Quenta Da Regaliera

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 5 May 2018

Menurut kalian takdir itu apa? Apa jika kalian bertemu lalu berpisah kalian berfikir itu takdir?

Seorang wanita turun dari sebuah mobil putih, rambut panjang hitamnya ia kuncir menjadi satu, sebuah kamera tergantung di lehernya, mata hitamnya berbinar menatap sekelilingnya “quenta da regaliera” gumamnya membaca tulisan besar di depan gerbang dan berjalan memasuki tempat yang paling terkenal itu, ia memotret segala hal yang menarik perhatiannya, tempat ini cukup ramai mengingat ini adalah hari libur, selama berkeliling pikirannya terus memutar memori lama saat ia mendatangi tempat ini dengan seseorang.

15 tahun lalu
Gadis kecil itu terus memasang wajah masam saat tau bahwa ayah dan ibunya akan mengunjungi nenek di portugal, gadis itu bukannya tak menyukai tempat kelahiran ayahnya tersebut hanya saja ia tak memilki satu pun teman di sana, karena ia lahir di indonesia, tempat kelahiran ibunya, ya, gadis itu berdarah portugal-indonesia mungkin itu yang membuatnya terlihat manis sekalgus cantik. meski ini bukan pertama kalinya, gadis itu tetap merasa tak nyaman untuk tinggal di negara asing meski hanya untuk beberapa hari.
“key, berhenti memasang wajah itu lagi pula ini hanya untuk 3 hari” ibunya sangat tau sifat keras kepala keyla putri tunggal mereka, melihat raut ibunya membuat key pasrah dan mengangguk setuju.

Key tiba di sebuah rumah besar dengan halaman yang luas, rumah itu terlihat kuno dan artistik tapi justru itulah kesan penting rumah itu, langkah key terhenti saat melihat seorang pria yang terlihat seumuran dengannya sedang menggambar tepat di rumah yang terletak di hadapan rumah neneknya “ayo masuk key” gadis itu menggangguk dan berbalik memasuki rumah.
Key menghampiri neneknya di ruang tamu dan memilih duduk di sebelah sang nenek “nek, siapa pria di rumah depan, bukankah tidak ada anak kecil di sana?” tanya key dengan bahasa portugal yang fasih, ayah dan ibu key menatap anaknya penasaran “siapa bilang tidak ada, hanya saja pria itu sangat jarang keluar rumah, apa kau melihatnya?” key menggangguk paham “istirahatlah kalian pasti lelah” key mengabaikan ucapan sang nenek dan memilih keluar dari rumah “aku pergi bermain” pekiknya sebelum menghilang di balik pintu.

“gambar yang indah” entah sejak kapan key sudah berada di depan pria itu dengan senyum cerah, key adalah orang yang sangat bosan jika sendirian karena itu ia sangat bosan jika di portugal karena lingkungan tempat neneknya tidak ada anak yang seumuran dengannya, tapi sepertinya tidak untuk sekarang karena ia akan mencoba berteman dengan pria yang kini sedang menatapnya heran, mata biru pria itu membuat key terpana “matamu juga indah” pria itu langsung menutup buku gambarnya dan memejamkan matanya, dan tingkahnya barusan membuat key tertawa lepas, pria itu seperti sedang ditodong dan ketakutan, mendengar tawa itu membuat pria itu perlahan membuka matanya yang langsung bertatapan dengan manik hitam key “aku key, keyla” pria itu terlihat ragu untuk menyambut uluran tangan key “arsa arqananta” arsa menjawab tanpa menjabat tangan key dan itu membuat gadis kecil itu cemberut dan berjongkok di depan arsa yang masih duduk di teras, tangan mungilnya menjangkau tangan arsa dan menjabatnya “saat seseorang mengulurkan tangannya kau harus menyambutnya” arsa hanya diam menatap wajah imut key,
“gambarmu bagus sepertinya kau berbakat dalam hal ini, lihatlah pohonnya terlihat sama persis … bla.. bla… bla” key terus mengoceh namun itu tak membuat arsa risih maupun bosan, mendapat teman baru membuatnya senang apalagi key adalah gadis ceria jadi ia tak perlu takut memulai, karena jujur arsa adalah pria malu dan tertutup.

Melihat matahari yang akan tenggelam membuat keduanya sadar bahwa mereka harus berpisah “arsa, kuharap besok kita bisa bermain lagi” arsa hanya mengangguk sambil membersihkan peralatan gambarnya “bagaimana jika ke quenta da regaliera” arsa terdiam sesaat, cukup lama ia memandang key hingga akhirnya menggangguk setuju, key meloncat girang dan langsung berlari kembali ke rumahnya sambil berteriak “besok jam 9 pagi” arsa tersenyum tipis melihat key yang menjauh “keyla” gumamnya.

Rumah nenek key berada di sintra- sebuah daerah di portugal- tak jauh dari quenta da regaliera, tempat wisata yang sangat indah hanya saja tak banyak yang mengetahuinya karena letaknya yang tersembunyi, ayah dan ibu key mengizinkan key pergi dengan arsa lagi pula daerah di sini aman, terlebih letak quenta da regaliera yang dekat cukup mengurangi rasa khawatir orangtua key.

Key sudah berdiri di depan rumah arsa dengan pakaian sederhananya, pintu bercat putih itu terbuka menampakkan arsa yang terlihat sangat tampan meski ia masih tergolong muda, mata biru arsa benar-benar memikat “kau membawa tas?” key cukup heran melihat arsa menyandang tas hitam di punggungnya “aku tak bisa meninggalkannya lagi pula ini tidak berat” key menggangguk dan langsung menarik lengan arsa menuju sepeda hitam yang berada di halaman arsa “kau bisa bersepeda kan?” arsa terlihat ragu dan ia menggaruk lehernya kaku.

Key mengayuh sepeda dengan santai sedangkan arsa duduk diam di kursi belakang, tentu saja arsa tak bisa menaiki sepeda bukankah kemarin neneknya bilang bahwa arsa selalu di dalam rumah, tapi tetap saja ia harus belajar mengayuh sepeda kan? keduanya tiba di gerbang dan memarkirkan sepeda di tempat yang ada, arsa menatap kagum sekeliling quenta, ia bahkan tak berhenti berdecak senang “apa ini pertama kalinya kau kemari” arsa mengangguk tanpa menatap key karena ia masih sibuk memandang keindahan di sekitarnya, key menggeleng takjub “ini bahkan tak jauh dari rumahmu, lain kali kau harus berjalan-jalan, ayo ke sana dan kau harus belajar manaiki sepeda jika tak ingin kakimu bengkak karena berjalan” sarannya dengan nada sinis yang tentu saja hanya main-main, key menarik arsa ke danau yang berada di sana, mereka berkeliling sepuasnya melihat air mancur, gua, dan key menjadi objek lukis arsa di manapun arsa merasa itu tempat yang cocok, meski awalnya key menolak tapi akhirnya gadis itu menurut dan berdiri di tempat yang arsa pinta, dan terakhir mereka melihat the labirinthic grotto atau gruta do labirinto yakni sebuah sumur misterius yang di percaya dapat mengabulkan permintaan, sumur sedalam 27 meter ini menyerupai sebuah menara dan dideskripsikan sebagai sebuah -tempat misterius dan mistis namun menyerupai kastil impian setiap orang- keduanya berdiri menatap ke dalam sumur “itu mengerikan” arsa bergidik ngeri begitupun key “bagaimana jika besok kita ke sini lagi?” key diam menatap kosong ujung sepatu putihnya “hmm, arsa” panggilnya “orang bilang sumur ini dapat mengabulkan permintaan, apa kau memiliki permintaan?” arsa menggeleng yakin “aku tidak mempercayai hal-hal seperti itu, apa kau mempercayai itu, itu hanya ada dalam dongeng” tegasnya dan kembali melihat ke dalam sumur, key menatap arsa tersenyum dan ikut melihat ke dasar sumur “terkadang kau harus mempercayai hal-hal yang menurutmu sulit untuk dipercayai, karena itulah keajaiban sesungguhnya” arsa menoleh pada key yang masih memandang ke dalam sumur “kuharap bisa bertemu denganmu lagi, nanti” gumam key menatap arsa yang juga menatapnya, key mundur satu langkah dan membentuk tangannya seolah sedang memfoto arsa

SEKARANG
-hal yang paling sulit kuhapus dan kulupakan adalah kenangan, setelah hari itu aku tak pernah bertemu dengannya lagi, karena nenek mengikuti kami ke indonesia dan menjual rumah di sini, itu artinya tak lagi ada alasan untuk kemari, setiap hari aku hidup dengan pria itu di dalam ingatanku, kalian mungkin berpikir itu mustahil karena kami hanya bertemu dua hari dan tak terlalu dekat pula, tapi aku bahkan tak pernah melupakan satu detikpun yang aku lalui hari itu bersamanya, untuk pertama kalinya setelah 15 tahun aku kembali kemari, entah karena apa? Mungkin karena aku terlalu merindukannya? Atau mungkin untuk membuang kenangan itu di tempat dimana kenangan itu dimulai- narasi key, gadis itu berjalan menaiki tangga spiral dan berhasil tiba di the labirinthic grotto atau gruta do labirinto, ia memotret sekelilingnya dan menatap ke dalam sumur yang masih terlihat mengerikan untuknya “tempat yang pertama kudatangi adalah rumahnya, tapi tempat itu sudah berubah menjadi sebuah taman, dan aku tak tau lagi harus menemuinya di mana selain tempat ini karena di sinilah semuanya bermula” lanjutnya dan kembali memotret sumur.

Seseorang menyenggol key tapi orang itu tetap berjalan tanpa mengetahui bahwa buku gambarnya terjatuh, key mengambil buku itu dan berlari kecil mengejar si pemilik “tunggu” pekik key namun pria itu tak juga berhenti, key merasa kesal dan berlari lebih kencang hingga ia dapat menahan lengan pria itu, merasa terkejut karena seseorang memegang lengannya pria itu berbalik dan menatap gadis yang terlihat kelelahan, pandangannya tertuju pada buku gambar yang berada di tangan key, key menatap pria itu dan memberikan buku gambarnya “kau menjatuhkannya, dan lain kali kau harus menoleh jika ada yang memanggilmu” pria itu mengangguk dan mengucapkan terimakasih sebelum berbalik pergi “tunggu” cegah key yang membuat pria itu kembali berbalik menatap key heran “gambar yang indah, aku melihatnya tadi” setelahnya ia berbalik tanpa memperhatikan raut terkejut pria itu, cara key mengatakan kata itu membuatnya mengingat ucapan seseorang dulu “keyla” panggilnya yang membuat key menghentikan langkahnya, berbalik, ia dapat melihat pria itu tersenyum menatapnya, cukup lama key menatap mata biru pria itu, mata itu terlihat tak asing “keyla jahira, kau kan?” key mengangguk ragu, ia masih terdiam dan entah begaimana pria itu sudah berada di hadapannya “arsa arqananta” nama itu lolos begitu saja dari bibirnya, pria itu mengangguk dan key merasa tak percaya, bibir key membentuk senyum indah, keduanya saling berpandangan dengan bahagia
– tapi takdir bagiku adalah ketika kau terpisah dengan seseorang lalu kau dipertemukan kembali – narasinya

“key benar, terkadang kita harus mempercayai hal-hal yang orang anggap mustahil, setelah ia pergi aku datang ke quenta da regaliera dan meminta agar kami dipertemukan lagi di tempat ini, kalian bertanya bagaimana bisa aku mengenalinya setelah 15 tahun terpisah? Itu karena hanya dia yang mengatakan ‘gambar yang indah’ seumur hidupku menggambar, orang lain selalu mengatakan “gambar itu cantik, indah, itu terlihat bagus, gambarmu benar-benar bagus, itulah kenapa aku mengenalinya, karena dia berbeda” narasi arsa

Cerpen Karangan: Rizki Safitri
Blog / Facebook: Kkiki

Cerpen Quenta Da Regaliera merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Without Goodbye (Part 2)

Oleh:
“… sudah bangun?” “Belum, tuan.” “Dasar tidak berguna! Sudah seharian dia tidur!” Samar-samar telinga Hans medengar percakapan di dekatnya. Dia juga merasa badannya bergoyang-goyang. Perlahan-lahan ia membuka matanya dan

Iryna dan Daniel

Oleh:
Ada sepasang sahabat namanya Irynasta Zannifah Voillana (Iryna) dan Daniell Gabrielle Vonny (Niel). Mereka pun bersahabat sangat erat. Memang bikin iri! Mereka bersekolah di SDN The Beautiful Indonesia. Mereka

Dari Teman Jadi Sahabat

Oleh:
Namaku Silvi Rima Debriyanti biasa dipanggil Silvi. Saat itu aku masih kelas 6 SD, dan di belakang rumahku ada tetangga baru. Kelihatannya Mamaku sudah akrab sekali dengan tetangga baru

Kenapa Semua Berubah

Oleh:
Pada hari itu aku masih berumur 15 tahun, aku pada saat itu masih kelas 2 sma pada saat itu aku masih culun dan lugu, teman ku sejati ku aldo

Hadiah di Hari Valentine

Oleh:
Hari ini adalah hari valentine – hari kasih sayang, di hari yang istimewa ini aku malah sedang dilanda kebosanan. Berbeda dengan yang lain, mungkin yang sedang asik bertukar cokelat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *