Ruthless Game

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Patah Hati, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 21 August 2014

Aku tersentak bangun dari tidurku, handphone di samping wajahku bergetar. Ada satu pesan dari Pablo, lelaki pujaanku. “Morning Velice”
Aaah… berbunga-bunga hati ini. Begini rasanya diperhatikan oleh seorang yang Aku cintai. Yup, ini pertama kalinya Aku begitu diperhatikan. Sebelumnya, Aku hanya menjalani hubungan dengan seorang senior yang – mmm, bisa dibilang – cuek banget.

Hari ini sangat cerah, Aku sangat bersemangat berangkat ke sekolah. Ingin sekali melihat wajah tampan Pablo yang sudah lama kurindukan. Liburan semester tidak mengizinkan kami untuk bertemu, sedih rasanya membendung kerinduan ini.

Masuk kelas dengan wajah berbinar-binar, Aku tidak melihat sosok yang ku dambakan itu. Pablo belum datang… Wajahku yang berbinar itu sontak berubah menjadi berlipat, murung. Sahabatku keheranan melihatnya.
“Velice, aneh banget ekspresi lo. Kenapa Vel? Ada yang salah?”, Kata Aron sambil menghampiriku.
“Ehm… Gak papa kok”, Aku memang tidak bisa bersikap berlebihan soal Pablo di depan sahabat lelaki ku ini. “Pelajaran pertama Fisika kan?”

15 menit lagi pelajaran akan di mulai. Tapi aku belum juga melihat sosok yang kunanti sejak tadi pagi itu. Kemana gerangan dirimu Pablo? Aku mulai membuat tulisan-tulisan di halaman belakang buku tulisku. Memang itu yang biasa aku lakukan jika sesuatu yang tidak enak terjadi. Teman sebangku ku – yang juga sahabat baikku – Celia, hanya bisa memperhatikanku dengan heran. Aku memang banyak membuat heran sahabat-sahabatku pagi ini.

Guru Fisika memasuki kelasku, membawa setumpuk buku yang akan diajarkannya hari ini. Pablo belum juga datang. Haaah… Mungkin dia gak masuk hari ini… Tapi tiba-tiba seorang lelaki tampan berambut keriting memasuki kelas. Pablo!

Hari ini memang sangat indah. Setelah seluruh pelajaran berakhir, Aku pulang bersama Celia. Karena Aron dan Pablo harus mengikuti latihan basket. Di perjalanan pulang, Celia menyampaikan sesuatu kepadaku.
“Vel, lo ngerasa gak sih? Sejak lo jadian sama Pablo, persahabatan kita jadi renggang tau. Lo jadi sering bareng Pablo dibanding sama gue…”
Aku pun hanya bisa membisu. Tapi yang dikatakan Celia ada benarnya juga.

2 minggu setelah kejadian Celia menyampaikan isi hatinya, hubunganku dengan Pablo menjadi tidak ada apa-apa nya lagi. Aku mulai jauh dari Pablo, tapi menjadi dekat dengan Celia dan Aron. Dan aku telah membuat keputusan.
Hari itu tanggal 10, sore hari. Aku mengirimkan sebuah pesan singkat untuk Pablo.
“Hai Pablo, aku pengen nanya deh, menurut kamu… lebih sakit ditolak atau diputusin?”
Beberapa menit kemudian, handphone ku bergetar dan terdapat balasan dari Pablo
“lebih sakit diputusin Vel”
Aku mulai bimbang. “Kenapa emang?”
“Diputusin, berarti kita udah berhubungan, udah menyelipkan kenangan kenangan manis pada sesorang kan? Dan jelas itu sakit Vel.”
Aduh… gimana ini? Ah, aku harus berani! Harus! Dan akhirnya aku mengumpulkan seluruh keberanian dalam diriku.
“Pablo, Aku minta maaf banget. Tapi kita harus putus… Maaf banget ya”
. . .
Sudah 20 menit, tapi tidak ada jawaban yang datang dari Pablo. Tiba-tiba, handphone ku bergetar lagi. Dari Pablo ternyata . . .
“Iya gak papa, Vel. Aku ngerti kok. Maafin semua kesalahan Aku ya…”

Dan sisa hari itu berjalan murung buatku. Ah, tapi kan Aku sudah melakukan hal yang benar. Tenang aja Vel…

Keesokan harinya, aku berangkat ke sekolah seperti biasa. Dengan seragam putih-biru ku, aku memasuki kelas dan memulai hari-hariku seperti dahulu kala. Saat istirahat tiba, aku pergi ke kantin sekolah bersama Celia.
“Vel, makin jauh aja lo sama Pablo Ada apa sih?”, kata Celia.
“Gue udah putus sama Pablo.”
“Ya ampun Vel… Kok bisa?”
“Ceritanya panjang Vel.”, Aku tak ingin Celia tahu bahwa penyebabnya adalah dirinya.

Di sekolah, aku berusaha untuk tetap bersemangat. Tapi tidak dengan Pablo. Dia terlihat tidak bersemangat dan kurang ceria dari biasanya.

Sampai di rumah, aku merebahkan tubuhku di kasurku. Handphone ku berdering. Pablo.
“Halo, Velice?”
“Ya, kenapa?”
“Aku Cuma pengen bilang, Aku gak bisa jauh dari kamu”
“. . .”
“Vel? Aku janji gak akan move on sebelum kamu move on. Aku janji.”
“Ya udah. Itu keputusan kamu, Aku Cuma bisa pegang janji kamu aja. Makasih Pab.”
Percakapan singkat yang sangat berarti buatku. Jujur, aku juga tidak bisa begitu saja melupakan Pablo. Terlalu banyak kenangan manis yang dia selipkan padaku.

Cerpen Karangan: Gita
Facebook: Vanyaska Gita

Cerpen Ruthless Game merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Holiday With My Friends

Oleh:
Hari pertama liburan sekolah, Aku hanya tidur-tiduran di kamar sambil bermain game yang ada di hpku. Kringg!!… Kringg!!… Kringg!!… Bunyi hpku berbunyi, ada telepon dari Rahma, sahabatku. “Assalamualaikum Andyne…”

PHP dan PHO

Oleh:
Aku berusaha untuk ceria hari ini, walaupun sebenarnya hatiku masih sakit setelah kejadian hari itu. “Ah sudahlah” pikirku berulang kali. Entah kenapa aku bisa sebodoh itu mempercayai seorang yang

Catatan Kelam

Oleh:
Aku kembali membuka buku yang sudah usang rusak dimakan waktu, terenyuh aku saat melihat banyak sekali goresan tinta penuh warna warni berbagai kisah telah tertulis dengan rapi. Goresan goresan

Bahagiaku Bahagiamu (Part 2)

Oleh:
Sore itu, aku dan teman-temanku sedang asyik bermain bersama Farhan dan teman-temannya juga. Kami sedang bermain sepeda. Tiba-tiba Nadia terjatuh, ia tampak kesakitan. Saat aku mencoba membantunya, ia menolak

Kisah Antara Aku, Kamu Dan Dia

Oleh:
Namaku Mega Juwita, panggil Saja Mega. Sekarang ini usiaku menginjak 17 tahun. Berbeda dengan para gadis seumuranku yang lain, aku tergolong gadis yang tidak terlalu menyukai keramaian. Dan yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *