Sahabat Kecil

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 2 December 2017

Pagi itu dihiasi dengan semilir rintik air dari langit. Membawa udara sejuk menusuk sanubari. Membuat kenyamanan dalam tidurku lebih panjang. Ah, bukankah hari ini libur? Ya hari ini libur, kemudian kutarik selimutku kembali dan memeluk gulingku lebih erat lagi. Rasanya aku tak ingin beranjak.

Tok.. tok.. tok..
Terdengar suara ketukan pintu di kamarku. Enggan segali rasanya bangkit. Kuhempaskan mataku lebih dalam lagi.

Tok.. tok.. tok…
Aku geram. Tidak ada yang berani membangunkan aku di waktu senggangku ini. Berdengus kesal, aku turun dari tempat tidurku dan membukakan pintu.
Ternyata bi Innah, Kepala Asisten rumah tangga di rumahku. Sudah kuduga, pasti dialah orang yang mengganggu tidur nyenyakku hari ini. Karena selain dia, Art yang lain tidak berani melakukan hal ini. Jangankan mengetuk pintu, berdiri di depan kamarku saja mereka tidak ada yang berani.

“Ada apa lagi? Surat? Orang kantor menelepon? Meeting mendadak? Atau ada client ingin bertemu?” Jawabku malas.
“Maaf nona, sudah menggangu tidur nona. Saya hanya memberitahukan bahwa 20 menit lagi Nyonya besar akan sampai”
Aku mengeritkan dahi.
“Hahahahahah… Hai Innah!! Kau menganggu tidurku? Yang baru aku dapatkan setelah aku lembur 3 hari hanya memberitahukan informasi busuk ini? Hahahahaha untung saja Papa yang menghendaki kau di sini!!! Kalau tidak. Sudah lama kau lenyap di sini!!! SUDAH AKU PERINGATKAN!!! AKU TIDAK PERNAH PEDULI DENGAN WANITA ITU!! JANGAN COBA-COBA MENGGANGGUKU LAGI!!!” Kuhempaskan pintu. Aku yakin seisi rumah mendengar hempasan pintu itu.

Aku berjalan menuju balkon di ruang teras kamarku. Mendengus kesal bersama emosi. Ah Innah benar-benar merusak waktu istirahatku hari ini. Sudah beberapa kali aku mengingatkan wanita tua itu, agar tidak perlu susah payah memberitahukan aku tentang kabar seseorang yang disebut “Nyonya Besar” di rumah ini. Nyonya besar yang telah membiarkan gadis kecil menangis di depan halaman rumahnya. Nyonya besar yang rela menitipkan anaknya di rumah pentipian Anak. Nyonya besar yang rela meninggalkan keluarganya demi karir yang selalu dibangga-banggakannya. Nyonya besar…

Aku menangis terisak meningat semua kenangan pahit itu. Memeluk bantal yang ada di sofa. Andaikan semua orang tau betapa sakitnya hatiku ini. Betapa tersiksanya batinku saat ini. Tidak, tidak ada yang tau kondisi hatiku, mereka tidak peduli. Aku hanya sendiri, dari dulu memang sendiri.

Hujan di luar semakin deras, seakaan hujan tau isi hatiku. Yah, aku menikmati hujan ini sendiri. Sendiri dan sendiri lagi.

Ssssttt…
Ssstttttt…
Aku menoleh mencari sumber suara itu.
“Hei hei aku di bawah” ucapnya
Langsung saja aku menoleh ke bawah. Ternyata andre anak pertama bi Innah. Kupalingkan wajahku. Seakan-akan tak melihat andre.
“Hei nonaa, turunkan tali itu.” Ucap andre setengah teriak.
Aku hanya diam saja pura-pura tak mendengar.
“Nonaaaaaaaaa, apa kau mendengarku?”
“Kau mau apa sih! Aku tidak akan menurunkan tali ini. Pergilah sebelum amarahku bertambah”

Tak habis akal. Si andre kemudian masuk ke rumah dan mengetuk pintu kamarku. Dia orang ke dua yang berani mengetuk pintu kamarku.
Mau apa sih anak ini. Lihat saja kalau macam-macam. Akan kubuat dia menyesal. Kulangkahkan kakiku menuju pintu kamar.

“Maaf nonaa… Bolehkah saya masuk?”
“WHATS? Apa kau waras andre? Ibumu saja tidak berani masuk, kalau bukan aku yang menyuruh.”
“Kalau begitu, suruhlah aku masuk ke kamarmu nona. Ayolah plis. Terimakasih nona.”
Tanpa mendengar persetujuanku. Andre masuk ke kamarku. Tampaknya dia kagum melihat isi kamarku yang serba lux. Dari perabotan, pernak pernik dan lemari hiasnya.
Aku memang mendesign kamarku seelok mungkin. Karena aku ingin mendapatkan kesan nyaman di kamarku sendiri.

Andre meneruskan langkahnya ke Balkon di kamarku. Decak kagum dia utarakan saat melihat balkon di kamarku. Dasar anak kampungan pikirku.
“Lalu mau apa kau ke sini?” tanyaku.
“Hei nona lihatlah”
Dia menarik tanganku menuju balkon. Pemandangan yang indah. Hujan telah redah. Digantikan sinar sang surya yang menukik indah di permukaan bumi dan menghasilkan pembiasan cahaya yang menakjubkan. Ya. Pelangi. Bukankah fenomena ini jarang terjadi? Pelangi di pagi hari?

Aku menarik nafas dalam-dalam. Menikmati udara pagi yang segar setelah hujan mengguyur tanah bumi. Senyum indah kupancarkan melihat keindahan pagi ini. Burung-burung asyik bersahutan satu sama lain. Menghasilkan harmonisasi keindahan yang jarang bahkan tak pernah kurasakan.

“Bagaimana Nona? Indah bukan? Sudah lama sebenarnya aku ingin berada di balkon kamar Nona ini. Tapi aku tak pernah kesampaian.” Ucapnya.
“Ya ini sangat indah” jawabku tersenyum indah. Rasanya sudah lama sekali aku tidak tersenyum seperti ini. Dan baru kali inilah aku merasakan damai di dalam hatiku.

Andre tersenyum melihat senyum di wajahku. Sebetulnya, Andre dan aku sering bermain bersama saat kami masih kecil. Namun, entah kenapa saat aku telah beranjak dewasa kedekatan antra kami mulai memudar. Karena aktivitas padatku, dan jarangnya aku di rumah. Mungkin itulah faktornya. Andre, anaknya baik, sopan, lucu, menggemaskan, dan ceroboh. Aku sangat ingat sekali kejadian saat kami masih kecil, dia meninggalkan sepedaku dan mengejar layang-layang. Dan alhasil layang-layang dia dapatkan, tapi sepedaku hilang.

Dan tak kalah menariknya lagi dia pernah menungguku pulang sekolah di halaman padahal waktu itu hujan sangat deras. Dia rela menunggu di ayunan tempat kami sering bermain, andre tak mau masuk ke rumah sampai aku pulang. Haha anak yang aneh. Besoknya dia sakit selama 1 minggu. Dan akulah yang merawatnya sampai dia sembuh. Aku tersenyum mengingat kejadian itu.

“Nonaaa…”
“Hei. Ayolah kenapa kita kaku seperti ini. Panggil saja aku Belinda, tak perlu memakai nona..” Ucapku
“Haha iya bel,” jawabnya tersenyum.

Kunikmati lagi pagi hari yang indah itu, bersama sahabat kecil yang selalu bisa membuatku merasa damai dan tenang saat bersamanya. Kami saling diam, seakan tidak tau harus memulai percakapan. Ada apa dengan kami? Begitu jauhkah jarak yang selama ini membentengi kami? Sehingga memulai percakapan pun kami tidak bisa. Aku merengkuh, seakan ingin memanggil nama Andre, namun lidahku kelu. Mulutku seakan tak bisa membuka. Aku menghela nafas.

“Rasanya sudah lama kita tidak seperti ini ya bel?” tanya Andre.
Aku tertegun. Aku tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Lagi lagi lidahku kelu, mulut rasanya enggan membuka.
“Kamu kenapa diam? Aku tau kamu sendiri, kamu terluka, kamu sedih, kamu kesepian. Kamu pasti canggung untuk menyapaku kan? Aku tau, matamu itu selalu bicara saat memandangku. Kenapa saat kau sedih kau tak datang menemuiku? Bukankah dulu kau berjanji akan selalu berbagi kisah indah atau sedih bersamaku. Kalo boleh jujur aku, aku. Rindu kamu bel” ucap Andre sambil mengenggam tanganku.

Seolah tersentak dengan ucapan andre tadi, mataku tiba tiba menjadi nanar. Tidak ada yang bisa mengerti perasaanku kecuali Andre sahabat kecilku. Bahkan kedua orangtuaku saja mereka tidak tau apa mauku dan bagaimana perasaanku. Aku terisak. Aku sedih. Maafkan aku ndre.
Dan sepertinya andre tau aku menangis, dia membalikan tubuhnya menghadapku. Dia belai rambut indahku yang tergerai.
“Kamu boleh kok nangis, ayo sini.” Katanya yang langsung menarik tubuhku dalam pelukannya. Tangisku meledak, kulampiaskan semua perasaanku itu di pelukan Andre. Aku benar benar terisak, sesak di dadaku membuat air mata yang mengalir makin deras. Andai semua orang seperti Andre, yang selalu mengerti aku. Kubenamkan wajahku lebih dalam di pelukan Andre, dan aku melingkarkan tanganku di pinggang Andre lebih erat. Dan Andre mengusap lembut kepalaku.

Setelah aku merasa lega, aku melepaskan pelukan Andre. Aku tertunduk malu.
“Udah ya jangan nangis lagi, kamu harus inget. Aku akan selalu ada buat kamu, sampai kapan pun” ucap Andre
Aku tersenyum.
Merasa sangat beruntung sekali, mempunyai sahabat kecil seperti Andre. Maafkan aku Andre yang selalu acuh, dan angkuh kepadamu. Aku hanya tak bisa memulai. Jika boleh jujur juga, aku sangat merindukanmu. Terimakasih telah mengerti aku dan perasaanku.

Semenjak kejadian itu, aku dan Andre semakin akrab. Jalinan persahabatn yang dulu sempat terputus kini menyambung lagi. Aku dan Andre. Berbagi suka dan duka. Hanya Andre satu satunya orang yang selalu bisa mendamaikan hatiku. Inilah gunanya persahabatan.

Sahabat adalah bukan tentang siapa yang menyerukanmu ketika kamu menang. Namun tentang siapa yang menggandeng tanganmu ketika kamu kehilangan arah.

The End

Cerpen Karangan: Bella Lestari
Facebook: Bella Lestari
Masih dengan orang yang sama. Gadis kecil bapak Aman. Masih juga berprofesi sebagai Satpam Wanita. Salam kenal, mohon maaf bila ada kesalahan (masih amatiran hehe) selamat membaca ya guys^^

Cerpen Sahabat Kecil merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Only Time Will Tell

Oleh:
Kring kring kring suara sepeda baru yang ku alunkan berulang-ulang pagi itu. Haha entah apa yang telah terjadi sebelumnya, hingga semangat sekolahku meningkat 50%. karena sepeda baru? Atau kuciran

Sahabat Instan

Oleh:
Kisah ini berawal dari pertemuan tiga orang gadis di sebuah SMA, tahun ajaran baru tepatnya saat mereka sedang menjalani Masa Orientasi Siswa atau kerennya biasa di sebut MOS. Ketiganya

Sahabat Baru

Oleh:
Murid baru itu namanya Rini, lengkapnya SyahRini Putri. Rambutnya lurus sebahu dan sering dikucir kuda. Selain pintar Rini juga punya bakat menari sepertiku. Dia pernah menjadi juara satu lomba

Setangkai Bunga Persahabatan

Oleh:
Namaku Andrea, aku bukan tipe perempuan yang feminim. Entah kenapa, aku merasa nyaman dengan penampilanku yang sekarang, menggunakan kaos dengan celana setinggi lutut. Oh ya, aku punya seorang sahabat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *