Penantian Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Perpisahan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 14 March 2017

Jarum jam mengarah tepat pada angka 3. Matahari yang mulai memancarkan sinar merahnya, menambah kesan pada sore hari yang lumayan indah itu. Mungkin jauh di dalam lubuk hati seorang siswi bernama Sinta Dayundya Rahma mengharap detik-detik waktu berhenti sejenak, untuk membiarkan dirinya dan sahabatnya berdua untuk beberapa menit. Begitu pula dengan Gendis Ayu Sasmitha yang juga sangat ingin quality time dengan sahabatnya (Dayu), tidak ada yang mengusik.

Semilir angin sore itu menghantarkan suara 2 orang sahabat tadi pada telinga Pak Samijo, atau biasa dipanggil Pak Sam. “Ealah.. eneng, tak kira siapa, di bawah pohon kok ada yang cekikikan, ehh ternyata non berdua”. “Belum pulang toh neng?”. cerocos Pak Sam. “Maaf loh ya pak, udah bikin Pak Sam penasaran, tapi emang kita berdua mulai dari tadi udah ngejogrok di sini”. sahut Gendis. “Ya sudah bapak tinggal dulu, hati-hati ya non”. timbal Pak Sam. “Ehh Day, pulang yuk bundaku udah nyuruh aku pulang nih”. seru Gendis. “Iya ayo udah sore juga nih”. jawab Dayu.

“Ayo masuk, Gendis.. gerimis nih lo”. pinta bunda Gendis sambil melambaikan tangan untuk menyuruh Gendis segera masuk ke dalam mobilnya. “Day ayo bareng, daripada sendirian loh”. “Enggak te, makasih”. jawab Dayu. “Beneran ini, ya udah tante balik dulu ya..”. sapaan bunda Gendis.

Tak terasa ada sepeda motor yang berhenti di depan Dayu. “Day, bareng aku aja yukk, hujan nih loh, pasti kamu dicariin mama kamu”. Begitulah sepenggal kalimat yang terucap dari bibir manis seorang laki-laki pemilik motor itu. “Eh Dev, emang enggak ngerepotin kamu”. “Tenang aja Day, enggak kok ayok naik”.
“Kamu tau nggak Dev, aku itu paling suka kalo ujan turun, tapi aku nggak suka kalo ujannya barengan sama petir”. cakap Dayu mencairkan suasana di atas motor Dev. “Kamu sama kayak aku Day, jadi kalo ada ujan, pasti aku ngulur-ngulur waktu biar bisa main air ujan, jadi boleh nggak kalo kita jalanin motornya pelan-pelan aja. Biar kita bisa nikmatin ujan barengan”. terus terang Abrisam Dev Reinand, atau Dev. “Ehm, oke boleh”.

Di tengah perjalanan mereka berdua, “Dev, aku mulai kedinginan nih, dingin Dev”. kata Dayu. Sambil menepikan motornya, Dev berkata “Eh, pake ini aja”. dengan menyodorkan jaketnya. Karna tak tega melihat Dayu menggigil, maka Dev mengenakan jaketnya tadi ke tubuh Dayu. “Ma-ka-sih Dev”. ucap Dayu dengan terbata-bata.

“tok. tok. tok, Ma Dayu pulang”. “Kok sampek sore Day?”. “Iya ma, tadi ujan, jadi aku hujan hujanan dulu”. jawab Dayu. “Iya ini kebanyakan ujan-ujanan, jadinya badan kamu panas”. seraya memegang kening Dayu. “Biar udah ma, bentaran lagi juga pasti turun panasnya”. bantah Dayu

Sang mentari menampakkan wujudnya pada semua umat manusia. Sinarnya yang kuning keemasan menghalangi pandanganku yang tertuju padanya. “Day, sini!”. seru Gendis meminta Dayu untuk menghampirinya. “Kenapa kamu Day? kok cemberut mulu? ada masalah? cerita aja aku kan sahabatmu”. tanya Gendis. “Ehm, Dis ayahku mau dipindah tugaskan ke kota laen, jadi otomatis aku juga ikut pindah”. cerita Dayu. “Gimana yah? eh kamu gak punya saudara yang tinggal deket-deket sini? kalo ada kamu ikut aja sama saudaramu itu”.

“Nak, ayo ikut ayah ke ruang Kepsek, ayah mau ngurusin surat pindahmu”. pinta ayah Dayu. “Dis aku pamit, tolong tetep jaga persahabatan kita, jangan sampai lupa sama aku ya”. “I-ya Day, kamu juga hati-hati di sana, jaga diri baik-baik”. tambah Gendis sambil menangis tersedu, melepas kepergian sahabat tercintanya itu.

Gendis tak mengira bahwa quality timenya kemarin adalah waktu terakhir pertemuan mereka. Gendis sangat menyayangkan kepergian Dayu itu. “Dis Gendis!!!”. teriak orang di ujung koridor yang membuyarkan lamunan Gendis. “Iya ada apa Dev?”. ternyata orang itu adalah Dev boy friendnya Dayu. “Aku boleh minta tolong, tolong panggilin Dayu dong…”. rengek Dev. “Loh emang kamu nggak tau, Dayu kan mau pindah sekolah, sekarang dia lagi di ruang Kepsek tuhh, ngurusin pindahnya”.

Dev adalah cowok cool, pujaan wanita di SMA 1 RAYA AGUNG. Karena dia ganteng, dan udah lagi, dia adalah kapten basket di sekolahnya. Beruntung seorang Dayu dicintai oleh seorang Dev. Dev mencintai Dayu sudah lama, dia tidak pernah mengungkapkan perasaanya kepada Dayu. Dev cerita semuanya kepada Gendis Karena Dev beranggapan bahwa Gendislah yang mengerti isi hati sahabatnya itu.

Hati Dev terluluh lantakkan, karena ketika ia menyusul ke ruang kepsek, Dayu sudah terlanjur pergi. Jadi Dev hanya bisa diam dan memendam perasaanya kepada Dayu.

Cerpen Karangan: Ich Nur Riza Kharisma Nabillah
Facebook: Ich

Cerpen Penantian Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penyesalan Terbesarku

Oleh:
Perkenalkan namaku Andi, umurku 19 tahun. Aku adalah seorang pekerja. Dan saat ini aku sedang bekerja di sebuah toko di Surabaya. Keseharianku adalah menyapa Pelanggan dan membantu pelanggan untuk

7 Tahun

Oleh:
“Sky! Ayo bangun!” teriak mamaku “Iya udah ma…” Namaku Sky. Umurku 15 tahun. Hidupku… Ya normal-normal saja seperti anak-anak yang lain. Di sekolah, aku langsung disambut oleh sahabatku, Violeta.

Permasalahan Yang Sepele

Oleh:
Reni, Evi dan Sasya adalah 3 sahabat yang sangat akur. Suatu hari di sekolah Evi meninggalkan Reni dan Sasya sendirian Reni merasa itu hal yang wajar namun Sasya berfikir

Kado Untuk Eno

Oleh:
Adzan Subuh belum berkumandang tapi Abah sepertinya tak bisa membiarkan cucunya tidur lebih lama. Padahal aku baru saja tidur satu jam yang lalu karena harus mengerjakan tugas kuliah Medina.

Di Bawah Langit Agustus (Part 1)

Oleh:
Entah bagaimana aku harus memulai, sebagai seorang perempuan yang menyebut dirinya sebagai pengagum rahasia, sampai akhirnya saat itu tiba… Jatuh cinta untuk sekian kalinya pada orang yang sama, membuat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *