Ruang Tunggu Pelabuhan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 8 June 2016

Pelabuhan Soekarno – Hatta, begitulah namanya. Salah satu pelabuhan yang berada di kawasan Indonesia Timur. Walaupun nama yang digunkan untuk menunjuk pada pelabuhan ini adalah dua tokoh proklamator Indonesia, namun warga lokal lebih mengenal Pelabuhan yang berdiri sejak Zaman Hindia-Belanda ini dengan sebutan Pelabuhan Makassar.

“Jadi bagaimana menurutmu Kota Makassar?” tanyaku pada sosok gadis yang sedak duduk di sampingku, sedang asik menunggu kapal yang akan bersandar di pelabuhan ini.
“yah menyenangkan, baru kali ini saya menginjakkan kaki di Kota Makassar, seru dan keren abis” sahut Dwi Ari Wulaningsih, sahabatku yang kukenal sejak beberapa tahun lalu.
Pertemuanku dengan Dwi Ari Wulaningsih berawal ketika sama-sama tergabung dalam Organisasi berskala Nasional. Saat itu sedang diadakan Kongres Nasional di Surabaya dalam rangka memilih pengurus baru, saat itu saya menjabat Juru Bicara di Pengurus Pusat sedangkan Dwi menjabat sebagai Koordinator Wilayah Sunda Kecil (sebutan untuk Wilayah Kerja yang meliputi NTB, NTT dan Bali).
“Syukurlah kamu senang, hitung-hitung ini balasan buat kamu ketika saya berkunjung ke Bali” sejenak ia tersenyum kepadaku akupun demikian membalas senyuman yang tersungging di wajah cantik nan manis itu.

Sesaat kami memandangi matahari yang mulai terbenam di ufuk barat, di horizon sana perlahan-lahan terlihat KM Dobonsolo yang Dwi Ari akan tumpangi menuju Tanjung Perak Surabaya.
“satu lagi yang membuatku kagum akan Kota Makassar, yaitu panorama sunset yang indah terlebih lagi di Pantai Losari” sahut Dwi dan kemudian mengambil kamera DSLR di kopernya, sesaat ia menangkap pemandangan jingga keemasan di Horizon Barat, sebuah perpaduan gradasi warna dari Jingga, Jingga Keemasan, Merah Temaram hingga Biru Keunguan menghiasai setiap sudut layar Kamera Dwi, sebuah pemanadangan yang indah dan mendamaikan.

Beberapa kali kami melihat galeri Kamera Dwi, cukup banyak gambar yang diambil saat melancong ke Kota Makassar, mulai dari Uniknya Benteng Fort Rotterdam, Mistisnya Pekuburan Raja-Raja Tallo, Keramahan Warga Pesisisr Kota Makassar, bahkan ia juga masih menyempatkan mengambil secara diam-diam suasana Temaram Jalan Nusantara. Namun yang paling membuat kami takjub adalah pemandangan Senja di Losari dan dua Sejoli yang saling memadu kasih menatap Matahari Terbenam.
“Hilda menurutmu foto ini yang paling bagus?” tanyanya padaku, aku mengangguk pertanda setuju di antara berjejer gambar atau foto di galeri Kamera DSLR Dwi Arie foto Senja di Losari dan Sepasang Sejoli Memadu Kasih memang yang paling menarik bagiku.
“yah itu bagus, pertama aura romantisme muncul dalam foto ini, berlatar pemandangan indah dan damai Senja di Anjungan Pantai Losari memang menakjubkan sekaligus menghangatkan hati”
“yah memang Losari sangat indah dan Sunsetnya itu loh wuih… menggetarkan jiwa. Tapi Hilda sayang yah ada beberapa Bangunan yang menghalangi keindahan Pantai Losari…”
“Hmm maksudmu bangunan ini…” aku menunjuk sebuah Bangunan Beton yang menjulang di lepas Pantai Makassar, Dwi mengangguk mengiyakan pernyataanku.
“yah memang sih aura keromantisme Losari berkurang karena Proyek Reklamasi Pantai sehingga kita sudah tidak bisa leluasa mendapatkan sudut yang tepat dalam melihat Matahari Terbenam, terhalang Hutan Beton yang menjulang, selain itu karena proyek ini beberapa masyarakat pesisir dan nelayan terkena imbasnya” sahutku kepada Dwi, Dwi hanya tersenyum mendengar ucapanku, memang gadis ini selalu tersenyum dan itulah daya tariknya.
“Hmm kurang lebih mirip lah dengan Kasus Reklamasi di Tanjung Benoa Bali” Dwi sejenak menyandarkan badannya di kursi yang terbuat dari kayu jati.
“yah mungkin bisa dikatakan demikian…” sahutku dan kemudian kami kembali menatap Layar Kamera DSLR itu, nampak sebuah gambar/foto yang menyejukkan hati. Sebuah tangkapan kamera yang memperlihatkan Megah dan Khidmatnya dua bangunan peribadatan berdiri berdampingan. Masjid dan Gereja di Jalan Gagak Kota Makassar.
“kalau saya juga suka foto ini, menunjukkan Toleransi antar ummat beragama di Makassar” sahut Dwi, entah ada suatu arua kedamaian yang terbersit dalam hati ini.

Sejenak kami kembali memerhatikan ruang tunggu Pelabuhan, yah sudah banyak berubah, dahulu ruang tunggu Pelabuhan Makassar semrawut, kotor, dan pengap. Tapi kini berubah 180 derajat, bersih, terturm dan sejuk. Daya tarik dari ruang tunggu pelabuhan ini adalah lukisan-lukisan tanah liat karya pelukis handal Kota Makassar Zaenal Bate, berjejer rapi nan artistik di setiap sudut ruang tunggu pelabuhan.
“oh Iya Hilda kapan-kapan kamu main-main lagi ke Bali, merasakan suasana indahnya Pulau Dewata…?!”
“yah semoga ada kesempatan dapat melancong ke Bali Dwipa Jaya”

Tak terasa Kapal Dobonsolo telah merapat di Pelabuhan Makassar, kami berdua berdiri dan beranjak dari ruang tunggu pelabuhan, berjalan menuju dermaga bersama beberapa penumpang kapal lainnya, beberapa petugas pelabuhan mengecek manifest dan mengarahakan satu persatu penumpang menaiki Kapal Pelni yang cukup besar itu.

“jadi Dwi kamu ke Surabaya dulu lalu ke Bali?” tanyaku kepada Dwi yang berdiri di sampingku.
“iya setelah berlabuh di Pelabuhan Tanjung Perak, kemudian seharian di Surabaya dulu menginap, lalu melanjutkan penerbangan menuju Bali” sahut Dwi singkat kepadaku.

Dan kami berdua pun saling berjabat tangan dan saling mendoakan masing-masing. Bersama dengan matahari terbenam di ufuk barat, dan sayup-sayup Adzan Maghrib menggema di langit Kota Makassar, saya melepas kepergian salah satu sahabatku, selamat jalan Dwi Arie semoga persahabatan ini tak akan lekang oleh waktu dan tak terpisahkan oleh jarak.

Cerpen Karangan: Ilyas Ibrahim Husain
Twitter: @adilbabeakbar
Facebook: Ilyas Ibrahim Husain (https://www.facebook.com/ilyasibrahim.husain)

Nama Ilyas Ibrahim Husain (nama pena)
lahir di Sunguminasa 06 April 1993
Cerpen berjudul Ruang Tunggu Pelabuhan adalah cerpen kedua dari Kumpulan Cerpenku “Edisi Persahabatan Antar Wilayah” yang terdiri dari 3 Cerpen Pendek
1. Ruang Tungu Bandara (sudah pernah dimuat cerpenmu.com)
2. Ruang Tunggu Pelabuhan
3. Ruang Tunggu Stasiun
4. Ruang Tunggu Terminal
untuk lebih mengenal saya dapat berkomunikasi melalui media sosial Face Book (https://www.facebook.com/ilyasibrahim.husain)

Cerpen Ruang Tunggu Pelabuhan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Vitamin C++ (Part 2)

Oleh:
Tak terasa, pelajaran pertama pun usai kami lewati, kini pelajaran kedua yang tak lain pelajaran Biologi. Biologi merupakan pelajaran yang sangat aku sukai dan bisa dibilang aku cukup mahir

Good Day

Oleh:
Langit begitu mendung hari ini, beberapa orang mungkin akan memilih tetap berada di rumahnya. Tapi tidak dengan seorang gadis cantik yang sedang berlari di pinggir jalan itu, di tangannya

Kembalinya Sahabat Yang Dulu

Oleh:
Tiga orang sahabat yaitu Syifa, Dania, dan Alfi sudah berteman semenjak mereka pertama masuk SD. Mereka melewati hari hari di sekolah dengan mengisinya penuh canda dan tawa. Hingga sampai

Rahman

Oleh:
Rahman, namanya singkat dan tak ada kepanjangannya. Setiap kali dia disuruh untuk menulis nama panjangnya, dia diam saja untuk beberapa saat, lalu kemudian berkata, “Aku tak tahu nama panjangku.”

Rasa Ini

Oleh:
Sebenarnya apa sih makna dari kata suka? Cinta? Sayang? Sudah berkali-kali kuputar otak, siapa tahu ada ingatan yang terselip mengenai tiga kata itu. Tapi tetap saja, aku tidak tahu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *