Ruang Tunggu Stasiun

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Perpisahan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 12 June 2016

Stasiun Tugu Yogyakarta, atau dalam bahasa lokal disebut Setasiun Tugu Ngayogyakarta. Merupakan stasiun kereta api terbesar di Kota Yogyakarta dan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Letaknya di Kelurahan Gedongtengen Kecamatan Sosromenduran. Arsitektur Stasiun ini cukup khas bergaya kolonial hal itu tak mengherankan karena Satsiun ini dibangun pada masa zaman Hindia – Belanda tepatnya di tahun 1887.

Sore hari itu Stasiun Tugu mulai ramai, para calon penumpang kereta api telah penuh sesak berdiri di setiap sudut ruang tunggu stasiun, tak jarang pula beberapa Lansia yang duduk asik menikmati tembakau yang dilinting dengan kulit jagung kering, pemandangan para Kakek dan Nenek itu yang asik mengisao kretek mengingatkanku pada almarhum Ambo’ (Kakek) yang hobi mengisap kretek. Sesaat aku duduk asik menunggu Kereta Argo Wilis yang akan megantarku ke Stasiun Surabaya Gubeng, yah setelah cukup lama berkeliling ke Yogyakarta dan menikmati suasana damai di Kaliurang kini sudah tiba saatnya aku kembali ke Makassar tentunya Via Surabaya dengan menumpangi Pesawat dari Bandara Juanda menuju Bandara Hasanuddin.

Aku melirik arlojiku yang melingkar di tanganku, telah menunjukkan pukul 15.00 berarti sejam lagi kereta Argo Wilis Rute Yogyakarta – Surabaya akan tiba di Stasiun Tugu, sejenak aku kembali memerhatikan situasi ruang tunggu stasiun ini, tiba-tiba aku merasakan seseorang menepuki pundakku dari belakang.

“Bang Hilda yah?! Wah bagaimana kabarnya?” tanya seorang pemuda yang wajahnya cukup familiar bagiku. Aku sedikit menyiritkan mata dan memandangi wajah pria itu dengan seksama mencoba mengira-ngira siapa gerangan pemuda yang mengetahui namaku ini… sesaat pemuda itu tersenyum, namun senyumannya itu begitu khas membuatku mengingat seseorang yang memiliki senyuman yang khas, mungkinkah dia Habib…?
“Kamu yah Habib?!” sahutku dengan setengah tidak percaya, kulihat ia mengangguk dan tersenyum sumringah kepadaku.
“Iya saya Habib, Muhammad Habiburrohman” sahutnya mantap. Kami reflek saling berpelukan dan saling berjabat tangan. Suatu kebetulan yang luar biasa dapat bertemu kawan lama di Ruang Tunggu Stasiun Tugu. Habib masih tetap seperti dulu wajah khas Jawa dan Senyuman yang sangat ramah ditambah lagi lesung pipit yang menghiasai wajahnya, namun ada sedikit perubahan dari seorang Habib, ia lebih tinggi dan kulitnya lebih putih.
“Wah-wah kebetulan sekali kita bertemu disini bagaimana Kabarmu Habib?” tanyaku kepada sosok Pria yang ku kenal sejak tahun 2014, pertemuanku dengan Habib terjadi ketika saya menjadi utusan resmi Himpunan Mahasiswa History And Cultural Study Makassar College dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional salah satu organisasi berskala Nasional, saat itu Habib juga menjadi utusan resmi disalah satu Perguruan Tinggi yang disegani di Yogyakarta.
“Kabar saya baik Bang Hilda, kalau abang sendiri gimana kabarnya?” tanya Habib dan mengambil posisi duduk di sampingku.
“Yah Alhmadulillah kabar baik, setelah Sarjana sempat kerja di perusahaan swasta lalu kini menjadi penulis dan editor di salah satu penerbit di Kota Makassar, kalau kamu sendiri sekarang keseibukannya apa?”
“Yah Alhamdulillah saya baru terangkat menjadi Kurator Museum, sembari juga mengajar di salah satu Madrasah di Yogyakarta” sahut Habib.
“Wah kamu hebat yah” pujiku kepada Habib, kami terlibat banyak obrolan dan nostalgia masa-masa kuliah dulu walaupun kami berbeda Universitas namun jalinan komunikasi tetap berjalan.
“oh Iya Bang Hilda, dalam rangka apa abang ke Yogyakarta?” tanya Habib, sejenak aku membetulkan posisi dudukku.
“Liburan… jalan-jalan ke Kaliurang, belanja Buku di Shopping Center yah kurang lebih sudah sepekan saya Di Yogyakarta kalau kamu sendiri Habib ngapain ke Stasiun mau ke luar kota?”
“Ooh itu… saya habis mengajak beberapa Wisatawan dari Belanda dan Jepang keliling-keliling melihat salah satu peninggalan Kolonial di Yogyakarta” sahut Habib sembari menunjuk beberapa kerumunan wisatwan Belanda dan Jepang yang sedang asik memotret dengan kamera DSLR nya, saya juga baru menyadari rupanya sedari tadi ada turis toh di Stasiun ini.
“Begitu rupanya, kamu multi talenta yah, selain Guru, Kurator juga seorang Pemandu Wisata”
“Yah… bisa dikatakan demikian lah” sejenak Habib beranjak dari tempat duduk besi ini dan menemui salah satu pemuda yang tidak jauh dari kerumunan turis itu, mungkin partner kerja Habib kulihat mereka terlibat suaru obrolan. 10 menit berselang Habib kembali menghampiriku
“Sorry Bang Hilda tadi ada sedikit urusan, oh iya Bang udah lama yah kita tidak bertemu…” sejenak Habib menyentuh dagunya sembari mengenyeritkan dahi mencoba mengingat-ngingat suatu kejadian yang mungkin ada kaitannya dengan pertemuan terakhir kami” “mungkin pertemuan terakhir kita pas di Surabaya deh…?!” sahut Habib dengan nada datar yang di dalamnya terkandung suatu pertanyaan.
Aku sejenak mereduksi memori beberapa tahun lalu “Yah… mungkin terakhir kali kita bertemu di Kota Pahlawan kalau tidak salah Pas Kongres, tapi bagi saya Habib pertemuan yang paling berkesan adalah ketika pertemuan pertama kita di Yogyakarta seaktu RAKERNAS”
“Hmm begitu toh rupanya, sudah lama juga yah… memangnya apanya sih yang berkesan saat itu Bang Hilda?” tanya Habib kepadaku
“Yah berkesanlah, pertama saya baru merasakan Naik Pesawat Terbang loh, dari Makassar menuju Yogyakarta, kedua saya baru menginjakkan kaki di Tanah Jawa dan Ketiga saya juga baru tahu bagaimana rupa, bentuk dan sensasi naik Kereta Api, maklumlah di Sulawesi Selatan sudah lama punah ‘si ular besi itu’ terakhir di Sulawesi Selatan memiliki kerta di waktu Zaman Hindia-Belanda” Jelasku pada Habib, kulihat ia hanya memandangiku dan menyimak penjelasanku.
Sesaat aku menyandarkan punggungku pada kursi besi memanjang, tempat biasa calon penumpang menunggu kereta datang. Saya masih mengingat suatu kenangan pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Jawa dan Pertemuanku dengan Habib.

16 Maret 2014, Kaliurang – Yogyakarta. Tepat pukul 08.45 seluruh peserta RAKERNAS telah meninggalkan Wisma Kaliurang, tinggal diriku dan beberapa panitia yang belum berkemas.
“Jadi Bang Hilda kapan balik ke Makassarnya?” tanya Habib yang telah mengemas ranselnya, beberapa Botol Minyak Gosok pemberianku kepadanya tak lupa dimasukkan di saku ranselnya.
“Yah rencana besok baru balik ke Makassar tapi Via Surabaya jadi hari ini saya ke Surabaya dulu via Stasiun Tugu Yogyakarta… naik kereta” sahutku yang juga telah mengemasi beberapa barang bawaaanku termasuk dua kardus Buku yang baru saja kubeli di Shopping Center.
“Kenapa mesti ke Surabaya dulu bang bukannya ada penerbangan langsung Yogyakarta ke Makassar?!”
“Kenapa yah? Walaupun sudah ada penerbangan langsung dari Yogyakarta ke Makassar tapi kurang sah rasanya bagi orang Sulawesi Selatan ke Tanah Jawa tanpa pernah menaiki Kereta Api” sahutku sembari sedikit menggunakan nada kegirangan, sejenak Habib terlihat bingung akan pernyataanku.
“Memangnya di Sulawesi Selatan tidak ada kereta yah?” tanya Habib, aku hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Habib kepadaku.
“Di Sulawesi Selatan saat ini moda transportasi Kereta Api memang belum ada, tapi menurut catatan Sejarah Sulawesi Selatan, dahulu Kota Makassar yang saat itu berstatus Staatdsgemeente (Bahasa Belanda yang artinya Kota Praja) pernah memiliki jalur kereta api yang membentang dari Pasar Panampu Makassar hingga ke daerah Takalar yang saat itu masih menjadi bagian dari Afdeling Makassar” saya sejenak mengambil HP-ku dan memperlihatkan beberapa gambar yang tersimpan di galeri, mulai dari Pasar Panampu, Stasiun Kereta Api, hingga rel-rel yang membentang melintasi pesisir Kota.
“Ooh jadi begitu rupanya, tapi kok sekarang sudah tidak ada lagi Kereta Api di Makassar?” tanya Habib sembari memerhatikan beberapa gambar Hitam Putih di layar HP-ku
“Yah sewaktu Jepang menduduki Hindia-Belanda termasuk Makassar rel-rel kereta api itu dibongkar, besi dan lokomotif kereta di angkut ke Dalat Vietnam” jelasku singkat, Habib hanya mengangguk-ngangguk saja.
“Hmm… jadi itu yah sebabnya Bang Hilda mau naik kereta karena penasaran bagaimana rasanya?” selidik Habib kepadaku
“Yah jujur nih Habib… saya penasaran mau merasakan bagaimana sensasi dari naik kereta api, tidak hanya sering dinyanyikan sewaktu SD” saya kemudian menyanyikan lagu kanak-kanak yang sering kulantukan ketika SD dulu, dengan lirik yang sempurna dan dengan nada yang aduhai.
“Wah Bang Hilda nampaknya kegirangan karena tak sabar mau naik kereta…” sesaat Habib menggoda saya yang tiba-tiba bersifat kekanakan.

Ditemani Mobil Sedan miliki Habib saya meluncur ke Stasiun Tugu Yogyakarta, perjalanan dari Kaliurang ke Stasiun Tugu terbilang cukup lama, selain jarak juga aku meminta Habib untuk tidak memacu kendaraannya terlalu cepat agar saya lebih menikmati pemandangan indahnya keharmonisan Alam dan penduduk Nganyogyakarta Hadiningrat.
“Gimana Bang Hilda pemandangan Yogya keren kan?” tanya Habib kepadaku yang masih terkesima dengan indahnya Alam Yogyakarta
“Yah saya akui Habib, Yogyakarta begitu terkesan indah dan tentram tidak salah Kla Project menciptakan lagu yang begitu syahdu tentang Yogyakarta”

Kami berdua kembali tersenyum, bersenda gurau mengingat masa-masa sewaktu berstatus Mahasiswa, sayup-sayup lonceng berbunyi peluit panjang terdengar, tertiup angin senja Yogyakarta. Kereta Agro Wilis telah berhenti tepat di peron, kami beranjak dari tempat duduk dan saya menuju gerbong kereta.
“Yah Bang Hilda… seperti kejadian beberapa tahun lalu di Stasiun ini, saya melepas Abang menuju Surabaya dan kini sepertinya sejarah itu berulang kembali” sahut Habib, aku hanya tersenyum kepadanya dan menjabat tangan Habib sebagai tanda perpisahan
“Yah Sejarah itu terulang kembali, semoga persahabatan antara kita tak lekang oleh waktu dan tak terbatas oleh jarak”

Seperti kejadian beberapa tahun lalu Habib melepas kepergianku walaupun dapat dikatkan sebuah ketidak sengajaan. Kini kereta Agro Wilis telah berangkat menuju Stasiun Gubeng Surabaya dibawah langit jingga temaram dan deraian angin senja membawa kenangan itu kembali, kenangan akan indahnya persahabatan. Kota Yogyakarta selamat tinggal dan semoga bisa bersua lagi.

Cerpen Karangan: Ilyas Ibrahim Husain
Twitter: @adilbabeakbar
Facebook: Ilyas Ibrahim Husain

Nama Ilyas Ibrahim Husain lahir di Sungguminasa 06 April 1993.
Cerpen ini cerpen ketiga dari kumpulan cerpenku yang berjudul -Edisi Persahabatan Antar WIlayah-
terdapat 4 Cerita Pendek
1. Ruang Tunggu Bandara (sudah dimuat dalam cerpenmu.com / didedikasikan untuk Syahrul Rahmat Gsc Mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam IAIN Imam Bonjol Padang)
2. Ruang Tunggu Pelabuhan (Didedikasiakn Dwi Ari Mahasiswi Ilmu Sejarah Udayana Bali)
3. Ruang Tunggu Stasiun (Didedikasikan untuk Muhammad Habiburrohman Mahasiswa Sejarah Dan Kebudayaan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
4. Ruang Tunggu Terminal (Didedikasikan Untuk Adit Triyanto Ruslan Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Halu Oleo Kendari)

Cerpen Ruang Tunggu Stasiun merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perpisahan Akhir

Oleh:
Jam beker berbunyi tepat jam 06:00 pagi . Saatnya untuk lian bersiap-siap untuk kesekolah , di sekolah lian anak yang bersahabat , memang sih gak pinter pinter amat .

Dia Cinta Pertamaku

Oleh:
Pertama kali aku jatuh cinta dulu waktu umur 10 tahun. Waktu itu rasanya masih terlalu cepat untuk anak seumuranku mengenal cinta. Pada umur 10 tahun itu pula, aku pertama

Key

Oleh:
Helaan nafas tiada henti sore itu membuatku kelelahan Mengadah dan tertunduk bukanlah sebuah keputusan Bukan mauku begini, tapi kemauanmu Ah! Tidak juga sepertinya Kalau saja bisa kugenggam, tidak akan

Tak Ada Bukan Berarti Tak Hidup

Oleh:
‘Tik.. Tik.. Tik..’ Hujan masih terdengar membasahi luar jendela panti yang saat ini masih menjadi tempat favoritku. Aku hanya duduk terdiam memandangi hal-hal yang mungkin terjadi untuk masa depanku

Pertemuan Singkat

Oleh:
Mentari mulai menampakkan sinarnya dan sudah siap untuk menerangi sebagian dari belahan bumi ini. Sama seperti Netta yang sudah siap untuk memulai lembaran baru di SMA Harapan Bangsa. Ya,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *