Ryan dan Lia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 16 March 2015

Hujan di sore itu seolah menambah rasa tangis dan sedih yang dialami Ryan, bagaimana tidak dia begitu mengiginkan Lia ada di sampingnya seperti dahulu ketika dia bersedih. Namun sekarang berbeda Lia sudah jauh dari Ryan dia sudah menemukan hidupnya. Ryan seakan begitu tidak percaya bahwa kekasih yang dia begitu sayangi dan dia juga yakin bahwa Lia juga begitu mencintainya pergi meninggalkannya. “Lia kembali sayang!!” kata itulah yang tak pernah lepas dari mulutnya.

Ryan sudah 2 hari ini hanya berada di dalam kamar dan belum juga mau makan, sahabat-sahabatnya tau betul akan duka ryan maka dari itu sahabatnya hanya bisa memberi semangat untuk kembali move on dan melanjutkan hidupnya. “Yan kami tau luka kamu begitu dalam, tapi apakah kamu akan begini terus kamu akan menyiksa diri mu sendiri.” sahabatnya mencoba memberi semangat. Ryan hanya terdiam dan selalu membayangkan kisah dahulu tentang masa-masa indahnya dengan Lia sang kekasih terindah dalam hidupnya. “Yan jawab dong, kamu belum makan 2 hari ini, jangan kayak gini dong kami juga khwatir sama kamu”. Raut wajah Ryan mulai berubah yang tadinya begitu pucat dengan air mata yang membasahi wajahnya kini mulai tersenyum dan mencoba berkata “dia sangat suka coklat dan ice cream”. sahabat-sahabatnya hanya bisa tertunduk dan seperti hari sebelumnya Ryan selalu bercerita tentang masa lalunya yang begitu indah dengan Lia. “setiap malam minggu pasti aku selalu mengajaknya menonton namun dia selalu menolak pergi kalau aku belum beliin coklat atau ice cream” air mata Ryan kembali menetes seakan tak bisa terbendung lagi “dia juga selalu mengajak saya makan nasi goreng di pingir jalan saat dia lagi malas makan di rumahnya. Dan yang tak pernah saya lupa dia pasti naruh cabe banyak banget sampai-sampai dia mules-mules”. Senyum Ryan kembali terpancar kala menceritakan hal itu.
“Yan yang kuat” sahabatnya mengerti betul dengan keadaan yang dialami nya tersebut. “ya udah Yan kami pulang dulu ya, makanannya kami taruh di meja!, kamu makan ya. besok kami kesini lagi”.

Sahabatnya tak pernah melihat Ryan seperti itu, ketika SMA sampai sekarang di perguruan tinggi Ryan terkenal dengan orang yang periang tidak pernah bersedih bahkan terkenal paling kocak di Antara sahabat-sahabatnya. Dia juga terkenal kuat dan tidak cengeng apalagi tentang wanita. Namun kali ini sahabatnya percaya bahwa Ryan adalah Ryan yang juga pasti bisa bersedih.

Keesokan harinya sahabatnya kembali menjenguk Ryan yang semakin lemah karena belum juga mau makan. di sudut kamarnya yang begitu pengap dan di tengah kegelapan dia merenung dan terus menangis. Sahabatnya masuk dan seperti biasa mereka membawa makanan dan mencoba memberikan semangat kepada sehabatnya yang sedang luka hatinya karena ditinggalkan sang kekasih. “Yan, ini hari ke 3 kamu belum makan dan kami tidak ingin melihat kawan kami mati konyol karena kelaparan”. Ryan hanya terdiam dan menunduk. “Yan, Lia sudah tidak ada kenapa kamu terus memikirkanya?”. “jangan sok kamu dia masih ada dan terus ada dalam hati saya”. Ryan membantah dengan tegas, “Yan, Lia sudah mati karena kecelakaan kenapa kamu masih menangisinya!!”. “TIDAK.. TIDAK JANGAN SOK TAU KAMU!!”. Suasana semakin mencekam, “Yan, tabahkan hati mu kamu harus bisa menerima ini semua Lia tak akan tenang di sana jika kamu terus menangisinya”. “Jangan… sok kamu!!” Ryan kembali membantah dan lagi-lagi air mata keluar dari matanya yang begitu merah. bantahan itu seolah menggambarkan hati Ryan yang begitu terluka karena kepergian Lia namun entah kenapa Ryan belum percaya bahwa Lia telah meninggal.

Suasana begitu hening hanya isakan tangis yang terdengar namun begitu kecil. Sahabatnya kembali menenangkan hati Ryan. “Yan, Lia sudah senang di sana seharusnya kamu doain jangan kamu tangisi terus bahkan menyiksa diri mu sendiri”. “iya yan kamu harus banyak berdoa jangan…”. “DIAM.. DIAM.. DIAMMM” suara itu semakin lama semakin keras. “HEY, YAN JANGAN GINI DONG JANGAN MENJADI LAKI-LAKI YANG CENGENG” temannya mulai emosi dengan Ryan yang selalu membantah perkataan mereka “kami tau luka kamu yang dalam karena kepergian Lia tapi tidak bersedih terlalu lama bahkan harus menyiksa diri kamu sendiri.. lihat kami sahabatmu, lihat orangtuamu, lihat orang-orang yang sayang sama kamu mereka juga harus sedih melihat kamu begini terus”. “Keluar kalian..”, “Keluar kalian.. SEKARANG” kali ini ryan berdiri dan meneriaki mereka. “TIDAK Ryan, kami tidak akan keluar! kami akan melawan ego mu yang akan merusak tubuhmu itu. Kami juga tidak mau datang kembali besok dengan membawa makanan dan mencoba menasehatimu dengan kata-kata yang seakan tak berguna itu.” “dan kamu tau kamulah yang bertanggung jawab atas kematian Lia”. “kamu tau kan dia belum lancar berkendara.” Sahabatnya menantang perkataan Ryan.
Ryan terdiam dia tidak bisa menjawab lagi, dia seakan mengingat hal dalam memori ingatannya. “huff Lia maafkan aku!!” isakan tangis Ryan kembali membawa haru, tidak ada lagi yang berani berbicara. hingga beberapa menit kemudian.

“iya, aku memang membiarkannya berkendara padahal aku tau dia belum pandai berkendara. Aku memang salah!”. Kali ini sahabatnya yang terdiam. “waktu itu dia ingin pergi nonton konser CherryBell dan dia minta aku mengantarnya namun dalam perjalanan ban motorku pecah jadi aku pergi ke bengkel dulu. sementara Lia terus menunggu ku, karena merasa aku akan terlambat maka dia ingin berkendara sendiri memakai motor padahal aku tau betul dia belum pandai berkendara” air mata Ryan terhenti dia mengusap air matanya yang tertinggal. “dia memang sangat suka Girl Band CherryBell makanya dia tidak mau terlambat. Aku sudah ingatkan supanya dia tunggu aku dulu, tapi dia tidak mau dia bilang dia akan terlambat kalau nunggu aku”. Sahabatnya memeluk Ryan yang terasa begitu lemas, “Yan kamu harus kuat dan kamu harus doakan Lia supanya tenang disana” sahabatnya kembali memberi semangat. “iya, terima kasih utnuk semua sahabat kalian memang yang terbaik” senyuman Ryan waktu itu membuat Sahabatnya percaya bahwa Ryan sudah kuat dan siap menjalani hidupnya.

Cerpen Karangan: Ryan Aryan
Facebook: hery.zenit[-at-]gmail.com

Cerpen Ryan dan Lia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selamat Tinggal Sahabat

Oleh:
Saat jam istirahat. Robi, Darwin, dan Coki seperti biasa mereka pergi ke kantin. Mereka adalah 3 sahabat yang sudah merajut persahabatannya dari SD sampai sekarang mereka kelas 3 SMA,

Kini Aku Baru Menyadari

Oleh:
Ini adalah salah satu dari kisah nyata yang memang ku alami sendiri. Yang tak mungkin bisa terelakkan untuk siapa pun yang ditujunya. Karena kita tidak akan pernah tahu bagaimana,

Kisah Putih

Oleh:
Sesuatu yang dimulai dengan niat baik, maka akan baik pula hasilnya. Sebaliknya juga demikian. Namun jika sesuatu dimulai tanpa disengaja mungkin itu hanya kebetulan yang akan diteruskan jika itu

Satu Cinta Dua Dunia (Part 2)

Oleh:
Satu tahun sudah lamanya Joni tak lagi mendengar kabar dari kekasihnya, Intan. Satu-satunya hal yang membuatnya masih yakin bila mereka akan dipertemukan kembali adalah secarik surat dari Intan yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Ryan dan Lia”

  1. Dian novita sari says:

    Kita tidak boleh berlarut larut dalam kesedihan.key

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *