Sahabat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 14 January 2015

Ketika tanpa kusadari semua hal telah berubah, sebenarnya tak cukup kuat dan sanggup bagiku menghadapi kenyataan yang ada. Semua kadangkala kurasa hanya seperti mimpi buruk. Dan kuharap semua berakhir ketika setiap pagi aku terjaga. Ketika aku membuka mata, aku tak ingin menemui bahwa hari-hari tak akan pernah sama seperti dulu. Seperti saat kau selalu bersamaku. Melewati setiap detik dan setiap pergantian menit bersama-sama. Aku merindukanmu tanpa kau tahu. Entah di sana kau merindukan itu semua atau tidak. Aku ingin kembali pada masa-masa itu. Tapi lambat laun aku mengerti, waktu tak akan pernah berjalan mundur. Apapun dan bagaimanapun keadaannya, hidup harus tetap berlanjut.

Setiap genggaman jemari bersamamu adalah hal indah yang tak ingin kulupakan selamanya dalam hidupku kawan. Tiap detik bersamamu menjadi hal berharga yang kupikir tak akan pernah usai. Tapi dalam gelapnya malam aku mulai tersadar bahwa semua hal tak ada yang abadi. Seperti halnya pagi selalu berganti menjadi siang, siang menjadi sore, sore menjadi malam, dan malam menjadi pagi lagi… begitu seterusnya. Pada dasarnya semua berganti seiring waktu berlalu. Tapi itu baru kusadari saat ini, ketika semua telah jauh terlambat. Aku telah berhenti berusaha mewujudkan mimpi-mimpi denganmu.

Samar-samar terdengar lirik lagu “Tak Ada yang Abadi” dari hp ku di tengah keheningan malam. Saat semua telah terlelap dan menari dengan bunga tidur masing-masing. Sementara aku di sini masih saja tak bisa memejamkan mataku sedikitpun.

Tak kan selamanya tanganku mendekapmu…
Tak kan selamanya raga ini menjagamu…
Seperti alunan detak jantungku..
Tak bertahan melawan waktu…
Dan semua keindahan yang memudar..

Keheningan membawa serta bayangmu. Membawa seluruh waktu yang kita lalui. Pertama mengenalmu adalah sebuah anugerah dari Tuhan yang selalu ku syukuri. Tertawa denganmu adalah hal yang sangat membahagiakan. Membuatmu tersenyum itu adalah hal yang membuatku tenang. Bersamamu dalam kesepian dan tertawa lepas adalah saat yang paling berharga dalam hidupku. Ketika kau temani aku di setiap masalah hidup yang bergelut menghampiriku. Aku bahagia kawan memilikimu.

Pertama-tama yang ku tatap adalah senyummu dan pertama-tama yang kuingat adalah saat kau ulurkan tangan, di lorong SMA N 1 Pacitan tercinta. Pelan kau sebutkan namamu. “Meyta.” “Rara.” Singkat. Dan aku mengerti kamu canggung, sama halnya denganku. Kusebutkan namaku tak kalah pelan “Sila.” Semua kisah kita mulai dari sana dan pelan tapi pasti semua kisah kita teruai.

Kita menyusuri liku-liku kehidupan bersama-sama. Kita seolah kesatuan yang tak terpisah oleh ruang dan waktu. Perbedaan lebur menjadi hal yang istimewa dan memberikan warna bagi perjalanan yang kita tempuh. Mengisi liku-likunya dan kadang kala kita terhempas bersama-sama dalam sebuah keterasingan. Semua terlewati begitu cepat. Hujan panas mendung apaun kita lewati bersama kawan. Kita menyusuri setiap pelajaran yang membosankan dari guru-guru bersama-sama. Kita menyelesaikan masalah bersama-sama.

Masih selalu membekas jelas di benakku ketika kau menangis memelukku, menumpahkan segala keluh kesahmu. Ketika kau setiap pagi menyongsongku untuk menuntut ilmu bersama. Masih ingatkah kau kawan… ketika kita basah kuyup karena hujan berkepanjangan. Ah… aku merindukan setiap detik itu kawan.

Masih membekas jelas ketika kita tanpa jelas memutari alun-alun kota, pergi berjalan-jalan di malam minggu berduaan hanya untuk sekotak susu, hanya untuk sehelai jilbab, ataupun hanya untuk sebuah bross yang tak seberapa berharganya.

Ingatkah kau kawan… ketika aku selalu menangis dan mengatakan aku ingin menyerah dari setiap masalahku, dan kamu selalu bilang… Tuhan punya rencana indah di balik segala cobaan-Nya. Kamu selalu bilang agar aku tak mengeluh. Aku melakukannya kawan. Mungkin tanpa kamu tahu dan tanpa kamu lihat.

Masih membekas jelas pula kawan, ketika aku dalam satu titik kepenatan yang sangat, kamu mengajakku menyusuri malam. Ketika itu pergantian tahun. Pergantian tahun yang kurasa seperti mimpi buruk yang tak jelas. Masih membekas jelas saat aku berada di ujung harapan tentang hidup ini. Ketika aku jatuh dan ingin bangkit. Kamu selalu menjadi tongkat yang membuatku mampu berdiri tegak. Kita sama-sama menyiapkan pundak kita masing-masing untuk saling bersandar.

Tiba-tiba kejadian itu terjadi begitu saja. Aku nggak tahu siapa sebenarnya yang salah… kamu berubah, aku berubah, dan semuanya berubah. Aku kehilangan kamu kawan. Kehilangan senyummu yang ingin kulihat setiap hari. Bukan wajah masammu yang menyakitkan hatiku. Memang. Aku terlihat baik-baik saja. Aku selalu tersenyum dan tegar tanpamu. Berusaha baik-baik saja tanpa hadirmu. Tapi kamu harus tahu bahwa aku sangat kehilangan kisah kita. Aku menyesal kisah kita berakhir tanpa rasa yang tak jelas.

Awalnya kita selalu bersama, bertiga. Tapi entah aku tak mengerti di mana salahku kalian berdua berubah. Aku terpekur sendirian dalam gelak tawaku tanpamu. Sebenarnya aku ingin terus tertawa bersama kalian. Memberikan sedikit oleh-oleh yang sama sekali tak berharga pada kalian. Tapi aku selalu mencoba mengerti bahwa kisah kita telah usai.

Dan pada akhirnya aku bertanya kepadamu, di mana salahku? Kita sama-sama tak tahu. Kamu hanya bilang kalau kamu merindukan aku yang dulu. Ya… aku yang selalu bersamamu. Tapi kawan… sangat menyakitkan apa yang ku dengar saat itu. Saat kamu berpikir aku hanya memanfaatkan kebaikanmu. Ibaratnya aku telah kehilangan satu semangat dalam hidupku. Aku benci kata itu meskipun tak ku dengar langsung dari bibirmu. Aku kecewa. Itu menyakitkan kawan. Aku tak pernah ada sedikitpun niat untuk seperti itu. Tapi entah kenapa kamu berpikir aku sebegitu naif.

Andai saja Tuhan bisa mengatakan, aku benci kamu. Aku benci setiap tatapanmu saat itu. Aku benci harus menyapamu tanpa kamu pedulikan sedikitpun. Kau acuh dengan segala lakuku. Dan saat itu aku sejenak berpikir, aku bisa tanpamu. Dan pada akhirnya kuputuskan untuk mencari kehidupan yang nyaman, menikmati hidupku tanpa mengganggu kehidupanmu. Aku tak pernah ingin mengganggumu lagi. Dan seringnya kuurungkan setiap hasratku untuk menyapamu di setiap pagi datang menjelang. Sekalipun aku selalu ingin menyapamu. Aku takut sapaanku adalah sebuah kesalahan yang tak ku sengaja. Dan aku tak ingin semua yang kulakukan sia-sia. Karena kita telah berbeda.

Dan tiba-tiba saat itu kamu harus kehilangan satu napas yang sangat berarti bagimu. Aku datang memelukmu kawan. Kuteteskan air mataku untukmu. Aku bisa merasakan apa yang kamu rasa kawan. Aku mencoba membuatmu tersenyum meskipun itu sangat berat. Tapi jujur aku tak banyak berharap kita kembali seperti sedia kala. Karena saat itu kita telah berbeda, jauh berbeda. Meskipun entah aku tak tahu apa yang membedakan kita. Mungkin hanya perasaan kita masing-masing yang saling merindu.

Aku lelah untuk selalu positif thinking tentang kalian kawan. Kalian jauh, jauh sekali dari gapaian tanganku dan sangat berubah. Aku seolah tak ada artinya di hadapanmu. Aku seolah kerdil jika terpaksa harus bersama-sama denganmu. Tapi saat itu aku ingin menunaikan kewajibanku sebagai sahabatmu kawan. Sabagai sahabat yang baik kukira. Dan mungkin tak sama seperti yang kamu kira.

Waktu terus bergulir. Aku tahu kamu menemukan orang-orang baru yang sangat klop denganmu. Sementara aku rasanya bukan siapa-siapa lagi. Aku tak tahu kamu pernah berpikir hal yang sama denganku atau tidak. Aku pun juga semakin lama semakin tak peduli dengan semua yang terjadi. Kawan… sebenarnya aku kelelahan harus berpura-pura menikmati hidupku tanpamu, tanpa kalian berdua. Aku tak mengerti.

Saat itu kamu “Rara” juga mulai berubah. Sangat berubah. Kamu tak peduli dengan sapaanku setiap malam. Aku tak tahu salahku ada di mana. Dan entah yang kesekian kalinya aku kebingungan mencari kesalahanku sendiri. Aku lelah dengan sikapmu.

Dan hari itu kita bertemu pada satu ruang yang sama. Kita bertiga menangis bersama-sama. Kita meraung-raung berpelukan. Itu hal yang sangat membahagiakan dan mengharukan bagiku kawan. Pelukanmu itu adalah kehangatan yang selalu ku tunggu. Menyusup pelan mengisi kekosongan satu rongga dalam jiwaku. Aku bahagia dalam tangisan itu kawan. Aku ingin merasakannya lagi sekarang. Tapi aku sangat sangat menyadari bahwa semua tak akan pernah sama seperti yang dulu. Dan ada hal yang sangat membahagiakan lagi kawan, saat itu kamu pernah bilang “kamu merindukan saat-saat dulu, ketika kita bersama-sama merangkai cita dan rencana bertiga”. Aku juga sangat merindukannya. Aku ingin mengulangnya sekali saja andaikan ada kesempatan.

Tapi aku tak habis pikir, kenapa seolah-olah aku yang paling bersalah di antara kita bertiga. Seolah aku yang merusak persahabatan kita. Padahal aku tak sadar, di mana titik kesalahan itu. Aku mencarinya, tapi aku tak pernah menemukan. Dan kalian berdua tertawa bahagia bersama. Aku cukup senang melihat senyum kalian, meskipun jujur di hatiku sangat sakit. Aku ingin merasakan lagi. Aku iri. Aku benci.

Dan tibalah saat terakhir kita berada pada satu atap yang sama. Hari itu kamu mengucapkan tetap sebagai sahabatku. Dan kau “Rara” mengatakan jika ada yang ingin kamu sampaikan kepadaku. Entah aku tak tahu itu apa. Macam apa. Kata-kata apa. Aku terlalu bodoh mungkin jika hingga kini tetap tak menyadari letak kesalahanku. Dan sadarkahku kawan… hingga saat ini, detik ini masih ada pertanyaan yang tersisa dalam benakku. Aku masih menunggu apa yang ingin kamu sampaikan. Meskipun mungkin kini aku benar-benar bukan apa-apamu lagi. Aku masih merindukan kamu menyapaku. Tapi itu hanya sebuah kesalahan dalam setiap imajiku.

Kawan… apa kalian tak pernah merindukanku?
Apa kalian tak pernah menyisakan sedikit saja ruang di hidupmu untuk mengenang kisah kita?
Apa kalian tak pernah merasakan hal yang sama denganku?
Apa kalian tak pernah menganggapku ada dalam duniamu saat ini?
Aku lelah kawan… aku lelah…
Aku lelah mengingat setiap senyum dan tawa kita.
Aku ingin menguburnya dalam-dalam kawan. Aku ingin move on dengan perasaan ini.
Tapi ternyata tak mudah… Aku tak bisa melakukannya, entah sampai kapan.

Kawan, aku masih menyisakan harapan di hatiku. Aku berharap kamu masih menyimpan kenangan kita. Kenangan yang tak begitu banyak dan tak sempurna. Masih sakit kawan, ketika melihat kamu tersenyum di mana pun. Bukan karena apa-apa, hanya karena aku ingin kita tersenyum bersama. Itu saja kawan. Sangat sederhana bukan? Dan aku pun ingin saat kita tua nanti, ketika bertemu. Kalian berkata “Dia sahabatku dulu, ketika menuntut ilmu di bangku SMA yang sangat gila”, harapan itu nggak akan pernah hilang kawan, meskipun aku telah letih untuk berharap itu semua.

Di sini hanya ada sititik doa, semoga hidup kita selalu dalam lindungan-Nya. Semoga kita diberikan masa depan yang cerah. Masa tua yang bahagia dengan cinta yang sempurna. Dan aku menginginkan satu hal sederhana satu lagi kawan saat ini. Aku ingin merasakan bahagia saat menerima undangan pernikahan kalian. Aku ingin datang dan mengucapkan selamat menempuh hidup baru dengan orang pilihanmu, dengan jodohmu.

Aku menulis ini dengan air mata yang teruai. Ya. Aku memang lebay atau alay, atau apalah. Tapi inilah hatiku. Inilah hakku. Aku benci harus sering bermimpi bersama kalian. Aku ingin move on. Aku ingin menikmati hidupku sekarang. Dan tahukah kamu Meyta… aku sekarang bertemu seseorang. Seorang sahabat yang begitu dekat denganku. Rasanya aku hanya mengulang kisah kita saja. Kenal, dekat, akrab, saling curhat, dan ke mana-mana bersama-sama. Tapi aku rasanya lebih siap dan harus lebih berhati-hati untuk mengenalnya. Aku takut disebut parasit. Aku benci kawan. Aku tak ingin mengulang rasa sakit yang sama seperti saat itu.

Aku ingin lebih dewasa kawan. Aku ingin membawa langkahku ke depan yang lebih baik. Aku tak akan pernah melupakan semua kebaikan kalian. Tak akan pernah kawan. Sampai tua nanti aku akan tetap menyebut kalian sahabatku. Mengenalkan pada anak-anaku. Seperti halnya ibuku mengenang sahabat-sahabatnya dan bercerita padaku kawan. Jujur ada rasa sakit yang kurasa saat melihatmu tersenyum di facebook atau apalah. Entah aku tak tahu kenapa. Dan buruknya semua itu harus terbawa ke dalam mimpi-mimpiku, menjadi bunga tidurku. Mungkin hanya karena aku merindukan kalian, itu saja. Tapi aku mulai berpikir lagi kawan. Berharap kita akan mengulang saat-saat tertawa dan tersenyum bersama adalah sebuah harapan bodoh yang telah kubiarkan terlahir di imajiku.

(SELESAI)

Cerpen Karangan: alis maharani (sila queen)
Facebook: alis maharani
alis maharani, punya cita-cita menjadi penulis dan selalu mencintai tulisan dan ingin hidup dalam setiap tulisan. 🙂

Cerpen Sahabat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Permainan Dalam Permainan

Oleh:
Pada suatu hari yang tidak cerah, di dalam sekolah yang tak damai, ada seorang murid yang bercita cita untuk menjadi detektif, ia terinspirasi untuk menjadi detektif setelah menonton anime

Genre Cintaku

Oleh:
Mataku tertutup sejenak menikmati suasana yang berulang di pagi itu, begitu penuh semangat, segala gairah pun berlomba di sekitar tubuh ini namun, tidak dengan hati ini yang sedari pagi

Kekalnya Persahabatan

Oleh:
Seorang gadis terbalut jilbab putih sedang menyiram bunga. Gadis kecil itu adalah Rara. Rara duduk di kelas 5 SD. Dia mempunyai banyak sekali teman. Salah satunya adalah Syafa. Syafa

Perasaan Sahabatku, Hasan (Part 3)

Oleh:
Sebersit cahaya berwarna kuning ke-merahan terlihat menyembul dari ufuk timur, perlahan menyebar dan mengeluarkan sebuah bola raksasa yang begitu terang dengan sinar kuningnya yang menyilaukan setiap mata ketika melihatnya.

Girls Under Twilight

Oleh:
Kupandangi lagi sosok di atas kursi roda itu. Kulangkahkan kakiku mendekatinya. Bertanya siapa namanya. Dia menjawab, “Elise”. Ingatanku jatuh ke masa lalu. Aku berlari penuh semangat. Tak sabar menceritakan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *