Saat ini

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 19 August 2016

Hari ini aku bermimpi, mimpi yang sama seperti hari-hari kemarin. Mimpi yang mengingatkanku pada dirimu 12 tahun yang lalu. Awalnya kuanggap seperti bunga tidur saja, tapi setelah kupikir-pikir aku sadar perasaanku padamu ternyata masih tertinggal disini di hatiku dan kini mulai menampakkan diri lagi dalam ingatanku dan rasaku.

Pagi ini adalah pagi yang cerah, aku mulai hariku yang sibuk dengan semangat dan percaya diri. Aku bekerja di salah satu perusahaan majalah, aku sangat menyukai pekerjaanku bagiku seperti melakukan hal yang aku sukai (hobi). Aku mulai suka menulis sejak aku duduk di bangku SMP, awalnya hanya menulis kisah-kisah sehari-hariku dalam diary, lalu kukembangkan dalam bentuk cerpen. Tidak disangka cerpenku diminati oleh salah satu majalah remaja pada masa itu, sejak saat itu minat menulisku semakin kutingkatkan. Tapi sekarang aku merasa ada yang berbeda dari tulisanku yang dulu dan sekarang, mungkin bagi orang lain semuanya sangat baik dan menarik tapi perasaanku menolak untuk mengakuinya. Mungkin karena sekarang tulisanku bukan tentang dirimu lagi.

Kuharap semua hanya fantasi saja, aku selalu berpikir seperti itu sambil menatap keluar dari jendela dekat meja kerjaku. Menghela nafas panjang dan mulai bekerja lagi, kenapa aku melakukannya karena aku merasa tekanan itu datang lagi dan berharap semua akan menghilang seiring kesibukan yang kulakukan.

Sore ini cuaca terlihat mendung, rintik hujan mulai berjatuhan dan aku pikir hari ini akan menjadi hari yang panjang karena aku lupa membawa payung.

“Rika, hari ini kau akan lembur lagi?” Tanya salah satu teman kerjaku yang seketika itu juga membuyarkan lamunanku.
“Eh. Kurasa tidak. Aku sudah kurang tidur akhir-akhir ini, mungkin sekarang aku butuh istirahat lebih untuk kesahatanku.”
“Oh baiklah, oh ya kau juga butuh ini” katanya sambil menyodorkan payung padaku.
“Bolehkah.” Jawabku dengan senang.
“Iya, hari ini aku akan lembur jadi kurasa payung ini tidak kubutuhkan sekarang, jadi pakailah.”
“Trimakasih Yuki.”
“Ya, sama-sama.”

Syukurlah aku jadi bisa pulang tanpa basah pikirku saat ini. Tapi semakin lama aku berjalan hujan semakin deras berjatuhan, membuat tubuhku tetap menjadi basah walau hanya sebagian. Kini pakaianku yang basah mulai membuat tubuhku menggigil kedinginan “Sedikit lagi” kataku menguatkan diri untuk terus melangkah maju melawan rasa dinginku.

“Aku pulang” kataku sambil membuka pintu rumahku sesegera mungkin.
“Selamat datang” jawab ibuku sambil menyodorkan handuk padaku. “Kau sudah makan?” Tanyanya.
“Iya, aku mau langsung tidur setelah mandi Bu.” Kataku lalu beranjak pergi ke arah kamar mandi.
“Oh baiklah. Sebaiknya memang kau istirahat. Selamat malam.” Kata Ibu yang terlihat khawatir.

Setelah selesai membersihkan diri aku membaringkan tubuhku di atas ranjang sambil memandangi langit-langit kamarku.
“Andai saja waktu bisa berputar kembali, aku ingin kesaat dimana aku masih bisa merasakan kehadirannya.” Pikirku sambil menutup mataku, air mata mulai terasa memenuhi kelopak mataku “Aku merindukannya.” Tangisanku mulai tidak bisa kuhentikan meski kedua tanganku sudah mencoba menutupi wajahku yang basa karena air mata.

Tanpa sadar aku mulai tertidur. Saat membuka mataku sebuah kabut menutupi pandanganku “Apa aku sedang bermimpi” kataku mencoba menerobos kabut itu, aku terus berjalan. Lalu, dari kejahuan terlihat sebuah cahaya datang mendekat ke arahku, semakin dekat lalu menelanku bersama kilauannya.

“Berisik” terlalu banyak suara yang kudengar benar-benar mengganggu, aku membuka kedua mataku. Betapa terkejutnya aku, sekarang aku berada di sebuah kelas. Banyak anak-anak yang memakai pakaian SMPku, aku memperhatikan sekeliling ruangan tempatku sekarang barada.

“Inikan, SMPku. Bagaimana bisa aku disini.” Kataku terkejut aku terlalu tua untuk berada disini pikirku. Aku benar-benar bingung kupikir tadi aku masih berada di atas ranjangku dan tiba-tiba saja aku ada disini, lelah memikirkan semua aku berdiri mencoba ke luar dari ruangan ini.
“Ya aku harus keluar dari sini, aku benar-banar tidak mengerti.” Kataku sambil berjalan menuju pintu.
“Hei Rika, kau mau kemana?” Tanya seseorang sambil memegang tangan kananku membuatku seketika berbalik.
“Ehh.” Aku hanya memandang anak perempuan ini dengan bingung “Bagaimana dia bisa tau namaku? Untuk orang dewasa sepertiku bagaimana dia bisa memanggilku seperti itu benar-benar tidak sopan.” pikirku
“Kau kenapa?” dia bertanya lagi.
“Siapa kau?” aku memberanikan diri bertanya pada anak perempuan itu sambil menahan kesal. Dia terdiam lalu tiba-tiba tertawa membuatku jadi makin bingung tambah kesal.
“Kau sakit ya? Ini aku Yuni.” Katanya sambil memegang dahiku untuk memeriksa kondisiku.
“Yuni.” Nama itu mengingatkanku pada salah satu teman akrabku saat SMP. Kupandangi lagi dengan teliti anak perempuan itu dan “Itu benar-benar kau, tapi… tapi bagaimana mungkin kau masih sama seperti dulu. Bahkan kau masih memakai seragam SMP.” Aku benar-benar tidak bisa percaya dengan apa yang ada di depan mataku.
“Kau ini ngomong apa sih? Aku ya aku. Seragam SMP kau bilang ha ha ha… kita ini kan memang masih SMP, lihat kau juga memakainya.” Jelas Yuni lalu menarikku ke depan jendela kelas. Aku melihat bayanganku di kaca jendela dan betapa terkejutnya aku, bayangan yang terpantul di kaca bukan aku yang berusia 27 tahun tapi aku yang masih berusia 15 tahun.
“Tidak mungkin.” Aku sangat terkejut, aku bahkan mengusap mataku beberapa kali untuk memastikan apakah semuanya hanya ilusiku saja.
“Apa yang kau lakukan, Ana dan Kundra sudah menunggu kita di kantin. Yuk kita pergi.” Yuni menarik tanganku ke luar kelas.
“Ana, Kundra. Tidak salah lagi mereka memang teman-temanku semasa SMP, namun sayang kami berpisah untuk masuk ke SMA yang kami inginkan masing-masing. Rindunya, jika ini memang bukan mimpi aku sangat ingin melihat mereka. Aku bahkan sudah lupa seperti apa mereka… 12 tahun adalah waktu yang lama.”

Terasa hangat tangan Yuni yang menggenggam tanganku. Aku mulai tidak bisa menahan air mataku, sudah cukup lama aku tidak mendengar berita tentang mereka. Kuharap aku tidak sedang bermimpi. Oh tuhan, tolong jangan biarkan waktu ini berlalu dengan cepat.
“Itu mereka.” Kata Yuni membuatku menoleh kearah Ana dan Kundra berada.
“Cepat kesini, kami sudah menyimpankan tempat untuk kalian.” Teriak Ana.
“Iya, yuk Rika.”
“Iya.” Jawabku sambil mengusap air mataku.
“Kalian lama, aku sudah lapar tau.” Kata Kundra sedikit kesal padaku dan Yuni yang baru sampai.
“Maaf maaf.” Yuni meminta maaf pada Kundra dan Ana.
“Teman-teman.” Aku memandangi mereka semua dengan perasaan rindu, rasanya aku tidak sanggup lagi menahan air mataku.
“Rika ini pesananmu seperti biasa.” Kata Kundra menyodorkan makanan kearahku.
“T.. te.. terima kasih.” Aku mencoba menahan kebahagian yang ada di hatiku.
“Hei Yuni kau harus menghabiskan makananmu dengan cepat ya, saat kelas dimulai kami tidak mau menunggumu.” Celoteh Ana yang dibenarkan oleh Kundra.
“Iya iya, kalian bawel sekali. Lihat Rika mereka menyebalkan sekali.” Keluh Yuni. Aku hanya tersenyum ke arahnya, kebisingan memang sering terjadi saat kami berkumpul, meskipun kami punya kepribadian yang sangat berbeda tapi kami bisa menjadi teman baik. Bahkan saat ini aku masih merindukan saat-saat ini, aku benar-benar ingin bertemu mereka lagi.

Setelah menyelesaikan makan siang, kami beristirahat di taman sekolah sambil bercerita apa saja yang buat kami tertawa. Tanpa sadar seseorang berjalan melewati kami, aku merasakan sesuatu yang terasa sakit di dadaku.
“Rika, apa kau masih menulis cerita untuk majalah itu?” Tanya Yuni.
Oh iya aku memang sangat suka menulis sejak SMP “Iya begitulah.” Jawabku sama seperti diriku yang dulu maksudku saat ini aku memang masih terus menulis. Aku terdiam merasa ada sesuatu yang mengganjal, aku mulai memikirkan sesuatu… “Jika saat ini aku adalah Rika si murid SMP, artinya saat ini dia juga ada disini.” Aku tersadar lalu beranjak meninggalkan teman-temanku yang bingung dengan sikapku.

Langkahku terhenti aku menoleh kepada teman-temanku “Maafkan aku teman-teman… dan… dan terima kasih sudah menjadi temanku dulu dan sekarang. Kuharap kita bisa bertemu kembali.” Teriakku pada mereka.
“Rika.” Panggil Yuni “Kau harus menemukannya.” Yuni tersenyum ke arahku, ana dan kundra pun tersenyum ke arahku yang mulai menghilang di kerumunan orang-orang.

Saat ini aku benar-benar ingin melihatnya. Aku sangat menyesal meninggalkan teman-temanku. Tapi aku juga ingin… ingin sekali bertemu dengannya. Aku mulai berjalan mencari-cari dia “Dimana aku bisa menemukannya. Sengingatku kami tidak berada di kelas yang sama, dia di kelas… 3B iya kelas 3B aku harus segera kesana.” Tanpa banyak pikir lagi aku berlari menyusuri sekolah yang mulai terasa sunyi. “Aku harus menemukannya.” Perasaanku saat ini sama seperti saat itu, aku selalu berharap bisa melihatnya setiap saat. Aku punya kesempatan, aku ingin dia tau bahwa aku sangat… sangat merindukannya.

“Maaf , boleh tau ini kelas 3B kan?” tanyaku pada salah satu murit di kelas itu.
“Iya.” Jawabnya.
“Kalau begitu apa ada siswa bernama Zaki disini?”
“Oh Zaki, iya ada tapi dia baru saja pergi ke perpustakaan. Kau mungkin bisa menemukannya disana.”
“Terima kasih.” aku mulai berlari lagi ke arah perpustakaan dengan harapan bisa bertemu dengannya lagi.
“Zaki” sepanjang perjalanan aku hanya terus memikirkan nama itu, kali ini aku pasti akan mengatakannya padamu. Aku tidak ingin membuang waktu lagi.

Langkahku terhenti saat ruangan bertuliskan perpustakaan mulai terlihat. Aku memandangi ruangan itu “Rasanya berat untuk melangkah kesana, bagaimana jika dia…” masih memikirkannya tiba-tiba sebuah suara menyadarkanku.
“Apa kau baik-baik saja?” Tanya seseorang dari sebelahku, aku menoleh “Zaki.” Panggilku pada orang yang sedang berdiri di sampingku, aku tidak bisa menahan kerinduanku mataku mulai berkaca-kaca memandangi wajahnya yang mulai kebingungan melihatku.
“Ehh apa kau baik-baik saja?” tanyanya panik.
“Ya orang inilah yang selalu menjadi tokoh dalam ceritaku, pria yang baik, pria yang selalu kucintai dan pria yang sekarang tidak bisa kulihat lagi.” Aku menyapu air mataku dan tersenyum ke arahnya “Aku baik-baik saja, terima kasih.” Kataku.
“Syukurlah kalau begitu. Aku permisi.” Katanya lalu pergi.
Sekarang aku hanya bisa melihat bahunya, “Kenapa, kenapa aku membiarkannya pergi. Mengapa aku tidak bisa bergerak untuk mengejarnya. KENAPA.” Aku tetduduk sambil menangis sejadi-jadinya.
“Ternyata kau memang tidak baik-baik saja, jika kau merasa sakit, kenapa kau harus menahannya. Aku bersedia menolongmu.” Katanya sambil menghampiriku.
Aku perlahan mengangkat kepalaku ke arah suara di depanku “Kau kembali?” kataku samar-samar.
“Ada yang ingin kukatakan.” Teriakku padanya, membuat dia terkejut.
“Ah iya katakan saja.” Katanya sambil tersenyum ramah padaku.
Aku terdiam memandanginya lalu menghela nafas panjang-panjang “Kenapa kau selalu tersenyum kepadaku? Kenapa kau selalu bersikap baik padaku? Kenapa kau selalu membuatku merasa sakit? Kenapa (aku tidak bisa menghentikannya) kau membuat aku terlihat menyedihkan? Seumur hidupku aku tidak pernah melupakanmu, kenapa kau membuat aku jatuh cinta padamu? Kenapa kau… meninggalkanku?” aku terdiam tidak bisa melanjutkan kata-kataku lagi dan aku tidak sanggup melihat ke arahnya.
Dia juga terdiam beberapa detik lalu dia berkata padaku dengan senyuman hangat di wajahnya.

“Ah silaunya.” Aku perlahan membuka mataku dan melihat di sekitarku begitu familiar, ya sekarang aku sedang terbaring di atas ranjang di kamarku, dan cahaya matahari membuatku terbangun.
“Apa semua hanya mimpi?” kataku sambil membuka jendela kamarku. Aku menyentuh wajahku “Masih terasa, air mataku.” Aku tersenyum memandang ke luar jendelaku.
Ya semua hanya mimpi meski begitu aku merasa semuanya seperti nyata. Saat ini aku kembali menjadi diriku yang biasa, melakukan aktivitasku seperti biasanya. Aku masih penasaran dengan apa yang akan dikatakan Zaki padaku, tapi ya sudahlah setidaknya beban di hatiku sudah kusampaikan aku merasa sedikit lega. Hari cerah setelah hujan benar-benar indah.

Aku mulai mendapatkan sedikit referensi untuk menulis lagi, saat seperti ini tidak boleh kulewatkan.
“Rika.” Panggil salah satu teman kerjaku.
“Ya, ada apa?” tanyaku
“Ada email untukmu bukalah.”
“Oh baiklah, terima kasih.” Aku mulai membuka komputerku dan memeriksa emailku, sudah cukup lama aku tidak pernah memeriksanya. Dalam pencarianku aku terkejut melihat sebuah email yang bertuliskan “Untuk temanku Rika” rasanya membuatku ingin segera membukanya “ini.” Rasa terharu mulai menerpaku saat kubaca email itu yang tertulis:

Untuk Rika
Hai apa kabar Rika, sudah lama aku tidak mendengar kabarmu. Ku harap kau tidak mengubah emailmu, kupikir hanya dengan ini aku bisa menghubungimu.

Mungkin sedikit memalukan untuk orang seusiaku ini mengatakannya tapi aku sangat sangat merindukan kebersamaan kita. Oh ya ada yang ingin kukatakan, beberapa hari yang lalu aku bertemu Kundra dan Ana, mereka juga sangat merindukanmu. Aku sudah banyak membaca tulisanmu baik di majalah atau online kau masih sangat bagus dalam menulis syukurlah, kupikir setelah dia meninggal karana kecelakaan kau akan berhenti menulis. Syukurlah.

Sekarang aku bekerja sebagai dosen di salah satu universitas ternama seperti impianku, dan sebentar lagi aku akan menikah kuharap kau bisa hadir. Kutunggu loh. Tentang Ana dan Kundra kau tenang saja mereka juga punya kehidupan yang baik Ana sekarang sudah menikah dengan seorang dokter seperti impiannya, sedangkan Kundra menjadi desainer di london dia juga sudah menikah disana. Kuharap kau juga sudah menemukan pasangan hidupmu.
Kami selalu berharap kau hidup bahagia.

Dari Yuni

“Syukurlah semua berhasil meraih impiannya.” Aku juga bahagia mengetahuinya.
Kuputuskan untuk memulai kehidupanku yang baru mulai saat ini. Oh sekarang aku ingat jawaban yang Zaki ucapkan padaku dan hampir kulupakan… sungguh indah.

“KARNA AKU MENYUKAIMU”

Selesai

Cerpen Karangan: Reza Anggraeni D.
Facebook: reza.anggraeni60[-at-]yahoo.com
Assalamu’alaikum
saya Reza Anggraeni ini adalah cerpen pertama yang saya selesaikan, semoga tidak membosankan untuk dibaca… maaf kalau masih ada kekurangan
Wassalam 🙂

Cerpen Saat ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ratna Sahabat Rena

Oleh:
Rena ingin sekali bersahabat dengan Ratna, teman sekelasnya. Ia sebangku dengan Ratna. Namun ketika ia ingin mengatakaanya ia merasa kehabisan keberaniannya. Semburat merah muncul ketika ia mengatakan, “Ra.. Ratna,

Waktu Yang Menghilangkan Kesempatan

Oleh:
Hari ini seperti hari biasanya. Pergi ke sekolah untuk menimba ilmu. Tapi, menurutku ini hari yang spesial. Aku bangun lebih pagi dari biasanya. Sehingga aku tiba lebih awal dari

Rindu

Oleh:
Saking banyaknya kegiatan yang kita lakuin sama sama, kesannya kayak ada yang kurang gitu pas ingat kalau sekarang kita udah gak bisa lakuin itu sama sama lagi. Kita sekarang

Buku Resep Persahabatan

Oleh:
“Alishaaa…” panggilku. Alisha menghampiriku. “Kenapa?” Tanyanya. “Besok sore, ajak Fina ke rumah gua. Lo juga ikut” terangku. “Ooh.. oke” dia kembali berjalan menuju kantin. Aku merasa puas. Sangat puas.

Wanita Berkerudung Hitam

Oleh:
Jam menunjukkan pukul empat sore, seorang wanita yang telah menyandang status seorang istri dari pria yang bekerja sebagai pemburu berita kini sedang sibuk menyediakan hidangan makan malam untuk sang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *