Perahu Kecil

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Daerah, Cerpen Perpisahan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 7 March 2016

Syah Kecil berlari menuju sebuah dermaga yang tak beratap. Hari masih pagi. Hujan malam tadi, berhenti mengguyur sejak aurora fajar mulai terang. Angin bertiup halus dan sedikit lembut, namun hawa sejuknya menebar hingga hampir menusuk tulang. Di laut, air sudah surut sejak hujan mulai reda. Menyisakan riaknya yang sedikit bergemericik. Menuruni sebuah anak tangga di samping pertengahan dermaga, Syah Kecil merampas tali perahu yang diikat di sebuah pancang yang agak miring. Melihat genangan air dari langit yang menyenak kawah perahu, dengan gesitnya Syah Kecil menyambar timba dan menguras air perahu yang hampir menenggelamkan itu.

Cukup lama menyelesaikannya. Hanya tersisa sedikit lagi, air perahu sudah mulai kering. Sambil menyeka keringat yang membanjiri seluruh badan, di ujung pantai di kejauhan sana, Syah Kecil terpandang seorang anak kecil sedang berlari menuju ke laut. Sedang apa dia, gumam Syah Kecil mengakhiri pekerjaannya. Berjalan mendekati seorang anak perempuan sebayanya yang sedang mematung di bibir pantai, Syah Kecil mempercepat langkahnya. Ketika hampir dekat, langkahnya diperlambat. Menyadari kehadirannya, gadis kecil itu pun menolehnya.

“Sedang ape awak ‘kat sini sorang diri?” tanya Syah Kecil keheranan penuh hati-hati. Ia belum pernah melihat gadis kecil itu sebelumnya. Mungkin pindahan baru.
“Maaf. Aku tak pernah tengok awak sebelumnye. Awak.. budak baru, ye? Kenalkan, aku Syah,” lanjut Syah Kecil dengan dialek khas kampungnya. Ia mencoba menunjukkan keramahannya dengan mengulurkan tangan dan mencoba tersenyum. Cukup lama gadis kecil itu membisu. Selama itu pula, tangan Syah Kecil tak dijabatnya. Hingga Syah Kecil menurunkan tangan kanannya perlahan, barulah gadis kecil itu tersenyum dan berani mengeluarkan suaranya.

“Namaku Umi. Umi Kalsum.” Sebuah nama yang indah dan elok untuk didengar, seperti empunya.

Setelah berta’aruf, perlahan Umi Kecil mulai menceritakan kehadirannya di tempat baru itu. Berasal dari kota bersama orangtuanya, kedatangannya hanya melakukan kunjungan ke tempat pamannya, di mana kampung Syah Kecil kini tinggal. Berlari ke pantai seorang diri, pagi ini ternyata Umi Kecil pergi tanpa sepengetahuan orangtuanya. Di sini, ia hanya ingin melihat laut dan mentari terbit. Merasakan buaian terpaan angin yang mengalun, juga memasrahkan diri tenggelam dalam panorama alami, di samping melelapkan hiruk pikuk suasana kota yang menggerahkan.

Namun, keinginan itu tak terpenuhi secara sempurna. Asanya hanya terkabul sebagian. Ia hanya bisa memandang laut, namun tidak dengan mentari terbit. Sebab, dari pagi menjelang siang, mentari harapannya tak kunjung menampakkan diri. Mungkin akibat hujan malam tadi yang membawa ke pagi hari. Jadi, hamparan sisa awan terus menghalangi sang mentari yang ingin tampil cerah. Cukup lama dua anak kecil itu berdiri di bibir pantai. Sambil memungut batu-batu kerdil dan melemparkannya ke tengah air yang beriak.

“Itu perahumu, ya?” Umi Kecil menunjuk sebuah perahu kecil yang terdampar di atas pasir pantai yang landai, terletak berseberangan di sebelah dermaga.
Belum sempat Syah Kecil melontar kata, “Yuk, kita ke sana!” Ajak Umi Kecil yang langsung berlari sembari menyeret lengan Syah Kecil tanpa basa-basi.
“Eits, tu…tunggu kejap. Awak nak kemane?” Tak mampu menahannya, Syah Kecil terpaksa menuruti kemauannya.

Setibanya di bawah dermaga yang beberapa tongkatnya ditumbuhi terumbu, langkah keduanya terhenti. Umi Kecil menyusuri sendirian meninggalkan Syah Kecil yang hanya berdiri termangu, heran melihat tingkah gadis itu. Hasrat apalagi yang ingin diungkapkannya, batin Syah Kecil tak mengerti. Ketika mendekati sebuah perahu yang telah lama terdampar itu, gadis kecil berparas cantik itu langsung menaikinya. “Syah, ayo naik. Tunggu apa lagi. Di sana ombak sangat besar. Nanti kamu tenggelam,” teriaknya melambai Syah Kecil yang masih berdiri termangu tak jauh dari gadis kecil itu bermain perahu.

Ombak? Ombak dari mana? Di laut, air hanya bergemericik. Tidak ada gelombang besar pun menghantam pantai. Jangankan untuk menghanyutkan, menerpa pasir halus di garis pantai pun seakan tak bergeming, apalagi untuk menyeret tubuh Syah Kecil dan melemaskannya. Itu yang membuat Syah Kecil semakin bingung. Padahal, Syah Kecil hanya berdiri di atas pasir landai. Bukan sedang hanyut terseret gelombang. Jadi, bagaimana bisa tenggelam? Syah Kecil membatin keheranan, seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.

“Eh, awas, Syah! Itu… ada buaya di belakangmu. Ayo, cepat naik!”
“Buaye? Mane buayenye?” Memandang di sekitarnya, seekor pun tidak terlihat buaya di situ. Syah Kecil bertambah heran dan bingung jadinya.
“Syah. Ayo… ke sini. Cepat naik!” Lagi-lagi Umi Kecil berteriak memanggil Syah Kecil yang menatapnya kebingungan.

Matanya dipicingkan dengan dahi berkerut. Lama ia mencerna, apa yang diinginkan gadis kecil itu sebenarnya. Setelah berusaha menguras pikirannya, akhirnya Syah Kecil mampu memecahkannya sendiri. Maksud gadis itu, ternyata ia ingin mengajak Syah Kecil bermain dengannya. Ya, bermain di atas perahu kecil. “Baeklah. Aku akan naik ke sampan itu. Tapi, tolong bantu aku. Buaye ini mengejarku. Aku dah tak tahan lagi ni.” Sambil menyeret-nyeret kakinya di atas pasir, dengan tergesanya Syah Kecil menaiki perahu kecil yang telah dinaiki Umi.

“Seharusnya, kamu sudah mati dari tadi, ditelan ombak dan dimakan buaya. Karena tidak mendengarkan teriakanku,” sungut Umi Kecil sembari mencoba mengayuh perahu perlahan-lahan. Syah Kecil hanya berbaring terkapar di atas lantai perahu dengan terengah. Setelah bangun perlahan dengan kedua tangannya menopang ke belakang,
“Kalau cam tu, sekarang ni aku ialah hantu. Hantu yang akan menakuti Umi. Haaa…” sergap Syah Kecil dengan kedua tangannya direntangkan tinggi-tinggi, untuk menakutkan Umi Kecil. Gadis kecil dari kota itu pun menjerit dan berlari ke luar dari perahu, ketika Syah Kecil berusaha mengejarnya. Berhenti di bawah pangkal dermaga dengan napas terengah, Umi Kecil meminta Syah Kecil berhenti menakutinya.

“Syah, berhenti. Berhenti menjadi hantu. Kita main yang lain aja, yuk,” pintanya.
“Boleh. Tapi awak mesti naik ke sampan tu lagi. Aku punye permainan laen. Cam mane?”
“Hmm…. Baiklah.” Kedua anak kecil itu pun kembali menaiki perahu kecil yang masih tidak bergeming dari tempatnya di atas pasir pantai.
“Sekarang, bepegang yang kuat. Kite akan berlayar ke seberang lautan, kata Syah Kecil dengan semangatnya. Mengambil tempat duduk di belakang, dengan perlahan ia mengayuh perahu yang mulai melaju mengarungi lautan impian mereka.

Cukup lama seperti itu, “Hei, lihat! Di sana ada pulau kecil. Ayo, kita ke sana,” ajak Umi Kecil sembari menunjuk ke tengah lautan. “Baeklah. Kite akan ke pulau itu. Aku pun nak menjaring ikan di sane.” Perahu pun melaju melawan angin dan gelombang. Menuju sebuah pulau harapan dalam impian dua anak kecil yang terlihat erat dalam waktu singkat. “Kite dah sampai, Umi. Tapi, aku nak merentang jaring dulu. Nampaknye, disini banyak ikannye.” Setelah meletakkan pengayuh di lantai perahu, Syah Kecil mengambil jaring hayalannya dan merentangkannya di tengah lautan. Tak menunggu lebih lama, Syah Kecil kembali membangkitnya perlahan-lahan. Juga dibantu Umi Kecil.

Hari sudah lewat tengah hari. Air pasang berangsur naik menjajahi perbatasan daratan yang tak asing baginya. Dari kejauhan, gulungan ombak terlihat memutih dan menderu yang berakhir dan memecah pantai. Angin siang mulai berhembus kencang. Menerpa nyiur yang melambai, yang seakan memadukan nyanyian alam di tepi pantai. Terik panas, sejak tadi telah menyengat tubuh kedua anak kecil yang tidak teringat untuk pulang. Mereka masih asyik bermain perahu kecil dengan khayalannya. Bagaikan elang laut dan camar putih yang berkelana, mereka tak merasakannya perih dan gerah. Sebab, keakraban yang begitu cepat berlangsung antar keduanya, mampu mengalahkan semua itu.

“Umi, ternyate ikan ‘kat sini memang cukup banyak. Kite tak kan kebuluran untuk lebih lame.”
“Kebuluran?” tanya Umi Kecil tidak mengerti.
“Iye. Kebuluran. Kite tak akan lapar sampai bile-bile,” jawab Syah Kecil menjelaskan.
Tapi kenyataan, perut mereka telah bermusik sejak tadi. Para cacing di dalamnya, telah mengadakan demo besar-besaran dan berkali-kali berteriak memanggil makanan yang tak kunjung datang. Seketika itu juga, keduanya sadar bahwa saat itu mereka memang benar-benar merasa lapar.

Sambil meremas perut. “Syah, apa kamu tidak lapar?” tanya Umi suatu ketika.
“Eh, iye. Aku juge lapar.”
“Kalau begitu, aku harus pulang, Syah. Orangtuaku pasti mencariku.” Dengan tergesa-gesa, Umi Kecil melangkah ke luar dari perahu. Berlari meninggalkan Syah Kecil yang hanya berdiri sendirian di atas perahu kecil, bahtera ilusi mereka. Menatap gadis kecil teman barunya yang berlari kian menjauh itu, Syah Kecil merasa seperti kehilangan sesuatu.

“Umi…. Nanti awak ke sini lagi tak?” teriak Syah Kecil memanggilnya.
“Aku.. aku tidak tahu, Syah. Besok, aku harus kembali ke kota,” jawab Umi Kecil yang mulai menjauh. Sesekali, ia membalikkan badan. Melambai ke arah Syah Kecil yang masih berdiri termangu, sedih menyaksikan kepergian gadis kota itu. Akankah dia kembali lagi? Semoga itu bukan lambaiannya yang terakhir, harap Syah Kecil dalam hati.

Angin semakin menderu kencang. Pepohonan yang menari, mendesau membebas diri dari kebekuan belenggu kehidupan suri. Ombak putih mengganas menyapu pantai, melampiaskan kekesalannya pada batas-batas alam yang menepi. Leraian nyanyian elang dan camar putih yang pilu sayu, membentuk simfoni alam yang mengalun. Mengukir syair dalam sajak-sajak kegundahan. Membawanya pada puing-puing rasa dan asa. Hingga pada akhirnya hening. Menjelma seperti semula, lahir tanpa noda dan murka.

20 Tahun Kemudian…
Sejak pertemuanku dengan seorang gadis kecil dari kota dua puluh tahun silam, hingga kini aku tidak pernah lagi melihatnya. Seorang Umi Kecil yang ingin melihat matahari terbit ketika di pantai, namun harapannya tak kesampaian saat awan tebal menutupi mentari impiannya hingga lewat tengah hari. Hanya sebuah perahu kecil sebagai pengganti mentarinya. Di umurnya yang sekarang, mungkin Umi Kecil telah tumbuh dewasa, sama sepertiku. Juga, semakin cantik dari aku memandangnya dulu. Bahkan mungkin, lebih berani dariku dalam mengarungi lautan. Lautan yang tak lagi seperti dalam khayalannya.

Sebenarnya, sejak perpisahan itu, aku mengharapkan pertemuan yang berkelanjutan. Mungkin, memang takdirnya aku seperti ini. Ya, seperti perahu yang tak berhaluan. Tapi, bukan perpisahan yang ku sesali. Hanya saja, pertemuanlah yang tidak terjadi. Dan sekarang, aku tidak tahu sampai kapan mentari akan terus bersembunyi di balik kabut tebal penghalang diri. Ku rasa hanya waktu mampu menjawab itu. Tapi kau tahu Umi, Syah Kecil yang dulunya pernah dikejar buaya khayalanmu, akan senantiasa menanti kehadiranmu di pantai pertemuan kita. Pantai di mana kau dan aku merajut asa dalam khayalan yang tak sempurna. Pantai bisu yang menuturkan bentangan kisah singkat dua insan kecil yang dulunya tertawa ria mencurahkan segala rasa.

Dan kau tahu Umi, perahu kecil yang kita naiki dulu, kini telah lebur menjadi tanah. Rapuh tak berbekas sama sekali. Kita harus mencari perahu lain sebagai penggantinya. Itu pun kalau kau kembali di sini. Namun, harapanku hanyalah mentari yang tak pernah menampakkan diri. Mentari yang tak lagi menerangi hari dengan pancaran cahaya ilusi. Dan perahu kecil, hanyalah tampilan kenangan indah yang tak akan terulang kembali. Kenangan yang selamanya terukir pada haluan memori tanpa tepi. Serta, kenangan dalam penantian panjang yang tak pernah berakhir pasti, sampai kapan pun. Mungkin.

Cerpen Karangan: Syahrizan Ishaq
Blog: syahrezacapzs.mywapblog.com
Facebook: http://facebook.com/syahreza capricornieousz

Cerpen Perahu Kecil merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kehilangan Cinta Dan Sahabat

Oleh:
3 tahun yang lalu, tepatnya saat aku masih SMP kelas 9. Aku mempunyai seorang teman cowok, namanya Yoga. Kita berteman dari SD. Karena pertemanan kita yang terjalin cukup lama,

Seindah Jalan Cinta-Nya

Oleh:
Senja mulai pergi menjemput malam. Langit di ujung cakrawala kini tak lagi biru, ia telah memancarkan polesan warna jingga senja dalam balutan gradasi warna yang begitu indah. Paduan warna

Kenangan Yang Terakhir

Oleh:
Sinar matahari telah menyinari kamarku dan aku terbangun dari tidur lelapku, ternyata hari sudah pagi waktu menunjukkan pukul 05.25 aku langsung bergegas untuk mandi karena aku akan berangkat ke

Ketika Sahabat Menjadi Penghianat

Oleh:
Pagi yang cerah aku terbangun dari tidurku, setelah aku mendengar suara teriakan bunda. Ooohh iya namaku Risla Alma Gerald panggil aja Risla. Hari ini pertama kali aku masuk SMP

Friendship or Love (Part 2)

Oleh:
Setelah mereka berdua selesai merapihkan berkas-berkas yang berserakan di lantai, wanita itu terdiam sejenak dan menghela napas seolah sedang menenangkan diri. “Kamu gak papa?” tanya Keno dengan penuh perhatian.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *