Posesif (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 2 February 2016

Saat perasaan yang disebut cinta itu datang dan mengisi hari-harimu, perlahan ia akan mengubah dirimu menjadi seseorang yang tak kau kenali lagi, bahkan oleh dirimu sendiri. Memilih antara orang yang kau cintai dan teman-temanmu, mendahulukan kepentingannya di atas kebutuhanmu. Mengingkari janji yang kau buat dengan para sahabat karena sebuah janji dengannya. Melakukan semua hal yang dulu kau benci, hanya untuk mempertahankan dirinya. Saat hal itu terjadi, pantaskah perasaan itu disebut cinta? Atahu hanya obsesi? Ambisi?

Siang itu kantin dipenuhi dengan para mahasiswa kelaparan yang baru saja selesai praktikum. Di salah satu sudut kantin, beberapa orang cewek berkumpul, mereka terlihat bersemangat membicarakan suatu hal. “Jadi mereka beneran udah jadian?” seorang cewek berseru tak percaya. “kalau itu sih, gue juga belum yakin. Tapi.. malam minggu kemarin gue ngelihat mereka berdua boncengan.” seorang cewek yang terlihat seperti pembawa acara gosip berkata dengan suara pelan. “Yeey, kalau cuma boncengan doang mah udah biasa kan.” cewek lainnya menimpali. Para cewek itu kembali sibuk dengan spekulasi mereka mengenai pasangan baru di jurusan mereka. Sudah biasa memang, pasangan-pasangan bermunculan dan menghilang di kampus, terlebih karena faktor ‘cinta lokasi’ selama kuliah lapangan.

“Hei, lagi bicarain siapa?” seorang cewek menyeruak masuk ke kerumunan itu. “Eh, lo Nessa. Biasa, si Ari sama Dina.” Wenni, si cewek pembawa acara gosip berujar santai.
“Oh, masih pada penasaran sama mereka ya?” Nessa menyeruput teh es-nya sambil memandang para cewek di sekitarnya.
“Emang lo nggak penasaran, Sa? Mereka kan selalu bilang nggak ada hubungan apa-apa, tapi tiap malam minggu kepergok lagi jalan.” Lucy mencibir. “Iya, terus gue denger, alasan Ari keluar dari Mapala itu karena permintaan Dina” Tania menambahkan dengan bisikan pelan. Nessa meletakkan minumannya, terperangah.

“Dia keluar dari MAPALA? Si Ari yang gila naik gunung itu keluar dari MAPALA? Lo serius, Ta? Denger dari siapa?” Nessa memberondong Tania dengan pertanyaan. “Kemarin pas gue lagi duduk di perpus, gue nggak sengaja denger Bang Fahmi sama Kak Echa bicarain soal itu. Kayaknya sih Bang Fahmi kecewa gitu si Ari keluar, soalnya dari jurusan kita kan cuma lo, dia, sama Lizzie yang ikut Mapala. Nah berhubung lo sama Lizzie udah lama keluar, tinggal Ari yang jadi wakil jurusan kita, sekarang tuh cowok malah ikutan keluar. Jadi yaah, gitu deh.” Tania bercerita dengan semangat.

Nessa menghela napas, tak disangkanya cowok yang dulu dikenalnya, yang dulu disebutnya saudara, bisa berubah sedrastis itu hanya karena seorang cewek. Sejauh yang diketahuinya tentang Ari, cowok itu takkan mau diatur oleh siapa pun, terlebih untuk cewek setipe Dina. Selain itu, malam mingguan? Cowok yang selalu bilang kalau malam mingguan itu cuma buang-buang waktu, yang selalu cerewet melarang dirinya dan Lizzie untuk pacaran, sebab menurutnya pacaran itu haram. ‘Cih, sekarang siapa yang menjilat ludah sendiri hah?!’ Nessa menggeram kesal.

Kantin mulai sepi, para mahasiswa sudah bergegas ke gedung perkuliahan untuk kelas selanjutnya setelah makan siang, atau bagi beberapa mahasiswa yang hobi telat atau nitip absen mereka bergegas ke sekretariat HIMA untuk melanjutkan tanding PS bersama para senior ataupun teman ‘seperjuangan’. “Sa, lo mau bareng sama kami ke kelas nggak?” Wenni mengeluarkan beberapa lembar uang sepuluh ribuan dari dompetnya, bersiap membayar pesanannya. Cewek-cewek lainnya sudah berdiri dan menyandang tas masing-masing.

“Eh, duluan aja deh. Gue masih ada urusan.” Nessa ikut berdiri dan membayar minumannya.
“Nggak apa-apa nih lo sendirian?” Jenny, salah seorang cewek di kelompok itu menatap Nessa dengan pandangan iba.
“Please Jen, biasa aja..” Nessa menimpuk cewek itu dengan buku teks yang dibawanya.
“Haha, iya iya..” Jenny melarikan diri dari serangan Nessa. “Oke, sampe ketemu di I.2.10.” Tania berseru sambil berjalan ke luar dari kantin.

Segera setelah ia menerima uang kembalian, Nessa bergegas menuju labor, mencari seseorang yang diyakininya akan tertarik dengan informasi terbaru ini. Baru saja ia akan menaiki tangga, suara beberapa cewek terdengar mendekat, salah satunya milik Lizzie. Mendekati dasar tangga, Lizzie menyadari Nessa yang menunggunya di koridor.
“Hei Ness, nungguin gue?” Lizzie tersenyum pada cewek berambut ikal itu. “Yoi, ada yang mau gue ceritain.” Nessa membalas senyuman Lizzie dengan cengiran kecil.
“Well, kalau gitu kalian duluan aja deh. Entar gue ke kelas bareng sama Nessa aja.” Lizzie berujar pada teman-temannya. “Oke, kami duluan ya.” Viola melambai pada Nessa dan Lizzie. Kedua cewek itu berjalan pelan menyusuri koridor yang menghubungkan kantin jurusan dengan gedung perkuliahan.

“Jadi, apa yang mau lo ceritain?” Lizzie menoleh pada cewek di sampingnya.
“Hmm, itu. Gue yakin lo udah tahu gosip soal hubungan Ari sama Dina.” Nessa mengucapkan tiap kata dengan hati-hati. “Well, gue tahu kok.” Lizzie menjawab pelan, ia tersenyum penuh arti.

Sebenarnya, jauh sebelum Nessa membeberkan informasi ini, sebelum para cewek di kelasnya sibuk membicarakan Ari dan Dina, ia sudah lebih dulu tahu. Informasi itu ia dapatkan langsung dari Dina, si sumber keributan. Hal itu terjadi dua minggu lalu, secara tak sengaja ia bertabrakan dengan Dina saat baru keluar dari toilet. Belum sempat Lizzie mengatakan apa pun, cewek itu mendelik kesal padanya dan menyerangnya dengan serentetan omelan.

“Gue nggak tahu dan nggak mau tahu gimana sebenernya hubungan lo sama Ari. Tapi, sepertinya apa pun itu hubungan itu udah end. So, gue ingatkan sama lo, jangan coba-coba deketin dia, jangan pernah berusaha untuk dapetin dia, karena dia sama sekali nggak tertarik sama lo.” Lizzie masih ingat dengan jelas raut wajah Dina saat itu. Betapa cewek itu sepertinya membencinya. Dibalasnya tatapan Dina dengan senyuman kecil, “Well, mungkin lo nggak suka sama gue, dan gue juga nggak suka sama lo. Tapi, gue nggak punya urusan apa pun sama lo. kalau memang si Ari masih punya masalah sama gue, bilangin ke dia, selesaikan masalahnya sendiri. Jangan beraninya di belakang cewek doang.”

Merasa ‘diserang’ dengan perkataan Lizzie, Dina membalas dengan rentetan kata-kata lainnya.
“Tapi, lo pernah suka sama dia kan? Nggak tertutup kemungkinan kalau lo bakalan nge-ganjen dan mencoba ngerebut dia dari gue kan?” ujar Dina dengan nada meremehkan. “Sebenarnya, gue malah bersyukur kalau sekarang lo jadian sama dia. Gue jadi tahu sifat aslinya Ari.” Lizzie berjalan menjauhi Dina, meninggalkan cewek itu terdiam.
“Maksud lo apaan ngomong kayak gitu? Jangan sok kenal sama Ari! Gue lebih dulu tahu dia dibanding lo dan teman lo si Nessa itu. Sekali lagi gue peringatkan, kalian berdua jangan coba-coba deketin Ari!” Dina meneriakkan kata-kata itu sambil berlari menjauh.

“So, lo udah tahu langsung dari orangnya ya?” Nessa tertawa kecil. Mereka berdua duduk di deretan bangku di bagian belakang kelas yang mulai penuh. Mahasiswa mulai berdatangan untuk kelas siang itu, namun tak terlihat Dina dan Ari di mana pun. “Lo nggak ngerasa terganggu dengan itu Lizz? Dari awal lo udah nggak suka sama Dina kan? Sekarang dia jadian sama Ari, dan itu nggak masalah buat lo?” Nessa mendekatkan tubuhnya dengan Lizzie, mencegah orang lain menguping pembicaraan mereka. “Yaah, kalau dibilang terganggu sih, iyaa gue terganggu. Tapi, habis itu gue mikir lagi buat apa gue mikirin kata-katanya Dina? Lagi pula gue udah menegaskan ke dia kalau gue sama sekali nggak tertarik lagi sama Ari.”

Lizzie mencuri pandang ke arah pintu kelas, kalau-kalau yang dibicarakan datang. Nessa ikut melirik ke arah pintu, lalu melanjutkan perkataannya, “Si Dina itu bener-bener keterlaluan, dia pikir kita cewek apaan? Dikiranya kita setipe sama dia apa?” Nessa menggeram. “Udahlah, nggak ada gunanya juga kita ngurusin mereka berdua. Kita lihat aja gimana kelanjutannya nanti..” Lizzie memberi kode pada Nessa, dosen yang mengajar kelas siang itu memasuki ruangan. Serempak para mahasiswa yang tadinya mengobrol dengan semangat langsung terdiam, mereka berlarian ke tempat duduk masing-masing dan sibuk mengeluarkan alat tulis. Dua sejoli yang ramai dibicarakan -Ari dan Dina- masih belum muncul.

15 menit kemudian, pintu kelas yang tertutup diketuk dari luar. Perlahan, pintu itu terbuka, memperlihatkan wajah Ari yang tersenyum canggung. “Permisi Pak, maaf saya terlambat.” suaranya yang serak memecah keheningan di dalam kelas. Perhatian para mahasiswa yang awalnya terfokus pada slide sang dosen tiba-tiba teralihkan pada sosok di luar kelas itu. Sang dosen berjalan mendekati pintu dan membuka pintu tersebut lebih lebar, menampakkan sosok Dina yang berdiri tepat di belakang Ari. Pemandangan itu membuat setiap pasang mata di dalam kelas tertuju pada mereka.

“Anda berdua mengambil mata kuliah ini?” dosen tersebut berkata dengan nada datar.
“I..iya Pak.” Ari menjawab kaku.
“Anda tahu jam berapa kelas dimulai?” sang dosen menatap keduanya dengan tatapan ‘jangan-main-main-dengan-saya’.
“Jam 13.00 Pak.” Ari menjawab pelan, suaranya yang biasanya tegas dan menyiratkan kepercayaan diri kini menghilang, digantikan dengan suara gemetaran yang asing bagi Lizzie.
“Saudara tahu sekarang jam berapa?” dosen itu memperbaiki letak kacamatanya.

“Ngg.. jam 13.25 Pak.” Ari melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya. Gerakan itu membuat setiap pasang mata dalam kelas ikut melihat arloji tersebut, termasuk Lizzie. Lizzie menyipitkan mata, mencoba melihat lebih jelas arloji hitam yang dikenakan Ari, benda itu tampak familiar. “Lizz, jam tangan itu bukannya yang lo kasih untuk kado ulang tahunnya tahun lalu?” Nessa lebih dulu mengungkapkan apa yang ada di pikiran Lizzie. “Gue rasa sih gitu. Lo juga bantuin gue milih jam itu kan?” Lizzie menyikut temannya. “Menurut lo kenapa dia masih pakai jam itu? Apa si Dina nggak punya duit buat beliin cowoknya jam baru?” komentar Nessa sarkastis.

Lizzie tertawa kecil mendengar komentar teman akrabnya itu. Melihat Ari masih mengenakan barang pemberiannya berarti Dina belum mengetahui asal-usul arloji tersebut, kalau saja dia tahu. Negosiasi Ari dengan sang dosen sepertinya berhasil, karena Dina kemudian melangkah lebih dulu ke dalam kelas dan mencari tempat duduk yang kosong. “Kali ini Saudara saya maafkan, silakan duduk.” dosen tersebut kembali berjalan mendekati laptopnya dan melanjutkan penjelasannya mengenai rekayasa genetika. “Terima kasih Pak.” Ari menjawab pelan dan mengikuti Dina ke tempat duduk di salah satu sudut kelas.

Ditatap oleh teman-teman sekelasnya mau tak mau membuat Ari risih dan salah tingkah, berulang kali dialihkannya pandangan ke luar jendela kelas. Namun, Dina menikmati perhatian tersebut, entah mengapa ia merasa tiba-tiba populer. Ia tahu, anak-anak membicarakan dirinya dan Ari saat makan siang. Tiap kali mereka lewat di kantin, maka pandangan semua orang akan tertuju pada dua sejoli tersebut. Dan ia juga merasakan ada sesuatu yang berbeda dari pandangan Lizzie, cewek itu selalu menatapnya dengan sorot mata tak suka. ‘Well, itu wajar, karena Ari, cowok idamannya sekarang udah tergila-gila sama gue.’ setidaknya itulah yang ada dalam pikiran Dina.

“Sayang, ada apa? Kok kelihatannya kamu risih gitu, kamu nggak nyaman ya duduk sebelahan sama aku?” Dina menggerakkan tangannya, membuat sapuan lembut pada punggung tangan kiri Ari. “Nggak, bukannya itu.” dengan terang-terangan Ari menarik tangannya menjauh. “Masalah telat masuk kelas ini bikin bad mood aja. Lagian kamu sih, kenapa mesti makan siang di café itu sih? Kan kita bisa makan di kantin jurusan aja.” Omelan Ari terdengar sayup-sayup di antara suara sang dosen di depan kelas.

“Oh, jadi kamu nyalahin aku? Oke, terserah kamu mau bilang apa. Tapi, itu tandanya kamu nggak sayang sama aku, kamu nggak mau berkorban buat aku.” Dina mendelik kesal pada cowoknya itu, suaranya lebih keras daripada sebelumnya. “Kenapa sih kamu harus menyangkutpautkan masalah kecil kayak gini sama sayang atau nggaknya aku ke kamu?” Ari membalas pandangan Dina dengan tatapan ‘bunuh-aja-gue-kalau-lo-ngambek-lagi.’
“Itu karena perasaan sayang aku ke kamu lebih besar daripada perasaan kamu ke aku.” Dina menjawab dengan nada manis yang dibuat-buat. Di suatu tempat dalam kelas tersebut seorang cewek tertawa tertahan mendengar perkataan konyol Dina, cewek itu Nessa.

“Lo denger percakapan si Ari sama Dina di kelas tadi Lizz?” Nessa berujar geli setelah dipastikannya kondisi aman untuk bicara. Mereka berjalan bersisian menuju halte, kelas hari itu berakhir jam 15.00 dan tidak ada jadwal kelas lain setelahnya. “Yep, mereka kayak pasangan di drama komedi percintaan. Nggak habis pikir gue kenapa mereka bisa jadian.” Lizzie mengedikkan bahu. “Betul, padahal dulu si Dina paling nggak suka sama Ari, bahkan katanya dia nggak sudi duduk di sebelah tuh cowok. Lah sekarang, kenmana-mana nempel terus berdua, kayak ketek sama Rexona. Hahaha..” Nessa tertawa lepas, namun tawanya terhenti saat dilihatnya raut wajah Lizzie berubah murung. “Hei, jangan bilang lo cemburu ngelihat mereka berdua. Ayolah Lizz.”

Lizzie menyikut Nessa pelan, “cih, siapa bilang gue cemburu sama mereka. Lo pikir gue tertarik sama Ari, gue nggak mau jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya Ness.” Kata-kata tersebut meluncur dengan lancar dari Lizzie, walau dalam hatinya terbersit rasa iri, mengapa harus Dina yang mendapatkan Ari? Nessa menyadari keraguan dalam suara sahabatnya itu, ia tahu betapa kerasnya usaha Lizzie mendekati Ari, dulu. Walau Lizzie selalu mengaku bahwa ia sudah melupakan ‘apa pun yang terjadi di antara dirinya dan Ari.’ begitu yang selalu dikatakannya, namun Nessa yakin perasaan itu belum sepenuhnya hilang.

Bersambung

Cerpen Karangan: Buti Yohenda Christy
Facebook: Buti Yohenda

Cerpen Posesif (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hingga Napas Ini Habis

Oleh:
“Kita pernah coba hempas, kita pernah coba lawan, kita pernah coba melupakan rasa yang menghadang. Kau bilang perbedaan ini bagaikan jurang pemisah maka biarkan aku menyeberang dan coba berjuang.

Jangan Pergi, Ri

Oleh:
Meskipun nama itu terdengar pasaran, tetapi orang kayak kamu nggak pasaran. Cantik, baik, lugu, pintar, feminim, dan humoris. Saat ku berteman denganmu, aku rasa kamu sahabatku. Tapi saat malam

Meniadakan Kenangan

Oleh:
“Tunggu dulu, Sya! Dengerin dulu!” Ia menahan tanganku dengan cengkraman sekuat elang. Pelupuk mataku semakin penuh dengan genangan air mata. “Apa lagi? Sudah jelas kan, kamu pilih dia.” Ujarku

Kesekianku Bercerita

Oleh:
Pagi itu diharuskan untuk berbaris dengan menggunakan pakaian seragam SMP, di pagi hari itu semua murid baru berbaris dengan kelompoknya masing-masing. Membuka mata, membuka telinga bahwa saat itu adalah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *