Penyesalan Seorang Sahabat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 8 October 2015

“Vania, nih ada surat buat kamu” sapa Olin sambil tersenyum kepada Vania.
“Makash, btw dari siapa sih?” Tanya Vania.
“dari Ricko, Kakak kelas yang super imut itu loh.”
“Tumben Ricko ngirim surat?” batin Vania.
“ya udah deh, ke kelas aja yuk..” ajak Olin, mereka berdua pun berjalan ke kelas.

“Vania, PR matematika punya kamu sudah selesai belum?” Tanya Olin, tetapi Vania tidak menyahut. “Vania? Vania?!”
“eh iya, apa siapa?” Tanya Vania gelagapan.
“Cie, segitunya cuma baru dapat surat aja kayak gitu, apalagi ditembak ya?” Kata Olin sambil mendengus kesal.
“Apaan sih, tadi kamu tanya apa?”
“matematikanya udah belum?”
“udah dong, kenapa? Mau nyontek ya?”
“hehehe, iya”
“dasar, nih bukunya aku mau ke toilet dulu”

Sesampainya di toilet, “isinya apaan ya? Baca ah.”
“Hay Vania, nanti waktu jam istirahat kamu ke kantin ya, aku tunggu. Harus datang ’cause ini sangat penting. Jam istirahat pertama ya, kamu sendirian ini masalah kita berdua. Oke? Dan aku ngirim surat cause gak punya nomor hp-mu, sorry ya.
From: Ricko”

“huft, aku kira surat pernyataan cinta. Emang dia nggak ngeh apa ya kalau aku dari dulu suka sama dia. Tapi nggak apa-apa, mungkin nanti dia mau nembak aku” ujar Vania kePD-an.
“Vania, lama amat!” suara Olin mengagetkan Vania.
“eh kamu, ngagetin aja sih?”
“ya sorry, habis kamu ke toilet lama banget”
“hehehe, ke kelas aja yuk?” ajak Vania.
“jangan, percuma Bu Vina guru matematika gak berangkat, mending ke kantin yuk terus ke perpustakaan”
“siiip!”

Tet! Tet! Bel berbunyi tanda istirahat, Vania pun teringat akan surat Ricko. Vania pun bergegas menuju kantin tanpa sepengetahuan Olin.
“Vania, sini!” kata Ricko semari melambaikan tangan.
“oke,” Vania berlari menemui Ricko.
“ada apa Rick?”
“hm, nanti malam ada acara gak?”
“kayaknya enggak? Emang kenapa?” tanya Vania dengan jantung yang berdebar-debar.
“enggak, cuma mau ngajak main aja. Kalau gak ada acara aku jemput jam 7 ya?”
“oke, boleh minta nomor hp-mu?”
“boleh, biar gampang komunikasinya” mereka pun bertukar nomor telepon.

Ting! Tong!
“vania, itu ada temenmu!” teriak Mama dari lantai bawah.
“iya ma, nih lagi di tangga” Tak lama kemudian ia berpamitan kepada orangtuanya.
“ma, pa, aku pergi dulu ya?” pamit Vania.
“kamu mau ngajak ke mana sih?”
“rahasia dong,” Ternyata Ricko mengajak Vania makan malam di sebuah cafe.

Setelah selesai makan malam, Ricko dan Vania pergi ke sebuah taman, taman tersebut sangat indah. Tiba-tiba Ricko mengeluarkan bunga mawar dan berkata.
“Vania, aku sudah lama mencintaimu, maukah kamu menjadi kekasihku?” ujarnya sambil berlutut, pipi Vania memerah karena malu dan dia berkata.
“maaf, aku tak bisa menolakmu” jawab Vania yang disambut dengan pelukan hangat dari Ricko.

Sejak saat itulah hubungan Vania dan Olin mulai meretak, Vania pun tak tahu mengapa Olin semakin hari semakin menghindari Vania. Sudah dua bulan Olin menjauh dan menghindari Vania. Karena dia ingin tahu mengapa Olin menjauh, dia pun mengajak Ricko untuk ke rumah Olin tetapi dia tidak mau dengan alasan sibuk. Karena Ricko sibuk maka dia pergi sendiri. Sesampainya di rumah Olin, ternyata Olin tidak ada di rumah. Dia memutuskan untuk pergi ke taman di mana dulu ia ditembak Ricko.

Dia terkejut karena kaget setelah melihat apa yang ada di depannya. Ternyata di taman tersebut ia melihat Ricko dengan Olin berpelukan mesra sekali. Ia sangat kecewa, tetapi ia mendengar sebuah kalimat yang sangat membuat hatinya sangat sakit.
“Tenang Olin, secepatnya aku akan memutuskan Vania. Tetapi sebelum memutuskannya aku akan membuat alasan kalau aku ingin fokus sekolah. Okey honey?” Vania melangkahkan kaki ke mereka berdua.
“kamu tak perlu bersusah payah untuk memutuskanmu, karena aku yang akan memutuskanmu, dan untuk kamu Olin semoga kamu menjadi yang terbaik untuk Ricko” ucap Vania sambil berderai air mata.

Belum habis mereka terkejut Vania pingsan. Mereka berdua terkejut dan membawa Vania ke Rumah Sakit.
“Tante emang Vania sakit apa?” tanya Olin kepada Mama Vania sambil menangis.
“Vania sakit leukemia stadium akhir tetapi ia tidak mau memberitahukanmu dan pacarnya karena dia takut kalian khawatir. Dan dia divonis dokter hidup sampai hari ini” jawab Mama Vania dengan hati yang sedih.

Dokter ke luar dari ruangan Vania dengan muka sedih dan berkata.
“Kami sudah berusaha sekuat mungkin tapi Tuhan berkehendak lain” Mama Vania, Olin dan Ricko menangis. Papa Vania yang baru datang pun bertanya.
“mengapa kalian menangis?”
“Vania meninggal pa,” Papa Vania berusaha menenangkan mereka.
“siapa yang bernama Olin dan Ricko? ini ada surat sebelum Vania meninggal” tanya dokter sambil memberikan surat. Mereka berdua membaca surat tersebut.

To: Ricko and Olin,
“Mungin di saat kalian membaca surat ini aku telah tiada. Tetapi tetap ingat lah aku di hati kalian. Olin, aku ingin kamu jangan khianati Ricko ya, jaga dia baik baik. Dan untuk Ricko aku minta kamu menyayangi Olin sepenuh hatimu, jaga sahabatku dengan baik jangan sakiti dia seperti kamu menyakiti aku. Dan yang perlu kalian tahu, aku sudah memaafkan kalian. Untuk Papa dan Mama jaga diri baik-baik ya, aku menyayangi kalian.”

Mereka berempat manangis tersedu-sedu. Olin sangat menyesal karena telah menyakiti sahabat sendiri. Ricko merasa sangat bersalah karena telah menyia-nyiakan kekasih yang sangat baik.
“maafkan aku Vania, aku sangat menyesal telah melakukan ini padamu.” Gumam Olin di tengah-tengah tangisannya.

Cerpen Karangan: Eunike Catherine Lydiastuti
Facebook: Caty CeyNiezz
Nama: Eunike Catherine Lydiastuti
TTL: Pekalongan, 19 September 2001
Sekolah: SMP 2 Talun
Kelas: VII

Cerpen Penyesalan Seorang Sahabat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Life

Oleh:
Pada suatu siang yang cerah, ada seorang gadis cantik yang bernama alika pevita dia adalah, seorang pecinta komik dan novel. saat itu ia sedang berada di dalam toko buku

Semua Bintang

Oleh:
Beberapa anak berlarian menuju sebuah lapangan yang cukup luas. “Lihaaaaatt..! Bintang-bintang di langit tidak mau menemui kita hari ini,” ujar seorang anak yang bernama Hafis. “Siapa? Ada yang bersikap

Sapu Tangan Merah

Oleh:
Pagi hari yang cerah ini, serasa begitu indah disambut dengan embun pagi yang menetes pelan–pelan di dedaunan. Hari ini serasa sejuk dengan angin yang berhembus pelan menghampiriku. Lizzi memulai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *