Problema Cinta dan Persahabatan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 December 2013

Jangankan menyapanya, melihatnya saja rasanya aku sudah enggan. Entah kenapa perasaan yang dulunya berbunga-bunga ini, tiba-tiba berubah menjadi batu yang sulit untuk dipecahkan.
“hei, yang lagi ngelamun. Hayo, ngelamunin siapa tu?” tepukan tangan itu benar-benar mengagetkan, dan membuat perjalanan khayalanku berputar 180 derajat. Aku fikir, Gina si gadis culun berjilbab panjang yang selalu setia menemaniku ini datang tiba-tiba hanya untuk mengagetkanku saja. Ah, ternyata tidak. Kini dia telah duduk di sampingku, sambil menyunggingkan kedua ujung bibirnya, seolah tersenyum yang manis padaku. Padahal nggak manis tuh. Kalau diperhatikan, apa sih yang menjadi istimewa di wajah cewek satu ini. Kulit nggak putih, lesung pipi nggak punya, kacamatanya.. widih, hampir min 10 bok, pantes aja sampai sekarang ia begitu betah menjomblo. Upss, jangan salah, walaupun ia begitu. Dia pernah jatuh cinta, katanya. Meski sekali, tapi saat dia bercerita dengan begitu semangat, aku pun maklum, sebegitu besar cinta dia pada kekasihnya itu. Hanya saja dia tidak pernah mau bercerita siapa pangeran kodok tersebut. Yang pasti tidak jauh-jauh beda kali ya dengan dia, cupu. Hehe. Tetapi apapun itu, sebenarnya yang membuat dia istimewa adalah karena dia itu sahabat terbaikku, kemana-mana kita bersama, makan, minum, jalan-jalan, belajar dan tidur juga bersama. Jelas iya, kita kan satu kos. Cuma mandi dan buang air aja yang kayaknya kita lebih memilih sendiri-sendiri. Masih ada rahasia yang ingin dijaga. Hmm…

Dibalik pohon mahoni tempat aku bersandar sekarang adalah lapangan bebas, yang digunakan untuk olahraga sekolah kami. Sayup-sayup masih terdengar gerakan langkah dan suara-suara berisik para pemain basket di lapangan itu. “hufft… aku capek banget. Rasanya ini badan mau direbahin. Tapi dimana? Kita pulangnya masih lama” bete ku kambuh. Ya hari ini udara begitu terik, panasnya terasa betul ke lapisan kulit paling dalam. “terus, kamu mau tidur dimana? Setengah jam lagi kita pulang kok. Sabar ya tuan putri..” Gina kemudian menimpali sambil melongo-longo melihat ke arah lapangan. “eh, eh, itu si tampan. Makin cool aja dia yah” hihihi, tawa khas Gina keluar begitu melihat Albert si cowok idola sekolah sedang bermain basket bersama teman-temannya. Mendengar penuturan polos tersebut, aku makin mengerucutkan bibir tipisku. Mata indahku, sengaja aku putar satu arah entah beberapa derajat. “ah, biasa aja dong ekspresinya, biar udah putus gak boleh senewen gitu. Apalagi berantemnya laaama, gak baik!”. Gina ternyata juga memperhatikan sikap jelekku waktu itu. Dia terus saja berceracau. Terkadang apa yang dia bilang tertangkap oleh memoryku, terkadang malah tidak. Aku sibuk juga dengan fantasi ku sendiri.

Sepulang sekolah. “Vinaaa… tunggu!”. Aku dan Gina spontan memutar kepala dan mengarah ke sumber suara. Ternyata Albert. Aku berniat untuk mempercepat langkah. Eh tiba-tiba tanganku malah ada yang menarik. Siapa lagi kalau bukan Gina. “ya udah, kalian selesaikan dulu masalah kalian. Ntar kabarin aku kalau sudah siap. Okee?” Gina segera berlalu dan meninggalkan ku yang dari tadi hanya mematung menunggu keajaiban datang.

“kenapa sih kamu selalu menghindariku? Apa salahku?” Albert kini telah berdiri di sampingku. Dia bertanya dan terus bertanya, tetapi aku hanya diam seribu bahasa. Dalam fikiran ku berkecamuk segala rasa, yang mungkin saja sudah terlihat dari sinar mataku yang sudah tidak lagi memancarkan ketenangan.
“Aku gak mau lagi ketemu kamu. Aku benci sama kamu”. Akhirnya suaraku keluar juga. Hanya saja kata-kata itu sudah seperti petir di siang hari, yang telah menyambar hati Albert. Aku sadar dan sadar sekali dengan apa yang aku ucapkan barusan. Jangankan Albert, aku yang mengungkapkan kata-kata itu juga terasa begitu tersengat. Apalagi Albert.

Secepat kilat aku pun berlari meninggalkan Albert. Dan kini dia telah berganti posisi denganku. Dia yang mematung dan kulihat dari jauh dia tersimpuh, dengan tangannya yang gusar mengusap-ngusap kepalanya sendiri. Sepertinya dia benar-benar tidak terima dengan kejadian yang baru saja terjadi.

Aku pun tak habis pikir, kenapa aku begitu lurus untuk meluncurkan kalimat ganas tersebut. Mungkinkah sakit hati yang kurasakan selama ini telah sebanding dengan apa yang aku ucapkan barusan? Ah, batinku kembali dan terus bergejolak.

Keesokan hari di sekolah. Seperti biasa sapa pagi dari teman-teman yang ku temui, menjadi semangat tersendiri bagiku. Sepertinya hari-hariku menjadi lebih indah, jika pagi selalu diawali dengan senyuman.

Aku dan Gina kini tengah sibuk mengerjakan tugas yang diberikan Pak Nof tadi sebelum jam istirahat. Ya, aku dan Gina memang selalu membawa bekal dari rumah, sehingga pas istirahat kami lebih suka menghabiskan waktu di dalam kelas atau di perpustakaan. Beda dari teman-temanku yang lain. Mereka mungkin lebih memilih taman atau kantin, saat jam istirahat tiba.

Sambil bercanda dengan teman-teman lain juga dan bercerita ini itu khas cewek, aku pun sepertinya sedikit melupakan kejadian kemarin dan kejadian sebelum-sebelumnya. Hanya tawa yang mengisi waktu-waktu seperti ini.

Selang beberapa hari, aku mulai terpikir sesuatu yang lain lagi. Perasaan kangen tiba-tiba muncul. Disela-sela ketawa bareng teman-teman aku merasakan sesuatu yang aneh di hati dan fikiranku. Aku terbayang satu wajah. Albert. Ya, aku baru sadar sudah hampir sebulan aku tak pernah tahu lagi kabarnya. Bertanya ataupun diberi kabar oleh teman-teman lain pun tidak. Seperti benar-benar hilang. Tidak ada satu pun hal yang bercerita tentang dia. Ataukah, ini perasaan ku saja. Karena belakangan ini, aku memang lebih sibuk. Sehingga jadwal untuk ngelamun pun hampir tidak ada. Aku terdiam.

Saat kutelusuri, koridor dan setiap jejer kelas demi kelas. Akhirnya aku sampai di kelas paling ujung. Seketika darahku berdesir lebih cepat dari biasanya. Entah apa yang terjadi. Aku sendiri tidak mengerti. Tapi aku makin penasaran dengan perasaan ini.
“Astagfirullahal azhim…” Spontan aku membanting pintu yang tadinya aku buka pelan. Aku berteriak ke dalam, suaraku tercekat. Dan kini aku berlari tanpa arah dan tujuan. Di bawah sebuah pohon, aku menangis menyesali, menyesali apa yang aku lihat barusan dan menyesali semua yang pernah terjadi.

Malam ini rasanya perutku sudah berontak dan minta dikasihani. Tapi aku sama sekali nggak peduli. Gina pun bingung dengan sikapku yang berubah malam itu. Dia sudah tawari makanan ini itu, sudah bujuk-bujuk aku. Tapi aku tetap ngeh, dan semakin memeluk erat guling yang ada di kasurku. Air mataku kian deras membanjiri tempat tidur. Entah berapa lembar tissue yang sudah habis ku lalap untuk menyapu air mataku. Aku masih saja diam dan menangis.

“Vina sayaaang… kamu cerita donk, sama aku. Jangan buat dirimu seperti ini. kamu makan yah, aku suapin deh. Kasihan lo, cacing-cacing yang imut disana kehilangan jatahnya”, entah kali keseratus berapa Gina mengucapkan kalimat ini. Dia memang sedikit aneh. Masa perhatiannya sama cacing yang ada di perut, pake bilang imut pula lagi. Aneh kan..

Ternyata setelah puas menangis aku malah tertidur dan kini terbangun jam 3 pagi. Kriukk… perutku yang kosong masih setia menunggu untuk diisi. Aku pun nggak tahan lagi. Dengan mata yang sudah sembab aku melangkah gontai ke kamar mandi. Mencuci muka dan mencari makanan sisa, eh makanan yang masih tersisa di meja makan. Gina pasti masih baik hati dan sengaja menyiapkan makanan untukku.

Pagi minggu. Setelah tidur beberapa jam sejak habis makan tadi, kini aku terbangun tepat di jam 9.00. ini jauh lebih siang dari pada biasanya aku bangun di pagi minggu. Ketika sedang asiknya meregangkan urat-urat syaraf yang ada di tulangku, aku dikejutkan lagi oleh suara dan tawa khas sahabatku. “pagiii… taraa, ini ada sarapan spesial buat tuan putri tercinta” hihihi… setelah suara roketnya meluncur, kemudian dibarengi tawa khas Gina. Itu yang membuat aku nggak bisa menahan tawaku. “haha, sialan lu. Pagi-pagi udah berisik. Abis ketemuan ya sama tukang sayur, kayak kasmaran gitu” ckck aku menggoda Gina yang kini sudah ikut-ikutan audisi bibir monyong. Hehehe. Melihat tingkah lakunya aku pun telah kembali tersenyum.

Setelah mandi, aku pun segera menyantap sarapan spesial dari sahabat ku itu. Ah, sebenarnya nggak ada spesialnya, toh Cuma nasi goreng biasa ditambah segelas teh manis. Tapi nggak apa-apa lah, demi nyenengin hatinya Gina, aku iyain aja kalau ini adalah sarapan spesial. Yang penting dia bisa tersenyum.

Mungkin karena mood aku yang udah mulai stabil. Kini jadwal aku adalah curhat sama Gina. Kasihan kan dia udah sabar sekali melihat sikap anehku seharian kemarin, dan aku ngerasa dia pun pantas untuk tahu hal ini. karena dia adalah sahabat aku.

Aku pun mulai menceritakan semuanya. Aku menjelaskan padanya tentang apapun yang aku rasakan selama ini, apa yang menjadi masalah ku dengan Albert dan kenapa aku membenci Albert.

Setelah panjang lebar bercerita, hal yang tidak aku duga pun terjadi. Gina tiba-tiba menangis, aku heran. Aku yang seharusnya menangis, dengan rasa sakit karena dikhianati dan dibohongi terus-menerus oleh Albert. Oh ada apa dengan Gina? “Gin, kenapa menangis? Kamu nggak perlu khawatirin aku. Aku udah biasa kok sekarang. Kamu lihat aku kan, aku fine. Aku udah nggak mikirin dia lagi. Aku akan belajar dari semua ini. aku udah ambil hikmahnya. Aku sadar bahwa dia bukan yang terbaik, bahwa dia…” , “stop Vin…” Gina membuat ku ternganga. Dia malah mengencangkan tangisnya. Aku pun bingung.
“Vina, maafin aku ya. Aku bukanlah teman yang baik. Aku benar-benar ngerasa gagal menjadi sahabat terbaik kamu. Apa kamu akan maafin aku setelah kamu tahu semua ini?” Gina memegang tanganku, wajahnya yang sendu, seperti sedang berharap besar padaku. Aku terdiam dan hanya menatap dalam dirinya. Satu anggukan kepalaku, menunjukkan bahwa aku siap. Entah siap untuk menerima hal terburuk yang terjadi, atau malah sebaliknya. Aku tidak bisa berfikir jernih pada situasi seperti ini.
“Vin, kamu ingat kan pertama kali kamu kenal dengan Albert. Ya, awal pertemuan yang tanpa disengaja itu?” Gina menghentikan ucapannya, dan menatapku lagi. “Ya” hanya satu kata ini yang keluar dari bibirku. Batinku berontak, rasanya Gina harus segera memperjelas maksudnya.
“Sebenarnya jauh sebelum kamu kenal Albert, aku sudah kenal dia Vin. Dan” akhirnya aku berani untuk bersuara. “jangan bilang kalau kamu juga pernah dekat dengannya.” Tiba-tiba saja ucapanku menjadi tidak terkontrol, sehingga aku hanya menuruti logikaku dan asal menebak saja. Tetapi dugaan itu tidak benar. Apa yang aku ucapkan barusan adalah sebenarnya. “iyaa, vin… selama ini aku berbohong padamu, tetapi aku tidak mengkhianatimu, aku tidak seperti cewek-cewek yang kamu bilang itu. Albert hanya masa laluku” tangis Gina kini pecah lagi. Sedang aku, masih terpaku dan rasanya tidak percaya. Tiba-tiba rasa sakit itu menjalar di sekujur tubuhku. Aku tidak bisa menahannya. Aku pun marah pada Gina.
“kenapa Gin… kenapa kamu tidak cerita? kenapa kamu harus bersandiwara? Kenapa kamu menutupi semua ini dari aku? Apa kamu sudah tidak peduli padaku? Atau benar-benar tidak peduli? Iya. Aku tahu sekarang. Kamu tahu siapa Albert. Tapi kamu tetap tidak memberi tahuku. Hingga aku disakiti Albert dan merasakan apa yang pernah kamu rasakan juga. Kamu jahat Gin. Kalau kamu memang sahabatku. Kamu tidak akan tega membiarkan aku jatuh ke tangan orang yang salah. Kamu pasti akan menjauhkan aku dari dia. Tapi apa, apa yang kamu lakukan sekarang? Aku disakiti dia, dikhianati dia. Kamu senang kan? Kamu hanya berpura-pura bersimpati padaku. Argh… aku nggak habis pikir. Kamu setega itu sama aku.”
Titik bening itu pun kini kian membanjiri pipiku. kenyataan yang kurasakan saat ini terasa begitu menyesakkan dadaku. “Vinaa, maafin aku… Aku sadar dengan kesalahanku. Aku harusnya tidak begini padamu. Aku melakukan semua ini demi… “Aku pun sudah tak kuasa mendengar ucapan Gina lagi. Aku segera pergi dan meninggalkan Gina, hingga aku tak peduli dengan ucapannya lagi. Di dalam hati, sudah ku jawab sendiri. Ya, Gina melakukan itu pasti untuk Albert. Bukan untukku.

Malam ini aku tidak berniat untuk pulang ke kosan. Aku minta izin pada Zhi untuk menumpang menginap di kosnya. Tetapi aku tidak menceritakan apa masalahku dengan Gina hingga aku tidur disana. Ada, ketika ditanya Zhi, aku menjawab karena Gina juga tidak tidur di kosan. Tapi tempat teman sekampungnya.

Saat Zhi sudah tertidur lelap. Aku masih sibuk dengan fikiranku. Tiba-tiba rasa bersalah menyelimuti hatiku, entah kenapa aku jadi kangen sama Gina. Ada rasa mengganjal yang tiba-tiba muncul. “maaf”. ya, aku harus minta maaf pada Gina. Aku rasa Gina punya alasan sendiri, hingga ia melakukan semua ini. aku terlalu buruk memandangnya tadi siang. Hingga aku pun, tidak mau mendengarkan penjelasannya lagi.
Akh, kenapa aku harus memaafkannya? Bukankah dia telah berbohong padaku? Aku bingung sendiri.

Ada pun pagi itu di sekolah, aku tak henti-hentinya melihat jam tangan yang selalu setia bertengger di pergelangan tanganku. Aku menunggu Gina. Kenapa batang hidung tu anak tidak juga nampak? Aku menjadi gelisah sendiri. Apalagi saat itu guru sudah masuk dan memberi salam.

Aku melewati hari tanpa ada Gina di sekolah. Teman-teman lain tak ada yang tahu kabarnya. Nomor handphone nya pun mati. Dan akhirnya saat bel jam pelajaran terakhir berakhir, aku pun segera berhamburan ke luar kelas, untuk secepat nya pulang.

Tapi, apa yang aku dapatkan. Di kosan Gina tak ada. Hanya ada secarik kertas. Dengan keringat yang kian menguncur dan badan yang terasa bergetar. Aku ambil kertas itu dan membacanya dengan tidak sabar.
“Vina sayang… maafin aku ya. Aku salah, banget sama kamu. Aku sadar ini kebodohan terbesar yang pernah aku lakukan untuk sahabatku tersayang. Aku harusnya tidak membiarkan mu jatuh ke tangan serigala itu. Aku harusnya menghentikan cengkraman mautnya darimu. Aku harusnya menjauhkan kamu sejauh-jauhnya dari dia. Ya, seharusnya memang begitu. Tetapi apa yang aku lakukan? Aku justru telah ikut-ikutan menyakiti sahabat ku sendiri dengan kebohongan dan menutupi semua kejelekan Albert darimu. Vinaku, memang selayaknya kamu membenciku sebenci-bencinya kamu. Karena aku telah gagal menjadi sahabat terbaik kamu :’(

Dulu, waktu SMP Albert adalah cinta pertamaku. Walau pun hanya bertahan sebentar. Aku dan Albert putus, karena aku nggak tahan dengan ledekan teman-temannya. Jelas lah, aku ini jelek, sangat tidak cocok untuk seorang Albert. Aku mengalah dan memilih untuk berteman saja dengannya. Dan aku nggak pernah menyangka akan satu sekolah lagi dengannya. Meski sekarang Albert sudah jauh berbeda. Dia tambah ganteng, dan makin macho. Hanya saja ia tak pernah lagi mau meliriku, itu yang aku rasakan. Biarlah. Aku maklum saja.

Dan saat kamu di tembak sama Albert, ada rasa yang mengganjal di hatiku. Kala itu aku bingung, aku harus bahagia, atau sedih. Hingga akhirnya memilih aku ikut senang, karena aku melihat kamu sangat bahagia dengannya. Hanya saja, hal yang tidak pernah aku duga pun terjadi. Albert mengecewakanmu. Dan aku, si bodoh ini, hanya bisa diam saja. Aku Cuma bisa menasehatimu seadanya, mau marahin Albert, aku pun nggak bisa. Karena aku nggak ingin kamu tahu kalau aku pernah dekat dengannya. Walau sekarang ketakutan ku itu pun telah kejadian.

Pernah aku temui Albert secara diam-diam tanpa sepengetahuanmu, aku mencoba memberi peringatan padanya untuk tidak menyakiti hatimu. Tetapi dia lengah, malah dia hampir tidak mengacuhkanku. Aku jadi serba salah. Aku tahu semuanya Vin, meskipun kamu belum ceritakan. Aku tahu betapa terlukanya hatimu saat kamu melihat dengan mata kepalamu sendiri saat Albert menggandeng cewek lain di mall, melihat Albert memboncengi cewek di saat acara ulang tahu Mega, dan terlebih saat dia mencium cewek lain di lokalnya. Seketika hatiku pun luruh, aku ngerasain betul betapa sakitnya hatimu saat itu. Tapi lagi-lagi aku hanya diam. Diam dan diam. Aku hanya menjadi si bisu yang tak berguna untuk mu. Aku ingin sekali mencegahmu saat kamu mau bepergian dengan Albert. Tetapi aku tidak bisa. Aku tak ingin menghalangi perasaanmu. Aku hanya bisa berdoa, semoga kamu selalu baik-baik saja dan benar-benar mendapatkan cinta yang tulus dari Albert. Karena bahagiamu juga bahagiaku.

Aku mohon yang sebesar-besarnya padamu. Hukumlah aku semaumu. Aku ikhlas. Karena ini akan menjadi pembelajaran berharga dalam hidupku. Satu hal yang harus kamu tahu, aku tulus menjadi sahabatmu dan aku sayang kamu, layaknya aku sayang keluargaku sendiri. Sekali lagi maaf…

Oh iya, kalau kamu masih maafin aku, aku sekarang ada di kamar kak Flo, itu pun kalo mau..

bye -Gina-

Satu kalimat terakhir ini, telah mengumpulkan kembali butir demi butir semangatku, tak kuasa menangis, aku pun segera berlari ke kamar kak Flo. Tetapi, “kak, Gina mana?” tanyaku pada kak Flo. “lha, dia kan udah pulang ke Malang”. Kalimat kak Flo ini, membuatku terduduk. Aku nyaris pingsan, tapi nggak jadi.
“haha, ada yang lagi berantem toh. Itu, Gina ada di atas, katanya lagi cari angin. Noh, samperin. Kalau kelamaan cari angin, ntar masuk angin”. “iih, kak Flo, becandanya nggak lucu deh”. Segera aku berlari ke lantai paling atas, di tempat biasanya anak kos menjemur pakaian. Di lantai 4 tak beratap itu nampak Gina sedang menangis sambil memandangi taburan bintang yang menghiasi gelapnya malam. “Ginaaa” aku berlarian manghampiri Gina dan langsung memeluknya. “maafin aku sahabat”. kata-kataku itu membuat tangis Gina makin pecah malam itu. Tanpa ku sadari teman-teman kos lainnya sudah ada di sekitar kami. Mereka pun ikut menangis. Aku tersenyum pada mereka, dan aku pandangi wajah Gina. Aku tak pernah melihat Gina sepucat ini, sesedih ini. karena biasanya di depanku, Gina adalah sosok yang super aneh, dengan keanehan yang ia miliki membuatku tak bosan-bosannya untuk terus ngakak. Dia juga yang paling ceria di antara teman-teman yang pernah aku kenal. Namun kini, aku paham dan mengerti. Mata nya telah berbicara, bahwa dia benar-benar sahabat yang tulus. Dia adalah sahabat terbaikku. Bukan pembohong.

Kini tak ada lagi kesedihan. Penyesalan cukup jadi penyesalan. Tetapi tidak perlu di tahan lama-lama. Aku dan Gina telah mengerti arti sahabat yang sesungguhnya. Kini kami menjalani hari-hari dengan penuh warna warni. Untuk cinta pertama Gina dan aku, yaitu Albert, sudah kami lupakan. Albert pun sepertinya sudah tahu. Kini dia tidak pernah mengusik kehidupan kami lagi. Terakhir bertemu, Albert minta maaf padaku dan Gina, kemudian berjanji akan merubah sifat nya yang suka mempermainkan cewek. Kami cukup senang mendengar penyesalannya itu.
Kini, hanya ada persahabatan yang terindah antara aku dan Gina. Best friend forever.

Cerpen Karangan: Vivi Azze Laa
Facebook: Vivi Azze Laa

Cerpen Problema Cinta dan Persahabatan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lembaran Kertas Hijau

Oleh:
Namaku rara aku sekarang bekerja di suatu perusahaan di kota surabaya, dulu aku mempunyai seseorang kekasih yang namanya fadli, iya.. fadli merupakan sosok yang sangat aku sayangi. Setelah hubungan

Pacar Invisible (Part 1)

Oleh:
Udara dingin menyelimuti suasana malam hari ini. “sepertinya segelas cokelat hangat sangat nikmat kali ini.” gumamku, Aku bergegas menuruni anak tangga yang berada di rumahku ini, oh iya sampai

Aku, Kamu dan Kalian

Oleh:
“Hoaammm…”. Kurenggangkan tubuh sambil menggeser gorden di atas kepalaku. Pagi itu adalah pagi yang sama, pada pagi-pagi biasanya. Kubangunkan tubuhku dan bergegas menuju kamar mandi. Yahh.. seperti biasa hari

Semanis Gula Jawa

Oleh:
Rintik hujan mewakili rinduku pada seseorang. Pikiranku terbang jauh menembus awan gelap. Termenung di balik jendela menatap tiap tetes air yang jatuh membasahi bumi. Menanti dengan tatapan kosong dan

Sahabat

Oleh:
“Rina izin sakit” begitu info di whats app group. Aku melengos kesal.. Hmm alasan lagi nih gak ikut meeting… biar bisa leha leha di rumah… Setiap kali teman aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *