunjuk dan jempolnya membentuk gestur ‘oke’ dan berlalu.

Kemudian, aku mengambil buku panduan yang kutaruh di kolong meja dan membacanya sekilas.
Hanya satu bagian yang kubaca cukup lama.

HAL TERPENTING DALAM MENCARI TEMAN

Libur Ujian Sekolah kelas duabelas adalah salah satu nikmat Tuhan yang paling indah.
Bersantai di rumah tanpa PR -aku yakin guruku tengah linglung saat mengatakan tidak ada PR apapun untuk liburan kali ini- bukan lagi menjadi satu-satunya hal yang kulakukan.

Rena kerap kali mengajakku untuk jalan-jalan. Menonton film sampai pergi ke taman hiburan. Beberapa hal yang hampir tidak pernah kulakukan bersama seorang teman. Beruntungnya Rena memberiku kesempatan untuk menyelipkan kata ‘hampir’ di antara kata ‘yang’ dan ‘tidak pernah’.

Pagi ini, aku bangun lebih cepat dari biasanya. Hari ini aku memang tidak memiliki janji apapun dengan Rena, karena dia juga tidak mengajakku untuk jalan-jalan, maka kali ini giliranku untuk mengajaknya pergi.

Aku meraih ponsel di atas nakas sambil salah satu tanganku mengeringkan rambut dengan handuk.

Dinda I: Ren, gue punya ide

Beberapa menit berlalu, barulah ponselku bergetar menampilkan notifikasi terbaru.
Oh, ternyata hanya dari OA LHINE Fairi Grahphic, aku baru ingat kalau ini jadwal OA itu untuk memposting sesuatu.
Aku mengabaikan balon chat yang muncul dan mengenakan pakaian.
Setelah itu, aku menghempaskan tubuh ke atas kasur. Waktunya bermalas-malasan!

Ponselku bergetar kembali. Kuharap kali ini bukan lagi dari OA manapun -oh, Rena!

Rena Fiansa: Ide apa?

Dengan kecepatan penuh, aku mengetikkan sebaris balasan.

Dinda I: Gue mau main ke rumah lo, boleh?

Aku tak melepaskan pandangan dari layar ponsel sedetikpun. Kali ini, balasan dari Rena lumayan lama, mungkin dia sedang menimbang-nimbang apakah dia mau memperbolehkanku mengacak-acak rumahnya.

Akhirnya, aku melirik jam dinding. Lebih dari lima belas menit. Padahal, balon chat dariku sudah menampilkan huruf R, yang artinya dia sudah membaca pesanku.
Apa dia tiba-tiba ada urusan yang membuatnya meninggalkan ponsel dalam keadaan layar yang menampilkan roomchat?

Oh! Ponselku bergetar!

Rena Fiansa: Hmm, boleh aja sih, tapi lo bawa snack ya biar gue nggak kelaperan, he he

Sepertinya dugaanku benar. Jadi, aku segera mengetikkan balasan lalu melompat dari kasur.
Aku perlu bersiap-siap terlebih dahulu, tidak mungkin aku ke rumah teman dengan hanya kaus oblong dan celana tiga perempat, bukan?
Ah ya, soal penampilan, kurasa hal itu pernah dibahas di panduan nomor 13.

PANDUAN NOMOR 13: Meskipun kamu yakin temanmu akan menerima bagaimanapun penampilanmu, tetap jangan berpenampilan seadanya. Kamu WAJIB membuat temanmu tidak merasa risih karena penampilanmu.

Setelah selesai mengenakan pakaian yang lumayan cocok untuk dipakai ke rumah teman, aku segera keluar dari kamar. Dan tentu saja menghampiri Ibuku yang tengah menonton PUttaran di ruang keluarga.

“Ma, aku mau main ke rumah temen, minta uang jajan, boleh?”

“KAMU SERIUS?”
Di luar dugaan, reaksi yang Mama berikan tidak begitu berlebihan. Kukira Mama akan pingsan di tempat. Ternyata Mama hanya langsung mematikan tv dan berseru tak percaya.

“Err, begitulah?”

Selama beberapa detik, keheningan terjadi sampai tiba-tiba Mama bertepuk tangan. “Selamat, Nak, eh, dia cewek apa cowok?”
Astaga! Bagaimana bisa seseorang yang hiperaktif seperti Mama mempunyai anak sepertiku?
“Cewek lah, Ma…” jawabku sambil memutar bola mata malas. Mama mengangguk mengerti.
“Ya udah, tunggu apa lagi?” tanyanya sambil menyuruhku segera pergi. Aku menepuk dahiku refleks sambil memberi gestur minta-duit-dong-ma.
“Oh iya, he he, bentar-bentar.” Mama mengambil dompetnya yang teronggok di sofa dan mengeluarkan isinya. “Eh, kamu butuh berapa?”
Aku mengendikkan bahu. “Entahlah, terserah Mama aja,” ujarku singkat. Tapi, jawaban ‘terserah’ku membuat Mama menyodorkan sejumlah uang yang membuatku melotot.
“Nih, dipake buat main sama temen ya! Bukan buat kamu sendiri!” Aku masih speechless tapi lalu tersadar.
“Siap, Bos!” Aku memasang sikap hormat ala upacara bendera dan berlalu.
“Oh! Dan aku nggak lupa sama perjanjiannya loh Ma!” seruku dari depan pintu.

Aku yakin Mama tengah menepuk keningnya sambil mengusap dompet. Mungkin menyesali karena sudah memberiku uang terlalu banyak di saat nantinya juga akan membelikanku paket komik eksklusif yang lumayan mahal.

Berkat Mama, aku jadi membeli dua plastik besar berisi makanan ringan. Lagi-lagi berkat Mama, aku tidak perlu berdesak-desakan di angkot atau ditampar polusi jika naik ojek. Karena aku jadi punya cukup uang untuk naik GOHCAR, thanks to Mama.

“Kiri, Pak.” Aku turun dari mobil sambil membawa plastik makanan ringanku dengan susah payah.

Wow, ternyata rumah Rena … mengagumkan. Desain ala Eropa, dan aku bahkan bisa melihat tiga mobil kelas atas terparkir rapi di garasi rumah. Rena benar-benar di luar dugaan.

Aku menekan bel dan disambut seorang Satpam. Setelah menjelaskan ini dan itu, barulah aku dipersilahkan masuk dengan diantar seorang maid berseragam. Sekaya apa sebenarnya si Rena ini?

“Ah, nyampe juga lo, kirain bakal nyasar!” Rena dalam balutan pakaian tidur -seriously?- menyambutku di depan pintu kamarnya. Tanpa aba-aba, dia mengambil salah satu kantung plastik belanjaanku dan membawanya ke dalam kamar.
“Lo jadi makin pendek kalo bawa yang berat-berat, dan apa lo berniat menggendutkan gue?” Aku terkekeh pelan dan duduk di atas kasur Rena yang menurutku bisa menampung tiga sampai empat orang.

Cewek itu melesat ke arah DVD Player dan mengacungkan beberapa set film. “Mau yang mana?” tanyanya sambil menyeringai. Aku bergidik melihat film apa yang ditawarkannya. Insihdious, The Conjuhring, Don’t Breahth, dan Ouijah. “Astaga, nggak ada film Disney aja apa?”
Rena tertawa keras. Entah bagaimana dia bisa mengetahui ketakutanku pada film horor. “Ya ya, kita nonton Frohzen aja deh, biar lo seneng,” katanya sambil kembali mengacak-acak tempat set filmnya.
Membuatku mengingat salah satu isi buku panduan.

PANDUAN NOMOR 6: Dahulukan keinginan teman sebelum keinginanmu!

“Eh tapi kalo lo maunya nonton horor, gue … nggak papa sih,” ujarku sambil mengusap tengkuk. Aku harus bersiap-siap menghancurkan kaca rumah Rena kalau-kalau aku berteriak terlalu kencang.
“Santai elah, gue bosen nonton itu mulu, malah gue belom pernah nonton Frohzen.” Rena menghempaskan diri di sebelahku setelah menyetel film Frohzen.
Oh ya, kurasa aku bisa mempraktikkan panduan nomor 11.

PANDUAN NOMOR 11: Kamu harus menjalin hubungan yang baik dengan orangtua temanmu supaya hubungan pertemananmu makin kuat!

“Btw orangtua lo mana?”

Selama beberapa saat, hanya suara Anna Frohzen yang tengah bernyanyi Love is an Open Door yang terdengar di sepenjuru kamar.

“Ilang, ditelan bumi,” Rena menarik napas panjang dan melanjutkan, “nggak tahu dan nggak mau tahu.”
Sesaat, aku kehilangan kata-kata. “O-oke.” Aku kembali berusaha fokus pada Frohzen.

Ada apa dengan orangtua Rena sampai-sampai Rena tidak mau memberitahu keberadaan mereka? Skenario terburuk hasil membaca komik dan novel terputar di benakku tanpa sadar.

Kalau tak salah … kata buku Panduan itu, dalam situasi seperti ini… ah!

PANDUAN NOMOR 9: Selalu tawarkan ‘sandaran’ dan ‘telinga’ untuk temanmu. Semua orang butuh kedua hal itu.

“Umm… kalo lo mau, lo boleh cerita kok, Ren.” Aku melirik Rena yang menampilkan ekspresi datar. Uh-oh, sepertinya aku salah-

“Nggak ada apa-apa Din, eh gue bagi Chihtos-nya dong!” Rena membanting stir percakapan. Membuatku menahan diri untuk bertanya lebih jauh.

“Thanks for today yap,” ujarku sambil memakai sepatu. Awalnya, Rena memaksa ingin mengantarku pulang dengan mobil dan supirnya, tetapi aku menolaknya dengan halus.
“Emang lo pulang naik apa?” tanya Rena sambil melongokan kepala ke luar pintu rumah. Aku mengerlingkan mata dan menunjuk sebuah mobil family sudah terparkir di depan rumah Rena. “Gohcar,” jawabku singkat.

Sebelum melangkah lebih jauh, aku berbalik dan menatap Rena.
“Lo tahu Ren, kalo yah … lo udah mau cerita, telinga gue siap dengerin kapanpun kok, jadi feel free to tell me whatever that bothers your mind.”
Aku berbalik dan menuju Gohcar tanpa menunggu balasan Rena. Ini kali pertama untukku menawarkan diri menjadi pendengar yang baik.

Karena aku … sering merasakan perasaan yang tidak menyenangkan itu karena menyimpan semua keluh kesah sendirian.

Cerpen Karangan: Anis
Blog: wattpad.com/wishtobefairy

Cerpen Panduan Bersosialisasi Untuk Anak Kuper (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sepucuk Surat Putih

Oleh:
“Angga bangun!” Suara malaikat duniaku telah berbicara dan aku segera membuka mata yang berat ini. Kubuka jendela sambil menyapa dunia. Udara dingin menusuk kulit. Dingin ya sangat dingin kota

Bukan Benci tapi Cinta

Oleh:
Andin, itulah nama panggilanku di sekolah. Dulu aku dan dia begitu dekat bahkan mirip orang pacaran karena kami memang satu kelas. Dia adalah Evan. Tapi semua itu hanya kenangan

Dua Sahabat (Part 3)

Oleh:
“Mama, aku udah selesai makannya!, aku mau main laptop ya!” Teriak Nissa. “Nissa! Beresin dulu piring bekas kamu makan!” Balas mama Nissa. “Oh iya!” Nissa menepuk jidat dan kembali

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *