Perasaan Ku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 25 October 2015

Cinta? Satu kata yang yang dipenuhi dengan ribuan makna, dan sulit untuk didefinisikan. Banyak orang yang mengatakan bahwa Cinta itu membawa bahagia, tapi tak sedikit juga orang yang mengatakan bahwa Cinta itu hanya membawa sakit hati dan keputusasaan yang berkepanjangan. Cinta? Sebuah perasaan yang hadir dengan sendirinya pada sebuah hati, ia tidak mengenal waktu, tidak mengenal tempat dan tidak mengenal kepada siapa ia akan berlabuh. Cinta itu memang sulit ditebak. Pada satu waktu ia dapat membuat kita merasa terbang melayang dengan harapan–harapan indahnya, sekaligus dapat membuat kita terjatuh tiba–tiba dengan harapan–harapan indah yang terasa semu dan mustahil untuk terwujud.

Pagi ini terasa begitu damai, sinar mentari pagi dan kicauan burung yang terdengar merdu menemani langkahku untuk mengawali hari ini. Aku tersenyum menatap pohon–pohon yang bergoyang akibat terpaan angin pagi yang terasa sejuk, tak lupa juga kehadiran embun pagi yang dengan setia berhinggapan di dedaunan. Aku melangkahkan kakiku dengan mantap memasuki area sekolah yang terasa asing bagiku, sejenak aku menghentikan langkahku di depan sebuah pos satpam dan melemparkan sebuah senyuman tipis kepada seorang pria paruh baya yang mengenakan seragam satpam itu.
“Selamat pagi pak.” aku memberikan ucapan selamat pagi kepada pria paruh baya itu. Pria paruh baya itu pun membalas ucapan selamat pagiku dengan senyuman ramahnya.

Aku pun melanjutkan langkahku memasuki area sekolah itu, di depanku berdiri sebuah bangunan kokoh yang bercat putih dan biru. Aku mengedarkan sekilas pandanganku ke sekitar area sekolah itu, dan sedikit menjenjangkan leherku untuk mencari–cari di mana letak ruang kepala sekolah. Dengan langkah yang sedikit dipercepat, aku menelusuri koridor–koridor sekolah yang lumayan sepi ini. Aku berharap dapat segera menemukan ruang kepala sekolah, agar tidak seperti orang kebingungan mencari sesuatu. Suasana sekolah terlihat tidak begitu ramai, aku pun kembali menjenjangkan leherku dan mencari–cari sebuah ruangan yang memiliki plafet yang bertuliskan ruangan kepala sekolah itu. Di tengah kebingungan yang melandaku saat ini, tiba–tiba dari arah belakang terdengar sebuah suara asing untukku.

“Hey!” suara asing itu terdengar tepat beberapa meter di belakangku, langkahku terhenti sejenak. Namun aku hanya menghiraukannya dan kembali melangkahkan kakiku menelusuri koridor sepi ini.
“Hey, ehm,. Nessa.” aku kembali menghentikan langkahku sejenak, karena suara asing itu menyerukan namaku. Aku pun menolehkan wajahku ke arah belakang, dan mendapati seorang lelaki yang masih asing untukku. Aku menatapnya melalui lensa kacamataku, dia tersenyum seraya memegang sesuatu dan melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arahku.

“Kamu Nessa, kan?” tanya lelaki itu kepadaku seraya tersenyum simpul.
“Ehm, iya. Ada apa?” aku menganggukkan kepalaku dengan ragu–ragu seraya tersenyum tipis menatap lelaki itu.
“Ini punya kamu, kan? Tadi gak segaja jatuh dari saku kamu.” lelaki itu kembali tersenyum dan menyodorkan sebuah sapu tangan dengan motif bunga–bunga berwarna biru muda, di kanan bawah sapu tangan tertulis nama Nessa.
“Iya, makasih ya.” aku meraih sapu tangan itu dengan ragu–ragu, dan kembali menatap lelaki itu.
“Sama–sama. Kamu murid baru, ya?” tanya lelaki itu dengan singkat kepadaku, aku pun hanya mengangguk dan tersenyum hambar.

“Oh ya? Namaku Arya.” lelaki itu manggut–manggut kemudian mengulurkan tangannya ke arahku seraya menyebutkan namanya.
“Aku Nessa,” aku menerima uluran tangan Arya dengan sedikit perasaan ragu.
“Ehm, ya. Mau aku antar ke ruang kepala sekolah?” tawar Arya seraya kembali memperlihatkan senyumannya.
“Iya, kebetulan aku lagi nyari ruang kepala sekolah.” aku tersenyum bodoh dan tanpa sengaja mata Arya bertemu pandang dengan mataku, entah mengapa saat ini seperti ada letupan–letupan aneh di dadaku. Degupan jantungku terasa dua kali lebih cepat saat bertemu pandang dengan Arya, ada apa ini?
“Ya udah, yuk.” Arya melangkah kakinya, dan menuntunku ke ruang kepala sekolah.

Aku menyejajarkan langkah kakiku dengan seorang guru wanita yang saat ini menjadi wali kelas baruku, sudah hampir setengah jam aku berada di ruang kepala sekolah untuk ditanya–tanya. Jujur saja, sebenarnya aku sangat bosan jika harus menjadi murid baru. Tapi apa daya, aku dan keluargaku harus pindah dari kota kelahiranku karena Ayah pindah tugas ke Bandung dan itu mendesakku untuk menginggalkan sekolah lamaku dan harus beradaptasi dengan lingkungan sekolah baru.

Aku dan wali kelasku yang baru memasuki sebuah ruangan kelas dengan plafet di depannya yang bertuliskan kelas XI–C, saat memasuki kelas itu awalnya terdengar sangat gaduh. Namun setelah mereka melihatku dan wali kelasku, suasana kelas itu mejadi hening seketika. Aku menatap mereka dengan tatapan canggung, wali kelasku pun tersenyum ke arahku dan memberikan isyarat kepadaku untuk memperkenalkan diri kepada murid–murid yang ada di kelas ini. Suasana kelas sangat hening, karena semua tatapan mereka tertuju kepadaku. Seolah–olah aku adalah objek yang menjadi pusat perhatian saat ini.

“Namaku Nessa, pindahan dari Surabaya.” aku berucap dengan singkat, seraya menatap mereka semua dengan tatapan canggung.
“Oke Nessa, sekarang kamu bisa duduk.” wali kelasku berucap setelah terjadi keheningan untuk beberapa saat. Aku pun berjalan menuju ke bangku kosong, di samping seorang gadis cantik yang terlihat kalem. Dan langsung duduk di situ.
“Hai Nessa, namaku Sekar.” gadis itu tersenyum lebar kepadaku seraya mengulurkan tangannya ke arahku.
“Ehm, iya salam kenal ya.” aku menerima uluran tangan Sekar dan tersenyum tipis kepada Sekar. Sekar pun hanya mengangguk dan kembali membalas senyumanku.
“Sstt .. Sstt ..” saat aku sedang berbincang dengan Sekar, tiba–tiba dari arah kanan aku mendengar sebuah desisan yang membuatku menolehkan pandanganku ke arah sumber suara tersebut. Arya? Aku menatap Arya dengan tatapan kaget. Ternyata aku dan Arya sekelas, Arya yang melihatku memasang ekspresi kaget hanya tersenyum kepadaku.

Sudah hampir satu semester aku beradaptasi dengan lingkungan sekolah baru ini, dan semakin hari hubunganku dengan Arya semakin dekat. Entah mengapa saat berada di dekat Arya, aku merasa sangat nyaman dan tidak ingin menyia–nyiakan sedetik pun waktu bersama Arya. Apakah aku mencintai Arya? Entahlah. Aku dan Sekar terduduk di bawah sebuah pohon rindang di belakang sekolah, tempat ini selalu menjadi tempat favoritku dan Sekar. Karena selain di tempat ini sejuk, di sini juga tidak terlalu banyak orang yang berlalu lalang. Jadi, aku dan Sekar bebas untuk curhat–curhatan di sini.

“Oh ya sa? Aku mau cerita nih sama kamu, boleh tidak?” Sekar memecahkan keheningan yang terjadi di antara kami berdua.
“Curhat? Tentu. Kamu mau curhat apa?” aku memasang tampang yang siap untuk mendengarkan curhat Sekar. Ya, selama pindah di sekolah ini hanya Sekar dan Arya yang berteman dekat denganku. Jadi, tak jarang aku bertukar pikiran dengan Sekar ataupun Arya.
“Ehm, aku mau curhat. Tapi, kamu jangan bilang ke siapa–siapa ya? Janji?” Sekar memasang tampang gusar, kemudian mengangkat jari kelingkingnya di depan wajahku.
“Iya, aku janji.” aku melingkarkan jari kelingkingku dengan jari kelingking Sekar, Sekar pun tersenyum dan menghembuskan napas beratnya.
“Aku cinta sama Arya, sa.” Sekar berucap dengan intonasi suara yang mengecil, aku sedikit tersentak mendengarkan ucapan Sekar.

Sekar? Cinta sama Arya?

Dadaku terasa sesak tiba–tiba, ternyata aku dan sahabat baikku mencintai lelaki yang sama. Arya! Pria yang mampu merebut semua perhatianku sejak pertama kali aku bertemu dengannya, tapi kenapa semua jadi seperti ini? Kenapa Sekar harus jujur saat aku juga sudah mencintai Arya? Apakah aku harus rela melepaskan Arya untuk Sekar? Apakah aku harus lebih memilih persahabatanku dengan Sekar dibandingkan dengan memperjuangkan Arya? Ehm entahlah, semua semakin rumit.

“Sa? Kamu kenapa? Kok melamun?” Sekar menatapku dengan tatapan herannya, karena mendapatiku yang sedang melamun seperti orang bodoh.
“Eh? Tidak, aku tidak melamun.” aku tersenyum getir menatap Sekar, Sekar pun hanya manggut–manggut saja dan mengedarkan pandangannya ke arah sekitar.
“Ehm, sa? Menurut kamu Arya cinta sama aku atau?” Sekar kembali melontarkan pertanyaan yang membuatku bingung, aku pun mencoba untuk berpikir dan mencari jawaban yang tepat untuk aku lontarkan kepada Sekar.
“Aku tidak tahu, kenapa kamu tidak tanya Arya saja?” aku tersenyum aneh saat mengucapkan kalimat itu, tapi sudahlah masih untung aku jawab. Sekar pun hanya bergeming, mungkin ia sedang menimang–nimang ucapanku tadi.

Aku pun kembali larut di dalam pikiranku, Arya, Arya dan Arya. Hanya nama itulah yang saat ini memenuhi otakku, dadaku kembali terasa sesak tiba–tiba saat mengingat nama itu. Nama yang membuat aku bimbang saat ini. Bimbang untuk memilih mempertahankan persahabatanku dengan Sekar atau mempertahankan perasaanku terhadap Arya? Jika aku memilih untuk mempertahankan persahabatanku dengan Sekar, bagaimana nasib perasaanku terhadap Arya? Tapi, jika aku memilih mempertahankan perasaanku terhadap Arya, bagaimana dengan Sekar? Ehm, serba salah.

Aku mempercepat langkahku menelusuri koridor–koridor sekolah yang sudah mulai sepi ini, sekolah sudah dibubarkan setengah jam yang lalu. Tetapi, karena hari ini aku yang menjadi petugas kebersihan kelas. Jadi aku harus pulang terlambat untuk hari ini. Sekolah sudah mulai sepi, hanya terlihat satu dua orang yang berlalu lalang di area sekitar sekolah. Suasana di koridor terasa sangat hening, sehingga langkah kakiku terdengar menggema di seluruh penjuru koridor.
“Nessa!” saat aku sedang sibuk–sibuknya dengan langkahku, tiba–tiba dari arah belakang terdengar sebuah suara yang sepertinya tidak asing lagi untuk telingaku. Langkahku terhenti sejenak, aku menolehkan wajahku ke arah sumber suara. Arya? Sedang apa dia di sini?
“Arya?” aku mengernyitkan alisku saat melihat Arya. Arya pun hanya tersenyum dan melangkahkan kakinya untuk mendekatiku.

“Ehm, Nessa. Aku mau bilang sesuatu sama kamu, boleh?” Arya berbicara dengan raut wajah yang gugup seraya menggaruk–garuk kepalanya yang tak gatal itu.
“Ehm, bilang apa?” aku pun ikut gugup, karena Arya hanya bergeming dan terlihat canggung untuk berbicara.
“Aku… cinta sama kamu Nessa.” Arya sedikit menundukkan kepalanya, tak berani menatapku yang kini berdiri di hadapannya.
“Ha?” aku sedikit tersentak dengan ucapan yang beberapa detik lalu Arya lontarkan, namun aku mencoba untuk bersikap senormal mungkin.

“Aku mau kamu jadi pacar aku Nessa,” Arya melanjutkan kalimatnya dengan raut wajah yang lebih gugup dari sebelumnya. Aku pun hanya memejamkan mataku dan membukanya lagi, untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi atau ilusi semata. Arya juga mencintaiku?

Baru saja aku ingin mengiyakan ucapan Arya, tapi tiba–tiba sekelebat bayangan Sekar terlintas di pikiranku. Senyuman yang tadinya sumringah, kini menjadi luntur seketika saat mengingat jika Sekar juga mencintai Arya. Lalu aku harus bagaimana? Aku juga mencintai Arya.
“Ehm, maaf Arya. Aku mencintaimu, tapi Sekar juga mencintaimu. Aku tidak ingin menyakiti Sekar, jadi lebih baik kita bersahabat saja.” aku berucap dengan ragu–ragu, karena jujur saja hatiku menginginkan Arya dan ragaku tidak ingin jauh dari Arya. Tapi?

“Aku tahu, Sekar mencintaiku. Tapi orang yang aku cintai bukan Sekar, tapi kamu Nessa.” Arya berucap dengan tulus, seketika aku tertegun saat mendengarkan ucapan Arya.
“Aku mengikhlaskan Arya untuk kamu, sa.” di tengah keteganganku dengan Arya, tiba–tiba saja aku mendengarkan suara Sekar.
“Sekar?” ucapku dan Arya secara bersamaan, aku dan Arya benar–benar kaget saat melihat Sekar yang datang tiba–tiba.

“Tapi kamu juga cinta sama Arya, aku tidak bisa.” aku menundukkan kepalaku, tak terasa air mata sudah bergerumul di pelupuk mataku.
“Iya aku tahu, tapi Arya mencintaimu. Dan cinta tidak bisa dipaksakan.” Sekar meraih tanganku dan tangan Arya, kemudian menyatukan tangan kami berdua.
“Aku bahagia jika kalian bahagia.” Sekar tersenyum tulus kemudian berlalu dari hadapanku dan Arya, Arya pun hanya bisa bergeming.
“Aku mencintaimu Nessa.” Arya kini menggenggam tanganku dengan erat dan membawaku ke dalam dekapannya.
“Aku juga mencintaimu Arya,” aku pun membalas dekapan Arya, Arya hanya tersenyum mendengar jawabanku dan mengusap puncak kepalaku.

Selesai

Cerpen Karangan: Flamenia Amalia Cintami
Facebook: Flamenia Cintami
Nama: Flamenia Amalia Cintami
TL: 27 Agustus 1999
Kelas: IX
Twitter: @FCintami_09

Cerpen Perasaan Ku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Karibku

Oleh:
Pagi menjelang siang… Siang pun menjelang sore… Dan sore menjelang malam … Waktu berputar, kenapa hidup kita tidak berputar? Bila mana jika hidup kita berputar, tandanya kau sedang mengalami

Jadi Kakak Itu Ternyata Susah

Oleh:
“Rhino! Kerjakan PR-mu cepat!” Bentak Delia pada Rhino, adiknya. “Malas ah! Lagi pula, dikumpulkannya sehabis ulangan semester!” Bantah Rhino. “Rhino! PR sebelum ulangan itu harus dikerjakan untuk latihan di

Dira

Oleh:
Andira Permata Sari, teman Mira yang kurang mampu, akan tetapi, Andira anak yang baik dan pintar. Suatu hari “Semuanya turun ke lapangan, untuk latihan upacara.” ujar Kak Novi, ketua

Membantu Anak Yatim Piatu (Part 2)

Oleh:
“Assalamualaikum..” sapa Winda saat di depan rumah Azidan. “Ehh Winda, ayo masuk” jawab Azidan sambil mempersilahkan Winda masuk. “Zidan! Zidan!” teriak Bunga dan Naufal dari luar rumah. “Ehh kalian

Akhir Cinta Ku

Oleh:
Suara alarm membangunkan ku dari tidur nyenyak ku, yap hari ini aku akan memasuki masa yang paling indah kata kebanyakan orang apalagi kalau bukan masa SMA, setelah selesai aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *