Perancis dan Menara Eiffel Saksi Persahabatan Kami

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Perpisahan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 11 May 2013

Hai, perkenalkan namaku Pradita Ayuningtyas, aku juga biasa disapa dengan Ayu, Dita, Ita terserah kamu saja mau memanggil ku apa, hehehe… tapi kebanyakan orang memanggil ku dengan Dita, oh iya, hampir lupa aku juga mempunyai teman bernama Septyana Wulandari, dia sangat cantik dan baik hati, hidungnya mancung dan kulitnya kuning langsat. Aku dan Wulan bersahabat baik sejak kami masuk sekolah asrama, bahkan kami 1 kamar.

Suatu hari, saat terik matahari mulai membakar tubuh ku, aku yang berada di lapangan untuk melaksanakan hukuman karena tidak membersihkan kamar dan tidak mengerjakan PR. Hampir 30 menit aku di jemur di bawah terik matahari, haus… batinku dalam hati, tiba-tiba Wulan lari mendekatiku dengan membawa 2 plastik es. “Haus ya?. “iya” jawabu, aku pun hanya bisa mengusap keringat yang mengucur tanpa bergerak ke sana kemari, apalagi untuk membeli es di kantin.
Wulan menengok kepala ke kanan ke kiri, setelah di rasa cukup aman, ia memberikan ku air es “ini es buat kamu, cepatlah di minum” “tapi kalau ketahuan bagaimana?” “maka dari itu cepatlah di minum” “baiklah” aku meneguk air es yang Wulan berikan padaku, huuhh segar rasanya “terima kasih ya” ucapku pada Wulan, dia pun tersenyum sambil meninggalkan ku, oh tapi ternyata tidak! Dia duduk di bangku yang ada di lapangan menunggui hukuman ku selesai sampai bel masuk setelah istirahat usai.

Hari ini adalah hari yang menegangkan, ya ujian! Aku sedang melaksanakan ujian kenaikan kelas. Dag dig dug menunggu hasil, tetapi ternyata hasilnya cukup memuaskan, alhamdulilah.. o iya sehabis ujian, aku libur, jadi bisa bermain bersama Wulan sepuasnya deh! Soal pulang kampung, aku enggak ada niat buat pulang kampung, karena kata ayah, mereka yang akan menjengukku ke asrama. Jadi rasa kangen ku sudah terobati dengan kedatangan mereka, lagi pula jika aku pulang kampung pasti hanya ada Bi Darmi di rumah, sedangkan ayah dan ibu sedang tugas di luar negeri dan mengajak adikku Micha.

Seusai libuan kenaikan kelas, aku masuk kembali ke sekolah seperti biasa, aku dan Wulan sudah kelas 2 SMP sekarang. “hei girl, ngapain ngelamun gitu? Kenapa? Libur nya kurang ya?” tanyaku sambil mendekati Wulan yang berada di bangku taman sekolah. “enggak kok, engga apa-apa” jawabnya halus, dia pun hanya tersenyum sambil menjawab pertanyaan ku, “aneh” pikirku.

Sudah 2 hari ini Wulan hobi melamun, entah apa yang dilamunkan nya, yang pasti ini nggak beres! Aku memutuskan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Wulan akhir-akhir ini. Saat di kamar asrama, kuberanikan untuk bertanya pada Wulan dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Tapi hasilnya? Nihil! Dia enggak mau cerita padaku, dia hanya menjawab dengan senyum dan anggukan. Baiklah, aku yang akan mencari tahu sendiri.

Lagi dan lagi aku melihat Wulan melamun untuk kesekian kalinya, tapi aku enggak mau Tanya lagi, pasti nanti hanya di respon dengan anggukan atau senyumannya. Sementara Wulan berada di taman, aku memutuskan untuk masuk ke kamar ku dan wulan. Astaga! Ada apa ini? Kenapa semua barang-barang Wulan ada di kopernya? Dia mau pergi ke mana? Beribu pertanyaan terlintas di pikiranku, tetapi aku tak tau apa-apa.

Hei ada surat di sela-sela baju Wulan, surat itu kelihatannya sudah di baca berkali-kali oleh Wulan, karena kertasnya sudah lecek. Ternyata itu surat dari ayah ibu Wulan yang mengatakan bahwa Wulan… “harus pindah ke Perancis?” seketika air mataku meleleh, jatuh dari kedua mataku ini, mungkin Wulan tidak ingin pergi dan tidak ingin aku kecewa, itu sebabnya dia tak cerita padaku soal hal ini. Aku tau Wulan adalah orang yang benci perpisahan, tapi ini harus dilakukan demi kebaikannya.
aku melanjutkan membaca isi surat itu secara penuh:

Dear Wulan sayang…
ayah ingin memberikan kabar bahagia untukmu.
tanggal 12 Juni nanti, ayah akan menjemputmu dari asrama, karena kita akan pindah ke Perancis dan menetap di sana. Ayah tau mungkin sulit bagimu untuk meninggalkan teman-teman asramamu di sana. Tapi,kau harus tetap ikut. karena ayah juga udah mendaftarkan mu di salah satu sekolah di perancis.
Love
ayah dan ibu.

Jadi ini saatnya aku berpisah, karena tepat, sekarang adalah tanggal 12 Juni di mana Wulan akan di jemput oleh ayah dan ibunya pulang. Setelah selesai membaca surat, saat aku melipat surat itu kembali, Wulan masuk kamar dan… “Ta.. ka.. kamu mem.. membaca surat itt..uu?” astaga aku dipergoki oleh Wulan! “maaf Lan.. tapi aku Cuma pengin tau, ada apa sebenarnya dan ternyata..” belum sempat aku melanjutkan kata-kataku, wulan sudah berlari mendekatiku dan memelukku “perpisahan bukan akhir dari segalanya bukan?” ujarku sambil membalas pelukan Wulan, dia sesenggukan menangis. “aku tidak mau pisah dengamu, kau sahabat terbaikku, sungguh!” mendengar kata-kata Wulan, aku menangis lagi.

Tinn..tinn.. di luar jendela aku melihat seboah mobil sedan coklat parkir di halaman asrama, rupanya itu mobil kedua orang tua Wulan, aku dan Wulan menangis kembali, entah apa yang membuat ku begitu tak ingin kehilangan sosok Wulan, dia bukan hanya sahabatku, tetapi dia adalah keluarga ku yang selalu ada untukku, kapanpun.

Dengan membawa 2 koper besar milik Wulan, aku menemani Wulan menuruni tangga dan menuju koridor luar untuk bertemu dengan kepala asrama, sekaligus mengucapkan selamat tinggal pada Wulan. Sebelum wulan pergi,dia memberikan ku sebuah liontin yang terukir huruf ‘D’ dan huruf ‘W’ yang bererti Wulan dan Dita. ”baik-baik ya di sana” pesan ku pada Wulan, “pasti, sampai jumpa, kita selalu menjadi sahabat, kapanpun, dan dimanapun” ujar Wulan padaku sebelum dia pergi, aku pun hanya mengangguk dan tersenyum.

Aku bisa melihat mobil Wulan mulai melaju, dan lambaian tangan nya selalu ada di pandangan, hingga mobil yang membawanya sudah jauh dan hilang dari pandangan. Aku kembali ke kamar, melihat seisi kamar yang dulu di isi dengan 2 anak perempun, tetapi sekarang hanya tersisa 1 orang saja di kamar ini. Begitu banyak kenangan ku bersama Wulan, sedih rasanya…

8 tahun berlalu, sosok Wulan masih teringat olehku. Dan kini aku sudah beranjak dewasa, melakukan aktifitas ku di Negara baru yangh dulu pernah membuat ku menangis, ya Perancis! Sekarang aku tinggal di perancis untuk kuliah, aku sangat bahagia karena aku bisa menemukan Wulan lagi di sini, aku akan mencarinya. Bahkan, hingga ke pelosok negeri pun akan kucari.

Pencarian dimulai tanggal 15 April, aku berusaha menanyakan keberadaan sahabatku yang kutunjukkan pada semua orang, ya siapa lagi kalau buka foto Wulan. Aku mulai lelah, dan kuputuskan untu berhenti mencari dan akan dilanjutkan keesokan harinya.

“Perancis itu luas, Nak.” Kata seorang bapak tiba-tiba, sepertinya beliau memperhatikan ku dari tadi, berjalan kesana-kemari mencari kawan yang terpisah selama 8 tahun lamanya. “bapak orang Indonesia?” tanyaku kemudian, beliau hanya mengangguk, lalu berpamitan padaku.

Sudah hampir 1 bulan lebih aku mencari Wulan di Negara ini, tidak menghasilkan sama sekali! Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menyerah. Malam hari ini aku putuskan untuk melihat menara Eiffel yang terkenal di dunia itu, melamun, sendiri. Saat aku sedang menikmati kopi yang barusan ku beli di kedai kopi, seorang perempuan berambut hitam panjang, dengan jaket bulunya yang berwarna coklat, dan mata yang ramah. Ia duduk disampingku, sekilas seperti Wulan, pikirku.

Entah apa yang membuat ku keceplosan, tetapi saat aku berkata “Wulan…?” tanyaku memastikan “Dii..taaa…” dia langsung mengenaliku, walaupun sudah 8 tahu lamanya kami berpisah, Wulan masih sama seperti dulu, tidak berubah dan tetap tidak sombong, dia juga tak lupa sosok diriku. Kami berpelukan, lama, melepas rindu yang tertunda bersama sahabat selama 8 tahun lamanya, air mata bahagia mulai mengucur di mata ku dan juga Wulan.

Tepat tanggal 12 Juni aku kehilangan sosok sahabat ku, tetapi tanggal 12 Juni juga lah aku di pertemukan dengan Wulan kembali. di sini, ya di bawah Menara Eiffel, saksi persahabatan kami.

Cerpen Karangan: Salsabila Prameswari
Facebook: sal sabila prameswari
menyukai fiksi/non fiksi inggris | tolerance | a writer

Cerpen Perancis dan Menara Eiffel Saksi Persahabatan Kami merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senja Terakhir

Oleh:
Namaku Vanessa Jessica Greysce biasa dipanggil Jessace (baca: Jesech) aku punya 3 sahabat di rumah, bernama Vinka, Regina dan Emma, ketiga temanku itu sangatlah baik dan tak lupa sama

Sahabat Karibku

Oleh:
Nama aku caline. Aku punya sahabat yang sangat dekat denganku, panggil saja viar. Viar dan aku bersahabat dari kecil. Kami bersekolah di sekolah yang sama, sehingga kami semakin dekat.

Aku Tidak Punya Teman

Oleh:
Jam menunjukan pukul 06.55. Seorang gadis muda tampak berlari-lari dari arah barat. Hampir saja ia terjatuh ketika tersandung sebuah batu kecil. Ia terus berlari walau ia tahu bahwa jalanan

Sang Motivator

Oleh:
Apa pun yang terjadi, jangan menyerah dengan keadaan. Karena kita tak pernah tahu apa Rencana Tuhan untuk kita. Kita hanya perlu percaya bahwa Tuhan pasti punya rencana yang Indah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Perancis dan Menara Eiffel Saksi Persahabatan Kami”

  1. arman says:

    I LOVE FRIEND

  2. isqi nafsaki hikma says:

    I like it

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *