Permainan Dalam Permainan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 January 2017

Pada suatu hari yang tidak cerah, di dalam sekolah yang tak damai, ada seorang murid yang bercita cita untuk menjadi detektif, ia terinspirasi untuk menjadi detektif setelah menonton anime jepang yang berjudul Death Note. Ia bernama Yoga. Ia sangat pendiam tetapi pintar dan ia sering dikatakan tidak bergaul karena ia tidak ingin seseorang tahu lebih dalam tentangnya. Dengan sikapnya yang cuek, ia juga dicueki orang lain, tetapi itu bukan masalah baginya. Ia hampir tidak memiliki masalah karena ia sangat pandai menyelesaikan masalah. Ia merasa sangat bosan dan ia ingin membuat masalah untuk menantang kehidupan. Ia memiliki teman bernama Agung dan Doni. Agung kelihatan sangat polos dan Doni kelihatan sangat berpengalaman dalam masalah kehidupan. Mereka bertiga selalu menghabiskan waktu bersama, Yoga sebagai pemecah masalah, Doni sebagai penasehat, dan Agung sebagai penengah antara mereka berdua sekaligus menjadi kelinci percobaan ketika Yoga memiliki ide gila.

Hari demi hari berlalu hingga ada 2 orang yang tidak suka pada Yoga, yaitu Firyal dan Anas. Mereka iri karena mereka sering bersenang senang dan jarang belajar tetapi selalu mendapat nilai terbaik. Mereka berdua sangat ingin mengetahui apa yang dilakukanya di dalam kamar Kos nya hingga ia menjadi pintar tanpa belajar.

Ketika matahari bosan melihat kota gresik, suasana menjadi gelap tanpa lampu. Di saat itu, Firyal dan Anas bekerja sama untuk mengetahui apa yang dilakukan Yoga di dalam Kos nya. Firyal masuk ke dalam kamar Yoga dan menaruh kamera di sudut yang jarang dilihat dan Anas mengawasi keadaan di luar, setelah selesai menaruh kamera mereka langsung pergi dan memantau dari jauh.

Yoga sampai di Kos nya sepulang bermain bersama Agung dan Doni. Saat ia masuk ke dalam kamarnya, ia merasa bahwa ada yang Mencurgakan. Potongan kertas yang ditaruh pada pintu telah jatuh, itu berarti ada yang masuk dan menjatuhkan potongan kertas itu. Ia pun masuk ke dalam kamarnya dengan sikap biasa agar orang yang menyusup ke dalam kamarnya tidak curiga bahwa Yoga telah mengetahui kalau ada yang memata-matainya. Kemudian ia mengambil uang dan berbicara pada dirinya sendiri “Lapar sekali aku, beli bakso enak nggak ya?”. Lalu ia keluar dan mematikan listrik kamar kos nya, kamarnya menjadi sangat gelap kemudian ia masuk untuk mencari benda yang bukan miliknya di sudut tempat yang jarang dilihatnya. Hasilnya apa yang ia temukan, ternyata sebuah kamera. Ia mengenali kamera itu dan ia teringat Firyal yang pernah membawa kamera itu ke sekolah. Yoga tidak mengambilnya tetapi menunggu jarum jam pendek menunjuk angka 1 dan jarum jam panjang menunjuk angka 6 tanpa menyalakan lampu. Saat suasana kampung sangat sunyi, ia memakai sarung tangan lalu mengambil kamera dan memasukkan dalam tas. Kemudian ia pergi ke kamar kos cewek dan memanjat masuk melewati jendela dengan sangat cepat. Ia menaruh kamera di balik lemari tetapi dapat dilihat Doi dari pantulan cermin saat Doi berdandan, kemudian meninggalkanya. Tak lupa ia mengambil sebuah kertas yang ia tulis kalimat “baca dalam hati ya!!! Jangan khawatir, kameranya hanya akan merekam wajahmu berdandan, temui aku 3 hari mendatang jam 4 sore di taman” dengan tulisan yang berbeda dengan tulisanya dan menempel pada kamera dengan solasi. Ia menempelkan dengan sangat rapi tanpa meninggalkan jejak apapun, termasuk sidik jari. Lalu Yoga meninggalkan kamar Do’i dan kembali ke kamarnya.

Keesokan harinya, di dalam kelas Yoga melihat Firyal dan Anas berbincang di sudut kelas, ia pun meminta bantuan kepada Agung untuk menyadap pembicaraan dan merekamnya. “bro, tadi pagi aku cek kameranya ternyata tidak berada di kamar target kita” ujar Firyal. “lalu berada dimana kameranya?”, Tanya Anas. “aku melihat cewek yang aku sukai berdandan, kau tahu kan siapa itu”, balas Firyal. “iya aku tahu, lantas apa yang akan kau lakukan?”, Tanya Anas. “aku akan membiarkan kameranya dikamarnya sekaligus berharap bisa melihatnya saat ganti baju”, balas Firyal. Mereka berdua pun tertawa terbahak-bahak dengan ekspresi yang Percakapan tersebut berhasil terekam dengan jelas oleh Agung dan menyerahkan kepada Yoga.

Sepulang sekolah, Yoga menelepon Firyal dan mengajak ketemuan di taman jam 3 sore. Di taman, Firyal datang bersama Anas untuk menemui Yoga, Yoga juga mengajak Doni untuk mengawasi suasan di sekitar. Sebelum memulai percakapan, Yoga memastikan bahwa tidak ada kegiatan perekaman suara pada Firyal dan Anas. Yoga memulai percakapan, “sore kawan, aku punya rahasia yang akan mengahancurkan cintamu”. Seketika Firyal dan Anas terkejut lalu membalasnya dengan nada yang tidak enak, “rahasia? apa itu, coba jelaskan pada kami”. Yoga pun memutar rekaman percakapan Firyal dan Anas waktu di kelas. Firyal sangat terkejut dan mengambil pemutar suaranya lalu menghapusnya. “aku tidak bodoh, aku sudah menduplikatkan rekaman itu”, ujar Yoga. “mengapa kau lakukan ini?”, tanya Firyal. Yoga tidak menjawab karena ia tahu Firyal sedang merekam percakapan mereka bertiga. Lalu Yoga meninggalkan Firyal dan Anas dengan berkata “kita lanjutkan dikelas” dengan sangat pelan.

Keesokan harinya, di dalam kelas Yoga memberi kode dengan cara memperlihatkan mp3 player kepada Firyal untuk mengancamnya, tetapi Firyal pura-pura gak peka. Lalu Yoga ngomong dengan nada lembut di sebelah telinga Firyal, “dasar gak peka, mangkanya kok jomblo terus, kalau tetap gak peka aku akan bicara tentang rekaman ini dengan keras”. Firyal langsung peka dan memohon agar rekaman itu tidak sampai ke telinga Doi. Lalu Yoga meminta 3 permintaan kepada Firyal untuk dilakukanya dan Firyal pun menyetujuinya. Yoga terus mengerjai Firyal dengan senjata rekaman itu hingga Yoga merasa kasihan dan berhenti mengerjai Firyal.

2 hari kemudian tepat jam 4 sore ditaman, Doi pergi ke taman. Betapa terkejutnya kalau yang ditemuinya adalah teman kos dekatnya. Doi beranggapan bahwa yang menaruh kamera di kamarnya adalah Yoga. “ternyata kamu yang naruh kamera di kamarku? Dasar cowok *sensor KPI*”, bentak Doi. “sebelumnya maafkan aku, memang akulah yang menaruh kamera di kamarmu, tapi bukankah sudah kutempeli sebuah kalimat di kameranya?”, ujar Yoga. “oke, aku akan tenang tapi coba jelaskan mengapa kau taruh kamera di kamarku”, balas Doi. “ini adalah kameranya Firyal, dia menaruh kamera di kamarku lalu kupindahkan ke kamarmu, maafkan aku. Tapi aku punya rencana untuk mengerjai Firyal”, balas Yoga. “mengapa kau ingin mengerjai Firyal?”, tanya Doi. “bukanya 2 hari lagi Firyal ulang tahu?”, balas Yoga. “aku baru ingat. Jadi apa rencananya”, tanya Doi. Kemudian Yoga memutar rekaman percakapan antyara Firyal dan Anas. “ternyata dia menyukaiku”, ujar Doi. “jadi rencananya, kau akan melabrak Firyal dengan rekaman ini dan kameranya di depan warga sekolah pada saat selesai upacara hingga Firyal merasa malu, kalau bisa tambah dengan tamparan”, jelas Yoga. “aku akan malu juga, aku tidak mau melakukanya”, balas Doi. “aku akan memberitahu warga terlebih dahulu kalau kau akan melabraknya, itu akan menimbulkan kesan yang berbeda pada warga sekolah saat kau melabraknya”, ujar Yoga. “kapan rencana itu dilakukan’, tanya Doi. “2 hari lagi tepat pada saat hari ulang tahunya. Oh iya, hari-hari sebelum kau melabraknya, bersikaplah dingin dan berikanlah ekspresi marah padanya”, jawab Yoga. “Siap laksanakan, tapi kalau ada apa-apa kau yang akan tanggung jawab kan?”, tanya Doi. “kita bersama”, jawab Yoga. “aku nggak mau ikutan tanggung jawab karena yang punya ide bukan aku”, ujar Doi. “okelah, aku yang akan tanggung jawab. Laksanakan dengan baik ya”, balas Yoga. “siap”, balas Doi. Mereka berdua pun mengakhiri pembicaraan dan pulang ke kos nya.

Saat hari ulang tahun Firyal tiba, usai upacara bu guru memanggilnya untuk maju kedepan, wajah curiga anak anak menuju ke arah Firyal. “saya mendapat laporan dari Doi bahwa kamu telah memasang kamera di kamarnya, apakah itu benar?”, tanya bu guru dengan memakai mic. “tapi kan gak ada buktinya bu”, jawab Firyal dengan gemetar. “buktinya kamu menjawabnya dengan gemetaran”, sahut Doi. “aku gemetaran karena aku kebelet buang air kecil”, bela Firyal. “cepet kamu ngaku aja”, jawab Doi. “aku gak salah ngapain ngaku”, bela Firyal. “nih bukti fisiknya”, jawab Doi dengan nada kesal sambil memutar rekamanya. Firyal langsung terkejut dan sangat ketakutan, Doi juga membawa kameranya dan membuat Anas mengaku bahwa itu kamera milik Firyal. Prakkk, suara tamparan terdengar keras. Firyal semakin ketakutan, kakinya serasa ingin lari. Tubuhnya lemas ketika dalam perjalanan ke BK. Di dalam ruang BK, Firyal diomeli habis-habisan dan guru BK pun memanggil polisi. 20 menit kemudian, polisi datang ke sekolah. Betapa terkejutnya Firyal, ia langsung pingsan.

“Happy birthday to you”, itu kalimat yang pertama kali didengar saat tersadar dari pingsan. Firyal sangat terkejut dengan kejuatnya, apalagi dilakukan oleh seluruh warga sekolah. “aku sangat terharu dengan kalian semua, kalian memberi kejutan padaku sampai-sampai kalian memanggil polisi”, ujar Firyal. “polisi itu om aku, maafkan kita ya sudah menamparmu”, ucap Doi kepada Firyal. Yoga, Agung, Doni, Anas dan warga sekolah pun minta maaf, lalu Firyal dituntut untuk membuat harapan dan menuiup lilin. Firyal berharap kalau ia bisa dapat perhatian khusus dari orang yang disukainya. Doi tersenyum karena ia tahu kalau dia menyukainya dari rekamanya. Mereka saling berpelukan dan kompak dalam segala hal, olahraga, lomba, pelajaran, dll. Firyal pun tidak ingin mengetahui apa yang dilakukan Yoga di kamar sehingga pintar tanpa belajar dan mereka pun jadi sahabat dan Yoga merasa puas sudah mmembuat masalah dan ingin membuat lagi.

TAMAT

Cerpen Karangan: Ahmad

Cerpen Permainan Dalam Permainan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Satu Hari

Oleh:
Hai teman-teman perkenalkan namaku Asya nabila assyifa, biasanya teman-temanku memanggilku Nabila. aku mempunyai teman akrab namanya Frizka andrianti, panggilannya Frizka. Frizka orangnya baik, cantik dan pintar tetapi suka penyendiri

Bumi Pertiwi (Part 3)

Oleh:
20 November 2013. Lensa kamera Bumi sudah sejak tadi sibuk mengejar objek yang ingin dia abadikan. Jemarinya sibuk memutari lensa kamera untuk mencari fokus yang diinginkan. Sebuah pemandangan yang

Sahabat yang Kembali Lagi

Oleh:
Saat Ceni sedang duduk termenung. Rizki datang, Ceni menoleh. Ia sangat senang sekali, ternyata si Rizki kembali lagi. Ia bersorak ria, ia menyapa Rizki. “Hai Rizki.” “Hai juga Ceni.

The First Boyfriend

Oleh:
Cinta itu Rumit dan sulit dijelaskan… Cinta bisa merubah hidup dan jalan pemikiran kita… Karena cinta Aku kenal yang namanya ANIME, dan karena anime aku kenal dan deket sama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *