Persahabatan Itu…

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 1 March 2016

“Tunggu Nit, dengerin penjelasan dari aku dulu! Maafin aku, aku nggak nyangka kejadiannya jadi seperti ini. Nita, tunggu!” teriak cewek berkacamata yang berlensa tebal sambil berlari mengejar sahabatnya, Nita.

Nita berlari terus berlari tanpa menghiraukan teriakan serak sahabatnya, Liana. Untung saja, saat itu sekolah sudah sepi karena semua murid sudah pulang. Jadi, mereka tidak menjadi perhatian dan bahan pembicaraan murid-murid di sekolah mereka. Hanya karena kejadian itu. Akhirnya mereka berhenti di depan perpustakaan. Liana berhasil menarik tangan Nita, hingga akhirnya Nita berhenti. Mata Nita sembap. Dia menangis. Mereka larut dalam diam selama beberapa saat. Hingga akhirnya Nita buka suara.

“Apa lagi sih Li yang perlu dijelasin? Semua udah jelas. Jadi nggak ada yang perlu dijelasin lagi. Dan kamu juga nggak perlu minta maaf. Aku yang salah, aku yang terlalu ke-PD-an. Aku kira Rey suka sama aku. Aku kira Rey dan aku akan jadi pasangan paling bahagia di dunia. Aku kira kamu akan tulus bantu aku untuk deketin Rey. Aku kira kamu nggak bosen dengerin aku cerita tentang Rey. Tapi, aku salah. SALAH BESAR. Aku salah udah percaya sama kamu. Aku salah udah cerita banyak tentang Rey . Aku salah udah… Ah, aku salah. Aku yang salah.” jelas Nita sambil sesekali mengusap cairan bening yang mengalir di pipinya.

“Rey suka sama kamu. Ia mendekatiku hanya untuk mencari informasi mengenai dirimu. Dan hari ini dia menembakmu. HATIKU SAKIT LI, SAKIT.” bentak Nita sambil memegang dadanya. Dada Nita sesak. “Oke. Aku minta maaf. Aku nggak nyangka kejadiannya jadi seperti ini. Aku nggak tahu kenapa semua ini bisa terjadi. Aku juga nggak tahu kenapa Rey bisa menembakku seperti tadi.” kata Liana sambil memegang bahu Nita. Namun, Nita melepasnya secara paksa. Liana pun diam. Menunduk adalah sikap yang tepat.

Mereka kembali larut dalam diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Suasana yang dulu sangat nyaman, kini sudah berubah. Suasana menjadi canggung. Suasana menjadi tidak nyaman bagi mereka, terutama bagi Nita. Sebenarnya, Nita juga tidak ingin suasana ini menyelimuti mereka. Namun, ego Nita terus menguasai dirinya. Ego yang membuat suasana ini terjadi. Harusnya ia memaafkan Liana. Ah, tidak! Lupakan! Ego kembali merasuki Nita.

“Maafin aku ya Nit. kalau kamu nggak maafin aku, aku terima. Tapi aku nggak pernah nyesel jadi sahabat kamu. Makasih buat selama ini. Makasih buat bantuan kamu selama ini. Sekali lagi, makasih buat semuanya.” kata Liana bebarengan dengan raut muka sedihnya.

Ia sedih. Ia diam selama beberapa saat. Hingga akhirnya, ia berbalik dan meninggalkan Nita sendiri. Bayangan Liana pun hilang. Kini Nita sendiri. Ia menangis sekeras-kerasnya. Ia tak menyangka sahabat yang dulu sangat ia butuhkan meninggalkan ia sendiri. Meninggalkan saat ia membutuhkan tempat untuk bersandar. Namun, ia juga salah. Ia tetap mempertahankan ego-nya. Harusnya ia tak usah marah dan tak usah mempertahankan ego-nya. Namun, ia belum bisa menerima semua ini. Nita kembali menangis.

Nita berjalan menuju kamar mandi. Ia mencuci mukanya. Setelah melihat kaca, ia kaget dan sedikit kecewa. Muka yang dulu selalu ceria, kini berubah total. Mata yang dulu selalu berbinar, kini menjadi sembap. Pipi yang dulu kering dan putih, kini menjadi basah dan lebih terlihat hitam. Setelah dirinya sedikit tenang, ia kembali ke kelas untuk mengambil tasnya. Setelah mengambil tas, ia berjalan menyusuri koridor sekolahnya yang kini sudah sepi. Dari koridor itu, hanya terlihat seseorang bapak tua. Bapak itu sedang menyapu halaman sekolah yang penuh dengan dedaunan kering. Pak Gun, begitu ia biasa disapa. Ia adalah penjaga sekolah Nita. Walau sudah tua, namun semangat kerjanya masih seperti anak muda. Bahkan semangat anak muda pun kalah dengan semangatnya.

“Sore Pak Gun.” sapa Nita ramah. Ia juga tersenyum. Tapi senyum itu tidak seperti biasanya. Senyum itu dipaksakan untuk keluar.
“Oh, Nak Nita. Nak Nita kok belum pulang? Ini sudah jam lima lebih dua puluh menit loh. Memangnya ada ekstra? Bukannya ekstranya sudah selesai. Oh memang ekstranya sudah selesai ya? Aduh kok saya jadi lupa seperti ini toh.” kata Pak Gun sambil menepuk jidatnya. Nita pun tertawa melihat sikap Pak Gun. Kini, senyumnya keluar secara tak sadar. Pak Gun sudah tua, maklum jika ingatannya sudah agak terganggu. Orang muda saja kadang juga pelupa, apalagi yang sudah tua seperti Pak Gun.

“Iya Pak, tadi ada keperluan. Jadi pulang jam segini deh. Ya sudah, saya pulang dulu Pak. Nanti kesorean.” kata Nita sambil melihat jam tangan mungilnya. Jam tangan berwarna kuning itu berada di tangan kirinya. Jam itu adalah hadiah ulang tahun dari Liana. Ah, Liana lagi! Nita kembali menunduk menatap dedaunan kering yang baru saja jatuh dari rantingnya. “Ya sudah saya pulang dulu ya Pak. Dadah Pak Gun.” kata Nita sambil melambaikan tangannya. Ia berjalan menjauhi Pak Gun. Ia berjalan sambil melihat dan mengelus jam tangan pemberian dari Liana. Liana memberi jam itu saat Nita berulang tahun ke-16. Tahun lalu.

Liana memberi jam itu tahun lalu. Dibungkus cantik dengan kotak yang di atasnya terdapat pita merah yang terlihat mungil. Kotak itu diselimuti kertas kado berwarna biru muda dan bergambar Doraemon, kartun favorit Nita. Nita pun bernostalgia mengenai kejadian tahun lalu itu. Ia bernostalgia selama beberapa lama di halte bus. Halte bus itu berada tepat di depan sekolahnya. Akhirnya bus pun datang. Ia ingin segera pulang. Ia ingin segera masuk ke kamar dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut bergambar kartun favoritnya, Doraemon. Ia ingin bersenang-senang di alam mimpi. Ia lelah hari ini. Ia lelah karena menangis selama berjam-jam. Hal itu membuat Nita tidak ingin menangis lagi. Ternyata, menangis itu melelahkan.

Setelah sampai di rumah, ia langsung masuk ke kamar. Kamar itu tidak terlalu luas. Hanya ada satu jendela yang berada tepat di sebelah kasurnya. Jendela itu langsung mengarah ke taman yang berada di depan rumahnya. Dari jendela itu, Nita juga bisa melihat bagaimana proses terbenamnya sang surya. Warna biru muda pada dinding kamar Nita menandakan bahwa Nita merupakan cewek yang suka ketenangan. Perabot-perabot di dalamnya juga menandakan bahwa Nita adalah cewek yang rapi. Kamarnya selalu bersih. Tak ada sampah. Ia selalu rajin menyapu dan membersihkan kamarnya setiap minggu pagi, setelah ia pulang dari Gereja. Merebahkan diri ke kasur setelah sampai di kamar kesayangannya menjadi pilihan Nita. Kasur itu sudah 10 tahun menjadi tempat beristirahat bagi dirinya kala malam tiba. Ia menerawang ke langit-langit kamarnya.

Setelah merasa sedikit rileks, Nita mandi. Fresh dan merasa lebih tenang. Itu yang dirasakan Nita setiap kali ia selesai mandi. Ia suka air yang bersih. Menurutnya, air bersih itu bisa menenangkan hati. Karena setiap membasahi diri dengan air bersih, badan menjadi lebih fresh dan rileks. Apalagi, setelah melakukan aktivitas sehari-hari yang sangat-sangat melelahkan. Hmm, segarnya. Setelah mandi, ia langsung merebahkan diri ke kasur untuk masuk ke alam mimpi. Namun, mata Nita belum ingin tertutup. Ia belum ingin masuk dan bersenang-senang di alam mimpi. Ia menerawang langit-langit kamarnya. Membayangkan kejadian tadi siang. Kejadian Rey, cowok incaran Nita menembak sahabatnya, Liana. Nita bernostalgia.

Siang itu, bel pulang SMA Pelita Bangsa berbunyi. Bagi sebagian siswa, suara bel pulang lebih merdu daripada suara Rossa dan Isyana Sarasvati. Termasuk bagi dua cewek yang sudah dua tahun berada di sekolah itu. Mereka berdua bersahabat. Nita. Cewek kutu buku yang selalu setia mengikat rambutnya. Mengikat seperti ekor kuda. Poni miliknya selalu setia bertengger di dahi. Namun, itulah yang membuat wajah Nita mirip dengan anak kelas 2 SMP. Imut. Badannya mungil. Ia juga sangat berprestasi. Dari kelas 1 SD, Nita menjadi juara 1 di kelas. Ia juga terkenal baik dan ramah. Banyak orang yang ingin berteman dengannya. Namun, jika banyak orang ingin berteman dengannya, pasti adapula yang iri dengan dia. Iri dengan semua kelebihan yang ada dalam diri Nita. Tapi, Nita tak mau tahu semua itu. Ia hanya tahu, bahwa semua orang baik kepadanya. Ya, dia masih polos.

Liana. Sahabat dekat Nita ini adalah cewek cantik yang juga kutu buku. Rambutnya selalu setia terurai. Rambutnya hitam lebat dan bergelombang. Parasnya yang cantik dan badannya yang tinggi bak model, membuatnya menjadi incaran cowok-cowok di sekolah. Kacamata dengan lensa tebal selalu terlihat di wajahnya. Namun, itu tak menyurutkan semangat kaum adam di sekolah itu untuk mengejarnya. Malah, ia lebih terlihat cantik jika memakai kacamata. Ia juga baik dan ramah. Ia sangat mahir dalam bermain piano. Ia sering ikut berbagai lomba antar pianis. Dan ia sering memenangkannya. Benar-benar cewek yang hampir sempurna.

Nita dan Liana sudah bersahabat sejak kelas 1 SMA. Sejak mereka pertama masuk di sekolah SMA Pelita Bangsa. Mereka selalu melewati suka dan duka bersama. Menyelesaikan masalah mereka dengan baik. Persahabatan mereka tetap terjalin hingga kini. Namun, hari ini, persahabatan yang mereka bangun selama 2 tahun runtuh seketika. Rey, cowok incaran Nita, menyatakan perasaannya kepada Liana. Bukan Nita. Saat itu juga, Nita sangat marah. Ego terus menguasai dirinya. Hingga ia tak mau memaafkan Liana. Walau, Liana tak sepenuhnya salah. Tapi, ego Nita tetap setia menyelimuti dirinya.

Setelah sibuk bernostalgia tentang kejadian tadi siang, sedikit demi sedikit mata Nita mulai menutup. Hingga akhirnya, mata Nita tertutup dengan sempurna. Ia sudah berada di alam mimpi dan bersenang-senang di sana. Kamar Nita sunyi. Hanya suara jangkrik yang samar-samar terdengar. Akhirnya, Nita bisa tidur. Di alam mimpi, ia mendengar sebuah suara. Entah suara siapa itu. Sepertinya ia mengenali suara itu. Tapi yang jelas, saat itu Nita takut. Sangat takut. Hingga ia tak mengenali suara itu.

“Nita. Jangan takut. Ini Mama. Mama kangen banget sama Nita. Mama ingin sekali memeluk Nita, merawat Nita, membesarkan Nita, dan menjaga Nita. Tapi, Tuhan berkehendak lain, sayang. Ia ingin Mama berada di samping-Nya. Ia ingin Mama menjaga Nita dari jauh. Dari sini. Dari tempat tinggal Mama sekarang ini. Mama tahu, sekarang ini kamu sedang sedih. Kamu mencintai seseorang laki-laki. Tapi laki-laki itu malah mencintai sahabatmu. Dan sekarang kamu marah. Marah kepada sahabatmu. Mama tahu, ini sangatlah menyakitkan bagimu. Tapi, Nita, bagi laki-laki dan sahabatmu, ini lebih sakit daripada sakit yang kamu rasakan sekarang.”

“Sahabatmu mencintai laki-laki itu, begitu pula sebaliknya, laki-laki itu mencintai sahabatmu. Namun, sahabatmu merelakan cintanya pergi. Merelakan cinta itu hanya untuk mempertahankan persahabatan kalian. Persahabatan yang sudah kalian bangun selama hampir 2 tahun. Ia berusaha untuk mempertahankan itu. Namun, ia gagal. Saat ini, ia sangat sedih, sayang. Ia sedih karena kini, sahabat yang sangat dia sayangi meninggalkan dirinya. Nita, Mama mohon, hilangkan egomu. Perbaiki persahabatan kalian yang sudah kalian bangun selama 2 tahun. Biarkan dia bersama laki-laki yang dia cintai. Walaupun laki-laki itu adalah laki-laki pujaanmu. Karena, cinta tak harus memiliki, Nita. Dan karena, persahabatan itu lebih penting daripada percintaan. Mama harap, kamu mau mendengarkan Mama. Mama sangat sayang Nita.”

Nita kaget. Ia langsung bangun dan minum air putih yang berada di meja kecil. Meja yang berada di sebelah tempat tidurnya. Setelah merasa sedikit tenang, ia paham. Suara misterius itu memang suara Mama Nita. Mama Nita yang meninggal 1 tahun lalu. Saat Nita masih berumur 16 tahun. Kecelakaan pesawat menjadi penyebab meninggalnya Mama Nita. Saat itu, Nita sangat terpukul. Mama yang selalu menjadi tempat curhat dan bersandarnya. Kini meninggalkan ia untuk selamanya. Sekarang ia hanya memiliki seorang papa. Papa yang selalu menjaga Nita dan melakukan semua pekerjaan yang dulu dikerjakan Mama Nita.

Papa Nita memang papa yang hebat. Nita sangat sayang pada papanya. Sama seperti ia sayang pada mamanya. Tadi, Mama Nita berpesan. Nita tidak boleh mempertahankan egonya. Ia harus merelakan Rey bersama Liana. Sekarang, ia sadar. Mama Nita yang telah menyadarkannya. Hanya karena seorang laki-laki, persahabatannya dengan Liana hancur. Dan kini, ia tak mau itu terjadi. Besok ia harus meminta maaf kepada Liana. Ia juga harus membiarkan Liana bersama laki-laki yang dicintai dan mencintai Liana. Besok ia harus bertemu dan meminta maaf kepada Liana. Harus! Karena sekarang ia sadar. Persahabatan itu lebih penting daripada percintaan.

The End

Cerpen Karangan: Fransisca Astri Dianswari
Facebook: Fransisca Astri

Cerpen Persahabatan Itu… merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kejar Aku Ke Negeri Jiran

Oleh:
Jadi seorang traveller adalah pilihan hidupku. Setelah lulus wisuda aku bertekad pergi ke negeri Jepang untuk menjadi traveller ternama di sana. Takkan mungkin aku pergi tanpa restu dari orangtuaku.

Tearsdrop On My guitar

Oleh:
Cakka looks at me… i fake a smile… he won’t see… what i want and i need.. and everything that we should be… Aku melajukan Honda Jazz Biruku di

Hanya Kamu

Oleh:
Hari itu, hari Minggu, pukul sembilan tepat, aku bertemu dengannya di taman. Seseorang yang kini menjadi bagian dari kenangan hidupku, sedang kurindukan. Mataku bergulir melihat jalanan pekarangan rumahku di

Kamu Itu Temanku

Oleh:
Aku sudah bosan berlarut-larut dalam kebingungan ini. Aku lelah terus menanti perubahan sikapmu itu. Aku berusaha bersikap seperti biasa, seolah-olah di antara kita tidak pernah terjadi masalah. Tapi kamu

Aku Rindu Kamu Sahabat

Oleh:
Aku Adinda, aku punya sahabat yang namanya Ami. Aku dan Ami bersahabat sudah sejak kelas 4 SD, tapi semenjak kelas 1 SMP aku dan dia semakin jauh. Kami jauh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *