Relakan Semua

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 6 November 2017

Di luar masih hujan. Aku hanya berdiam diri di dalam kamar, terbaring lemah dengan selimut tebal yang nyaris menutupi seluruh tubuh.

Sudah dua hari aku tak masuk ke sekolah, karena demam yang menyerangku. Dan beberapa menit yang lalu, dokter baru saja pulang setelah memeriksa keadaanku. Katanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku akan cepat sembuh jika mau meminum obat yang telah dokter beri tadi. Tapi, itulah masalah utamanya; aku tak suka meminum obat. Mencium aromanya dari jarak jauh saja, sudah membuatku benar-benar mual.

Aku langsung menoleh, begitu mendengar suara seseorang memasuki kamar. Ternyata Stella, gadis yang sudah menjadi tetangga —sekaligus sahabatku— sejak lima tahun yang lalu.

“Gimana Bas keadaan kamu?” Dia bertanya, duduk di sampingku.
Dengan suara lemah, aku menjawab. “Masih kayak kemarin, Stel.”
“Yah. Cepat sembuh dong, Bas. Aku khawatir banget kalau kamu kayak gini.”
Tentu saja aku tersenyum mendengar pernyataannya. Dia bilang, dia mengkhawatirkanku.
“Sakit itu enak tau. Kalau aku minta sesuatu, pasti langsung dikasih sama mama.”
Seketika itu dia langsung mencubit lenganku. “Ih!! Ya sudah sini! Bagi sakitnya. Jangan pelit.” Tukasnya.
“Eh, jangan! Kamu nggak boleh sakit!”
“Kamu saja boleh, masa aku nggak boleh. Biar kita sama-sama ngerasain sakit, kan?”
“Nggak boleh pokoknya.”
Dia tidak tahu betapa aku sangat mengkhawatirkannya kalau sampai dia jatuh sakit. Dulu saja, waktu dia terbaring lemah karena terkena virus influenza, aku benar-benar khawatir. Ingin rasanya menggantikan posisi dia saat itu juga.

“Minggu depan aku mau pergi ke Bandung, ke rumah kakek. Mau ikut nggak?” Dia memulai percakapan lagi.
“Mau!” Aku berseru semangat.
“iya. Nanti kita pergi bareng-bareng. Syaratnya, kamu harus sembuh dulu. Oke?” Dia tersenyum. Bahkan senyumnya selalu mampu mengubah suasana hatiku.
“Siap, Kapten.” Aku nyengir.

Sejak pertama kali Stella pindah rumah di daerahku, hubungan kami memang sangat dekat. Bahkan kelewat dekat dari sekedar sahabat. Aku yang menjadi pendengar terbaiknya jika dia sedih. Dia yang menjadi motivatorku jika aku merasa kurang semangat.

Beberapa hari kemudian, Aku sudah sembuh. Dan bisa menjalani aktivitas lagi seperti hari biasanya.

Malam itu Stella datang ke rumah, dia meminta aku supaya pergi dengannya ke taman dekat kota. Katanya ada yang ingin dia tunjukkan.
Cukup lama aku dan Stella berjalan menyusuri taman. Aku sama sekali tidak tahu dia sedang mencari apa? Tapi kelihatannya, Stella sedang mencari sesuatu yang amat berharga. Dan sepertinya, sesuatu itulah yang akan dia tunjukkan kepadaku.

“Itu dia!” Stella berseru senang. Langsung menarik pergelanganku ke arah bangku panjang yang telah diduduki oleh seorang lelaki. Tentu saja aku kenal lelaki itu, dia adalah Aldi. Lelaki yang kutahu satu kelas dengan Stella.
“Hai.” Aldi langsung bangkit dari duduknya. Tersenyum padaku, dan Stella.
“Maaf ya sudah bikin kamu nunggu.” Kata Stella untuk Aldi.
“Ok. Nggak papa kok” Aldi membalas.
“Jadi, kalian janjian buat dateng ke sini?” Tanyaku. Menatap Aldi dan Stella bergantian.
Stella langsung tersenyum. Pipinya kulihat merona.
“Sebenarnya aku malu buat ngasih tahu kamu, Bas” Stella menjeda ucapannya. “Tapi, karena kamu adalah sahabat terbaikku. Jadi, kayaknya kamu perlu tahu, bahwa… aku sama Aldi udah jadian seminggu yang lalu.”

Aku langsung diam. Mencerna baik-baik ucapan Stella barusan. Sementara di lain sisi, berbagai macam tak nyaman rasa langsung bermain di dalam hatiku. Perih. Sesak rasanya.
Jadi, ini yang ingin Stella tunjukkan? Dia memberitahuku tentang kekasihnya.

“Udah satu minggu? Berarti udah tujuh hari dong. Wah, kalau gitu, pajak jadiannya mesti tujuh kali lipat nih.” Aku senyum. Berpura-pura senang karena akan mendapat traktiran dari Stella dan Aldi. Kurasa mereka tidak perlu tahu, bahwa sebenarnya aku sakit hati mengetahui kabar ini.
Stella dan Aldi tertawa bersama. “Kalau masalah itu, tenang aja. Besok kita mau pergi ke Bandung, kan? Nanti semua keperluan kamu, aku dan Aldi yang bayarin. Ya nggak, Al?”

Oh, jadi besok pagi, Aldi juga akan ikut pergi ke Bandung? Bersama aku dan Stella? Wow. Untuk yang pertama dalam sejarah, bahwa kami akan pergi bertiga —dengan Aldi. Bukan berdua— hanya aku dan Stella, seperti biasanya.

“Tentu. Tenang aja, Bas. kita bakal bayar pajak kok.” Aldi menepuk pundakku.
“Ok.” aku senyum lagi. Senyum yang sudah seharusnya aku tunjukkan, untuk menutupi kesedihanku.

Tubuhku masih gemetar. Menahan gejolak yang sedari tadi merasuki raga. Aku seperti kehilangan sesuatu berharga, dan sepertinya itu adalah Stella. Selama ini dia sangat perhatian padaku, bodohnya aku selalu berpikir bahwa tak pernah ada orang lain di dalam hidupnya selain aku. Lalu, malam ini tepatnya, aku mendapati sebuah pernyataan yang sama sekali tak pernah kubayangkan.

Jadi, aku harus melepaskan Stella, untuk kebahagiaannya?
Dan menyedihkan, karena jawabannya adalah Iya. Aku tak punya pilihan selain berusaha relakan semua.

Cerpen Karangan: Farhatin juliani
Facebook: Ghaitsa farhatin
Farhatin Juliani, perempuan kelahiran 26 Juli 1999 yang sangat menyukai martabak cokelat.

Cerpen Relakan Semua merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Diary Love Story

Oleh:
Perkenalkan nama lengkapku Muhammad Husein Albana. Aku adalah salah satu siswa di sebuah sekolah yang cukup popular di Jakarta Selatan yaitu SMKN 6 JAKARTA atau yang sering disebut PRODJOST.

Kawan Sejati

Oleh:
Seorang sosok wanita yang sangat baik dan rendah hati sedang mengayuh sepeda miliknya, dengan perasaan yang selalu dibawa oleh keceriaannya itu hari-harinya terasa lebih indah dan apa adanya. Riana

Kenapa Kesabaranku Selalu Diuji

Oleh:
Mencoba flashback ke belakang, saat itu kegelapan dan kesedihan aku telah hilang karena seseorang datang yang selalu membuat aku happy kembali. Dia bernama ahmad rajih kerap disebut ncep. Saat

Buih Sesalan Al

Oleh:
Al menatap gamang jauh menembus jendela kaca yang membentang luas di hadapannya, ke arah deburan ombak yang meninggalkan buih di sepanjang garis pantai. Buih kecil dan berwarna kelabu, nampak

Kenangan

Oleh:
Rasa rindu menyelimuti hatiku yang sepi saat ini. Duduk di tempat pertama kita bertemu. Duduk dimana saat-saat kita tertawa, berlarian, bahkan menangis dan bertengkar. Mengenang sesuatu yang manis bercampur

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Relakan Semua”

  1. Ulil says:

    Ngalamin bray … Jleb ..

  2. Masadjie says:

    Sesaat kita udh berteman sejak saling kenal dan saling main bareng tertawa bareng bercanda bareng/dan akhirnya ketika sudah megunggakapkan rasa satu sama lain dan pengorbanan pun harus terhapus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *