Persahabatan Dalam Permainan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 18 April 2018

Hai namaku Gandida! Sekarang aku kelas tujuh di sekolah unggul daerahku. Aku duduk di kelas tujuh A. Ya! Aku tahu kalian akan berpikir kalau aku anak cerdas yang berkacamata! Tapi sayangnya kalian salah! Umumnya anak di kelasku adalah anak pintar dan kebanyakan berkacamata tebal karena terlalu banyak membaca buku berulang ulang. Aku tidak suka kalau mengulang baca, buku yang sudah kubaca. Untung saja daya ingatku cukup kuat untuk mengingat hal hal yang sudah kubaca dan kulihat. Aku lebih suka kalau menamatkan buku dalam sekali baca dan tidak akan membacanya ulang, setebal apapun buku itu. Aku ini gadis cilik berumur 12 tahun yang dilahirkan di tanah jawa dan besar di tanah sumatra. Wajahku tidak terlalu cantik! Aku memiliki kulit sawo matang, namun dengan bibir merah merekah. Aku tidak tahu itu benar atau tidak, tapi teman-temanku, dan orang sekitarku bilang begitu. Dalam kelasku aku adalah anak yang termuda. Kebanyakan temanku berumur 13 sampai 14 tahunan. Cukup sudah tentang diriku, sekarang aku harus pergi ke sekolah!

Saat aku melihat sekolahku, aku selalu teringat akan masa laluku. Dulu aku punya sahabat, namanya 11-12an dengan namaku. Namanya Gandira. Kami bertemu saat aku berumur 5 tahun. Waktu itu aku ikut ibuku ke pasar, lalu aku melihat mainan yang menarikku untuk memilikinya. Aku pun merengek pada ibuku untuk membelinya. Saat ibuku lelah mendengar permintaanku yang berulang ulang, akhirnya ibuku mau membelikannya. Saat aku dan ibuku menghampiri penjual mainan itu aku bertemu seorang anak manis. Ya itulah awal pertemuanku dengannya. Saat itu dia juga ingin membeli mainan yang sama. Tapi mainannya tinggal satu, dan karena dia datang duluan dialah yang mendapatkan mainan tersebut. Aku menangisi mainan yang telah luput tersebut. Tiba tiba anak manis itu menarik tanganku dan mengajakku untuk bermain bersama. Dengan wajah polos aku melihat ibuku pertanda meminta izin. Ibuku mengangguk pelan. Aku pun bermain dengannya hingga ibuku harus pergi.

Aku meminta untuk tinggal lebih lama dan bermain. Tapi ibuku menolak. Ibu dari anak manis itu berkata “nak kau boleh datang ke rumah Gandira nanti sore kalau mau” aku mengiyakan dan melangkah menuju ibuku. Ibuku berterima kasih pada tante itu, dan pamit pergi. Sebelum kami pergi tante itu memberi alamat rumah dan nomor teleponnya. Hari hari aku lalui dengen bermain dengan Gandira hanya dalam pertemanan dalam permainan. Hingga aku berumur 7 tahun, kami berteman dan masuk sekolah yang sama. Kami selalu bermain bersama, hingga aku mendengar kata persahabatan. Aku menanyakan pada ibuku apa itu persahabatan. Ibuku bilang itu seperti aku dan Gandira. Keesokan harinya aku bertanya pada Gandira apakah kami sahabat atau bukan. Dia bilang saat aku menanyakan itu, akan menjadi awal persahabatan. Dia pun membuka tangannya agar aku memeluknya. Aku memeluknya dan mulai merasakan rasa yang tak pernah ada dalam diriku. Itulah persahabatan.

“Gandida! Kenapa kau berhenti di sana? Ayo masuk!” salah satu teman sekelasku memanggilku yang tenggelam dalam kenangan. Aku masuk dan duduk. Aku merindukan sekali rasa hangat yang dibawa oleh Gandira. Aku sungguh merindukan saat aku bermain dengannya, dan memeluknya. Aku kehilangan Gandira saat aku berkata bahwa saat itu adalah saat terakhir aku harus memanggilnya sahabat. Lalu dia pergi dariku dan kehidupanku. Tapi aku sadar kalau hal itu telah mengakhiri jua kebahagiaanku.

Aku melihat teman temanku yang tengah bercerita tentang anak baru. Aku tidak pernah berminat untuk memiliki sahabat setelah aku menyakiti Gandira dan diriku sendiri. Hal yang sungguh menyakiti hatiku dan menyadarkanku tentang betapa bodohnya aku. Tahun tahun yang harus kulalui tanpa Gandira terasa begitu sulit. Hatiku bagai ditusuk pisau tumpul begitu dalam dan ditimpa batu begitu berat. Saat itu aku sedang duduk di kelas sambil memandangi teman sekelasku yang asyik berkumpul. Sejak Gandira pergi aku jadi orang yang anti sosial. Aku tak kuasa menahan tangis saat mengingat kebodohanku menyia-nyiakan seorang Gandira. Tangisku pecah air mata tak terbendung. Aku menggigit bibirku untuk menahan suara tangisku.

Saat menyambut anak baru itu ternyata ia masuk kelas A ya kelasku. Saat dia memperkenalkan diri aku tidak menyimak karena masih menangisi Gandira. Hingga akhirnya dia memilih duduk di sampingku. Dia memanggilku dengan pelan. Aku terperanjat saat mendengar suaranya. Aku menoleh. Ia tersenyum padaku, mataku berkaca kaca. Aku segera memeluknya. Tangisku kembali pecah. Aku memanggil namanya. “kau masih marah padaku?” tanyanya, aku hanya diam dan terus menangis. Dia mencoba menenangkanku. Aku berhenti menangis dan meminta maaf padanya. Padanya yang telah membawa pergi senyumku. Padanya yang telah membawa pergi rasa itu. Dialah Gandira. Gandira terus tersenyum dan memelukku. Terimakasih Gandira. Kau telah kembalikan rasa itu, senyum itu, kehangatan itu, dan kebahagiaan itu. Kaulah sang suryaku. Kaulah sahabat terbaikku. Berjanjilah takkan pergi dariku lagi. Berjanjilah Gandira!

Cerpen Karangan: Isma Farah Afida
Facebook: Syarif Akbar

Cerpen Persahabatan Dalam Permainan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Life

Oleh:
Pada suatu siang yang cerah, ada seorang gadis cantik yang bernama alika pevita dia adalah, seorang pecinta komik dan novel. saat itu ia sedang berada di dalam toko buku

Lugunya Hati

Oleh:
Cinta, kata yang selalu melekat dengan usia remaja. Dan mungkin sampai kapanpun akan tetap menjadi bagian dari kisah hangat remaja. Kata itu adalah kata misterius, karena menjadi sebab akan

Tak Akan Ku Biarkan Dia Pergi

Oleh:
“Hai…” Panggil seseorang dengan suara lantang. Suara itu sudah sangat aku kenal. Tepatnya suara itu ku kenal mulai dari SMP. “Hai Aurel…” Balasku kepada seorang perempuan yang berlari riang

Sahabat Kiriman

Oleh:
Angel benar-benar terpukul dengan kepergian Anisa sahabatnya karena kecelakaan. Sejak itu Angel tidak mau lagi punya sahabat, karena ia tak ingin lagi kehilangan seorang sahabat. Suatu hari ada murid

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *