Perjumpaan Yang Menyenangkan

Judul Cerpen Perjumpaan Yang Menyenangkan
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kristen, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 6 January 2017

Tak terasa tiga bulan sudah berlalu bagiku mengenakan seragam putih abu-abu di sekolah baruku, SMA Katolik pancasila. Kebebasan lepas dari seragam putih biru masih kurasakan. Di sini aku telah menemukan dunia baruku. Dunia di mana diriku dapat menjadi orang yang lebih baik dari masa-masa sebelumnya, dari kanak-kanak menjadi dewasa, dan dari manja menjadi lebih mandiri.
Hari-hari Mos yang telah kulalui beberapa bulan lalu masih terbayang di kepalaku. Waktu itu aku minderan dan pendiam sekali. Aku tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan teman baruku. Waktu pertama kali masuk Smak Pancasila ini, orang pertama yang kenalan denganku adalah Emilia. Lia anaknya murah senyum dan cepat akrab. Kami menjadi sahabat akrab yang saling mendengarkan satu sama lain.

Bel istirahat telah usai, dengan segera aku masuk ke kelas. Kelas bagaikan kapal pecah disaat guru tidak masuk. Canda dan tawa menghiasi hari para murid yang menempatinya, kelas tempat anak-anak cowok sering menjaili anak-anak cewek. Kelas di mana gosip-gosip keluar dari bibir anak-anak cewek. Kelas tempat suka dan duka yang menyertai semua murid.

“Menilda…” panggil pak Teodorus, memberi isyarat padaku agar datang ke depan kelas
“kudut coon pak guru? (Ada apa pak Guru?)” tanyaku penasaran
“Tolong ke ruang guru, ambilkan buku latihan Ekonomi yang kemarin dikumpulkan”. Perintah pak Teodorus. Aku mengangguk lalu berjalan ke luar kelas.

Ke luar kelas adalah kesempatan yang paling menyenangkan bagiku, aku suka bosan berada di dalam kelas karena bagiku kelas seperti penjara dan dikurung oleh pelajaran yang menyusahkan, apalagi aku tinggal di asrama sekolah yang punya banyak aturan yang wajib ditaati dan dijalani. Sebagai seorang anak yang sedang bertumbuh menjadi remaja. Aku tidak mendapat kebebasan seperti teman-teman lain yang berasrama bebas ataupun kos. Setiap hari aku dan teman-teman bangun pukul 05.00, kemudian mandi, dan selama 1 jam ikut misa di gereja. Selanjutnya sarapan pagi dan kemudian berangkat ke sekolah. Saat itu aku tidak menginginkan kedisiplinan dalam hal berdoa ditambah lagi harus bangun pagi-pagi sekali. Aku senantiasa ingin memberontak namun tidak ada yang dapat kulakukan selain menyesali keadaan. Tiga tahun menjalani doa pagi karena terpaksa (meskipun tanpa saya sadari, ternyata hal ini akhirnya membuahkan kehidupan doa pribadi yang dahsyat di kemudian hari) sementara kakak dan adik-adikku semuanya masuk ke sekolah negeri dan tinggal bersama orangtua sedangkan aku hanya masuk Sma Katolik dan harus menjauhkan diri dari orangtua, saudara/I dan teman-teman masa kecil.

Ketika aku sampai di ruang guru, aku mengambil buku latihan ekonomi di meja pak Teodorus. Tiba-tiba seorang gadis mungil dengan tinggi 145 cm yang berambut pendek berlari cepat menuju ruang guru dan tanpa sengaja menabrakku.
“Brak!!!”
“Auhhh!!!”
Aku terjatuh, buku-buku yang tadi kubawa berserakan di sekitarku. Gadis itu kaget setengah mati dan segera membantu membereskan kembali buku yang terjatuh.
“Neka rabo ew (Maaf ya)”. Kata gadis itu, diserahkannya buku itu padaku dengan senyuman ramah. Akupun membalas senyumannya.
“Makasih ya sudah membantu beresin”. Ucapku malu-malu.
“Sama-sama” Jawab gadis itu.
“Duluan ya…” ujarku mengingat pak Teodorus pasti sudah menungguku. Gadis itu mengangguk sambil tersenyum. Aku keluar dari ruang guru sambil senyum-senyum.
“Eh kamu kok senyum sendiri, kamu ke ruang guru apa ke Labuan Bajo sih?” keluh Emilia begitu melihatku sampai di depan pintu kelas.

Beberapa hari kemudian aku mendapat surat yang dikirim oleh pamanku dari kampung, surat dari seseorang yang menyebut dirinya sebagai sahabatku sewaktu kanak-kanak di desa Lewur. Merlin atau sebutan lain Mejeng dalam suratnya bernostalgia tentang banyak hal seperti saat berpisah dengannya, aku memberi dia diary dan dia memberiku penggaris. Merlin ingat bagaimana aku tertawa saat masuk ke ruang kelas karena melihat dia memakai sweater persis seperti yang kupakai. Berwarna pink dengan bunga-bunga di bagian dasar.
“Astaga.. ingatannya tajam sekali”. Gumamku dalam hati.
Tetapi ketika aku mencoba menebak bahwa dia berwajah bulat dan berambut panjang, ternyata tebakanku meleset semua. Lalu yang mengejutkanku adalah pertanyaan terakhir “Apakah kamu masih bermimpi menjadi suster?”. Aku memang lebih suka bermimpi lama-lama, dengan harapan bahwa impian itu akan terjadi dari pada menyesal keadaan dan menguburnya. Jika impian jadi kenyataan siapapun orangnya pasti gembira. Demikian pula dengan diriku. Pertanyaan Merlin membuatku tertegun, aku sama sekali tidak ingat bahwa sejak kecil aku punya keinginan untuk menjadi biarawati. Surat Merlin membukakan pemahamanku akan panggilan Tuhan yang telah Ia tanamkan sejak kecil. Aku jadi ingat semua pengalaman waktu Sd, saat itu aku kelas 2. Guru wali kelasku bernama Barnabas bertanya tentang impian seluruh murid-murid, banyak murid yang bermimpi menjadi Dokter, perawat, pramugari dan pilot. Tiba-tiba pak Nabas bertanya kepadaku
“Menilda… Apa impianmu?”
“Aku mau menjadi Suster”. Jawabku dengan semangat.
“Wah, bagus sekali Menilda. Kamu punya impian yang berbeda dari teman-temanmu”. Kemudian ia melanjutkan, “Anak-anak bagus kalau kalian bisa bermimpi setinggi-tingginya, semahal-mahalnya. Karena mimpi itu murah dan tidak perlu dibayar.”

Di akhir surat, Merlin menuliskan:
Menilda kamu di mana? Kuharap suatu saat nanti kita bisa bertemu. Aku rindu pada dirimu, rindu akan kenangan kita bersama sewaktu masa kanak-kanak.
Saat ini orangtuaku pindah dinas di kota Borong. Aku juga ikut pindah sekolah di SMA KATOLIK PANCASILA. Tiga hari yang lalu aku mulai ikut pelajaran di sekolah baruku, di sini aku melihat seorang gadis imut yang mirip denganmu, aku bahkan tidak sengaja bertabrakan dengannya di ruang Guru. Awalnya aku berpikir itu kamu jadi setiap kali aku memandang gadis itu aku jadi teringat akan dirimu. Aku tunggu ya, surat balasan darimu!

“Apa? Pindah ke Smak pancasila?” aku menjerit histeris.
Jadi, gadis yang bertabrakan denganku yang di kantor itu memang Merlin?. Tapi kok wajahnya berubah sekali. Makin cantik, imut dan keren.

Malam itu aku sulit tidur, aku jadi ingat kembali semua pengalaman masa kecil bersama dengannya sehingga keesokan harinya aku terlambat bangun. Aku pun masuk kelas dengan napas ngos-ngosan.
“Menilda, Pagi-pagi kok sudah keringatan. Ke mana saja kamu jam segini baru datang?”. Protes Lia melihat wajahku. Aku hanya tersenyum sambil melap wajahku dengan tisue.
“Aku tidur kemalaman”. Jawabku dengan tenang. “kemarin pas sampai di asrama aku mendapat sebuah surat dari sahabatku sewaktu kecil, semalam aku selalu ingat dirinya sehingga tidur terlambat.
“Ya ampun Menilda, Ingat sih ingat tapi jangan sampai kamu sakit karena kepikiran”. Nasihat Emilia.
“Tetapi aku senang Lia, karena ternyata satu sekolah dengan diriku saat ini.”
“Yang mana sih?” tanya Emilia penasaran.
“Nanti deh kalau dia ada”.

“Eh, itu dia” seruku gembira sambil menunjukkan seorang gadis yang sedang membeli minuman di kantin sekolah.
“oh Merlin” gumam Emilia tenang
“kok kamu tau sih?” tanyaku dengan penasaran
“Ya taulah, Dia sepupu kandungku”.
“lhoo kenapa kamu tidak pernah cerita?” Protesku padanya.
“Ya, aku tidak tahu kalau kamu kenal sepupuku”. Jawab Emilia tenang

Tiba-tiba Merlin datang menghampiri kami berdua. Aku pun berteriak gembira memanggil namanya, dia sendiri merasa heran dengan diriku yang datang menghampirinya dan memeluk erat tubuhnya. Kami merasa sangat gembira bisa bertemu kembali, kami tidak pernah menyangka bahwa kami akan bersama lagi membangun persahabatan. Kini bukan hanya berdua tetapi bertiga. Merlin, Emilia dan Menilda.

Cerpen Karangan: Ermenilda Ahus

Cerita Perjumpaan Yang Menyenangkan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sang Motivator

Oleh:
Apa pun yang terjadi, jangan menyerah dengan keadaan. Karena kita tak pernah tahu apa Rencana Tuhan untuk kita. Kita hanya perlu percaya bahwa Tuhan pasti punya rencana yang Indah

You Are My Chingu

Oleh:
Memiliki chingu (sahabat) memang indah. Benar kata orang-orang kalau sahabat memang selalu ada didekatmu walau bagaimanapun keadaanmu. Begitulah yang kurasakan sekarang ini. Aku memiliki 4 orang chingu yaitu Yuri,

Best Friends

Oleh:
Sifa, Fara, Fanda dan Affa adalah sahabat sejati. Mereka sudah sangat dekat dan bersahabat. Bahkan mereka sudah menganggap satu sama lain sebagai saudara, karena mereka ber-4 sudah bersahabat sejak

Sahabatku Mencintai Pacarku

Oleh:
Haloo. Namaku Frisya Gita Ramadhani. Panggil aja Gita. Aku diam diam suka sama kakak kelasku. Namanya Dylan Pratama. Namun ternyata sahabatku juga mencintai Kak Dylan. Nama sahabatku Zaskia Adriani.

Sesal Di Ujung Senja

Oleh:
Kring.. Bel istirahat berbunyi. Aku bergegas menuju sungai kecil di samping sekolah. Sungai itu adalah tempat favoritku saat istirahat ataupun saat-saat aku ingin sendiri. Sandra Nacita, seorang remaja 16

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Perjumpaan Yang Menyenangkan”

  1. fritika ayu says:

    Wow..keinget sahabatku yang jauh disana ah..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *