Remember When I Know You

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 5 June 2017

“Ngeliatin dia lagi?” Suara khas sahabatku, menyadarkan lamunanku yang sejak tadi terfokus pada seorang laki-laki yang sedang serius memainkan bola basket.
“Apaan sih Re.. nggak kok”
“Haduuhh.. udah deh yaa.. nggak usah bo’ong”
Iya, sebenarnya memang sudah sejak satu jam yang lalu aku mengamatinya.
“Udah ah, masuk yuk.. udah panas”
“Yee.. bilang aja biar aku nggak komentar terus”

Awal SMP tepatnya pada saat MOS merupakan awal pertemuanku dengan sahabatku, Rere, lebih tepatnya Irene Indrawan. Kebetulan saat itu aku satu kelas dengannya. Begitu pula setelah MOS kami berakhir, dan diumumkannya kelas kami yang sesungguhnya. Sejak itulah kami menjadi akrab bahkan menjadi sahabat. Kami sering ke mana-mana bersama. Mulai dari kantin, masjid, perpustakaan, hingga ke kamar mandi. Irene memang hobi membaca novel dan Ia sering mengajakku ke perpustakaan lima hari sekali untuk mengembalikan dan meminjam novel yang Ia baca. Bahkan saking sukanya dia baca, ketika merasa bosan mendengarkan penjelasan guru di kelas, diam-diam Ia membaca novel yang sudah diletakkan di loker mejanya.
Meskipun aku sudah mengingatkannya berkali-kali, tapi dia memang keras kepala. Syukurlah sampai sekarang belum ada guru yang menyadarinya. Dan gara-gara Irene aku jadi jatuh cinta dengan novel. Awalnya aku tidak tertarik membaca novel, karena aku malas membaca ratusan halaman yang ada di dalamnya. Namun ketika aku tidak sengaja membaca sedikit bagian dalam novel yang Irene pinjam, aku menjadi tertarik untuk membacanya. Semenjak itulah aku melakukan hal yang sama sepertinya.

Ah, ya.. namaku Natasya Rahmawati. Teman-temanku biasa memanggilku Tasya, begitu pula dengan Mama dan Papaku. Mamaku seorang psikolog sedangkan Papaku bekerja di salah satu perusahaan pertambangan batubara. Tentu saja aku lebih sering menghabiskan waktu bersama Mamaku karena Papa hanya akan mengunjungi kami sebulan sekali. Itu pun hanya dalam waktu tiga hingga empat hari saja. Sebab itulah aku menjadi hidup mandiri. Meskipun usiaku masih terbilang muda, namun sejak kecil aku sudah diajarkan Mama untuk hidup mandiri. Walaupun Mama hanya seorang psikolog, namun jika beliau sedang sibuk menangani kliennya, biasanya Mama pulang malam. Dan seluruh pekerjaan rumah tentu saja aku yang membereskannya, karena kami tidak memiliki pembantu. Hmm.. kurasa sudah cukup mempekenalkan mereka.

Sekarang aku akan memperkenalkan kalian dengan… seseorang yang sempat aku singgung di awal cerita tadi. Dia adalah.. Rendi Dirgawan, seseorang yang aku kenal baru-baru ini, disisa masa putih biru tuaku ini. Awalnya aku tak terlalu mengenalnya, lebih tepatnya hanya sekedar mengetahuinya. Baru setelah aku menyadari bahwa teman sekelasku, Fitri bersahabat dengannya aku menjadi penasaran. Karena aku tak terlalu mengenalnya maka aku banyak bertanya kepada Fitri. Dan setelah banyak mendapatkan informasi tentangnya, kurasa aku mulai mengaguminya. Sejak itulah aku mencoba untuk mengenalnya dan berkenalan tentunya.

Hari ini sekolah pulang pagi karena para guru ada rapat bersama kepala sekolah.
“Sya..”
“Ah ya.. kenapa?”
“Ke mall yuk.. males nih di rumah..”
“Ya udah, oke”

Aku dan Irene memutuskan naik transportasi umum, karena jarak Mall tidak dekat dari sekolah kami. Tepat pukul 10.30 kami telah sampai. Langsung saja kami berjalan-jalan selama beberapa menit sebelum akhirnya kami memutuskan untuk makan. Kami memutuskan untuk makan di foodcourt.
“Sya, kenapa sih kamu suka ngeliatin Rendi? Kamu suka ya?”
Soal yang satu ini, aku memang belum sempat cerita sama Irene. Mungkin dia bisa membaca sikapku yang agak berbeda akhir-akhir ini.
“Hah.. nggak lah, kenal aja nggak.”
“Udah deh.. aku tau kok kamu itu orangnya gimana”
Iya pasti tau lah, sudah hampir tiga tahun ini aku mengenalnya, dan kami sudah saling mengetahui kebiasaan, sifat dan karakter masing-masing.
“Emm.. nanti akuu..”
Belum sempat aku melanjutkan kalimatku, tiba-tiba aku mendapati seorang laki-laki berjalan berdampingan dengan seorang wanita yang –bisa dibilang pacarnya-. Yah.. itu Rendi, namun denga siapa Ia? Apakah mungkin itu pacarnya? Memang Fitri telah memberitahuku bahwa Rendi sudah mempunyai seorang pacar. Namun Fitri tidak bisa mengatakannya karena masih rahasia. Sekarang aku mengerti, mungkin wanita itu adalah pacarnya.

“Sya..”
“Ah.. ya, sampai di mana tadi?”
“Kamu nggak papa kan?”
“Eng..gak aku nggak papa kok”
“Terus gimana?”
“Kita pulang aja yukk, nanti aku critain deh..”
“Hah? Uhm.. oke.”
Mungkin sebaiknya aku pulang untuk menenangkan diri sekaligus mencari tahu siapa wanita tadi.

Sampai di rumah aku memutuskan untuk membuka akun jejaring sosialku. Daaannn…. di halaman berandaku, tepatnya berita paling atas aku melihat foto Rendi bersama wanita tadi dengan pose yang cukup mesra. Ternyata wanita tadi bernama Nisa. Menurutku mereka belum lama jadian, dan setelah aku pastikan, benar saja mereka baru menjalin hubungan kurang lebih tiga minggu ini. Aku cepat-cepat mengambil ponselku dan mengirimkan SMS kepada temanku, Fitri. Ternyata Rendi mengenal wanita tadi dari temannya, Aji. Awalnya Rendi merasa kagum kepada wanita itu, hingga akhirnya mereka jadian. Rasanya sudah cukup selama hampir setengah hari ini aku mencari informasi tentang mereka berdua. Sebaiknya aku segera tidur malam ini.

“Tasyaa.. ayo bangun sayang..”
Samar-samar suara Mama mulai terdengar oleh telingaku dan sekarang suara itu terdengar semakin jelas.
“Tasyaa.. bangun.. udah siang sayang..”
Dengan cepat aku langsung membuka kedua mataku dan panik mendengar apa yang Mama katakan padaku.
“Ma.. ini jam berapaa?”
“Jam 6 sayaang..”
“Hah.. jam 6?”

Aku langsung pergi membersihkan badanku. Aneh sekali! Tidak biasanya aku bangun se-siang ini. Buru-buru aku merapikan rambutku dan menyapukan sedikit bedak ke wajahku. Setelah itu aku langsung berpamitan kepada Mama. Bahkan aku tidak sempat untuk sarapan. Hari ini ada jam pagi, dan sayangnya aku bangun kesiangan.

Setelah sampai di sekolah aku berlari secepat mungkin, hingga akhirnya.. “Bruukk” aku terjatuh karena tidak sengaja menabrak seorang laki-laki.
“Mm.. maaff, aku buru-buru jadi nggak liat kalau ada orang”
“Nggak papa”
“Terima..”
Ketika aku hendak berdiri dan mengucapkan terimakasih, dengan seketika mulutku tidak sanggup melanjutkan kalimat tadi setelah aku mengetahui bahwa laki-laki yang aku tabrak adalah Rendi.
“Kok bengong?”
“Ee…”
“Mari aku bantu berdiri”
Rendi mengulurkan kedua tangannya padaku dan sepersekian detik aku menyambut uluran tangannya untuk dibantu berdiri.
“Terimakasih Ren..”
“Iya.. sama-sama. Aku ke kelas dulu ya, cepat ke kelas. Pelajaran telah dimulai lima menit yang lalu ”
“Ah, ya..”

Akhirnya aku berlari secepat mungkin menuju kelasku. Syukurlah Bu Widya mengizinkanku masuk dan sama sekali tidak memarahiku. Aku mengatur napasku yang tidak teratur hingga akhirnya Irene menanyaiku.
“Tumben Sya, kamu telat? Biasanya juga aku yang telat. hehe”
“Critanya panjang Re.. nanti aku akan critain semua ke kamu.”

“Kring.. krinnngg.. kringg..”
Pelajaran hari ini telah usai. Pulang sekolah ini aku memutuskan untuk bercerita kepada Irene tentang apa yang terjadi tadi dan tentunya tentang Rendi. Kami memilih bercerita di taman belakang sekolah karena ini adalah tempat favorit kami. Semuanya telah aku ceritakan kepada Irene. Dan Irene memberiku tanggapan yang positif. Awalnya Irene tidak setuju kalau aku ingin mengenalnya, karena dia tidak mau aku kenapa-kenapa. Tapi, setelah aku meyakinkannya Irene luluh juga. Tentu saja aku tidak akan merusak hubungan mereka, namun aku hanya ingin berteman dengannya. Karena bagaimanapun aku dan dia berbeda kepercayaan.

Pukul 14.00 aku dan Irene memutuskan pulang. Sampai di rumah aku meminta nomor telepon Rendi kepada Fitri. Setelah mendapatkannya aku segera menuliskan pesan singkat yang berisi ucapan maaf sekali lagi kepada Rendi. Beberapa saat kemudian satu pesan singkat masuk di ponselku. Tidak salah lagi, dari Rendi.

Sejak saat itu kami sering berkomunikasi dan membicarakan banyak hal. Benar kata Fitri, dia bersikap welcome dan care kepada siapa saja yang juga baik kepadanya. Hal itu telah aku rasakan sekarang, terlebih setelah sepekan yang lalu aku mengalami kecelakaan kecil yang menyebabkan ujung jari tengahku yang sebelah kiri harus dipotong sedikit karena luka yang parah. Aku sering mengeluh kepadanya tiap kali harus meminum obat-obatan yang tidak sedikit itu. Namun dia tak bosan untuk selalu menasihatiku. Dan aku juga sering mengeluh ketika jariku masih terasa sakit, bahkan ketika aku tidak kuat menahan sakit saat jahitanku diambil. Apapun yang aku rasakan saat itu, aku selalu berkeluh kesah kepadanya dan dia tak berhenti untuk menasihatiku, bahkan menghiburku dengan caranya sendiri.

Mungkin kadar perasaanku kepadanya sudah bertambah, aku juga nyaman ketika berkomunikasi bersamanya. Hingga suatu hari aku memutuskan untuk mundur. Namun, saat aku ingin mundur, aku mendapati dirinya sudah mengakhiri hubungannya dengan wanita itu. Hal ini membuatku berpikir dua kali dan aku memutuskan untuk membiarkan semua berjalan mengalir begitu saja. Pada akhirnya aku mulai merasa bahwa Ia sudah mulai berbeda dan hingga akhirnya aku mendapat kabar dari temanku, Arin. Bahwa Ia sudah menjalin hubungan dengan sahabatnya sendiri yang bernama Bella dua hari sebelum ulang tahunku. Tentu saja aku merasa kaget, karena pada saat itu Ia masih sempat memberiku ucapan ulang tahun, dan masih sempat berkomunikasi denganku seperti biasannya.

Selalu setiap aku ingin mundur, hal yang sama terjadi lagi untuk beberapa kali. Sampai akhirnya Bella memintaku untuk mendekati Rendi. Aku tidak mengerti apa alasannya dan aku tidak percaya dengan apa yang Ia katakan. Aku menjadi merasa tidak enak kepada Bella, karena ternyata Ia tahu bahwa aku masih menyimpan rasa kepadannya. Di kelas, Fitri memanggilku, dan betapa terkejutnya aku ketika Fitri berkata bahwa Rendi memutuskan keluar dari persahabatan mereka dan persahabatan mereka sekarang sudah selesai. Aku menjadi merasa tidak enak dengan semuanya, meskipun aku tahu aku tidak bersalah dalam hal ini. Kini aku memutuskan untuk memenuhi permintaan Bella.

Sudah tiga bulan ini aku mengenal dan mulai dekat lagi dengannya. Sekarang ada satu hal lagi yang membuatku terkejut. Benar, dalam suatu persahabatan sangat tidak dipungkiri bahwa salah satu diantaranya ada yang menyimpan rasa kepada sahabatnya yang lain. Ini sudah terbukti bahwa ternyata salah satu sahabatnya, Lily juga menyimpan perasaan kepada Rendi. Dan ternyata Lily lah yang menyatukan Rendi dan Bella. Karena Lily tidak tega melihat Rendi dan Bella sedih setelah mereka putus dengan pacar mereka. Yang lebih mengejutkan lagi adalah ternyata Rendi memutuskan keluar dari persahabatan mereka setelah Ia putus dengan Bella dan mengetahui bahwa Lily juga menyimpan rasa kepadanya. Tentu saja hal itu membuatnya bingung dan memutuskan untuk keluar dari persahabatan mereka.

Sekarang kami sudah mulai sibuk dengan segudang try out yang diberikan sekolah kami menjelang Ujian Nasional yang tinggal beberapa bulan lagi. Sekarang kami sudah jarang berkomunikasi lagi. Apalagi setelah penerimaan hasil laporan belajar kami yang terakhir. Karena setelah itu juga, Rendi sudah tidak memegang ponsel lagi. Begitu juga denganku. Sedih memang, mengingat dulu aku sering membahas banyak hal dengannya. Namun, ini memang yang terbaik untuk aku dan Rendi. Sebab, kami harus berjuang demi masa depan kami kelak dan tentunya untuk membanggakan kedua orangtua sekaligus orang-orang yang menyayangi kami.

Hari ini adalah hari dimana kami semua diberi pembinaan khusus dari Kepala Sekolah kami sebelum Ujian Nasional berlangsung. Selanjutnya kami diminta untuk meminta doa restu kepada bapak dan ibu guru kami, karyawan, dan tak lupa kepada teman seperjuangan. Rasannya aku tak dapat membendung air mataku lagi, tangisku pecah ketika aku saling bermaafan dengan teman-temanku. Dan tak lupa aku juga meminta maaf kepada Rendi. Karena bagaimanapun juga mungkin aku pernah berbuat salah kepadanya. Rendi juga melakukan hal yang sama sepertiku, Ia juga tak lupa memberiku semangat, sekaligus doa. Sore harinya tak lupa aku segera meminta maaf sekaligus meminta doa restu kepada Mama dan Papaku agar Ujian-ku berlangsung dengan lancar.

Tak terasa empat hari telah berlalu, lega rasanya Ujian Nasional yang cukup menyita waktu, tenaga dan pikiranku sekarang sudah berakhir. Namun tetap saja aku tidak boleh bersenang-senang terlebih dahulu karena aku belum tau seperti apa hasilnya kelak. Lama rasanya tidak berkomunikasi dengan Rendi. Bagaimana Ia sekarang? Aku harap Ia baik-baik saja.

Sebulan telah berlalu, aku sudah berkomunikasi lagi dengannya. Sekarang saat yang kami tunggu-tunggu pun telah tiba. Akhirnya kami semua lulus, kami sangat bahagia tentunya. Dan aku juga sangat bahagia, akhirnya nilaiku cukup memuaskan dan membuat orangtuaku bangga. Begitu pula dengan Rendi. Tak lupa kami berfoto bersama untuk yang terakhir kalinya.

Kini Rendi melanjutkan sekolah di salah satu sekolah tehnik ternama di dekat kota ku. Dia sangat sungguh-sungguh dengan sekolahnya yang baru. Sedangkan aku bersekolah di salah satu sekolah favorit yang ada di kotaku. Kini, aku tahu yang sebenarnya. Mungkin dulu aku sempat berpikir bahwa aku sangat menyukai Rendi, namun aku tidak pernah berpikir sebagai apakah rasa sukaku kepadanya. Apakah sebagai seorang teman atau lebih dari teman. Tapi sekarang aku mengerti, bahwa rasa sukaku kepada Rendi hanyalah sebagai seorang teman dan tidak lebih. Aku sangat bersyukur, Tuhan mempertemukanku dengan Rendi. Karena di mataku, Ia adalah salah satu teman terbaikku yang pernah aku temui dan aku kenal.

Cerpen Karangan: Wiwik Kusumawati
Blog: wiwikkusumaw.blogspot.com

Cerpen Remember When I Know You merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Satu Pelajaran

Oleh:
“Eric. Cowok jangkung, cakep, pinter, keren lagi. Masa kamu nggak tertarik De?” tanya Della padaku saat kami mengerjakan tugas matematika di rumahku. “Nggak, ah. Aku mau fokus sama pelajaran

The Magic of Time (Part 1)

Oleh:
“Kring… Kring…” “Berisik!!” Aku mengambil Jam weker tersebut dan mematikannya. “plisslah hari ini hanya Mos, free class.” Aku kembali membaringkan tubuhku ke kasurku yang sangat nyaman. “Oh tidak, Apa

Jejaring Sosial Tempatnya

Oleh:
Di suatu tempat, ada sekelompok pertemanan. Mereka bernama Fitrah, Rama, Jerry, Flow, Fendi, Ilham, Aal, Azis dan Rizkan. Mereka adalah sebuah kelompok sahabat yang sangat-sangat akur, mereka selalu bersama.

Sudut Pandang

Oleh:
Pernah semasa SMP dulu, ada teman yang ditindas. Bisa dikatakan, dia kurang menyenangkan. Sering menentang otoritas dengan lidah yang tajam meski mempunyai pendapat baik. Sikapnya dingin, cuek, mudah marah

Berguna

Oleh:
“Aku tak mengerti mengapa aku tak dapat menjadi orang yang berguna”. Keluh Dian Anin hanya tersenyum seraya menatap Dian, dari tadi ia hanya menanggapi semua keluhan dian dengan senyuman.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *