Pilihan Kami dan Pilihan Mereka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 1 March 2015

Keadaan mula-mula berjalan dengan sangat lancar dan sangat amat baik, dari jam pelajaran pertama dan seterusnya. Tapi keadaan mulai menjadi sebuah bencana bagiku saat pelajaran bahasa Indonesia, ibu guru memberikan tugas diskusi dan semua siswa-siswi di kelasku harus berkelompok dengan teman yang ada di bangku belakangnya. Jujur, aku tidaklah akrab dengan teman-teman yang ada di bangku belakangku, yaitu Rifky dan Dias. Melihatnya saja enggan apalagi berbicara dengan mereka. Sebenarnya aku tidak terlalu bermusuhan dengan Rifky, karena musuhku ialah Dias karena dia itu sangat egois, pemarah, dan sok paling benar, karena itu aku tidak suka dengannya. Teman sebangkuku, adalah Crista juga tidak terlalu suka dengan 2 orang yang ada di belakang kami. Mereka berdua duduk di bangku belakangku karena mereka ingin dekat dengan genk mereka yaitu, Zidan, Anto, Ardy, Bima, Arjuna dan Danang. Rifky dan Dias sebenarnya dulu mereka hanya tidak suka dengan Crista, karena mengganggap Crista itu sifatnya aneh dan kekanak-kanakan, tapi entah mengapa mereka juga tidak menyukaiku.

Aku hanya berdiskusi dengan Crista dan tidak menghadap ke belakang. Sebenarnya kami sudah mencoba untuk menghadap ke belakang dan meminta mereka untuk berdiskusi dengan kami, tapi mereka justru memilih untuk bergabung dengan kelompok lain, yang tidak lain adalah genk mereka. Melihat mereka bergabung dengan kelompok lain, kami hanya diam saja dan memilih untuk berdiskusi tanpa mereka. Tapi ternyata, sang guru melihat gerak-gerik kelompok kami, dan mencurigai tindakan kami. Perlahan-lahan bu guru melangkahkan kaki menuju bangku kami, dan tanpa kami sadari beliau segera membentak kami “KENAPA KALIAN TIDAK BERDISKUSI?” bentak beliau sambil melotot dan memasang muka berapi-api, “sebenarnya kami mau berdiskusi, bu. Tapi Yana dan Crista yang tidak mau berdiskusi dengan kami” kata Dias sambil menatap sinis ke arahku. ‘ternyata kau hebat juga dalam memutar balikan fakta’ kata ku dalam hati. “Yana, Crista. Kalian harus mau berdiskusi dengan mereka, kalian harus bergabung dengan mereka” kata bu guru dengan nada tinggi, dan semua mata teman-teman sekelasku segera menatap aku dan Crista, korban dari kebohongan monster cerewet. “untung aku tidak dimarahi” kata Rifky. Tiba-tiba Rifky menoleh ke arah ku dan berbisik pada Dias, tapi aku tak sengaja mendengar perkataannya “aku dengar, Yana dan Crista sudah bersahabat sejak TK. Tapi walaupun begitu, Yana tidak merasa bosan ataupun kesal pada prilaku Crista yang aneh” kata Rifky, aku tidak sempat mendengar perkataan dari Dias, tapi mungkin dia akan menjawab begini “mungkin karena mereka sama-sama aneh”. Aku melirik ke arah bu guru, beliau masih memperhatikan kelompok kami. ‘kami manusia, mereka monster. Kami tidak bisa disatukan’ kataku dalam hati, lalu aku memulai kembali diskusi dengan Crista. Aku melihat Crista, juga agak tidak nyaman dengan keadaan ini.

Sampai bel pulang sekolah berbunyi, belum ada satu pun soal yang berhasil kami jawab, karena kami tidak pernah mendiskusikan ini. Aku dan Crista pun segera berkemas dan keluar dari kelas, lalu kami menuju taman sekolah yang terlihat agak sepi, hanya beberapa anak duduk-duduk disana dan ada juga yang berlarian sambil tertawa lepas. Aku dan Crista hanya memandangi anak-anak itu, seolah kami iri pada mereka karena kami sekarang kehilangan senyuman kami, akibat dari amarah dari bu guru dan kebohongan yang dibuat Dias. ‘dalam sejarah pertemananku, aku tidak pernah punya musuh, dan tidak pernah punya masalah dengan teman sampai seperti ini’ kata ku dalam hati. Crista mulai membuka pembicaraan “aku minta maaf, Yana. karena diriku, kau jadi tidak disukai oleh dua anak itu. mereka awalnya kan hanya tidak menyukaiku, sepertinya sekarang mereka juga tidak menyukaimu” kata Crista sambil merundukan kepalanya “tidak masalah, aku kan sahabatmu. Aku juga akan menerima penderitaanmu” balas ku sambil tersenyum lalu aku merangkulnya.
“Yana, mungkinkah gara-gara masalah diskusi tadi kita akan dimasukkan ke daftar murid-murid yang dibenci bu Susan dan murid-murid yang perlu diwaspadai” kata Crista dengan menampilakan ekspresi polosnya
“mungkin, bisa saja nama kita ditulis menggunakan tinta merah. Atau jika perlu ditulis menggunakan darah” kata ku lalu aku tertawa karan perkataanku sendiri
“darah?”
“ya, tapi darah ayam. Bisa jadi, saat pulang dari sekolah bu Susan menyembelih ayam dan mengambil darah ayam itu untuk menuliskan nama kita”
“ha… ha… ha kau benar, kasihan ayamnya disembelih cuman diambil sedikit darahnya”
Kami pun tertawa bersama, lalu sedikit bercanda. Tapi keheningan mulai terjadi lagi, saat melihat Rifky dan Dias bersama genk mereka melintas di hadapan kami.
Aku dan Crista masih dalam diam, tak satu pun dari kami yang berkata-kata setelah meilihat 2 anak itu. “aku heran, kenapa si Dias memutar balikan fakta?” Tanya Crista
“aku juga tidak tahu, tapi yang jelas dia itu kan cerewet dan pandai berkata-kata. Jadi menurutku itu bukanlah hal yang mengagetkan”
“dia kan laki-laki, padahal biasanya kan yang cerewet dan pandai berkata-kata itu kan cewek”
“entahlah”
“perempuan yang terjebak dalam tubuh laki-laki, mungkinkah itu Dias?”
“ha… ha… ha kalau Dias berpikir dirinya seperti itu, aku yakin setelah lulus SMP nanti dia akan operasi ganti kelamin”
“ha… ha… ha ternyata Dias itu b*nci ya? Padahal dia kalau di kelas selalu sok jagoan dan sok pemberani”

Setelah beberpa lama kami menjadikan Rifky dan Dias sebagai bahan candaan kami, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Sesampainya aku di rumah, aku mendapati HPku yang berdering dan setelah aku melihat siapa yang menelpon, ternyata dia adalah sepupuku Nancy. Dia bilang kalau dia mau ke rumahku, katanya sih ingin main aja.

Nancy pun tiba di rumah ku, aku mengajaknya ke kamarku. Nancy memang sering aku curhati seputar masalah pertemanan, keluarga, sekolah, cinta, dan lain lain. Dan dia selalu bisa memberi saran yang baik dan berguna bagiku, dan untuk masalahku bersama kedua musuhku pun aku menceritakannya.

“Nancy, aku punya teman di kelasku. Aku dan mereka tidak terlalu dekat, aku tidak suka mereka dan mereka pun tidak suka denganku. Ini semua karena sahabatku Crista, tidak disukai mereka. Aku dan dua anak itu memang tidak pernah menyatakan permusuhan kami, tapi kami tidak pernah bertegur sapa dan sangat jarang berkomunikasi. Dan hari ini aku diberi tugas kelompok dan aku satu kelompok dengan mereka, mereka tidak mau berdiskusi dengan ku dan Crista. Tapi saat ditanya guru, mereka memutar balikan fakta. Akibatnya, nilaiku terancam dan namaku menjadi jelek di hadapan guru bahasa indonesiaku, karena aku dianggap pilih-pilih teman. Jadi aku harus bagaimana?” ucap ku panjang lebar tinggi (memangnya bangun ruang ada panjang, lebar dan tinggi). Nancy yang sedari tadi mendengarkan curhatanku sambil memainkan gitar, sekarang dia sudah meletakkan gitarnya dan menatapku penuh perhatian, “Yan, mereka sering membuatmu kesal?”
“pastinya, aku terkadang sering emosi juga”
“mereka ada bukan untuk menjadi musuhmu, jangan pernah benci mereka! Kau orang yang kurang sabar kan?”
“ya, tapi aku mulai bisa sedikit sabar ketika berhadapan dengan mereka”
“bagus, mereka itu ada untuk membantumu menjadi lebih sabar. Oh ya, kau bilang kalian tidak pernah menyatakan permusuhan kalian kan? Berarti, kamu punya pilihan. Yaitu, mengganggapnya sebagai musuh atau sebagai teman. Saranku, tetap baik saja dengan mereka. Tetap sabar, dan coba jalin komunikasi yang baik. Aku yakin, mereka akan mengganggapmu teman baik”
“itu terlalu sulit bagiku, tapi aku akan mencoba. Tapi bagaimana jika mereka lebih memilih untuk menjadikan aku sebagai musuh mereka?”
“tak usah khawatir. Kau masih punya banyak teman lainnya kan? Cari teman sebanyak banyaknya, tapi tetap dalam pergaulan yang baik. Untuk menghindari permusuhan, jaga tingkah lakumu dan perkataanmu”
Perkataan dari Nancy, membuatku menjadi marasa lebih baik. Sebenarnya aku ingin memilih untuk menjadikan mereka teman, tapi bagaimana dengan pilihan Crista? Aku akan menanyakannya besok.

Sampai hari ini Crista masih sama saja seperti kemarin-kemarin. Saat pulang sekolah, Fiona teman sekelas ku tiba-tiba mendatangi kami saat kami sedang duduk-duduk di taman sekolah. “hai, Yana! Hai, Crista! Sepertinya hati kalian sedang dalam keadaan tidak baik, setelah Rifky dan Dias tidak mengganggapmu sebagai kelompok mereka” kata Fiona
“ya, aku sebel sama 2 orang itu” kata Crista
“kamu tahu tidak caranya bikin hati yang sebel jadi plong?” tanyaku
“ini mungkin agak gila untuk dilakukan, tapi aku sering melakukannya saat perasaanku sedang dongkol. Yaitu, dengan berlari-lari mengelilingi lapangan sambil teriak A, I, U, E, O” kata Fiona sambil tertawa
“sepertinya itu ide bagus. Yan, ayo kita coba. Siapa tahu itu benar-benar manjur, itung-itung juga untuk olahraga”
‘ini ide gila’ batinku
“bukannya itu biasanya untuk latihan vokal untuk drama?” tanyaku pada Fiona
“ya, aku kan dulu saat SD ikut ekstrakulikuler drama”

Kami bertiga, akhirnya berjalan menuju lapangan sekolah. Kebetulan lapangan sedang sepi, paling tidak saat aku berteriak sambil lari-lari nanti tidak ada yang menertawakannya. Kami mulai berlari-lari kecil dan meneriakkan A, I, U, E, O.
“A, awas kalian monster cerewet”
“I, indahnya suasana kelas jika kalian tidak ada di sana”
“U, udah cerewet pembohong lagi”
“E, enak aja nuduh-nuduh kita”
“O, ogah aku jadi teman kamu”
Kami terus berteriak dan berlari.

Setelah puas berlari sambil berteriak, kami pun menepi dan segera meminum air yang tadi kami persiapkan. Ternyata benar kata Fiona, memang agak gila tapi menyenangkan dan menenangkan. Hatiku sudah agak plong, dan aku sudah memutuskan pilihanku. Aku bertanya pada Crista, apakah dia mau menjadikan Rifky dan Dias sebagai teman dan bukan musuh. Ternyata, dia mempunyai pemikiran yang sama denganku. Dia ingin menjadikan mereka sebagai teman, tapi dia juga berpikir bagaimana jika mereka mengganggap Crista sebagai musuh. Tapi akhirnya Crista tetap memilih untuk menjadikan mereka sebagai teman, apapun reaksi dari Rifky dan Dias. Untuk masalah tugas kelompok, Fiona menawarkan untuk aku dan Crista bergabung dengan kelompoknya, karena ia dan teman sebangkunya juga kurang cocok dengan 2 orang yang lain di kelompoknya. Dan akhirnya, aku dan Crista memutuskan untuk menjadi satu kelompok dengan Fiona.

TAMAT

Cerpen Karangan: Yana

Cerpen Pilihan Kami dan Pilihan Mereka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


(Bukan) Kisah 1001 Malam

Oleh:
Dedaunan kering beterbangan mengiringi langkahku. Tampaknya Sang Mentari sedang malas memunculkan cahaya hangatnya atau karena kumpulan mendung yang seolah arisan, menutupinya. Semilir angin tak begitu dingin, tapi cukup membekukan

Kembali

Oleh:
Langkahku mengarah lurus pada sebuah gitar tua yang tengah bersender di lemari kayu. Teringat meriahnya suara tepuk tangan yang sering kudengar dulu. Lama memang, sudah dua tahun sejak kali

Hujan Di Tengah Gerhana Matahari

Oleh:
Hari berganti hari, minggu telah berganti minggu lagi. Tak terasa seiring berjalanya waktu, tubuh manusia akan terus bertumbuh dan usia kita hidup akan terus berkurang. Dimana ada suka cita,

Akhirnya Sahabat Ku Punya Pacar Juga

Oleh:
Hari ini merupakan hari ulang tahun sahabat kami, ia bernama Fania. Ia sahabat kami yang super duper jutek sehingga ia tidak penah berpacaran, padahal banyak cowok-cowok yang naksir terhadapnya

Long Live (Part 2)

Oleh:
Semester telah selesai waktunya pengambilan raport dan pengumuman juara kelas. Aku berdoa waktu itu agar aku tidak menjadi juara kelas lagi. Aku baru saja mendapatkan teman dan aku tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *