Sahabat Instan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lingkungan, Cerpen Persahabatan, Cerpen Petualangan
Lolos moderasi pada: 6 June 2013

Kisah ini berawal dari pertemuan tiga orang gadis di sebuah SMA, tahun ajaran baru tepatnya saat mereka sedang menjalani Masa Orientasi Siswa atau kerennya biasa di sebut MOS. Ketiganya punya karakter yang berbeda, namun perbedaan itu tak membuat mereka bersaing ataupun bertengkar, malah membuat mereka menjadi akrab dan bersahabat. Ya seperti kalimat yang di cengkram oleh burung Garuda di Pancasila Indonesia “BHINNEKA TUNGGAL IKA” berbeda-beda tetap satu, hehehe.

Senin pagi tepatnya hari pertama MOS di SMAN 2 Sijunjung, sekitar pukul 6 lewat 45 menit pagi terlihat seorang gadis duduk di teras pos security sekolah yang ada di dekat gerbang, sambil membaca sebuah novel. Beberapa menit kemudian dia dikagetkan oleh seorang gadis yang juga siswi baru seperti dirinya, disinilah awal pertemuan mereka.
“hey…! sendirian aja” sapa seorang gadis dengan gaya tomboynya.
“eh, hey…! Iya nih” ujarnya kaget “belom ada yang datang kayaknya. Lagi pula aku disini siswi baru, jadi belom terlalu kenal gitu”
“sama dong, gue juga siswi baru” tutur gadis tomboy itu. “oh ya, kenalin gue Vandry” mengulurkan tangannya.
“aku Cha-Cha” menyambut uluran tangan Vandry si gadis tomboy. “by the way, tamatan SMP mana Van?”
“gue dari SMPN 7, kalau loe?”
“oo… SMPN 7 yang deket SMAN 1 itu ya” gumam Cha-Cha. “aku dari SMPN 1”
“hai…! Sorry ganggu” sapa seorang gadis yang sepertinya baru datang. “hmmm…! Siswa siswi yang mengikuti MOS ngumpulnya dimana ya?”
“belom ngumpul kayaknya, kita berdua kan juga ikut MOS” ujar Vandry.
“syukur…! Aku nggak terlambat” tersenyum senang. “akhirnya bisa juga aku datang pagi ke sekolah”
“memangnya dulu kamu sering terlambat ya?” Tanya Cha-Cha.
“nggak sering lagi, udah langganan. Hehehe” canda gadis itu. “eh, kenalin aku Flora dari SMPN 22 sijunjung, kamu?”
Menyambut uluran tangan Flora. “aku Cha-Cha dari SMPN 1”
“yang di sijunjung itukan?”
“iya, kamu pernah kesana?” keasikan ngomong berdua.
“ehm…! Gue dicuekin nih ceritanya” canda Vandry. “gitu ya, kalo dua gadis udah ketemu ngogosip deh. Hehehehe”
“sorry Van, eh kenalin Vandry”
“aku Flora” menyambut uluran tangan Vandry.

Keasikan ngobrol, mereka jadi lupa waktu sehingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 7 lewat 15 menit, waktunya untuk semua siswa dan siswi SMAN 2 juga gurunya melaksanakan upacara bendera yang rutin dilakukan setiap senin pagi. Dan pagi ini setelah upacara akan dilanjutkan dengan pembukaan MOS bagi siswa siswi baru. Hampir pukul 9 pagi, acara pembukaan MOS baru saja selesai dan seluruh peserta upacara dibubarkan oleh komandan.
“para junior yang akan melaksanakan MOS diberikan waktu 30 menit untuk istirahat” begitu suara ketua OSIS terdengar melalui pengeras suara.

Selama 30 menit mereka beristirahat melepas penat karena berdiri tadi, kebanyakan dari mereka memilih beristirahat di taman sekolah yang lumayan teduh duduk bergerombol dan bercanda sambil mengenal teman-teman baru. Semtara itu para senior bukan anggota OSIS atau panitia MOS seperti biasa, menjalani proses belajar mengajar di kelas masing-masing.

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat 30 menit berlalu begitu saja, sebelum MOS dilaksanakan ketua OSIS mengumpulkan para junior untuk diberikan informasi dan tata tertib selama MOS.
“Assalamu’alaikum” sapa ketua OSIS begitu berisan para junior terbentuk.
“Walaikum salam”
“adik-adik semua, hari ini adalah hari pertama kalian mengikuti kegiatan MOS di SMAN 2 sijunjung ini, seperti tahun-tahun sebelumnya MOS diadakan selama satu minggu, dan selama mengikuti MOS itu kalian semua akan kami bimbing untuk mengenal lebih dekat sekolah ini” jelas Tofan si ketua OSIS. “dan kalian akan di bagi menjadi beberapa gugus”
Dengan tergesa-gesa. “Fan, Tofan barusan gue dapat informasi dari kepsek kata beliau MOS tahun ini diadain di luar sekolah, Biar lebih deket sama alam” jelas Kimmy wakil ketua OSIS yang tomboy.
“ide bagus juga tuh, kapan berangkatnya?”
“Tya tadi kepsek bilang nggak kapan berangkatnya?” ujar Kimmy menoleh ke arah Aditya yang tadi ditinggalkannya.
“sebenarnya sih hari ini, Cuma karena kepsek belum kasih tau sama loe jadi di undur besok” tutur Aditya.

Sesuai dengan hasil rapat guru dan OSIS mambahas tentang tempat yang tepat diadakannya MOS atau perkemahan selama satu minggu kedepan. Selasa pagi yang cerah seluruh junior dan senior serta guru pendamping telah berkumpul di lapangan sekolah menunggu kedatangan bus yang akan mengantar mereka ke tempat perkemahan yang telah disepakati kemarin. Jam menunjukkan pukul 8 pagi, satu per satu dari 10 bus yang ditunggupun datang dan siap mengantar para penumpangnya ke tempat tujuan. Dalam perjalanan dari bus para senior terdengar canda tawa dan sesekali diselingi dengan nyanyian kebangsaan Indonesia, berbeda dengan bus yang membawa para junior kebanyakan dari mereka memilih untuk diam dan ada juga yang terlihat ketegangan di wajah mereka.

Kira-kira 2 jam perjalanan akhirnya mereka sampai di sebuah lapangan yang masih sangat asri dan memang sering digunakan sebagai tempat perkemahan. Setelah beristirahat sebentar melepas lelah, kesibukan terlihat di setiap kelompok. Dengan semangat mereka membangun tenda bersama-sama sehingga junior yang tadinya tegang terlihat lebih santai menikmati suasana alam nan sejuk dan asri.
“hai Cha, ketemu lagi”
“iya Flo, kebetulan banget ya kita bisa satu gugus”
“hmmm…! by the way si tomboy kok nggak keliatan ya Cha” ujar Flora.
“eh, ntar loe pada malah dimarahin sama senior. Ngerumpi aja” terdengar suara Vandry dari arah belakang tenda.
“dek…! Siapa yang suruh kalian ngobrol? Kerjaannya udah selesai belom” Aditya menghampiri mareka.
“ini kak, tinggal…!” Ujar Flora.
“kalo gitu buruan dikerjain” teriak Kimmy yang juga menghampiri tenda Cha-Cha, Flora dan Vandry.

Tenda siap didirikan waktunya istirahat yang kedua di lokasi perkemahan sebelum memulai aktivitas selanjutnya, lokasi perkemahan yang asri membuat kagum para pengunjung yang datang kesana termasuk junior dan senior SMAN 2 yang kini melaksanakan kemping dalam rangka menyambut siswa baru di sekolah mereka. Di deretan tenda junior terlihat mereka duduk bergerombol sambil bercanda namun ada juga yang memilih istirahat di dalam tenda mereka.
“duuh…! capek banget deh”
“alah, baru segitu aja sudah capek loe Cha” canda Vandry.
“Cha, Van, bagi minumnya dong” Flora memperlihatkan botol minumnya. “minum aku abis”
“nih anak lagi, Cha kasih minum loe deh. Gue butuh banyak cairan” canda Vandry.
“nih Flo, tadi aku bawa lebih kok”
Asik bercanda ditendanya, Cha-Cha, Flora, dan Vandry dikagetkan dengan kedatangan seorang junior yang mengatakan kalau mereka di panggil oleh senior supaya segera datang ke tenda senior.
“eh, tadi kalian bertiga di panggil ketua OSIS”
“what? Kita bertiga di panggil? Ada apa emangnya feb” tutur Vandry.
“nggak tau aku Van, mending kalian buruan kesananya, ntar kena marah lagi loh” kata Febri.
Dengan tanda tanya di pikiran masing-masing, ketiga gadis itu berjalan menuju tenda senior dimana Tofan, Kimmy, dan Aditya berada yang terlihat sudah menunggu kedatangan mereka bertiga. Melihat tiga junior itu berjalan santai ke arah mereka.
“dek…! Kalau di panggil tu jalannya yang cepet, jangan lelet kayak siput gitu” teriak Aditya.
Mendengar teriakan dari senior mereka spontan ketiganya mempercepat langkah dengan berlari, beberapa saat kemudian tiga junior itu telah berkumpul di depan tenda senior. Dan ternyata mereka di hukum senior karena suka ngerumpi saat bekerja yang tadi sempat dimarahi oleh Aditya dan Kimmy.
“kalian tau kenapa kalian di panggil kesini?” kata Tofan (dengan nada khasnya para senior saat MOS)
“jawab dek, kok malah diam” bentak Kimmy.
Ketiganya tak menjawab tapi Cuma tertunduk dan menggeleng. “jadi kalian tidak tau. Ok kakak kasih tau ya, kalian bertiga ini suka bermain-main saat diberikan tugas oleh senior” jelas Tofan.
“dan karena itu, kami sebagai pendamping di gugus kalian akan memberikan hukuman atas kelakuan kalian tersebut” sambung Kimmy.
“Fan, loe deh yang kasih tau mereka hukumannya” ujar Aditya.
“hukuman untuk kalian yang telah kami sepakati adalah kalian harus mengumpulkan kayu bakar untuk persediaan gugus kita selama disini”
“tapi kita kan Cuma ngobrol kak” protes Vandry.
“iya kak, dan tugas kita selesai kok” timpal Cha-Cha.
“ngobrol atau tidak yang penting senior melihat kalian melakukan kesalahan dan harus di hukum. Mengerti?” kata Aditya.
“kalian nggak tau ya, kalau OSIS punya tiga pasal MOS” kata Kimmy. “yang pertama senior tak pernah salah, kedua semua barang milik junior adalah milik senior, dan yang terakhir apabila senior salah kembali ke pasal satu”
“denger nggak dek…!” Seru Tofan.

Setuju atau tidak, Cha-Cha, Flora, dan Vandry harus menjalankan hukuman yang diberikan senior pendamping kepada mereka. Hari pertama mereka lewati dengan lancar mungkin karena jebakan yang diberikan senior tak begitu rumit sehingga mereka bisa melewatinya dengan mudah juga karena disana ada si tomboy Vandry. Begitupun dengan hari-hari selanjutnya mereka bisa kembali keperkemahan tepat pada waktunya, hingga hari terakhir senior tomboy “Kimmy” mendapat ide untuk mengerjai ketiga junior mereka.
“eh Fan, gue punya ide nih” kata Kimmy saat mereka istirahat di bawah pohon yang rindang di pinggir perkemahan.
“ide apaan Kim?” jawab Aditya
“iya, ide apaan?” balas Tofan. “bukankah selama ini mereka selalu lolos dari ide kita semua”
“yang ini di jamin berhasil deh, tapi agak ekstrim dikit”
“apaan memangnya” Aditya penasaran.
“gimana kalau kita ubah petunjuk jalannya? Ya kita ganti arah tanda panah gitu”
“kasian dong Kim, ntar anak orang kenapa-napa di hutan gimana” kata Tofan.
“gue setuju Kim, nggak bakalan deh Van, loe tenang aja”

Keesokkan harinya seperti biasa tiga junior yang bersahabat itu menjalani hukuman mereka, setelah makan siang mereka berangkat ke hutan seperti biasa dengan bekal air putih dan sedikit camilan di tas masing-masing. Mereka tak berpikir kalau jebakan kali ini akan membuat mereka jadi tersesat ke dalam hutan yang lebat karena mengikuti arah yang salah.
“Cha, Van, kita balik yuk. Udah cukup nih”
“iya nih, lagian juga sudah sore” balas Cha-Cha. “ayo Van…!”

ADVERTISEMENT

Mereka berjalan sambil bercanda menyusuri jalanan setapak menuju perkemahan (menurut mereka), tak terasa jalan setapak yang mereka lalui semakin berhutan lebat hingga di suatu tempat Cha-Cha menyadari kalau mereka tersesat.
“Van, Flo, tunggu deh” memegang kedua lengan sahabatnya yang ada didepannya sambil melirik ke sekeliling. “kita dimana?”
“Cha-Cha, emang kamu pikir kita dimana? Di mall gitu” ujar Flora dengan nada cueknya. “ya kita di hutan lah”
“eh Flo tunggu deh” sadar mereka tersesat.
“aduh Van, kamu mau mikir juga, kita lagi di mall” tetap cuek dan terus melangkah.
“tunggu Flo, loe mau kemana. Kayaknya kita tersesat Flo ini bukan jalan keperkemahan”
“masa sih Van” berhenti dan memandang sekililingnya. “oh my god, gimana nih?”
“kamu sih, dari tadi dibilangin nggak percayaan” sewot Cha-Cha.
“udah ah Cha, trus sekarang baiknya gimana?” Tanya Vandry.
“hmmm…! menurut aku sih, kita balik aja ke jalan tadi” sikap cueknya kembali lagi.
“aduh Flora, itukan jauh mau kamu kemalaman di hutan lebat kayak gini?”
“ya trus harus gimana, memang kalian sudah pernah masuk hutan ini sebelumnya? Belum kan? Apalagi kamu Cha anak rumahan”
“udah lah Flo, Cha, nggak usah bertengkar. Dulu gue pernah jelajahi hutan nih bareng kakak gue, dan kalau nggak salah di dekat sini ada jalan setapak lain yang menuju keperkemahan” jelas Vandry.
“bener Van” serentak (Cha-Cha dan Flora).

Mereka terus berjalan menyusuru jalan setapak di pinggir jurang yang menurut Vandry jalan lain yang menuju ke arah perkemahan di tepi hutan itu, Cha-Cha yang memang agak ceroboh tak memperhatikan langkahnya hingga tersandung ranting yang ada di jalan setapak.
“Cha…! Awas…!” teriak Flora dan Vandry bersamaan.
Kaget mendengar teriakan dua sahabatnya. “aaa…!” untung tangannya berhasil meraih sebatang pohon kecil di tepi jurang.
Langsung berlari kearah Cha-Cha. “Flo, bantuin gue dong”
Dengan susah payah mereka membantu Cha-Cha yang hampir jatuh ke dasar jurang itu, namun dengan semangat kebersamaan mereka berhasil menarik tubuh Cha-Cha kembali ke jalanan setapak, dan kemudian kembali melanjutkan perjalanan mereka.

Kali ini Cha-Cha lebih berhati-hati dengan langkahnya. Tak terasa si Raja siang sudah meninggalkan bumi dan berganti posisi dengan Raja Malam, ketiga sahabat itu terus berjalan menyusuri jalan setapak yang tak kunjung bertemu ujungnya itu.

Sementara itu diperkemahan terlihat Tofan, Kimmy, dan Aditya duduk berkumpul di depan tenda Tofan, di lihat dari raut wajah mereka sepertinya cemas karena tiga junior yang mereka hukum tak kunjung sampai diperkemahan. Saat itu pukul 7 lewat 30 malam, mereka memutuskan untuk mencari adik-adik mereka yang tersesat itu dengan di bantu oleh beberapa orang senior lain juga beberapa orang guru yang mendampingi kegiatan itu.

Kita kembali pada tiga junior malang yang ada di tengah hutan lebat tadi, dengan diterangi cahaya sang rembulan yang menembus celah-celah dedaunan Cha-Cha, Flora, dan Vandry terus berjalan mengikuti jalan setapak yang kini mulai terlihat ujungnya. Dan mereka sampai diperkemahan tepat saat rombongan yang akan mencari mereka berangkat ke hutan.
“Flo, Cha, liat deh” menunjuk ke arah depannya. “kita hampir sampai”
Dengan perasaan senang karena sudah melihat perkemahan mereka mempercepat langkah. Begitu sampai diperkemahan mereka langsung di hampiri oleh Tofan, Kimmy, dan Aditya yang merasa cemas terhadap mereka.
“maaf kak, kita terlambat” tutur Flora.
“biasa aja lah, gimana keliling hutannya? Asik” canda Kimmy.
“asik banget kak” balas Vandry. “dapat pengalaman baru”
“dasar dua makhluk tomboy ini” canda Tofan. “tersesat di hutan aja di bilang asik”
Semuanya tertawa. “maaf juga kak, kita nggak bawa kayu bakar” kata Cha-Cha. “abisnya berat tadi muter-muter”
“ya nggak apa-apa lah dek, malam ini kita kan terakhir disini” jelas Aditya. “ya udah kalo gitu mending sekarang kita gabung sama yang udah ngumpul di api unggun”
“yuk…!” Ajak Tofan.

Setelah acara penutupan perkemahan sekaligus penutupan Mos, paginya seluruh peserta disibukkan dengan aktivitas bersih-bersih dan persiapan untuk segera pulang ke rumah masing-masing. Tiga sahabat Cha-Cha, Flora, dan Vandry terlihat bersemangat sekali membersihkan area dimana mereka memasang tendanya, begitu juga dengan kelompok lain, tak terlihat lagi wajah tegang ataupun takut pada senior mereka yang ada hanyalah senyum persahabatan dan kekompakkan antara senior dan junior. Minggu sore bus yang kemaren mengantarkan mereka sudah sampai di lokasi dan akan mengantarkan mereka ke rumah masing-masing.

Senin pagi yang cerah, hari pertama Cha-Cha, Flora, dan Vandry menjadi siswi resmi di SMAN 2, mereka terlihat semangat saat tiga senior (Tofan, Aditya, dan Kimmy) yang kini akrab dengan mereka meminta mereka menjadi pelaksana upacara pertama setelah mereka resmi menjadi warga sekolah itu. Walaupun mereka tidak satu kelas (Cha-Cha di kelas X.2, Vandry di kelas X.3, sedangkan Flora di kelas X.4) namun persahabatan mereka tetap berlanjut sampai mereka lulus.?

==

By: Dola Triyana

Dari sebuah drama karya kelompok Bahasa Indonesia kelas XI IA.2 SMAN 2 Sijunjung kerennya di sebut SMANDASI?

Dengan Anggota:
Cindy Nurfadillah => Aditya
Dola Triyana => Flora
Fauzi Rahmat => Tofan
Marliza Deviana => Cha-Cha
Oktria Amanda => Kimmy
Vanny Claudia Bahri => Vandry

Cerpen Karangan: Dola Triyana
Facebook: Dola Triyana

Cerpen Sahabat Instan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senang Dan Duka

Oleh:
Nama aku adalah dafi. aku adalah seorang anak kilang minyak yang kaya raya. hidup ku mewah. apa pun yang ku mau pasti dapat. tapi kalo masalah teman atau sahabat

Cinta Atau Sahabat

Oleh:
Aku semakin mengeratkan pelukanku pada kedua kakiku saat petir yang menggelegar itu kembali terdengar dalam indra pendengaranku. Air mataku kembali mengalir saat hujan di luar sana kembali turun dengan

Antara Cinta dan Persahabatan

Oleh:
Jam dinding sudah menunjukan jam 5.14. Aku segera berangkat ke sekolah, aku bersekolah di SMP NEGERI 2 di daerah Jombang. Aku termasuk anak yang pendiam dan jenius. Aku punya

Misteri Goa Bawah Tanah

Oleh:
Suatu hari tiga sekawan Vino, Ambar, dan Bimo berjalan-jalan di sebuah taman kota yang letaknya tak jauh dari kompleks mereka tinggal. Mereka baru saja memulai liburan sekolah yang menyenangkan.

Leon dan Leo

Oleh:
Saat ini Leo tengah menjelajahi hutan larangan untuk kontennya. Akan tetapi, Leo tersesat. Dia sudah berjalan menyusuri jalan yang dia lewati sedari awal berangkat, tetapi selalu kembali ke tempat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *