Primadona

Judul Cerpen Primadona
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 4 January 2017

Aku adalah perempuan tercantik di kelasku. Jika kau bertanya pada temanku, “Siapa gadis tercantik di kelasmu?” pasti mereka akan menjawab, “Tentu saja Hellena Campbell.” Itulah aku, ya, wajahku memanglah cantik. Tak akan ada seorang pun yang bisa mengalahkan kecantikan yang ada padaku. Tak akan ada.

Aku terus memandang secarik kertas yang terus kugenggam. Berpikir apa yang aku lakukan untuk mendapatkan gelar. Gelar ‘Primadona Ribbon School’. Sekolah ini hanya khusus untuk anak perempuan asal Inggris, lain dari itu, maka tak bisa masuk ke sekolah ini. Seperti namanya, setiap murid perempuan diberi pita setiap kali memamakai seragam sekolah yang berwarna hitam dan putih, hanya pitalah yang berwarna merah. Setiap kali datang ke sekolah bersikaplah seperti gadis bangsawan. Jika tidak, kau akan dijauhi oleh murid-murid sekolah ini.

Hm… gelar yang menarik, sebaiknya aku mendaftar lebih cepat daripada yang lain. Segera kuisi formulir dan memberikannya kepada wali kelasku, Miss Gracent, yang terduduk di ruang guru. “Miss, saya telah mengisi formulir ini. Terimakasih telah menganjurkan saya untuk mengikuti acara pemilihan primadona sekolah,” kataku bersikap sopan di depan Miss Gracent.
“Sama-sama. Memang seharusnya kamu mengikuti acara ini, karena menurut miss, kamu memang pantas. Kriteria kamu sudah pantas untuk masuk,” kata Miss Gracent memuji. Aku tersenyum dan kembali ke kelasku yang kini mulai terasa berisik. Aku duduk di sebelah Margaret, temanku yang terkenal pintar di sekolah. Dia selalu baik padaku. Dia menatapku dan melanjutkan membaca bukunya.
“Kamu tahu, aku telah mendaftar acara pemilihan primadona sekolah kita. Kata Miss Gracent, aku cocok masuk ke acara itu. Awalnya aku bingung, tapi karena Miss Gracent terus memaksa, terpaksa aku ikut. Tapi kelihatannya acara itu bagus juga.”
Margaret menutup bukunya dan menatapku dengan serius, “Benarkah? Kapan kamu mengisi formulir itu? Kapan lomba itu diadakan? Minggu depan? Atau tinggal menghitung jari saja?” tanyanya bertubi-tubi. Aku menenangkannya dan menjawab, “Aku sudah mengisi formulirnya tadi. Dan aku tidak begitu tahu kapan. Mungkin Miss Gracent akan memberitahuku nanti.”
“Oh, begitu. Apakah kamu tahu, Anne dan Violet juga ikut. Mereka lebih dulu mendaftar daripada dirimu,” ujarnya sambil melanjutkan kembali bacaanya.
“Apa? Anne dan Violet?” aku terkejut dan mencoba untuk mempercayai perkataan Margaret. Seketika aku tertawa. “Apakah mereka tidak menyadari kalau wajah mereka dan tingkah laku mereka itu tidak seperti seorang gadis bangsawan? Sungguh itu akan mempermalukan sekolah kita.”
Dia menutup bukunya kembali dan menatapku. “Seseorang pernah berkata padaku ‘Janganlah engkau menilai kecantikan seseorang melalui wajahnya. Sesungguhnya kecantikan berasal dari hati dan perkataan’.” Aku bungkam. Tak bisa berkata apa-apa. Aku bangkit dari bangku dan pergi ke kantin. Aku tak peduli dengan perkataan Margaret tadi, menurutku itu tak penting. Itu perkataan seseorang, kan? Bukan kataku. Kataku, ya, kataku dan kata orang lain, ya, kata orang lain.

“Hellen! Kemarilah, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu,” teriak seseorang ketika aku hendak duduk di meja kantin paling belakang. Aku menoleh dan segera menghampiri, Patricia, yang memanggilku. Dia menepuk bangku kantin, mengisyaratkanku untuk duduk di sampingnya. Aku duduk dan bertanya, “Ada apa?”
Dia tersenyum, memamerkan giginya yang putih, “Aku ingin kamu masuk ke dalam geng kami. Apa kamu bersedia?” aku berpikir sejenak, tak lama aku mengangguk. “Aku dengar kamu ikut pemilihan primadona sekolah. Kamu yang mewakili kelas VII-A…,” perkataanya terpotong olehku.
“Ya, tentu. Ada yang ingin kutanyakan padamu. Apa tujuanmu mengajakku dalam gengmu?”
“Begini, kami pun juga mengikuti pemilihan itu. kami tahu persaingan nanti pasti berat. Sangat berat. Oleh karena itulah kami pun sepakat untuk melakukan apa saja untuk mendapatkan gelar itu. Maksudku mungkin kita.”
“Ya, pertama kita harus mengetahui siapa yang ikut dalam pemilihan itu. target pertama kita, Elice. Gadis paling manis di sekolah ini,” Cleo tertawa licik.

Keesokan harinya, aku, Patricia, Cleo, Sam, dan Amber memulai rencana yang telah kami buat kemarin. Kami harus mengetahui tentang kehidupan Elice dari teman-temannya. Satu yang membuat kami mendapat ide, agar Elice keluar dari pemilihan itu. Meracuninya dengan lada hitam.

Jam istirahat ini, jadwal Sam untuk memberikan jatah makanan bagi semua murid Ribbon School. Tepat di belakangku ada Elice, aku mengerlingkan mata ke Sam. Sam mengerti, dengan sigap Sam memberikan banyak lada hitam ke mangkok sup Elice. Tanpa sepengetahuannya. Tak lama setelah Elice memakan supnya, dia merintih kesakitan di bagian perut. Elice dibawa ke ruang UKS. Dibelakangnya kami tertawa sepuas-puasnya.
“Hahahaha…, target pertama sudah musnah. Sekarang siapa? Lizzy? Elizabeth? Madona?” tanyaku sambil terus tertawa di koridor.
“Aku memilih Madona sebagai target kita selanjutnya. Dia memang baik, manis dan cantik. Tapi dia sangat bodoh! Kita akan mengerjahilinya nanti, sewaktu pulang sekolah,” Amber memperlihatkan senyum liciknya.

Bel sekolah berbunyi dengan nyaring. Buru-buru aku memasukkan buku ke dalam tas dan segera pergi menuju koridor sekolah. Kabar bahagia mendatangi kami, ketika Patricia datang. Elice, si gadis termanis di sekolah, harus dirawat di rumah sakit selama dua atau tiga minggu. Sedangkan pemilihan primadona sekolah akan diselenggarakan sepuluh hari lagi. Sungguh kabar yang membahagiakan.

Kami menunggu Madona keluar dari kelasnya. Tak perlu menunggu lama, Madona sudah keluar. Kami segera menjalankan rencana. Kami sengaja membiarkan koridor sekolah menjadi sepi, menurut kami ini adalah waktu yang tepat untuk mengeluarkan Madona dari pemilihan. Sam mematikan lampu koridor. Wajah Madona terlihat pucat seketika, diam-diam dari tempat lain, aku dan Patricia tertawa. Ini saatnya giliranku dan Patricia beraksi. Aku dan Patricia memanggil Madona dari tempatnya. Madona berjalan menghampiri kami, semakin dekat, kami semakin tersenyum licik. Amber dan Cleo menarik tali sekencang mungkin. Madona terjatuh. Kami tertawa sepuasnya di depan gadis bodoh itu. Hahaha….

Selama lima hari kami memusnahkan mereka. Ada yang kami bully, ada yang kami jadikan kambing hitam, kami ejeki, kami takuti sampai pingsan, dan lebih parahnya lagi, kami hina! Semua itu adalah kebahagiaan bagi kami. Atau lebih tepatnya anugrah. Ya, sangat menyenangkan bisa membuat mereka menderita.

Hari ini kami tak ada rencana. Tapi ada satu. Rencana ini bukan untuk menjahili, tapi untuk bersenang-senang. Bukan apresiasi karena kami telah memusnahkan semua pengikut pemilihan primadona, tapi hanya untuk menyegarkan otak kami.
Aku mengganti pakaianku dengan dress hijau selutut, jaket putih, dan leaging hitam selutut. Aku mengikat rambutku menyamping. Memakai aksesoris gelang, jam tangan, dan kalung yang terbuat dari anyaman bambu kecil. Kuraih tasku yang berisi dompet, handphone, kaca kecil, dan sisir.

“Hellena, kamu mau kemana? Tumben siang-siang pergi keluar,” tanya Bibi Serly yang berada didepan pintu kamar yang terbuka lebar. Aku mendengus. “Bibi sedang bertanya padamu. Tidak bisakah kamu menjawab pertanyaan bibimu ini? Hargailah sedikit, Hellen.”
Bibi Serly adalah adik ibuku yang tinggal bersama kami. Bibi bukan menumpang disini, dia dan ibuku berbagi tempat tinggal. Ibu dan bibiku tinggal bersama di rumah kami yang besar. Ayah? Ayahku telah tiada sejak aku masih berumur tiga tahun. Disaat aku membutuhkan bimbingan, dia tidak ada. Ketika aku membutuhkan kasih sayang kedua, dia tak bisa memberikannya padaku. Dia terlalu cepat meninggalkan keluarga kecil yang dia bimbing.
“Bibi, bisakah bibi tidak mengurusi masaku, masa remajaku? Aku bisa menjaga diri, Bi. Aku sudah besar sekarang.” Perlahan aku meninggalkan Bibi Serly di kamar. Dia diam bagai patung. Aku menuruni tangga dan menemukan empat sahabat baruku (Patricia, Cleo, Sam dan Amber).
“Style yang bagus. Sudahlah! Ayo kita berangkat. Sebentar lagi film di bioskop akan dimulai,” ajak Patricia keluar dari rumahku.

Sesampainya di bioskop, aku dan keempat sahabatku pergi membeli karcis. Tak lupa kami membeli dua popcorn ukuran jumbo dan empat soda ukuran sedang. Film yang kami tonton kali ini berasal dari Negara Indonesia, judulnya Surat Kecil untuk Tuhan. Berkisar tentang seorang anak perempuan yang terkena penyakit kanker. Dia ingin membuat setiap sisa kehidupannya berarti. Intinya, ini membuatku menangis. Kisah yang mengharukan. Setelah pulang dari bioskop, kami mengunjungi salah satu mall terbesar di kotaku. Kami berbelanja baju, aksesoris, pergi ke salon, makan di food court, dan bermain di Timezone.

Sudah pukul lima sore, aku buru-buru pulang ke rumah dengan mobil pribadiku. Aku terus memerintahkan sopirku untuk ngebut. Mobilku terkena becekan yang cukup dalam, membuat mobilku kotor dengan lumpur. Aku sempat melihat seorang perempuan seusiaku terkena cipratan becekan yang terlindas oleh mobilku. Perempuan itu terlihat mirip dengan… Margaret. Tapi anehnya, dia memakai kacamata. Ah, pasti bukan Margaret. Kataku membatin.

Aku membuka pintu rumah perlahan-lahan. Aku tak ingin ada seorang pun tahu bahwa aku pulang sangat lama. Ketika aku menutup pintu dan membalikkan badan, aku melihat seorang perempuan dewasa. Wajahnya terlihat gusar.
Ibu menyuruhku duduk di sofa putih besar. Aku menuruti dan menaruh barang-barang yang kubeli di samping sofa. Aku tak berani melihat wajah ibu yang sedang gusar, amat gusar. Ibu melirik barang-barang yang kubeli. Ibu menarik nafas dalam-dalam, “Apa yang kamu lakukan sehingga pulang selarut ini? Dan seharusnya kamu meminta izin kepada ibu terlebih dahulu jika kamu ingin keluar. Hellena! Kamu dengar ibu, kamu tak boleh berkata kasar kepada siapapun! Termasuk bibimu dan pembantumu.”
“Ingatlah Hellena. Kamu masih sangat kecil untuk keluar rumah tanpa pengawasan ibu ataupun bibimu. Apakah kamu menyadarinya? Kamu satu-satunya anak ibu. Kamu penerus ibu selanjutnya. Kamu harus tahu itu.”
Aku masih tetap bungkam. Pasti bibi yang mengadukan hal ini pada ibu.
“Sekarang masuklah ke dalam kamarmu!” perintah ibu sambil menunjuk kamarku. “Sekarang!”

Aku pergi ke kamar tanpa membawa barang-barang yang kutinggalkan di bawah. Aku tidak menangis. Aku ini bukan anak cengeng. Kuraih buku yang tergeletak di atas meja belajar dan mulai membacanya satu demi satu halaman.
Tinggal menghitung hari, pemilihan primadona sekolah akan segera diselenggarakan. Aku menemui teman-temanku di kantin sekolah. Kali ini sifat mereka sedikit berbeda. Patricia mendekatiku, dan mulai berbicara kasar padaku, “Hellena, sebaiknya kita pecahkan geng ini. Tugas kita sudah selesai dan kamu… jangan pernah mendekati kami lagi.”
“Apa maksudmu? Apakah aku telah melakukan suatu kesalahan terhadapmu? Dan yang lainnya?”
Cleo mendengus kepadaku, “Anggaplah bahwa apa ang telah terjadi sebelumnya adalah suatu kejadian yang tak pernah terjadi.”
Aku terdiam bagai patung, apa maksud mereka? Aku tak pernah melakukan kesalahan terhadap mereka? Apa salahku?. Aku terus berpikir, meneliti secara pasti apa yang telah kuperbuat kepada mereka. Tidak ada.
“Kali ini kita bersaing!”

Aku menangis sekencang-kencangnya di toilet. Tidak peduli apa yang dikatakan mereka ketika hendak masuk ke toilet. Aku hanya bisa merenungkan perbuatanku yang sangat buruk, buruk, buruk sekali! Aku sangat menyesal dengan perbuatanku yang tidak baik ini. Aku ini sungguh bodoh! Aku menatap buruk pada diriku sendiri di cermin. Menatap semua yang kulakukan untuk mendapatkan gelar itu. Miss Gracent salah! Kriteriaku tidak ada yang cocok dengan pemilihan primadona sekolah.

“Hellena Campbell! Kau sungguh bodoh! Kau tidak cantik seperti parasmu. Kau jelek! Hatimu! Pertakataanmu! Tingkah lakumu! Semuanya buruk!” aku terus menuduh diriku bahwa akulah yang salah! Aku! Itu semua benar. Fakta telah berbicara, aku yang buruk. Aku yang tak pantas menjadi primadona sekolah. Keluarlah!

Seseorang datang dan berdiri di ambang pintu toilet. Menatapku dengan tatapan yang sangat sedih. Di tangannya ada sebuah buku yang selalu menemaninya. Gadis yang memakai kacamata itu mendekatiku. Menatapku dengan sedih. Aku tahu siapa dia.
“Hellena…,” gadis itu memelukku dengan erat. Dia memelekku, seakan dia tak mau melepaskanku. Aku terus menangis di pelukannya. Air mataku terus mengalir di pipi. Margaret benar-benar teman yang baik.
“Maafkan aku Margaret. Kau benar, aku yang salah. Seharusnya aku mengikuti nasihatmu. Kecantikan berasal dari hati dan perkataan, bukan paras seseorang.”
Margaret melepaskan pelukannya dan tersenyum padaku. “Aku sudah memaafkanmu. Ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu, apakah kau yang membuat Elice, Madona, dan yang lain menderita?” tanyanya lembut. Aku hanya bisa menundukkan kepala, “Mmm…, ya, aku dan gengku.”
Wajahnya masih terus tersenyum kepadaku. “Sudahlah. Lupakanlah kejadian itu. Apa yang mereka katakan padamu sehingga membuatmu menangis seperti ini?” tanyanya sambil mengusap air mataku. Aku terdiam.
“Tidak apa-apa. Aku tidak akan menjauhimu,” Margaret memegang pundakku dan mulai mendengarkan ceritaku. Ada sesuatu yang kalian tak ketahui, Cleo sempat berkata padaku, bahwa akulah target terakhir mereka. Oleh sebab itulah aku menangis dan merenungkan kejadian buruk itu. Ketika selesai bercerita, Margaret spontan kaget. Aku tahu, dia pasti kecewa dengan apa yang telah dilakukan sahabatnya ini.
“Sebaiknya aku keluar.”

Aku berlari menuju ruang guru, bermaksud menemui Miss Gracent. Untunglah Miss Gracent ada disana. “Miss, saya ingin keluar dari pemilihan,” kataku tiba-tiba ketika Miss Gracent sedang meminum segelas kopi yang diseruputnya. Miss Gracent kaget.
“Kenapa, Nak?” tanyanya bangkit dari bangku.
Aku mulai bergumam, “Saya merasa tidak pantas untuk mencaloni pemilihan primadona sekolah. Saya merasa kriteria saya masih belum cocok dengan persyaratan yang dipinta.”
Miss Gracent mengerutkan dahi, “Lalu, siapa yang akan menggantikanmu?” tanyanya lagi. “Pemilihan itu tinggal beberapa hari lagi. Siapa yang bisa menggantikanmu?”
Aku menoleh ke arah Margaret. “Margaret Horton.”
Margaret tertegun, dia menatapku tidak percaya. Aku hanya tersenyum kecil padanya. Aku mengambil sebuah kertas yang berada di atas meja dan mencoret namaku dengan pulpen. Aku sempat tersenyum kepada Miss Gracent dan mulai menuliskan nama Margaret di kertas. Setelah itu aku keluar bersama Margaret dan pergi menuju kelas. Tapi saat berada di koridor sekolah Margaret menepiskan tangannya dari tanganku yang terus menggenggamnya. Aku terdiam dan menatapnya dengan tajam.
“Apa yang kamu lakukan!” teriaknya di depanku. “Kau sudah gila! Aku tak mungkin menang…,” kata-katanya terputus olehku. Itu sudah menjadi kebiasaanku. “Justru aku mendaftarkanmu karena kriteria kamu sudah cocok untuk mencalonkan diri menjadi primadona sekolah,” kataku seraya melemparkan senyumku padanya. Dia hanya menundukkan kepala. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya.

Hari H telah datang. Aku dan Margaret sedang terduduk di aula sekolah. Peserta yang mengikuti pemilihan sangat sedikit. Ingatan yang buruk itu kembali memasuki otakku. Aku hanya bisa menggigit bibir ketika Cleo, Amber, Sam, dan Patricia melihatku dengan tatapan sinis. Aku tahu mereka membenciku. Tapi, bisakah mereka berkata sejujurnya bahwa merekalah yang membuat kejadian buruk itu terjadi? Dan itu sepenuhnya bukanlah salahku. Oke, aku bohong. Akh, lupakanlah!

Margaret terus memandangiku. Pasti dia tahu apa yang kurasakan saat ini. Dia juga tahu bahwa empat orang yang duduk tepat di depan kami (Maksudnya Cleo, Patricia, Sam, dan Amber) melihatku dengan sinisnya. “Hei, lupakan saja. Mereka sekarang bukanlah siapa-siapamu lagi,” Margaret memberikan senyum termanisnya padaku. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyum kecil yang penuh dengan keraguan. Seorang kakak kelas memanggil semua nama peserta di aula sekolah. Dia meminta peserta untuk pergi ke halaman sekolah yang sudah terpasang tenda besar berwarna pink dan putih.
Seketika wajah Margaret berubah menjadi pucat. Aku mencoba menenangkannya dan memberinya semangat dari belakang. “Semangat!” kataku sedikit keras kepadanya. Dia hanya mengacungkan ibu jarinya padaku. Aku melihat ke luar jendela, memandang acara itu dari kejauhan. Aula menjadi sepi. Hanya beberapa murid yang melihat acara itu dari tempat yang menurutku mulai menunjukkan betapa tuanya tempat ini. Aku tak bisa mendengar dengan jelas. Yang kutahu, diakhir pemilihan, banyak orang yang bertepuk tangan disana. Hanya kata, “Inilah primadona sekolah kita!”

Aku segera menuruni tangga dan menemui Margaret yang menjadi kerumunan murid-murid dan guru-guru yang memberikan bunga kepadanya, aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi aku berusaha untuk mendekatinya. Margaret melihatku. Dia memelukkan dan memberikan bunga yang dipegangnya kepadaku. Aku tidak mengerti apa maksudnya. Ada satu yang membuatku tersenyum bahagia padanya, “Aku menjadi primadona.” Dia kembali memelukku dan berbisik di tengah keramaian, “Aku melakukannya demi kamu, Hellena,” aku hanya bisa tersenyum kembali sekaligus bangga padanya. Karena aku dan dia adalah primadona…

Cerpen Karangan: Shafira Nur Rahma Sengko
Facebook: tidak ada
Seorang manusia bergender wanita. Lahir lima belas tahun yang lalu di tanah Apel. Wanita baperan yang suka belajar tentang ilmu-Nya. Masih duduk di bangku menengah atas. Hobi : menulis, membaca, menggambar. Penggila novel dan puisi.

Cerita Primadona merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kebaikan Kecil Yang Bermakna

Oleh:
Siapa sih yang akan merasa bahagia jika akan dihadapkan dengan ujian praktek yang sangat susah? Itulah nasib Alyssa, sepertinya ujian seni musik -pelajaran yang tidak pernah ia kuasai- akan

Gara Gara Flashdisk

Oleh:
Lagu Mimpi-nya Anggun yang berdering di handphoneku membuyarkan lamunanku. Kupencet tombol ungu di tengah-tengah tombol navigasi. Allam: Dhe, aku boleh pinjem flashdiskmu gk? Sent: bwt apa? Allam: Buat minta

Kesempatan Datang Berkali Kali (Trust)

Oleh:
Sial, aku pulang terlewat malam. Gara-gara si Dila pake acara mau pulang sama pacarnya. Sebenarnya gak malam-malam banget sih, sekitar jam 20.00 WIB, tapi jalanan yang menuju rumahku itu

OSIS Displeasure

Oleh:
Sialan, tahu begitu kutendang tulang keringnya lebih keras dari kemarin hingga dia meringis kesakitan seperti seorang bayi yang merengek minta susu pada ibunya. Bagaimana tidak, orang itu telah menipuku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *