Panduan Bersosialisasi Untuk Anak Kuper (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 March 2018

“Gimana mainnya?” Mama menyambutku dalam balutan celemek dan sepiring spaghetti yang masih hangat. Langkahku terhenti sejenak untuk menatap Mama.

Sebenarnya, apa masalah Rena dengan orangtuanya? Setidaknya, aku mensyukuri hidupku yang diberikan orangtua seperhatian Mama. Meskipun aku jarang bertemu Papa, tetapi aku tahu kalau kehidupanku sudah lebih dari cukup.
Salah satu faktor mengapa aku malas bersosialisasi. Aku sudah merasa cukup dengan perhatian yang Mama berikan, sehingga aku menganggap aku tidak memerlukan perhatian dari orang lain lagi.

“Asik,” jawabku singkat dan menaiki tangga. Mama menaikkan alis. “Kalo udah ganti baju, ke bawah ya,” katanya yang kubalas dengan acungan jempol.

Memang benar, aku merasa cukup dengan perhatian Mama, tetapi bagaimanapun juga, ada beberapa hal yang tidak bisa kukatakan pada Mama.
Apalagi Rena?

Dia tidak terlihat dekat dengan orangtuanya, dan selama ini aku belum pernah melihat Rena dekat dengan siapapun. Dia memang populer, tapi hanya sebatas itu.
Tidak ada teman dekat. Hanya sekadar tahu dan datang kalau ada perlu.

Dinda I: Gantian dong, Ren, lo yang ke rumah gue
Rena Fiansa: Boleh aja sih, besok ya, jangan lupa siapin makanan yang banyak
Dinda I: Lah, gantian dong
Rena Fiansa: Kan lo tuan rumahnya
Dinda I: *flip table*

“Kurang banyak Ma, makanannya.” Aku mengernyit saat melihat meja di ruang keluarga yang dipenuhi mangkuk, piring, dan toples yang penuh berisi makanan. Padahal hanya Rena seorang yang akan ke rumah kami, tetapi makanan yang Mama siapkan porsinya untuk lima orang.
“Oh gitu ya? Bentar Mama masih punya makaroni schotel perasaan deh.” Mama kembali sibuk memeriksa kulkas dan lemari penyimpanan makanan yang kontan membuatku menepuk dahi.
“Ya ampun Ma, cuma Rena doang, udah segini aja ntar nggak abis lagi,” kataku sambil mencomot stik keju. Mama menoleh dan ber-oh ria.

LHINE!
Rena Fiansa: Gue udah di depan rumah lo, bukain dong

Dasar, apa dia tidak bisa melihat bel yang terpasang di pagar rumah dan malah mengirimiku pesan?

“Dia udah nyampe?” Mama melepaskan celemeknya. Aku mengangguk cepat sambil mengetikkan balasan pada Rena.
“Paket komik eksklusifku jangan lupa ya, Ma,” ujarku sambil bergegas ke pintu depan.

Samar-samar, aku mendengar Mama bergumam kirain-anak-itu-udah-lupa pada dirinya sendiri. Membuatku terkikik geli sambil membuka pintu rumah.

Di depan sana, Rena dalam balutan kaus dan celana jins tengah melongokan kepalanya berusaha melihatku. “Cepetan Din, panas nih.”
Aku menggeleng-gelengkan kepala dan membuka pagar, lalu mempersilahkannya masuk.

“Yey! Akhirnya gue ke rumah lo juga,” kata Rena sambil mengusap peluh di lehernya. Matahari memang sedang terik.
“Yah, silahkan obrak-abrik rumah gue sepuas lo, anggep aja rumah sendiri.” Rena mengekoriku dari belakang.

Di saat yang sama, Mama langsung menyambut kami dengan sedikit heboh. “Ya ampun, temen pertama Dinda!!”
Oh, bumi, tolong telan aku sekarang juga. Rena menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal dan menyalami Mama. Sedetik kemudian, Mama mengernyit.

“Loh, kamu bukannya … anaknya Fiansa?”
Hah?
“Eh iya, Tante … Arum? Ternyata tante ibunya Dinda?” tanya Rena dengan nada terkejut. Aku sendiri melongo karena tidak mempercayai Rena yang telah mengenal Mama.
“Iya! Ya ampun, dunia sempit banget ya!” Mama terkikik geli. “Um, Ma, ini kenapa ya?” Aku menunjuk Mama dan Rena bergantian.
Rena dan Mama saling berpandangan lalu tertawa bersama.

Ayolah, hanya aku yang tidak tahu apa-apa di sini.

“Rena ini anak temen kuliah Mama dulu, Fiansa, oh ya, Fiansa masih sering bulan madu basi sama Papamu ya?”
Rena tertawa lepas. Membuatku sedikit demi sedikit mengerti. “Iya ih, kemarin aja pas aku bangun tidur, mereka cuma ninggalin pesan ‘kami mau pacaran dulu, jaga rumah ya sayang’ emangnya aku satpam rumah?” Rena bercerita dengan menggebu-gebu.
Mama menepuk bahu Rena dan menatapku. “Mama Papa Rena pacaran mulu karena ini pas liburan, jarang-jarang kan mereka punya waktu bareng?”
“Haha, iya sih, Mama pasti bosen jalan sama aku mulu,” kata Rena sambil mengendikkan bahu.

“Oh ayolah Ma, Ren, sekarang kayaknya Mama punya anak baru ya?” kataku sambil berjalan ke ruang keluarga. “Ih, kamu ngiri ya.” Mama dan Rena menyusulku.
“Nggak, biarin aja jadi aku bisa ngabisin ini semua sendirian,” ujarku sambil menyantap kripik kentang dengan ganas. Rena dan Mama terkikik geli.

Mama meninggalkan kami setelah mengatakan satu-dua kalimat pada Rena. “Jadi orangtua lo baik-baik aja?” tanyaku sambil bersandar pada sofa.
Rena mengambil stik keju dan menoleh. “Lah, emang kapan gue bilang orangtua gue nggak baik-baik aja?” tanyanya balik.
“Kemaren, abisan lo ambigu banget ngomongnya, kirain gue lo ada masalah apa,” ujarku.
Rena tertawa. “Lo kebanyakan baca komik dan novel, Din, tapi emang iya sih, gue masih baper gara-gara ditinggalin jalan-jalan,” katanya mengambil jeda, “tapi nggak papa sih, gue jadi bisa nonton Frohzen sama lo.”

Aku melempar bantal kepadanya yang disambutnya dengan bersungut-sungut. “Ya ya, sama-sama, gue tahu gue udah menyelamatkan kaset Frohzen itu dari debu karena nggak pernah lo tonton.”
“Tuh tau!” Dan Rena kembali mendapatkan lemparan bantal dariku.

Ternyata, pikiranku terlalu berlebihan. Bukankah buku panduan itu mengatakan untuk tidak berprasangka buruk?

Tiba-tiba, Mama muncul sambil membawa ponselnya.
“Ren, nih Mama-mu khilaf mau ngajak jalan-jalan!”
Aku dan Rena saling berpandangan. Kemudian kami tertawa lepas.
“Mama kurang kerjaan amat ngadu langsung sama Mama Rena!” ujarku yang dihadiahi tatapan sangar dari Mama.

Setelah Rena selesai berbincang dengan ibunya menggunakan ponsel Mama, Mama kembali ke lantai dua.

“Eh btw Din, gue punya sesuatu buat lo.” Rena merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah benda.
“Hah, ini…”

“Hah ini… rokok?” Aku menatap horor batangan putih yang Rena sodorkan padaku.
“Lo ngerokok Ren?!” Aku beranjak dari sofa. Seketika, aku kembali teringat dengan hal terpenting dalam mencari teman di buku panduan itu.

HAL TERPENTING DALAM MENCARI TEMAN: Dilarang berburuk sangka terhadap temanmu. Yakinlah mereka mempunyai alasan tersendiri dalam melakukan apapun.

“Tunggu … lo pasti punya alasan lagi untuk ini kan?” Aku menatap Rena masih dengan ekspresi tidak percaya.

Ekspresi Rena tidak dapat ditebak. Kemudian, Rena menaruh batangan putih itu di mulutnya dengan santai. Seolah itu bukan apa-apa.

“Ren?!” Aku berseru frustasi. Rena sendiri hanya mengendikkan bahu seolah berkata inilah-gue.

Rupanya seruanku didengar Mama yang tidak sengaja kembali ke lantai dasar. “Ada apa ini?” Mama menghampiri kami dan seketika matanya tertuju pada benda di mulut Rena.

“Rena?!” Astaga, Mama heboh seperti biasanya, dia pasti akan memarahi Rena karena-
“Ini kan favorit Mama sama Fiansa dulu!” Hah?
Mama menerima batangan putih lainnya dari Rena. Membuat rahangku seketika jatuh. “Mama ngerokok juga?!”

Mama dan Rena menoleh bersamaan padaku yang perlahan mundur karena masih tidak mengerti. Sedetik kemudian, tawa Mama dan Rena memenuhi ruang keluarga.

“Ah ya, kamu pasti belom pernah nyoba rokok … cokelat ini kan?”

HAH?
Aku yakin ekspresiku sangat priceless. rokok? COKELAT?

“Gue sukses ngerjain lo!” Rena berujar santai sambil menunjuk wajahku.

“Iya, dulu Mama sama Fiansa bisa lengket kayak perangko sama amplop gara-gara Mama lupa bawa uang pas beli jajanan favorit ini di kantin sekolah!” Mama bercerita tanpa kuminta.

Aku menepuk dahi refleks dan melirik Rena.

“Mirip siapa yak?” kataku akhirnya setelah jeda yang cukup lama. Rena terkikik geli sambil menyodorkan sebatang ‘rokok’ lainnya padaku yang kusambut dengan ringan.

Tinggal Mama yang menatap kami bingung.

“Siapa emangnya?”

Aku dan Rena bersitatap lalu tertawa lepas.

Buku panduan itu tidak pernah salah. Terkadang, hanya pikiranku saja yang berlebihan. Mungkin karena aku jarang bersosialisasi. Aku jadi terlalu cepat menilai ucapan seseorang. Karena aku terbiasa sendiri.

Ya, buku panduan itu, tidak pernah salah.

“Ma, paket komik eksklusifku mana?”
Aku menyunggingkan senyum kemenangan sambil menadahkan tangan. Mama yang tengah membaca majalah langsung memasang wajah horor.
“Ah, ya, itu…” Mama melirik ke manapun, kebiasaannya kalau sedang panik. “Dulu Mama pernah bilang kalo ngasih harapan palsu itu dosa loh,” ujarku telak.

Mama menarik napas panjang dan mengambil dompetnya yang terletak di atas meja.
“Iya iya, kamu beli sendiri aja ya, Mama males nungguin kamu bertualang di Geramedia.” Mama menyerahkan sejumlah uang yang kuterima dengan sukacita. Jumlahnya mungkin lebih dari dua bulan uang jajanku.

Mama memang lebih suka bertualang di toko pakaian atau sepatu, tidak sepertiku dan Papa yang lebih memilih untuk mendekam di Geramedia.

“Nggak sendiri kok.” Tepat ketika aku mengakhiri ucapanku, suara notifikasi ponselku berbunyi.

LHINE!
Rena Fiansa: Bukain pintu dong

Aku menepuk dahi. Cewek itu tidak pernah belajar cara menekan bel rumah, ya?

E N D

Bersambung ke #2 Tips Berburu Pacar di SMA! {Bagian 1}

Cerpen Karangan: Anis
Blog: wattpad.com/wishtobefairy

Cerpen Panduan Bersosialisasi Untuk Anak Kuper (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terselip Cinta di Bumi Perkemahan

Oleh:
Sinar mentari memeluk lembut tubuh ini, menghangatkanku dari dinginnya setetes embun pagi ini. Sebuah bus telah melaju membawaku menuju ke suatu tempat. Berhenti. Kini aku berada di sebuah taman

Aku, Kamu dan Kita

Oleh:
Aku duduk di sebuah taman dekat sekolah, menulis cerita tentang sebuah kisah persahabatan. Aku Hera, gadis SMP sama seperti kalian, menyukai musik, membaca novel dan dance. Aku mempunyai sahabat

Aku dan Rasa Ini

Oleh:
Suka.. ya aku mungkin hanya menyukainya. “Pulang sekolah ini kamu ada urusan gak Ra?” Aku sedikit menaikkan sebelah alisku, sedetik kemudian aku mengangguk menjawab pertanyaan sahabatku itu, Salsa. “Pembinaan

Will Be Revealed (Part 1)

Oleh:
Aku tidak pernah sebahagia ini sebelumnya. Dia hadir mengubah segalanya, menjadikan hidup ini sangat berarti. dia ada disaat tidak ada orang lain. Disaat tidak ada siapapun yang memperhatikanku. Dia…

Kakak Senior

Oleh:
Pagi ini tepat pukul 06.35 aku sampai di sekolah. Kulihat sudah banyak teman-temanku yang tiba di sekolah. Aku meletakkan tasku di atas meja di dalam kelasku. Aku melihat ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *