Pelangi Buat Sahabat


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 31 May 2013

Sudah beberapa minggu ini aku tak bersama Dika sahabat ku.
Padahal aku kangen banget dengan tawanya yang khas itu, caranya mencari kesenangan tersendiri, yang membuat ku terbahak dengan tingkanya yang super humoris itu dan bahkan pernah ia di tampar sama seorang cewek di mall cuma gara-gara merayu cewek itu.
“Uuh gak seru ah” gumam ku dalam hati.
Apalagi mengingat dika sedang sakit bahkan sampai-sampai harus di rawat di rumah sakit.
Rasanya gak mungkin deh kalau hari-hari biasa bisa bertemu dengan dika, soalnya jam kuliahan takkan sempat mengijinkan ku bertemu dika.
Yaaa… kalau pulang kulihannya cepat ya syukurlah! itupun kalau jam kunjung pasiennya belum habis.
Ah pagi ini benar-benar gak seru.

Biasanya aku dan dika jalan bareng pagi-pagi ini, saling bercengkrama, bertukar pikiran, dan bercanda bersama-sama.
Jadwal yang bahkan sengaja aku buat untuk mengisi hari-hari bersama dika, hanya bisa aku genggam dan ku remas hingga membentuk bulatan, kemudian ku buang di pinggir jalan.
Dengan berat hati ku langkakan kaki menuju kampus.

Sepanjang perjalanan, aku hanya memandang beberap orang di sekitarku, yang terlihat sedang berjalan bersama-sama sahabatnya. mereka membuatku iri.
Meskipun aku tahu bukan salahnya dika kalau ia tak ada bersama ku tapi tetap aku salahkan saja ia, “Mengapa harus kamu tinggalkan ku berjalan sendiri pagi ini dika, kamu tahukan kamu itu sahabatku yang paling aku banggakan, dan paling pengertian sama aku”
sesal ku dalam hati.

Belum jauh di muka kampus tiba-tiba tercetus sebuah niat yang lewat begitu saja di benak ku.
“Benar juga dari pada hari ini masuk kulihan, mending aku besuk saja dika.
Sekali-kali bolos gak apa-apalah” Pikirku.
Segera ku balikan ara tujuan ku menuju rumah sakit tempat dika di rawat, tapi sebelumnya ku cabut saja setangkai bunga di taman kota. Lumayanlah buat dika, mumpung taman kota searah dengan rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit aku langsung saja membesuk dika.
Ia sedang terbaring lemah di dalam sebuah ruangan. Dengan selang ingfus yang bersarang di lengannya.
Ingin segera ku bercerita dengannya tapi tampaknya mamanya juga ada bersamanya.
Yaa terpaksa tak bisa leluasa ku bercerita dengan dika.

Ku langkakan kaki masuk dalam ruangan yang aroma obat-obatannya begitu menusuk hidung ku.
Baru saja ku ucapkan “Selamat pagi tante, saya mau menjenguk dika!”
Mama dika langsung menghampiri ku “Oh nak rangga, sudah lama dika menunggu nak rangga! Tapi belum ada juga, mengapa jarang berkunjung? Ah tak pentinglah itu, yang penting nak rangganya sudah ada. Silakan saja bicara dengan dika, dan sekalian tolong jaga dika ya, tante mau beli beberapa makanan di luar dulu”
“Iya tante, habisnya aku sibuk kulihan”

Mamanya dika hanya mengangguk sok tau, kemudian pamit keluar sebentar.
Belum lama mama dika pergi.
Terdengar suara lemah yang tak asing bagi ku.
“hey kenapa lama sekali!”
aku melirik ke arah dika yang juga melirik ke arah ku.
Lalu ku jawab
“Ah biasalah, urusan kulihan”
“Terus kenapa sekarang kamu ada di sini kalau kulihan, bolos ya! Dasar pemalas kamu. Tapi baguslah aku bisa ketemuan dengan kamu rangga! Sering-seringlah bolos.. Hahaha…”
Tukasnya lemah sambil sedikit tertawa.
“Hahahaha… Ah kamu ini, udah sakit-sakitan tapi masih bisa-bisanya kamu jadi pelawak di sini!”
“Iya kalau gak lawak bukan aku namanya dong!”
jawabnya lagi
“Eh dika aku bawah bunga segar untuk kamu, tadi aku masih sempat singga di toko bunga lo”
ucapku sambil menunjukan bunga yang ku ambil di taman tadi.
“Ya ela, ini bunga di taman kota itu kan. Aku sering jalan-jalan di taman kota dan melihat-lihat bunga di sana, jadi pasti ini bunga di taman kota”
“hahaha ketahuan dech, tapi gak apa-apa kan?”
“Gak apa-apa kok, Ah justru aku, berterima kasih pada mu. Sebenarnya ini salah satu keinginan ku, dari tiga hal yang ku catat di daftar catatan permohonan ku.”
“Apa maksud mu dika aku gak ngerti!”
tanya ku heran pada dika.
“Coba kamu ambil buku di meja itu”
tunjuk dika perlahan dengan bibirnya, di atas meja yang tak jauh dari nya.
Aku segera mengiakan permintaan dika dengan sedikit penasaran.

Setelah ku buka lembar pertama aku hanya membaca Sebaris kata, “DAFTAR KEINGINAN KU” begitulah setidaknya yang tertulis meski tulisannya agak tak jelas begitu.
“Maaf ya rangga kalau tulisan ku agak tak jelas begitu, soalnya saat menulis tangan ku agak lemah jadi begitulah hasilnya.
Mendengar ucapan dika aku hanya tersenyum memandanginya, lalu berkata “Aku mengerti kok”
Dika membalas senyumku, kemudian menyuruku segera membuka halaman berikutnya.
Di halaman berikutnya tertulis,
“Daftar 1. memetik bunga di taman kota. Daftar 2. Bertemu sahabat ku rangga. Daftar 3. Melihat pelangi sehabis hujan.”
Terlihat tak satu pun belum di tandai, artinya belum ada yang di lakukan.

“Rangga coret saja daftar 1 dan 2 karena telah terpenuhi”
Ucap rangga dengan tiba-tiba.
“Oh benarkah kamu begitu ingin bertemu dengan ku”
ucapku pada dika.
Rangga hanya tersenyum lalu kembali lagi berkata “Coret saja daftar 1 dan 2 nya”
Aku tak sempat bertanya lagi pada dika. Jadi ku anggukan saja permintaan dika, dan ku lakukan seperti apa yang ia mau.

Tersisa satu daftar yaitu daftar ke 3.
Yang membuat ku begitu merasa aneh.
Ingin ku tanyakan sesuatu pada dika, namun ia sudah lebih dulu bertanya.
“Menurut mu, daftar yang terakhir ini bisa ku penuhi gak, soalnya aku rasa aku gak mungkin bisa”
Aku sejenak berpikir, “Apa mungkin ada pelangi ya? Kan tahun ini lagi musim kemarau, jadi mana mungkin turun hujan apalagi muncul pelangi.
Lalu aku sekedar tersenyum tawar pada dika. Kemudian berkata
“Pasti bisa”
“Tapi bagaimana aku bisa”
tukas dika sinis
“Aku sendiri yang akan membawakannya pada mu”
“Maksud kamu apa?”
“Aku bilang, aku akan membawakan pelanginya pada mu”
“Tapi bagaimana?”
“Ada dech!”

Aku hanya senyum kecil penuh rahasia, pada dika.

Sesudah selesai menjenguk dika, langsung saja ku pulang, ku ambil sebuah surat yang ku tulis surat izin bahwa aku sedang sakit.
Dan ku masukkan dalam amplok untuk tinggal ku titipkan pada leo teman sekelasku yang tak jauh dari rumah ku.
Ku putar saluran cuaca yang ada di TV untuk sekedar mengetahui daerah mana yang akan turun hujan.
Ya ternyata tak ada satupun tempat dekat kotaku yang lagi hujan.
Hanya daerah Denpasar Bali saja.
“Astaga jauhnya!” gumamku mengingat tempatku yang berada di ibu kota jakarta.
Haruskah ku ke sana, yaa gak deh rasanya.
Tapi kalau tidak berarti aku ingkar janji dong sama dika.
Ya terpaksa beberapa hari ini aku gak bisa berbuat apa-apa, jadi ku putuskan untuk mencari sesuatu yang lain. Tadinya aku ingin memotret gambar pelangi, tapi malah bukannya memotret malah aku kembali mengambil sebuah kertas dan pena.
Lalu ku tulis puisi, Yang berjudul “PELANGI”
ku tulis
“Oh pelangi indahnya warna mu menghiasi warna hari ku.
Oh pelangi keelokan mu mengisi keindahan di kalah sehabis badai.
Kau selalu ada untuk membuat siapa saja lupa dengan badai kesedihan yang menggelora.
Kau menghadirkan kebahagiaan, tapi ku sadar ternyata pelangi yang terindah sebenarnya ada pada sahabat ku Dika yang terkasih.”

Surat puisi ini awalnya tak ingin ku berikan tapi sudahlah.
Dan ternyata setelah ku berikan pada dika.
Ia hanya diam, aku kira ia tak suka tapi kemudian.
Setetes embun membasahi pipinya.
Lalu dika berkata pada ku. “Peluklah aku! Ternyata kau bahkan bukan sekedar menepati janji saja, tapi rangga! Kamu malah membawa lebih dari yang kuharapkan yaitu PERSAHABATAN”
aku hanya diam dan memeluk dika sahabat ku atau bisa di bilang pelangi sejati ku.

Cerpen Karangan: Daniel Satria Sutrisno
Facebook: Daniel Satria Sutrisno
Hobby: Menggambar, mengarang

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Persahabatan

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply