Rapuh

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 25 August 2017

“Wina!!” Sebuah suara mengagetkan lamunanku siang itu. Tak sadar seorang gadis dengan rambut hitam tebal yang tergerai sudah duduk tepat di samping kiriku. Rupanya Puri, sahabatku.
“Ngelamun aja..” Ia melanjutkan bicaranya. Aku hanya tersenyum mendengar apa yang ia katakan.
“Malah senyum…” Puri melirik ke arahku, lalu menjatuhkan pandangannya ke arah sosok laki-laki yang tiba-tiba lewat di depan kami. Laki-laki tersebut melempar senyum manisnya ke arahku. Aku membalas senyumnya dengan senyumku yang terulas seadanya.
“Ehem.. ehem.. ehem.. seret nih tenggorokan..” Puri meledekku.
“Apaan sih, Ri..” Aku mencubit pipi kanan Puri. Ia hanya tertawa cekikikan. Entah hal apa yang sedang bernaung di otaknya.

Siang itu, mentari bersinar dengan terangnya, suara nyanyian burung masih terdengar bersenandung di antara ranting-ranting yang bergoyang terkena tiupan angin. Hari itu pula, anniversary ke-3 diriku dengan Arsyam.
Masih sama.. Ya, kau masih sama saja.. Tak pernah berubah.. dan mungkin kau tak bisa berubah.. karena kau memang seperti itu.. menyebalkan.. tak pernah paham.. dan tak pernah mencoba untuk paham.. Mungkin aku menyesal memilihmu.. atau bisa jadi aku juga tak menyesal.. Entahlah..

Goresan pensil memenuhi secarik kertas yang kuselipkan pada buku diaryku. Satu bait puisi yang kubuat mampu meredakan kesalku. Aku sangat kecewa dengan Arsyam yang tak pernah ingat tanggal istimewa ini. Mungkin dia ingat, namun dia lupa untuk memberikan kejutan, atau minimal sepenggal puisi untukku. Ahh.. Aku iri dengan Puri. Galan, sosok laki-laki yang ia cintai selalu memberinya sebait puisi, bahkan satu lembar. Aku kagum dengan mereka berdua. Kompak dan asyik, sepertinya Puri sangat beruntung memiliki pacar seperti Galan.
Tapi aku? Bertemu saja aku langsung speechless.

“Wina, ke kantin yuk..” Puri menggait tanganku, lalu menarikku. Aku tak menolak, kuikuti saja mau sahabatku itu.
Di taman, terlihat Arsyam yang sedang duduk berdua dengan Gina. Gadis cantik itu selalu berada pada satu organisasi dengan Arsyam, dan anehnya mereka selalu ditakdirkan untuk mengerjakan satu program bersama. Sebenarnya aku cemburu. Bukan cemburu! Mungkin hanya sedikit merasa gelisah jika aku melihat kedua orang itu sedang duduk berdua. Mungkin lebih baik aku tak usah melihat kejadian itu dibanding harus menahan nafas dan merasakan gejolak hati yang tidak mengenakkan ini.

Tak ingin melihat kejadian itu terlalu lama, aku segera mempercepat langkahku. Puri masih menggandengku. Sepertinya kini ia mengerti apa yang sedang kurasakan.
“Sudahlah Win, mungkin mereka sedang membahas program kerja…” Puri menenangkanku. Aku masih diam. Rasanya hatiku ini sudah penuh dan sesak.
“Program kerja? Bahkan hari istimewa seperti ini pun dia juga tak ingat, Ri?” Langkah kami terhenti, aku menatap dalam-dalam mata Puri. Kali ini Puri tak berkutik, Ia hanya menunduk lalu menghela nafas panjang.
“Sudahlah… Aku malas membahas hal ini lagi… Ayo pulang, Aku gak mood makan.” Kakiku mulai bergerak meninggalkan Puri.
“Eh.. eh.. malah ngambek..” Puri mengikutiku dari belakang. Ia memang pandai mengalah, Itulah hal yang membuatku tambah sayang dengan sosok sahabatku itu.

Saat tiba di tempat parkir, Aku segera menaiki dan menjalankan motor matic-ku.
“Puri, nanti jangan lupa!” Aku melambaikan tangan kiriku ke arah Puri yang sedang duduk menunggu jemputannya. Rencananya, sepulang sekolah kami berdua akan bertemu di taman kota. Ralat! Bukan kami berdua. Lebih tepatnya kami bertiga. Aku, Puri dan Arsyam.

Kami bertiga sudah 10 menit duduk di bangku ini. Masih belum ada percakapan. Rasanya sangat membosankan. Aku masih menunggu kata pertama yang akan diucapkan Arsyam. Mungkin dia masih berfikir, atau mungkin dia memang tak ingin berbicara untuk yang pertama kalinya. Baiklah, aku yang akan memulai.
“Syam, ngapain Kamu ajak Aku ke sini?” Perlu kekuatan yang lebih untuk memulai percakapan dengan Arsyam. Bisa jadi dia hanya tersenyum atau malah sama sekali tidak menjawab. Huh.. susah sekali berpacaran dengan seseorang yang super cuek.
“Win, sebenernya…” Kalimat Arsyam terpotong oleh Puri yang tiba-tiba tertawa cekikikan. Hal itu membuat Arsyam tak jadi melanjutkan kalimatnya, mungkin dia malu karena pada saat itu Puri duduk di antara kami berdua.
“Kalian tuh lucu banget deh.. Biasa aja kenapa sih? Kok kayaknya pada tegang gitu..” Celetuk Puri sembari tertawa lepas.
“Sebenernya? Apa?” Aku penasaran dengan lanjutan kalimat Arsyam yang terpotong itu.
“Sebenernya Aku ingin putus sama Kamu… Aku gak mau menyakiti hatimu terus…” Kalimat yang Arsyam ucapkan membuat Puri berhenti tertawa. Puri menatapku, Aku hanya melempar senyum pada Puri.
“Putus? Oh.. putus ya.. Sebenernya Aku juga ingin putus dari dulu..” Aku menjawab dengan gelagapan. Aku tak tau harus menjawab apa, aku jawab saja seasalnya.
“Tunggu… tunggu…! Lo bilang apa, Syam? Putus? Lo pengen putus sama Wina?” Puri berdiri dari duduknya. Arsyam hanya diam.
“Udah, Ri! Aku juga udah lama ingin putus kok! Aku baik-baik aja, serius.” Aku menggait tangan Puri. Namun Puri melepaskannya.
“Aku kenal Kamu, Win. Aku tuh sahabat Kamu. Kamu itu rapuh. Please jangan pura-pura tegar di depanku, Win. Gak mempan.”
“Syam, Lo tau kalo selama ini Lo nyakitin hatinya Wina. Tapi kenapa Lo nggak minta maaf? Lo emang keterlaluan! Ahh.. Kalo Wina udah gak sayang sama Lo, Pasti udah Gue Tampar tuh pipi Lo! Tapi sayangnya, Wina tuh masih sayang sama Lo!” Lanjutnya.
“Udah Win, Aku bete di sini. Ayo pulang.” Puri mengajakku pergi dari tempat itu. Kami meninggalkan Arsyam yang masih duduk di bangku itu. Biarlah, lagi pula aku dan Arsyam juga sudah tidak berpacaran lagi. Biarkan dia sendiri. Mataku berkaca-kaca, namun tak sampai jatuh ke pipi bulirannya. Aku tak ingin menangisi hal kecil seperti ini. Putus dengan pacar bukan akhir dari segalanya, kan?

Rapuh? Bukankah yang rapuh itu yang menetes air matanya? Kenyataannya air mataku tak menetes, Ri… Aku masih mampu membendungnya… Terimakasih Arsyam, mengenalmu membuatku mengerti arti sebuah cinta sekaligus kerapuhan… Terimakasih Puri sahabatku… Bersahabat denganmu membuatku mampu mengalahkan kerapuhan itu… Rapuh… Mungkin memang aku terlihat rapuh.. Tapi, kerapuhan itu sendiri yang justru membuatku menjadi lebih tegar… Dear, all at once, anniv & end (Wina, Arsyam)

“Ciyee… udah move on nih…” Puri merangkulku dari belakang. Kemudian Ia berdiri tepat di depanku. Matanya yang jernih selalu berbicara. Ya, Dialah sahabat paling baik yang pernah kutemui di dunia ini. Gadis maskulin yang tidak bisa menerima keputusan Arsyam kala itu. Kini, Aku sadar. Seberapa kuatnya cinta bukanlah segalanya. Tapi bagaimana caranya kita bisa menghadirkan ‘cinta’ saat kerapuhan datang menyapa itu jauh lebih penting. Yang menghadirkan ‘cinta’ saat kerapuhan itu datang ya hanya kau, Puri sahabatku.

Cerpen Karangan: Anisa Anggraita
Facebook: Anisa Anggraita Safitri
Namaku Anisa Anggraita, “Rapuh” adalah cerpen yang kubuat di tahun 2015.

Cerpen Rapuh merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Kiriman

Oleh:
Angel benar-benar terpukul dengan kepergian Anisa sahabatnya karena kecelakaan. Sejak itu Angel tidak mau lagi punya sahabat, karena ia tak ingin lagi kehilangan seorang sahabat. Suatu hari ada murid

Satu Cinta Untuk Emak

Oleh:
“Apa? Lima juta?” Ujar Tomi setengah teriak. Kaget. “Iya Pak. Jika ibu Bapak baru bisa pulang setelah biaya administrasinya beres.” Jawab sang suster setengah tenang. Jantung Tomi masih berdetak

Sahabat Sejati Tak Sejati

Oleh:
Hari ini adalah hari pertama aku masuk Sekolah Menengah Pertama. Namaku Ulfah, aku seorang anak perempuan yang sangat suka dengan kata Sahabat. Tapi selama enam tahun di Sekolah Dasar

Mereka yang Meninggalkan

Oleh:
Sepasang mata itu berkaca-kaca menatapku. Aku sudah menghancurkan satu lagi harapan dari orang-orang yang mengasihiku. Dia tidak menangis. Tatapan itu lebih seperti tatapan kecewa dan lelah. Mungkin ada sedikit

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *