Posesif (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 2 February 2016

“Lizz,” Nessa memecah keheningan tiba-tiba yang muncul di antara mereka berdua. “Ya?”
“Seandainya Ari bilang kalau dia suka sama lo gimana?”
‘Deg’ Lizzie menghentikan langkahnya, ucapan Nessa memenuhi pikirannya. Selama ini Ari tak pernah mengatakan perasaannya pada Lizzie, ia tak pernah tahu perasaan Ari yang sebenarnya. Kalau hal itu benar-benar terjadi, apa yang harus dilakukannya?

Minggu pagi. Kampus sepi, hanya terlihat beberapa orang mahasiswa yang duduk di lantai dasar perpustakaan, biasa… para pemburu WiFi. Lizzie melangkahkan kakinya melintasi koridor panjang yang menghubungkan perpustakaan pusat dengan jurusannya. Hari ini seharusnya ia bersantai di rumah, tapi sial, catatan hasil praktikumnya tertinggal di laboratorium padahal ia harus menyelesaikan laporan yang dikumpulkan besok. Langkahnya bergema di koridor berlantai ubin itu, dari kejauhan ia melihat seseorang di kantin.

“Perasaan kantin nggak buka deh kalau hari Minggu, tuh orang ngapain ya?” ia memperlambat langkahnya, perasaan was-was seketika muncul. Semakin dekat ia dengan kantin, semakin jelas sosok tersebut, sosok yang familier baginya. “Ari?” ia berujar pelan, lebih untuk dirinya sendiri.

Sosok itu, yang memang Ari, sepertinya tak mendengar ucapan Lizzie barusan, sebab ia tetap diam dan sibuk dengan ponselnya. Kelihatannya ia sedang menelepon seseorang, pasti Dina, Lizzie menduga dari nada suara yang digunakan oleh cowok itu. Lizzie sebenarnya tak ingin melakukan kontak apa pun dengan Ari, terlebih saat ini mood-nya sedang buruk. Sepelan mungkin ia melangkah menuju laboratorium yang terletak di samping kantin, mencoba untuk tidak menarik perhatian Ari. Kedatangan Lizzie sebenarnya telah diketahui oleh Ari sejak cewek itu memasuki koridor jurusan.

Sejenak dirasakannya rasa ingin tahu yang besar, ‘Ngapain cewek itu ke kampus minggu pagi begini?’ Namun, perasaan itu dibuangnya jauh-jauh, tak seharusnya ia penasaran soal Lizzie. Ia tahu cewek itu pasti canggung dengan kondisi ini, hanya mereka berdua di kampus yang hampir kosong, andai saja Dina tak memintanya datang ke kampus. ‘Beneran seenaknya aja si Dina, katanya minta tolong nyariin sampelnya yang tinggal di kantin. Eeh, barusan gue nyampe di kantin, tahunya sampel sialan itu ketemu dalam tasnya. Gue harus gimana sih sama dia? Dibilangin dikit aja langsung ngambek, beneran kekanak-kanakan. Yaah, dia bener-bener beda sama… aarghh gue nggak boleh mikirin cewek itu lagi!!’ Ari berkutat dengan pikirannya sendiri. Disadarinya Lizzie telah masuk ke laboratorium dan sibuk dengan apa pun yang dilakukannya.

“Well, mending gue balik ke kos aja.” Ari bangkit dan berjalan menjauhi kantin, toh tak ada gunanya ia berlama-lama di situ. “Di mana sih? Perasaan kemarin gue taruh di sini?” Ari menghentikan langkahnya, suara Lizzie menyurutkan keinginannya untuk pulang. Entah mengapa ia merasa ingin masuk ke laboratorium dan membantu Lizzie mencari barang-entah-apa-miliknya-itu. Terdiam sejenak, akhirnya Ari memutar langkah menuju laboratorium. Beberapa langkah, ia berhenti, ‘Kenapa gue mesti peduli sama dia sih? Cewek itu pasti nggak butuh dan nggak mau bantuan gue,’ batinnya.

Baru saja ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulangnya, suara lainnya terdengar dari laboratorium. ‘Brukkk’ suara sesuatu yang jatuh dan disusul oleh ‘Kyaaaaa’, teriakan tertahan yang diyakini Ari berasal dari Lizzie, siapa lagi kalau bukan dia? Tanpa pikir panjang, Ari berlari memasuki laboratorium, mencari sumber suara tersebut. Dan di sana, di samping wastafel Lizzie terduduk sambil memegang sisi kepalanya. Kelihatannya ia terpeleset akibat air yang menetes dari wastafel bocor di sebelahnya.

“Lizz!!” Ari berseru panik, segera dihampirinya cewek itu. “Gue nggak apa-apa..” Lizzie menepis Ari yang membantunya berdiri. Dalam hati dirutukinya kecerobohannya yang tak menyadari genangan air tersebut, ‘Gue pasti kelihatan konyol di depan Ari.’ Kepalanya yang terantuk sisi wastafel kini terasa berdenyut, ia yakin efek terpeleset dan terbentur wastafel tak separah itu, kehadiran Ari-lah yang membuatnya semakin pusing. Rasa sakit, malu, dan gengsinya bercampur-baur, terlebih cowok di sampingnya yang menatapnya penuh kekhawatiran membuat lututnya terasa lemas.

“Lo beneran nggak apa-apa Lizz?” sentuhan pelan Ari terasa di pundaknya, detik itu juga Lizzie merasa kesadarannya menipis dan… ‘Dia pingsan!!’ Ari meneriakkan hal itu dalam benaknya, seketika pikirannya dipenuhi kecemasan, ‘apa dia gegar otak karena jatuh tadi?’ Sejenak ia tak bisa memikirkan apa pun, Lizzie pingsan tepat di depannya. Ia harus bagaimana sekarang? Apa yang harus dilakukannya dengan seorang cewek yang tak sadarkan diri dalam pelukannya? ‘Gue nggak mungkin ninggalin dia sendirian di sini. Tapi, kalau sampe ada yang ngelihat bisa-bisa gue dituduh macam-macam.’ kembali Ari sibuk dengan pikirannya, ‘Aarghh, apa yang terjadi, terjadilah!!’

Lizzie mengerjapkan matanya, denyut pelan di kepalanya membuatnya teringat kejadian memalukan yang baru terjadi.
‘Sial, gue pingsan tepat di depan si Ari.’ ia memaki dalam hati. Diulangnya mengerjapkan mata, mencoba mengenali gambaran di depan matanya. Ia berada di HIMA, bagaimana bisa ia sampai di sini? “Lo udah sadar?” suara serak khas Ari menyentaknya, ‘No way! Jangan bilang kalau Ari ngegendong gue sampe ke sini!!’

Lizzie mencoba duduk, namun kepalanya yang berdenyut menghentikan usahanya. Saat itu Lizzie menyadari bahwa Ari telah menyampirkan jaketnya sebagai selimut. “Jangan langsung duduk gitu, kepala lo masih sakit kan?” Ari mendekat, memaksanya untuk tetap berbaring. Mengakui apa yang dikatakan oleh Ari, Lizzie mengikuti saran cowok itu. Lalu, hening. “Thanks,” suara Lizzie memecah keheningan canggung di antara mereka. “You’re welcome,” Ari memaksa suaranya senormal mungkin, menyembunyikan kegugupannya.
“Gue pasti berat banget ya? Haha..” Lizzie berusaha mencairkan suasana, namun Ari tak berkomentar apa-apa. Cowok itu terdiam dan menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan olehnya.

“Gue cemas banget Lizz, gue takut lo bakalan kenapa-kenapa. Rasanya gue udah nggak bisa mikir lagi.” Ari menggertakkan giginya, menahan emosi yang meluap.
“Tapi, gue beneran nggak apa-apa, kok.”
“Nggak apa-apa gimana? Lo pingsan tepat di depan gue!” suara Ari meninggi, “kenapa lo nggak mau gue bantu? Segitu bencinya lo sama gue Lizz? Sampe lo nggak mau ada di dekat gue?”
“Bukan itu..” Lizzie memalingkan wajahnya, “Gue.. gue cuma nggak bisa. Setiap kali gue berada di dekat lo, gue selalu bertindak bodoh, seolah otak gue berhenti mikir.”

“Maksud lo apa?” Ari merasa jantungnya berdebar.
“Lo pasti tahu maksud gue apa. Lo udah kenal gue selama dua tahun, Ar.”
“Jangan bilang kalau..”
“Dulu gue pernah suka sama lo, dan gue rasa sampe sekarang pun perasaan itu masih ada. Tapi, lo naksir Dina, bahkan sekarang kalian udah jadian. Makanya gue berusaha untuk menghindari lo, membenci lo.”

Mendengar pengakuan cewek di depannya membuat Ari kehilangan kata-kata, ia tak menyangka Lizzie menyimpan perasaan semacam itu untuknya. Baginya, Lizzie dan Nessa adalah teman pertamanya di bangku perkuliahan. Bahkan mereka berdua-lah yang memberikan dukungan padanya saat ia mengikuti open recruitment MAPALA. Namun sejak ia mulai dekat dengan Dina, kedua cewek itu seakan menjauh darinya, membuat gap di antara mereka. Ia tahu Nessa dan Lizzie tak begitu akrab dengan Dina, bahkan bisa dikatakan mereka tak menyukai kepribadian Dina, namun ternyata ada alasan lain di balik perubahan sikap mereka.

“Jadi, itu alasan lo dan Nessa menghindari gue?” Ari berujar ragu-ragu.
“Ya, gue nggak mau ngerusak hubungan lo sama Dina dengan perasaan konyol gue. Lagi pula, lo nggak punya perasaan spesial ke gue kan?” Lizzie merasakan suaranya bergetar.
“Lo salah Lizz,” Ari menunduk, “gue juga suka sama lo. Setidaknya gue pernah punya perasaan itu. Dari awal kita ketemu, gue tertarik sama lo, rasanya gue pengen tahu semua hal tentang lo. Tapi, lo nggak pernah kasih gue kesempatan. Dalam pandangan gue, lo menganggap gue sama dengan Nessa, sekedar teman dekat. Sejak itu, perasaan gue sama lo berubah. Gue suka sama lo Lizz, gue juga sayang sama lo, tapi sebagai seorang sahabat.”

Lizzie tercekat, perkataan Nessa kembali terngiang di benaknya ‘seandainya Ari juga suka sama lo gimana?’ Hal itu benar, Ari juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Ia lupa, perasaan suka dan sayang tak hanya untuk pacar. Seseorang yang spesial tak harus jadi kekasih, seorang teman, sahabat juga bisa menjadi someone special. “Lo marah sama gue ya Lizz?”

“Nggak,” Lizzie menyadari pandangannya buram oleh air mata. “Terus kenapa lo nangis gitu?”
“Rasanya gue bodoh banget Ar, hampir aja gue kehilangan teman terbaik gue hanya karena perasaan gue yang nggak terkontrol. Thanks ya udah nganggep gue sahabat lo.” Ari tersenyum lembut, “Yep. Maaf ya Lizz gue nggak bisa bales perasaan lo.. Lo tahu sendiri kan kalau gue bener-bener suka sama Dina.” Lizzie mengangguk, perasaannya untuk Ari memang tulus, namun perasaan itu tak mungkin dipaksa kan?

“Ada perlu apa lo ke sini? Masih ingat juga lo ternyata sama gue.” Nessa berkomentar sarkastis pada cowok di depan pintu rumahnya itu. “Maafin gue Ness,” cowok itu mengulurkan tangannya, menawarkan perdamaian untuk perang dingin antara mereka, “gue sadar kalau gue salah sama lo dan Lizzie. Tanpa tahu perasaan Lizzie yang sebenarnya, gue selalu cerita tentang Dina sama dia, padahal gue tahu kalau kalian berdua nggak akur sama Dina. Maafin gue ya..” Nessa memandang penuh selidik pada Ari, cowok itu tiba-tiba datang ke rumahnya dan meminta maaf, pasti ada sesuatu antara Ari dan Lizzie yang telah terjadi.

“Lo udah bicara sama Lizzie ya?” tebak Nessa. “Ya,” Ari tersenyum kecil, diceritakannya kejadian tadi pagi pada Nessa, mulai dari pertemuan tak disengaja antara ia dan Lizzie sampai kunjungannya setelah sekian lama ke rumah Lizzie. Dengan keadaan Lizzie akibat kecelakaan tadi, tentu saja ia mengantar cewek itu sampai ke rumah. Nessa mendengarkan cerita Ari dengan penuh perhatian, ia tak menyangka akhirnya Lizzie mengakui perasaannya pada Ari.

“Terus, lo nggak takut kalau kejadian tadi pagi sampai ketahuan sama Dina? Bisa-bisa dia ngelabrak Lizzie lagi. Gue bener-bener nggak suka sama tuh cewek, tingkahnya nyebelin banget! Heran, kok bisa lo jadian sama dia.” ujar Nessa kesal. “Gue juga gerah sama sikapnya, tapi gue yakin kok bisa ngubah dia jadi lebih baik.” Ari tersenyum simpul.

“Well, kalau lo bilang gitu sih… terserah. Tapi gue ingatkan ke lo Ar, sikap si Dina itu udah kelewatan. Kalau gitu namanya bukan sayang lagi, tapi posesif! Jangan sampe kebebasan lo terenggut sama keegoisan dia..”
“Iya, iya, beres. And, mulai sekarang please bertingkah normal ke gue, oke? Jangan ngelihat gue dengan tatapan awas-senggol-gue-bacok-lo lagi ya Ness.” Ari nyengir kuda,
Nessa menyikut cowok di sebelahnya, “Sembarangan lo!”

Sama seperti siang-siang sebelumnya, hari itu kantin dipenuhi oleh mahasiswa kelaparan yang berebut makanan. Di salah satu pojok yang tenang sekelompok cewek mendiskusikan sesuatu dengan semangat, di antara mereka Lizzie dan Nessa. “So, kabar kalau si Ari sama Dina jadian itu bener Sa? Bukan cuma gosip? Kok bisa-bisanya Ari tahan sama kelakuan Dina yang ngeselin itu?” Lucy memberondong cewek di depannya dengan rentetan pertanyaan.

“Ya, mereka emang udah jadian kok, dari 4 bulan yang lalu malah.” Nessa menjawab santai.
“Ari kan emang naksir berat sama Dina, katanya sih sikap kekanakan Dina itu yang bikin dia tambah naksir.” imbuh Lizzie. Cewek-cewek lainnya berseru tak percaya, rata-rata mereka tak begitu akrab dengan Dina.
“Terus, sekarang gue lihat lo sama Nessa udah akrab lagi sama Ari. Ada apa nih?” celetuk Wenni tiba-tiba.
“Iya, kemarin gue sampe syok ngelihat kalian bertiga pulang bareng. Udah lama nggak ngelihat kalian ngumpul-ngumpul, jadinya aneh gitu.” Tania berkomentar.
Lizzie dan Nessa bertukar pandang penuh arti, “Ada deeh,” mereka berujar serempak.

Cerpen Karangan: Buti Yohenda Christy
Facebook: Buti Yohenda

Cerpen Posesif (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menangis Dibalik Kesenyuman

Oleh:
Siang ini guru menyuruh kami untuk membuat sebuah lagu untuk sebagai pentas seni kami pun berbagi tugas untuk kelompok kami. Di kelompok kami ada silmi, dewi dan intan sedangkan

Surat Terakhir Violla

Oleh:
Seperti biasa, hari ini Adelline dan Violla berangkat ke sekolah bersama. Mereka berdua adalah sahabat yang bagaikan magnet yang tak bisa dipisahkan. Mereka bersahabat sejak Tk. Sampai sekarang mereka

Kata Maaf Terakhir

Oleh:
Dua sahabat karib, Karin dan Gina sedang berjalan menuju kelas mereka saat seorang cowok tiba-tiba menabrak mereka dari belakang. BRUKK!!!! “Aduh!” teriak Karin dan Gina bersamaan. Mereka berdua terjatuh

Kebahagiaan Sederhana

Oleh:
Malam begitu hangat bersama mereka. Angin malam yang begitu menggigilkan seluruh tulang. Lima gadis yang dengan anggun melangkahkan kaki menuju gereja di pangkalan AU. Setelah sepuluh menit di perjalanan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *