Pelangi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Perpisahan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 2 March 2016

“Fika, buruan entar gak bisa lihat loh!” seru seorang Ridho dari luar rumah.

Ia berdiri di bawah tetesan hujan yang kini turun setetes demi setetes sambil memandang ke arah langit. Selang beberapa detik kemudian Fika ke luar dengan terburu-buru. Ia berdiri di samping Ridho lalu ikut memandangi langit. “Pelangi itu indah ya.” Ucap Fika dengan polosnya. Ridho tidak menjawab, ia hanya mengangguk. Sedari tadi mereka tengah memperhatikan pelangi, hal yang sangat disukai mereka. Perlahan matahari mulai ke luar dari tempat persembunyiannya. Terasa hawa hangat setelah hujan. Begitu juga pelangi yang perlahan menghilang seiring dengan hujan yang kini tidak lagi meneteskan air.

“Ya.. pelanginya hilang.” kata Ridho lesu, ia menundukkan kepalanya lalu masuk ke dalam rumah, Fika mengikutinya dari belakang, mereka duduk di sebuah sofa.
“Dho, kok pelangi itu sebentar aja ya?” Tanya Fika, Ridho mengendikkan pundaknya.
“Aku pernah baca, katanya di ujung pelangi itu ada 7 bidadari yamg sedang mandi. Makanya warna pelangi ada 7, terus kalau bidadarinya udah siap mereka kembali ke khayangan, pelanginya hilang deh.” Fika tampak serius mendengarkan cerita Ridho. Keduanya saling membayangkan tentang pelangi. Tak heran jika setiap selesai hujan, mereka langsung ke luar rumah untuk melihat pelangi. Mereka adalah sepasang sahabat yang menyukai hal yang sama. Rumah mereka bahkan bersebelahan.

Hari ini semua murid TK diarahkan untuk mengambar sesuatu yang mereka sukai. Mereka dibiarkan berimajinasi sesuka mereka. Ridho mengetuk-ngetukkan pensilnya ke meja, ia tengah berpikir. Fika melihatnya, ia juga bingung harus menggambar apa. Ia mendekati Ridho yang telah menemukan ide untuk bahan menggambarnya.

“Mau gambar apa?” tanya Fika yang melihat Ridho tengah menarik sebuah garis lengkung di buku gambarnya.
“Gambar pelangi kamu dan aku, kita kan suka pelangi,” jawab Ridho. Fika langsung menemukan ide untuk mengambar hal yang sama. Ia kembali ke tempat duduknya lalu mulai menggambar pelangi. Namun, baru membuat sebuah garis lengkung saja ia sudah sibuk menghapus gambarnya. Hal itu berulang beberapa kali. Hingga ia akhirnya menyerah dan meletakkan pensilnya begitu saja. Ridho yang telah selesai beranjak ke bangku Fika untuk melihat yang digambar oleh sahabatnya itu. Ia kaget karena tak satu pun yang dibuat oleh Fika.

“Gambar kamu mana?” tanya Ridho, ia memperhatikan ekspresi Fika yang tampak tidak bersemangat.
“Gambarnya susah, aku gak mau menggambar,” ketus Fika. Ridho tertawa, ia mengambil pensil dan meletakkannya ke tangan Fika. Fika menatapnya heran. Ridho membantunya dengan memegang pensil itu juga. Ia mengarahkan Fika agar dapat membuat sebuah pelangi, hingga akhirnya terciptalah beberapa garis lengkung.
“Mudah kan?” tanya Ridho. Fika mengangguk senang. Ia senang karena Ridho membantunya untuk membuat pelangi.
“Sekarang kumpulkan gambar kalian ya. Agar Ibu guru lihat.” Perintah dari bu guru membuat Fika panik karena gambarnya belum siap. Ia hampir menangis, terlihat dari matanya yang merah karena membendung air mata. Ridho juga ikut panik, ia berpikir bagaimana acaranya agar Fika juga bisa mengumpulkan gambarnya.

Tiba-tiba saja ia mendapat ide. Ia menarik tangan Fika untuk ikut bersamanya, mereka berjalan menuju Bu Guru. “Bu, ini gambar Ridho sama Fika, kami suka pelangi jadi kami membuat gambar pelangi.” Ucap Ridho, ia memberika gambarnya kepada Bu Guru. Fika hanya melihat Ridho dan merasa bersyukur karena Ridho mau menolongnya.
“Gambar yang bagus, Bu guru kasih nilai 90 untuk gambar ini.” ucap bu guru lalu menyerahkan kembali gambar tersebut kepada mereka. Mereka pun kembali ke tempat duduknya.
“Ini gambarnya untuk kamu, dijaga ya. Nanti aku sering main ke rumah dan melihat gambar ini.” Ridho memberikan gambarnya. Fika menerimanya dengan hati yang gembira.

Ridho menuju kamar Fika setelah mendapat izin dari ibunya Fika yang memberitahukan kalau anaknya berada di kamar. Ia mengetuk pintu kamarnya. Namun tidak ada jawaban. Sementara di dalam Fika sibuk membongkar isi tasnya, namun hasilnya tetap sama, barang yang ia cari tidak ada. Ia tahu kalau Ridho sudah berada di depan pintu kamarnya. Ia pun membuka pintu kamarnya perlahan.

“Hai, aku mau lihat gambar aku.” ucap Ridho yang langsung masuk. Fika membiarkannya begitu saja. Ia menundukkan kepalanya. “Mana?” tanya Ridho penasaran. Fika menggeleng. “Aku minta maaf, gambar kamu hilang.” Tuturnya pelan. Ridho kaget ia langsung menghampiri Fika yang masih menunduk.
“Hilang? Semua yang aku berikan ke kamu pasti hilang. Aku gak mau berteman sama kamu lagi.” Bentak Ridho, lalu pergi meninggalkan Fika yang menahan tangisnya. Ia tahu kalau Ridho akan marah, karena setiap Ridho memberikannya barang pasti selalu hilang. Ia memang ceroboh.

Semenjak kejadian itu Ridho tidak pernah lagi bermain dengan Fika, ia lebih memilih bermain sendiri. Bahkan mereka tidak pernah lagi pergi dan pulang sekolah bersama. Fika benar-benar menyesali perbuatannya. Hari ini Fika dan orangtuanya akan pindah. Fika membereskan mainan yang akan dibawa. Ia melihat sebuah kertas di bawah tempat tidur, ia penasaran lalu mengambilnya. Ia tersenyum melihat gambar itu yang ternyata adalah gambar pelangi yang hilang. Namun, ia enggan memberitahu Ridho. Sementara itu Ridho yang mengetahui kalau sahabatnya akan pindah langsung bergegas menemui sahabatnya dengan membawa sebuah kertas. Ia melihat Fika yang berdiri di depan rumahnya. Ia pun menghampiri Fika. Fika menoleh, ia tersenyum melihat sahabatnya datang. Ia memberikan gambar Ridho yang hilang.

“Aku minta maaf, ini gambar kamu. Aku janji gak akan ceroboh lagi.” Ucap Fika. Ridho menerimanya dan berbalik memberikan kertas yang ia bawa. Kertas tersebut bergambarkan hal yang sama dengan yang digambarnya saat itu.
“Ini aku berikan yang baru. Jangan hilang, dan jangan lupain aku. Semoga nanti kita jumpa lagi.” Balas Ridho, Fika mengangguk. Mereka pun saling tersenyum. Fika dan orangtuanya sudah masuk ke dalam mobil. Ia melambaikan tangan kepada Ridho sebagai salam perpisahan, Ridho pun membalasnya dengan hal serupa. Fika berjanji dalam hatinya untuk menjaga gambar tersebut.

Cerpen Karangan: Rofikotul Husna
Facebook: Husna Hidayat Bie

Cerpen Pelangi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Bahagiakan Dia

Oleh:
Mungkin tiada kata yang bisa ungkapkan ketika kelunya lidah. Seperti halnya Takuya ketika dia bertemu cewek idamannya selama ini. Apalagi kalau si cewek idaman mendekat dan mengajaknya sekadar mengobrol.

Sahabat Kecilku (Part 1)

Oleh:
Aku mengerti, cinta itu tidak bisa dipikir dengan logika. Tentu saja benar, bukannya memang hati dan pikiran manusia selalu mengalami konflik? Entah siapa yang benar atau yang dibenarkan dalam

Kenangan Dan Hujan

Oleh:
Hallo, kenalkan namaku Ardhania Septia Raini. Ardhania artinya suci, Septia diambil dari bulan September, dan Raini yang diambil dari adaptasi rain yang berarti hujan. Biasa dipanggil nia, umur 17

Sahabatku

Oleh:
Saat itu cuaca cerah aku melangkah pergi sekolah dengan ceria, oh iya namaku Chyntia lebih tepatnya Chyntia Evelyna Sudarto, saat itu aku sampai di sekolah ternyata 3 temanku sudah

Teman Sesaat

Oleh:
Aku berjalan, berjalan melewati pepohonan, pada saat musim semi. Kulihat pepohonan yang digerakkan oleh angin. Bunyi dedaunan kering yang terinjak mengiringi setiap langkahku. Aku melihat banyak daun yang tadinya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *