Sahabat Jadi Musuh


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 18 May 2013

Ini adalah hari pertamaku di sekolah baruku yang berlokasi di bandung. Dan sedih rasanya meninggalkan sekolah ku di bogor. Walaupun aku berpisah dengan teman lamaku aku akan berusaha untuk bersosialisasi dengan teman-temanku di SD tepatnya pada kelas 3. Oh iya, aku hampir lupa namaku Khaerima nurramadhani, Di bangku tempatku duduk aku pun mulai berkenalan dengan teman sebangku
“hai! nama kamu siapa?” itu adalah pertanyaan pertama yang aku lontarkan.
“namaku Sarha olivia biasa di panggil Oliv! kalau kamu siapa kamu anak baru yah?”. katanya singkat.
“namaku Khaerima nurramadhani biasa di panggil Rima!” jawabku.
“kamu dari mana?”. Tanyanya.
“Aku dari bogor! kalau kamu?”. jawabku.
“aku sih tinggal di sini!”. Katanya

Sembari kami memperkenalkan diri di belakang ibu guru pun menegur kami yang belum mencatat satun kata pun
“Oliv! Rima! kenapa hanya cerita, cepat kerjakan tugas kalian!”
“baik bu!” Kataku dan Oliv secara bersamaan.
Tak terasa sekarang sudah waktunya jam istirahat aku dan oliv ke kantin untuk mengisi perut yang mulai keroncongan, tiba-tiba ketiga sahabt Oliv menyapa kami
“hai Oliv kok ke sini nggak ngajak kami sih?” kata Dian.
“oh maaf tadi aku ke sini karena di ajak Rima anak baru di kelasku!” jawab Oliv.
“ohhhh…! itu kami tadi udah dengar sih kalau ada murid baru di kelas kamu, perkenalkan namaku Dian! kamu siapa?” kata Dian sambil menjulurkan tanganya kepadaku.
“nama ku Rima!” jawabku, mereka pun memperkenalkan diri satu persatu kepadaku. Mereka adalah sabat Oliv dan nama lengkap mereka adalah Husnul amira (Amira), fahira al yasin (Ira), dan terakhir Khanza karimah dian az-zahra (Dian).

Setelah kami asyik saling memperkenalkan diri lonceng pun berbunyi pertanda pelajaran kedua akan di mulai aku dan sahabat-sahabat Oliv pun kembali ke kelas masing-masing.
“ehhh… aku punya usul nih!” kata amira.
“apa?” tanya kami hampir bersamaan.
“bagaiman kalau kamu Rima jadi sahabat kami!” usul amira
“ohhh… iya aku setuju dengan amira! kalau kalian?” jawab ira.
“iya aku setuju, lagi pula kalau Rima jadi sahabat kita aku kan punya teman akrab di kelas!” kata Oliv.
“bagaiman semua setujukan?” tanya ira
“iya kami setuju bagaimana dengan kamu Rima?” tanya Oliv.
“iya aku mau banget jadi sahabat kalian!” kataku.
“jadi sekarang kita berlima nih yah!” kata rima.

Setelah kejadian itu kami pun selalu bersama hingga akhirnya penentuan penaikan kelas tiba.
“horre… aku dapat peringkat dua!” kataku sambil berteriak setelah melihat papan pengumuman dan ternyata aku dapat peringkat dua umum.
“kamu peringkat berapa Rima?” tanya Dian.
“aku dapat peringkat dua umum! kalau kamu?”. tanyaku
“aku sih dapat peringkat satu umum! :@” kata Dian dengan diselingi wajah yang tidak mengenakkan.
“ohh selamat yach!” jawabku. Sepertinya baru kali ini aku melihat wajah dian yang sepertinya dia punya masalah, kami pun menanyakan hal ini kepadanya, tapi ia malah menjauh dari kami.
“Nanti kita tanyakan padanya setelah keadannya membaik!” kata Oliv.
Tapi karena penasaran aku pun mengikuti Dian yang entah kemana dan ternyata ia ada di WC dan sedang mengomel-ngomel akupun menguping “ihhh kesel amat sih aku kira Rima itu anaknya bodoh seperti Ira, Amira, dan Oliv ehh ternyata ia pintar jadi aku punya saingan dong di bisa jadi sahabat-sahabatku malah makin dekat dengannya, melihat tampangnya yang selalu ceria itu membuatku selalu jengkel dan padahal aku tidak setuju kalau ia bergabung dengan kami tapi kalau aku menolak nanti semunya pada benci sama aku. Huuh sebel sebel sebel…!”. katanya.
Oh ternyata ia marah sama aku.
Sepertinya aku merasa aku akan menghancurkan persahabatan mereka dan jangan sampai yang lain tau, dan sebaiknya aku pergi dari sini nanti Dian ngeliat aku di sini.

“eehh Rima kamu dari mana saja kami tadi mencari kamu loh!” kata ira.
“ohhh… maaf yah aku tadi habis cari Dian, kasian loh kalau kita biarin nanti makin parah loh..” usulku.
“iya juga sih, yuk kita cari Dian!” kata Oliv.
“tapi ke mana?” tanya amira.
“coba kita cari ke WC siapa tau dia ada di sana kan biasanya kalau cewek lagi sebel sebelnya tuh mereka biasanya ke WC!” jawabku.
“Ayo kita ke sana sebelum ia pergi lagi!” ajak Oliv.
Kami pun pergi ke kamar mandi perempuan dan untung Dian masih ada dan pada saat itu Dian pun berhasil di ajak damai tapi di sana aku tak bayak bicara karan aku takut kalau Dian tambah marah sama aku.

Tak terasa sekarang kami sekarang sudah dudk di bangku kelas 5 SD dan sebentar lagi kita akan penaikan kelas 6 SD dan ini adalah hari yang di tunggu anak anak. Tapi karena merasa deg degan aku pun pulang balik ke WC untuk buang air kecil, dan ternyata waktu aku datang ke kelas semua murid sudah di beritahukan peringkat mereka dan terakhir aku “Khaerima nurramadhani!” terdengar nama ku di sebut oleh ibu guru. Dan setelah aku menerima raporku dan ternyata aku mendapat peringkat 1 umum oh senangnya hatiku di tambah lagi kita akan libur selama 2 minggu dan ibuku pernah berjanji ia akan membawaku ke mall terbesar di bogor. tapi Aku berhasil mengalahkan sahabatku dan artinya ia akan semakin marah padaku.

Setelah 2 minggu berlibur aku kembali bersekolah dan dugaanku benar Dian benar benar marah sampai sampai ia mempengaruhi sahabatku mulai dari mereka harus berpura-pura seperti tidak pernah mengenalku setiap aku menyapanya ia hanya tersenyum sinis dan mereka tidak pernah lagi mengajakku ke markas kami. Dam parahnya lagi sahabat baikku Oliv jadi berubah 180 derajat biasanya kami selalu ke kantin bersama tapi kali ini ia tidak mau ke kantin bersamaku ia hanya mengatakan “maaf Rima aku ke kantin dengan Amira ajah yah!”. Tapi aku hanya bisa memainkan permainan mereka setiap mereka mengalami kesusahan dalam mengerjakan tugas mereka selalu memeriksa tasku lalu mengambil buku PR ku, setelah selesai mereka contek mereka mengembalikanya tampa tidak mengucapkan “terima kasih!”. Aku mulai sedih dan sepertinya mereka sudah tidak menganggapku sahabat.

Hingga suatu hari aku rasa perbuatan mereka sudah keterlaluan terhadapku, aku pun mulai memberanikan diri berbicara kepada mereka
“maaf sebelumnya teman teman aku mau bilang sebenarnya kalian nganggap aku sebagai sahabat nggak sih?”.
Memdengar perkataanku mereka langsung tertawa dan Ira pun menjawab “haahh… sahabat siapa bilang kalau kamu itu sahabat kami? ngaca dong ngaca!”.
Mendengar perkataan sahabatku ini aku pun merasa sangat di khianati aku pun segera ke WC. Di sana aku tidak dapat membendung air mataku dan berkata dalam hati “kalian sungguh tega! kalian anggap aku apa sih pembantu kalian? kali ini ke sabaranku telah habis aku tidak akan menganggap kalian sahabat sebelum kalian berubah!”.

Setelah kejadian itu terjadialah pertengakaran di antara kami berlima dan keempat sahabatku menjadi benci padaku dan ia lebih memilih Dian karena mereka telah lama mengenal Dian dan tidak mempedulikanku. dan setiap malam aku selalu berdoa agar sahabat-sahabatku insaf, aku sangat merindukan kejadian dulu kita selalu bersama-sama dalam suka dan duka. sampai aku seringkali tidak dapat membendung air mataku tapi aku selalu berusaha untuk tegar walau mereka sudah tidak pernah mempeduliakanku dan setiap kali aku lewat di dekatnya mereka, sering sengaja menabrakku hingga terjatuh dan mereka seringkali mengejekku dengan sebutan kepala tolol. Karena mereka sampai memberitahukan ke semua murid perempuan di kelasku hingga tak ada satu pun murid perempuan yang berpihak kepadaku. Aku pun mengirim surat kepadnya dan mengatakan “kalian itu yah dasar tidak punya hati! habis manis sepah di buang. Dasar kampungan arti kata stupid aja nggak tau!”. Lalu mereka membalas suratku “emang kenapa masalah buat loh! kamu enggak usah sok pinter deh!”. “kalian tuh sok pintar, sok centil, sok cantik! pokoknya semunya deh! huhh dasar kampungan!”.

Begitulah seterusnya Hingga suatu hari Dian iri kepadaku karena aku terlalu akrab dengan murid laki laki yang ia sangat sukai dan sering kali kami tergelak secara berlebihan. Hal itu membuatnya melakukan perbuatan yang sangat tidak terpuji yaitu, dengan mencorek coret buku ibu guru dan menuduhkannya kepadaku sehinga aku yang di beri sanksi berupa tidak di perbolehkan ikut belajar di dalam kelas sampai jam pulang. Peristiwa tersebut membuatku sedih dan kecewa, aku pikir sahabat saling membela satu sama lain tetapi ternyata sahabat bisa juga jadi musuh. mereka lebih memilih kebohongan dari pada kebenaran. Sebenarnya mereka juga tahu kalau Utari itu dalang dari semua kerusuhan tapi mereka takut jika mereka berpaling dari Utari mereka selalu di ancam akan dibeberkan rahasia mereka.

Cerpen Karangan: Maharani Fauzia Annurm
Facebook: Maharany Rhany

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Persahabatan Cerpen Sedih

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 Responses to “Sahabat Jadi Musuh”

  1. Filza qalbina kaysa says:

    WAW cerita nya seperti ceritaku

Leave a Reply