Pertemuanku Dengannya

Judul Cerpen Pertemuanku Dengannya
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 18 May 2016

Aku baru saja ke luar dari gedung sekolahku pada sore itu. Sungguh lelah hari ini, mengikuti pembelajaran sore yang membosankan. “Akhirnya, selesai juga latihan menari sore ini.” Gumamku sambil berjalan ke tempat parkir motorku. Aku tiba-tiba tertegun melihat seseorang yang sangat aku kenal berada di sebelah jalan raya yang ada di depanku. Wajahnya yang manis, rambut lurusnya yang digunting pendek, tak pernah berubah dari awal kami berkenalan.
“Tiara,” gumamku pelan sambil terus memperhatikan gadis yang tak jauh dari hadapanku itu.

Saat aku menatapnya, dia pun menoleh ke arahku. Tapi hanya sekilas. Aku ingin tersenyum padanya, tapi entah mengapa bibirku tak dapat membentuk sebuah senyuman. Dia juga terlihat biasa-biasa saja, dan cuek melihatku. Dia terlihat menaiki motornya dengan terburu-buru. Aku ingin meneriakkan namanya, nama yang tak akan pernah aku lupakan. Tetapi, mulutku tiba-tiba terkatup rapat. Aku tetap berdiri di depan pintu gerbang ketika dia telah pergi. Aku tak bergerak sedikit pun, seakan aku menjadi patung. Aku sungguh tak percaya dengan apa yang yang telah aku lihat beberapa detik yang lalu.

Aku kemudian seakan mendapat suatu dorongan untuk mengejarnya, dan segera mengendarai motorku. Aku berusaha sekuat tenaga mengejarnya. Aku masih dapat melihatnya, meskipun dia telah terlalu jauh dariku. Aku mempercepat jalannya motorku, dan hampir mencapainya. Akan tetapi, motorku tiba-tiba mogok di tengah jalan, dan aku pun baru tersadar, bahwa ternyata bensin motorku telah habis. Aku menatap ke depan, dan dia telah tak terlihat lagi. Aku berputus asa. Sudah tidak mungkin lagi untuk mengejarnya, karena itu akan sia-sia saja. “Apakah dia telah melupakanku? Apakah dia tak ingin mengenalku lagi? Bagaimana mungkin dia begitu cepat melupakanku, sedangkan aku sendiri tak dapat melupakan persahabatan kami, persahabatan antara aku dengan dia, yang telah terjalin bertahun-tahun.” Pikirku di tengah kegalauan yang melandaku.

Aku ingat, pada suatu hari aku dan Tiara sedang duduk santai di kursi taman. Dan dia berkata padaku dengan penuh kebijakan, “Nay, persahabatan kita berdua adalah persahabatan yang kekal abadi selamanya. Seperti sebuah kata pepatah lama, tak lapuk di hujan, tak lekang di panas.”
Aku tersenyum mendengar perkataannya itu dan aku berkata, “Iya Tiara. Kita kan best friend forever.” Tiara kemudian melanjutkan kata-kata bijaknya, “Aku tak akan pernah meninggalkanmu, aku akan selalu ada di sampingmu, baik saat kau sedang bahagia maupun saat kau sedang bersedih. Kita akan selalu saling berbagi.”

Tapi nyatanya, dia meninggalkanku, tak peduli lagi padaku. Entah kenapa, tanpa sebab yang jelas dia malah pergi menjauh dariku. Aku selalu berusaha mencari-cari kesalahanku, mencari informasi dari semua teman-teman, tapi tetap saja aku tak mengerti kenapa dia berubah. Ku coba untuk menghubungimu, baik melalui FB, BBM, SMS, dan telepon. Tapi, tak pernah ada balasan. Dan sore ini, saat kita secara tak sengaja bertemu, kau langsung pergi begitu saja tanpa mau menjelaskan apa pun padaku. Perasaanku pada Tiara bercampur aduk, antara rasa benci, marah, sedih, dan rindu. Kenapa persahabatan kita yang sudah terjalin bertahun-tahun berakhir seperti ini? Tanpa senyuman, tanpa canda tawa, tanpa kebersamaan di antara kita berdua lagi. Aku sangat merindukan kebersamaan kami dahulu. Semoga, suatu saat kami bisa bersahabat baik lagi.

SELESAI

Cerpen Karangan: Nurinayah
Facebook: Nurinayah

Cerita Pertemuanku Dengannya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kotak Hati

Oleh:
Masih teringat akan kesabaranmu menghadapi kelupaan-kelupaanku, bahkan namamu pun kadang terbalik dengan nama teman kita yang ku rasa hampir mirip. Henti! Ya dia sahabat yang benar-benar pengertian, ia jarang

Sahabat Air Mataku

Oleh:
Kuratapi jam di tangan. Ternyata, sudah pukul 5 sore. Sahabatku belum juga kunjung datang. Aku menunggu, dengan sabar. Dan kemudian, datanglah sekelompok anak-anak yang mulai mendekat padaku. Ya! Mereka

Cantikmu, Hatimu

Oleh:
Pelan. Selangkah demi selangkah kakiku berjalan. Ku kontrol sekali agar kedatanganku tidak diketahuinya. Tangan kiriku membawa kue kecil. Sedangkan tangan kananku siaga menghalau angin agar tidak membunuh api lilin

Kenangan

Oleh:
Rara terdiam, ia membisu, melihat ke langit-langit, matanya berkaca-kaca. Ia menoleh kanan dan kiri, melamun sejenak dan merenung di sebuah taman yang sepi. Ia duduk pada ayunan di bawah

Kembalinya Seorang Sahabat

Oleh:
Jam menunjukkan pukul 06:00 wib pagi, alhamdulillah selesai juga. Kataku sambil merenggangkan tubuhku, setelah selesai belajar diniyah pagi. Aku adalah seorang santri di sebuah pondok pesantren di daerah jawa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *